Putus

2011 Words
Shena Wijaya POV Akhirnya acara Meeting Tuan Keith James yang sangat panjang selesai juga di jam 20:45. Mereka meeting sekaligus dengan Dinner, jadilah Dinner Meeting. Chef, Sous Chef, Kitchen Staff, dan kami sebagai Server berusaha keras melayani Tuan Keith, dan peserta Meeting dengan yang terbaik. Makanan yang dipesan oleh Tuan Keith untuk Meeting kali ini adalah masakan yang berbeda, lebih mahal, dan tak ada di Menu sehingga memerlukan Effort lebih banyak, namun Tuan Keith tidak mempermasalahkannya. Tuan Keith bahkan berani membayar ekstra. Aku memperhatikan bahwa semua peserta meeting adalah pria, tidak ada seorangpun wanita yang hadir. Mereka semua memakai setelan jas formal hitam putih, seperti mafia, pikirku. Semua orang di restoran sangat lega, aku juga merasa demikian. Akhirnya aku bisa pulang cepat setelah semuanya selesai, gumamku senang dalam hati. Semua tamu sudah pulang kecuali satu orang: Tuan Keith James. Pak Philip sedang berbicara dengan Tuan Keith, dan aku sendiri tidak memperhatikan apa yang mereka bicarakan karena aku sedang Clear up tiap meja yang tersisa dibantu oleh Maria, Angie dan Andrea, dan juga beberapa Server pria. Ketika aku tak sengaja menatap ke arah Pak Philip, Tuan Keith menatapku. Dia tampaknya membicarakanku dengan Pak Philip, Manager Restoran, karena tatapan mereka berdua sekarang tertuju padaku. Aku berusaha mengabaikan tatapan mereka, dan tetap fokus untuk bekerja seperti biasa. Ketika semua Table sudah bersih ,dan tak ada sisa makanan dan minuman. Aku mendesah lega. Aku berkeliling sekali lagi ke semua Table, serta masuk ke Private Room guna mengecek apakah di sana kekurangan Cuttleries, Napkin, dan lain sebagainya. Setelah selesai berkeliling, aku mengambil minuman di area Kitchen yang letaknya agak ke dalam. Aku meminum air Mineral, dan meneguknya sedikit demi sedkit. Mataku mulai melirik jam di dinding, sudah jam 22:30. Badanku pegal-pegal semua karena Clear up tadi. Aku teringat saat tadi jam istirahat. Diriku melakukan panggilan Video dengan Dean. Dia tampak bahagia, kami berbicara banyak dengan lancar, dan minim pertengkaran. Tak lupa aku berpesan padanya agar menjemput jam 23:00, karena di jam 22:00 sudah pasti sedang Clear up semua Table, dan mengecek semua Private Room sebelum restorang tutup. Biasanya Dean akan protes bila aku pulang malam karena bekerja, namun kali ini dia terlihat berbeda. Dia tidak marah, dan berusaha berkata-kata lembut padaku. Dari situ, diriku melihat dia seperti berusaha keras untuk mengerti keadaan, dan mengendalikan egonya. Aku bersiap-siap untuk pulang, karena sudah lelah dan mengantuk. Aku mencuci tangan di Wastafel dengan sabun, supaya tangan ini bersih dari kotoran-kotoran yang menempel karena Clear up. Selesai mencuci tangan, aku segera masuk ke ruang ganti khusus karyawati, dan ke loker untuk mengganti Uniform. Selesai mengganti Uniform, aku me-retouch Make up yang mulai luntur akibat bekerja, dan menyisir ulang rambutku. Diriku juga menyemprotkan parfum agar tidak bau, dan wangi seketika. Pacar akan menjemput, dan diri ini ingin memberikan wajah yang manis, segar, cantik, dan wangi agar dia bahagia. Aku lalu tersenyum ketika melihat buket bunga Mawar merah yang datang sesaat sebelum aku masuk Shift sore. Entah siapa yang memberikan ini tapi diri ini tahu harganya tidak murah. Aku mencium buket bunga Mawar merah , dan mencium wangi bunganya. Buket ini sengaja aku tinggalkan di dalam loker. Aku hanya membawa Gift di tasku yang satu lagi. Karena Gift-nya tidak terlalu besar sehingga bisa muat masuk ke dalam tas. Setelah mengecek ulang untuk memastikan tidak ada yang tertinggal, aku absen pulang dengan menggunakan absen Finger print seperti biasa. "Pak Philip, saya pulang dulu," pamitku ketika melihat Philip muncul di Back Office. "Ya, terima kasih Shena," sahutnya. Dia memandang wajahku dengan tatapan aneh yang aku tidak mengerti, mengapa dia menatapku seperti itu, lalu dia masuk ke kantornya. Aku keluar dari restoran, dan menunggu di depan Restoran untuk menunggu Dean datang menjemputku. "Bye, Shena!" Kata Maria sambil melambaikan tangannya. Maria baru saja dijemput oleh tunangannya, Dave Ronald. "Bye, Maria!" Kataku sambil balas melambaikan tangan kepadanya. "Kamu belum pulang?" Tanya Angie, dia juga tampaknya menunggu tunangannya untuk menjemput. "Belum, Dean akan menjemputku. Aku sedang menunggunya," jawabku sambil tersenyum manis. Angie menatapku, lalu dia memberi kode ke arahku. Aku merasa heran karena dia jarang seperti itu. "Apa?" Tanyaku sambil menatap padanya. "Itu, ada mobil belum pulang. Itu mobil yang tadi rombongan dengan Tuan James!" Kata Angie sambil memberi isyarat dengan dagu padaku. Aku melihat ke arah yang dimaksud, seketika tubuhku membeku. Aku mengingat percakapanku dengan Tuan Keith saat di restoran. ** Flashback On ** "Lalu kamu pulang kerja jam berapa?" Tanya Tuan Keith padaku. "Saya pulang jam 22:00, Tuan. Sehabis Closing Restoran," jawabku dengan nada sesopan mungkin. "Aku antar kamu pulang ya, Shena," katanya pelan, suaranya terdengar mendesah. Damn, aku bersumpah dia mendesah padaku! Aku agak terdiam lalu aku menjawab kembali, "Terima kasih Tuan, saya akan dijemput," aku tersenyum dan tetap bersikap sopan dan profesional. ** Flashback Off ** Apakah mobil  yang terparkir di sana itu, itu adalah mobil Tuan Keith James? Tanyaku dalam hati. Masa sih, dia serius mau mengantarkan aku pulang? Apakah dia masih di dalam mobil untuk memastikan sendiri bahwa aku benar-benar dijemput? Tanyaku penasaran dalam hati. Tidak, itu tidak mungkin, Shena. Seorang Keith James mau menungguku pulang? Yang benar saja! It's too good to be true (Terlalu indah untuk menjadi kenyataan), sangkalku di dalam hati "Kenapa, Shena?" Tanya Angie karena melihat aku cukup lama terdiam. Aku menggeleng, "Tidak apa-apa!" Lebih baik pikiran aneh-aneh itu ku enyahkan dari benakku. Tak lama mobil Dean datang, dan aku tersenyum cerah melihatnya. "Honey, I am here (sayang, aku di sini) !" Ucap Dean saat melihatku. Dia membuka kaca jendelanya, dan mobilnya berhenti tepat di depanku. "Yes, Honey! Angie, aku duluan, ya!" Kataku cerah pada Dean, lalu ku peluk Angie, dan aku masuk ke dalam mobil. "Bye, Angie!" Aku melambaikan tangan pada Angie. "Bye, Shena!" Angie membalas lambaian tanganku Aku kembali melambaikan tangan pada Angie, dan mobil pun melaju meninggalkan restoran. Author POV Shena masuk ke rumah dengan mata yang sembab. Dia tampaknya sudah menangis sejak lama. Beruntung, semua orang di rumahnya sudah tidur jadi tidak ada yang merasa terganggu. Hanya Maid yang membukakan pintu untuk Shena, dan dia tak berani bertanya kepada Nona Muda mengenai keadaannya yang sungguh berantakan. Shena sudah putus dari Dean. Mereka bertengkar hebat lagi malam itu. Dean menuntut Shena agar segera resign dari pekerjaan Part time-nya, karena Dean menjadi tidak bebas menemui Shena sesering yang dia mau. Dean memang selalu menuntut Shena, dan dia sangat pencemburu. Shena tidak tahan, dan dia memutuskan hubungan secara sepihak walaupun Dean bersikeras tidak mau. Akhirnya aku yang memutuskan hubungan kami terlebih dahulu, pikir Shena di dalam hatinya yang perih. Sesak, hati Shena terasa sakit sekali. 3 tahun menjalin hubungan harus berakhir karena sikap Dean yang posesif ,dan terlalu mengatur Shena. Shena lalu mengganti sepatunya terburu-buru, lalu dia segera berjalan ke kamarnya, di lantai 2. Shena lalu masuk ke kamar terburu-buru, kemudian dia mengunci kamarnya. Shena kembali menangis karena sedih. Tentu saja Shena mencintai Dean walau proses pendekatan yang dilakukan oleh Dean tidak semudah yang orang lain pikirkan. Shena memegang komitmen: Bila sudah menemukan pria yang pas, apapun halangannya, hubungan percintaannya akan dia pertahankan. Kecuali sudah tidak bisa dipertahankan, apa boleh buat hubungan itu harus berakhir. Shena kembali merasakan sedih karena mengingat memori yang muncul, kenangan dengan Dean kembali menghampiri sehingga dia pun menangis sepuas hatinya. Shena menaruh tasnya di atas meja belajar, dan dia segera menanggalkan semua pakaian, lalu segera mandi sebelum tidur. Setelah Shena mandi tepatnya berendam lama di Baththub, dia pun berpakaian, dan memaksakan diri tidur dengan mata yang masih sembab, dan hidung yang mampet, karena airmata yang telah keluar dari mata Shena. Di Tempat Lain "Bagaimana?" Tanya suara bariton di ujung telepon. "Nona Shena sudah putus dengan kekasihnya, Tuan. Apabila Anda mau, rekaman percakapan akan saya kirimkan ke ponsel Tuan!" Jawab suara di seberang telepon. "Lalu Shena bagaimana keadaannya?" Tanyanya dingin. "Nona Shena sekarang sudah tidur, Tuan. Nona tadi habis mandi cukup lama, kemudian beberapa saat lalu, Nona sudah tertidur sehabis menangis," jawab suara itu lagi. "Baik, tetap awasi apa yang dilakukan oleh gadisku!" Kata suara bariton itu dengan nada datar, dia menekankan setiap kata demi kata supaya pria di seberang telepon mengerti yang dia maksudkan. "Baik, Tuan," ucap suara di seberang telepon dengan patuh. Pria itupun memutuskan sambungan teleponnya. Dia menyeringai begitu mendengar kabar Shena telah putus dari kekasihnya. Akhirnya kalian berdua putus juga, aku jadi bisa mendekatimu dengan bebas, Pria itu girang di dalam hatinya. Dia memang sengaja mengirimkan semua hadiah, dan buket bunga Mawar merah setiap harinya di saat Shena bekerja supaya Dean melihatnya. Dia tahu bahwa Dean, kekasihnya Shena, pasti cemburu ketika melihat semua buket, dan gift yang dia berikan pada Shena. Pria itu mengetahui apapun yang dilakukan oleh gadisnya , apa yang disukai maupun tidak disukai oleh gadisnya. Pria bersuara bariton sudah memanggil Shena dengan sebutan "Gadisnya", dan dia tak merasa harus meminta izin pada Shena untuk mengesahkan hubungan mereka berdua. Bagi pria itu, Shena sudah menjadi miliknya sejak awal dia berjumpa, dan dia tidak memperdulikan wanita lain, kecuali Shena. Pria misterius itu melirik ponselnya, dan ada pesan masuk. Ternyata ada sebuah pesan, dan kiriman video. Dia membuka pesannya, lalu membuka video yang dikirimkan kepadanya: Shena : "Kamu kenapa sih, Dean?" Suaranya terdengar jengkel Dean : "Baby, lebih baik kamu Resign (mengundurkan diri). Aku mendapat firasat buruk bila kamu lebih lama bekerja di sana!" Shena melipat kedua tangannya di da*da. Wajahnya terlihat kesal menahan marah. Shena : "Give me a logical reason (berikan aku sebuah alasan yang masuk akal) kalau aku harus Resign!" Dean : "Baby, jawab pertanyaanku dulu baru aku akan memberikan alasan padamu," Shena : "Apa yang mau kau tanyakan?" Dean : "Apakah kamu masih menerima semua hadiah termasuk buket bunga Mawar merah?" Shena : "Ya, aku masih menerimanya." Dean : "Kamu tahu siapa yang mengirimkan semua itu?" Shena : "Aku tidak tahu. Kamu juga pernah melihat kan, di setiap kartu ucapan hanya tertulis inisial 'K' tanpa ada yang lain. Bagaimana aku bisa tahu kalau di kartu hanya ada tulisan inisial namanya saja!" Terlihat Dean menghela nafas. Wajah Dean terlihat kesal, dan menahan amarah. Dean : "Baby, ayo kita menikah. Dengan menikah kamu tidak perlu bekerja lagi!" Dean menggenggam kedua tangan Shena, dan gadis itu terlihat membelalakkan matanya. Shena : "Are you serious? (Apakah kamu serius?)" Dean : "I am 100% serious, Baby. Will you marry me? (Aku serius 100%, sayang. Maukah kamu menikah dengan ku?)" Shena : "Baby, It's too fast for me (Sayang, ini terlalu cepat untukku)!" Dean : "Baby, kita sudah berpacaran selama 3 tahun. Dan sudah 3 bulan ini semenjak kamu bekerja, kamu tidak ada waktu untukku dan mulai dikirimi oleh fansmu bunga dan hadiah itu. Bagaimana bila dia ingin memisahkan kita?" Shena : "Baby, aku saja tidak pernah tahu siapa dia.  Dia muncul saja di hadapanku tidak pernah. Mengapa kamu jadi begini?" Dean : "Aku takut kehilanganmu, Baby. Menikahlah denganku, Babe!" Shena terdiam, wajahnya nampak bimbang. Shena : "Maaf Dean, aku tidak bisa. Kalau kamu mencintaiku, kamu seharusnya mendukungku. Kita selalu bertengkar karena kamu keberatan aku bekerja, seharusnya kamu senang bila aku mandiri, dan tidak bergantung pada orang tua, namun kamu malah selalu cemburu, posesif, dan tak suka dengan keputusanku. Lebih baik kita berpisah daripada seperti ini terus-menerus. Selamat tinggal, Dean," Shena hendak membuka pintu mobil, Dean mencegahnya. Tangannya mencengkram bahu gadis manis itu, menahannya agar tidak pergi meninggalkannya. Dean : "Kamu ingin kita putus?" Shena : "Ya, aku ingin putus. Terima kasih Dean untuk segalanya," Dean : "Aku tidak rela putus! Kamu milikku, Shena!" Shena menghempaskan tangan Dean, lalu buru-buru keluar dari mobil sebelum dia kembali ditahan oleh lelaki itu. Pria itu menggertakan giginya, dan rahangnya mengeras saat mendengar Dean mengatakan kepada Shena bahwa gadis itu adalah miliknya. Shena adalah milikku, akan ku pastikan Shena menikah denganku! Tekad pria itu dalam hati. ************************************************************************************************   Halo, nama saya Priskila Wi. Saya telah membuat 5 Novel yang sudah dipublikasikan secara online, yaitu : Reinkarnasi Dark Witch, Pria Dingin Mengejar Gadis Cuek, The Storm Witch, Summer Kekasih Ares dan Putri Naga Ti-Lung. Jangan lupa tinggalkan jejak berupa memberi love dan feedback supaya saya semakin semangat membuat cerita ini. Cheers :) Priskila Wi
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD