Demam

1202 Words
Shena Wijaya POV Aku tidak tahu, dan tidak ingin mengingat apa-apa lagi yang membuatku stress saat terbangun dari tidur. Kepalaku rasanya terasa berat, pusing, dan nyeri menusuk seolah tak mau berhenti. Badanku rasanya menggigil namun disaat yang bersamaan, aku juga merasakan panas membakar dari dalam tubuhku. Ketika ku buka kedua mata, cahaya matahari mengenai wajahku. Aku kemudian menggeliat, rasanya belum ingin bangun dari tidur, namun, sinar mentari ini membuatku mau tak mau membuka mata. "Shena, kamu sudah bangun, Nak?" Suara Mama terdengar lembut. "Ma, panas Ma," ucapku lemah. Aku bersyukur, ketika membuka mata, sudah ada Mama di sampingku. Mama memang terbaik, aku bersyukur memiliki Mama yang baik, lembut, dan penuh perhatian kepada semua anaknya. "Iya, Nak, kamu demam. Kamu semalam kebanyakan berendam, ya?" Tanya Mama, nada suaranya terdengar penuh rasa sayang. "Sepertinya, Mama," jawabku lemah. Sebenarnya memang iya, tapi aku tak bisa menjawab banyak, karena masih lemas, dan lemah. "Tadi Mama memanggilkan dokter. Dokter bilang kamu kebanyakan berendam, sehingga sekarang demam. Sekarang makan dulu bubur, ya, supaya bisa minum obat, dan kamu cepat sembuh!" Kata Mama lembut. Aku melihat di meja nakas, sudah ada bubur ayam, dan masih terlihat asap mengepul menandakan bubur itu baru saja dibuat. Tentu saja masih sangat panas, sehinga lidah bisa melepuh bila memaksakan untuk makan. Aku tidak ada nafsu makan sama sekali. Lidah terasa pahit, yang ku inginkan sekarang hanyalah tidur. Semalam aku berendam, dan menangis di bawah shower. Pertengkaran konyol semalam dengan Dean membuatku frustasi. Awalnya, aku memang terpaksa menerima Dean untuk menjadi kekasih. Namun karena aku memperhatikan sikap Dean yang konsisten: tidak genit kepada banyak gadis, hanya fokus padaku ,dan setia, maka aku mau menerima dia. Bahkan setelah pacaran, sikap Dean tidak berubah padaku. Dia perhatian, penyayang, romantis, namun sisi posesifnya muncul. Aku tak bebas pergi kemana-mana, bahkan selalu mengecek keberadaanku, membuatku jengah dengan sikapnya. Aku sebenarnya ingin menolak Dean saat dia menyatakan cinta, namun Sasha mengatakan padaku bahwa dia bersedia menjadi 'penjamin' dalam arti, dia mengenal semua sifat, sikap, dan perangai Dean. Pada saat itu, Sasha menyatakan Dean adalah laki-laki yang baik, dan Sasha berkata bahwa mereka berdua adalah sepupu dari pihak Ibu Dean. Setelah mendengar semua ceritera Sasha, maka aku menjadi semakin yakin untuk memilih Dean sebagai kekasihku. Seiring berjalannya waktu, aku mulai mencintai Dean. Ya, pepatah Witing tresno jalaran suko kulino (Cinta datang karena telah terbiasa) benar adanya, dan aku mengalaminya sendiri. Setelah selesai makan bubur, walau hanya 3 suap, itupun aku yang memaksakan diri. Aku menahan diri untuk tidak memuntahkan kembali makanan yang telah masuk. Mama membantuku untuk meminum obat. "Terima kasih, Mama," kataku lirih. "Sama-sama. Pejamkan matamu, nanti kamu juga bisa tidur," saran Mamaku. "Ya, Mama," kataku patuh seraya mengangguk. Aku mencoba memejamkan kedua mata. Kepalaku masih terasa pusing dan aku teringat ponselku belum aku Charge. Aku membiarkan, siapa juga yang peduli dan yang akan mencariku? Toh aku sudah putus darinya, kataku dalam hati. Aku benar-benar mengantuk akibat pengaruh dari obat yang ku minum. Aku tak bekerja hari ini karena hanya bekerja 4 hari dalam seminggu. Mama masih menemaniku di kamar, aku merasakan mataku mulai berat dan kantuk mulai menyerang. "Istirahatlah supaya cepat sembuh," ucap Mama lembut padaku. "Iya, Mama," kataku sudah setengah mengantuk. Mamaku masih tetap menemani sampai aku tertidur lelap. Author POV "Halo?" Jawab suara bariton milik pria di telepon. "Tuan, Nona Shena sedang sakit. Tadi orang tuanya memanggil dokter dan Nona sakit demam," kata seseorang di seberang telepon. Raut wajah pria itu menegang. Gadisku sakit dan sekarang dia demam? Pria itu berkata dalam hatinya. "Sakit? Jadi dia hari ini tidak masuk kerja?" Tanya suara bariton itu mulai meninggi. "Sepertinya tidak masuk, Tuan. Nona Shena juga tidak masuk kuliah karena sakit. Nona tadi makan bubur dan hanya 3 suap, sekarang tertidur setelah meminum obat," jawab pria itu lagi. Rahang pria itu mengetat. Gadisku sekarang sakit, itu pasti karena putus dengan si b******k itu! Geramnya dalam hati. "Baik, kirimkan bunga dan gift yang sudah disiapkan dan kirimkan seperti biasa. Tapi kali ini ke rumahnya!" Perintah suara bariton itu. "Baik tuan. Apakah ada lagi perintah dari Tuan?" Tanya si pria di seberang telepon. "Tidak ada. Kerjakan!" Tegas suara bariton itu. "Baik, Tuan," sahut pria itu. Sambungan telpon diputuskan oleh pria bersuara bariton. Hati pria itu berkecamuk; marah, kesal, sedih, dan tak tega melihat keadaan gadis yang ia cintai terbaring lemah. "Alan!" Panggilnya kepada pria yang ada di dekatnya. "Ya, Tuan? " Jawab pria yang bernama Alan. "Hajar si ba*ji*ngan yang bernama Dean Ernest itu. Hajar sampai dia nyaris mati, sisanya serahkan padaku. Mengerti?" Tanya pria itu dengan nada dingin, dan membunuh. "Mengerti, Tuan. Saya permisi," ucap Alan patuh dan dia segera keluar dari ruangan. "Berani dia membuat gadisku menangis semalam. Sekarang gadisku juga sakit karena dia. Kamu harus mati, Dean!" Katanya penuh dengan kebencian dan aura kekejaman terpancar, siap membunuh lawannya. Pria itu pun bangkit dari kursinya lalu berjalan ke luar ruangan. Kediaman Shena Seorang Security masuk ke dalam rumah, dan membawa sebuket bunga Mawar merah dan Gift yang dibungkus cantik. Kali ini ada tambahan sekeranjang buah-buahan. "Ini buat Nona Shena," kata Security kepada Maid yang membukakan pintu. "Untuk Nona? Baik, terima kasih," sahut Maid yang menerima pesan kepada Security. Maid yang membukakan pintu pun memanggil temannya agar membantunya. Kedua Maid tersebut pun membawa masuk buket bunga Mawar, Gift dan sekeranjang buah-buahan ke dalam rumah. "Itu untuk siapa?" Tanya Mama Shena, Ibu Felicia.  Dia melihat dua Maid membawa sebuah buket mawar Merah, Gift dan sekeranjang buah-buahan. "Untuk Nona Shena, Nyonya," jawab salah satu Maid dengan nada sopan. "Dari siapa?" Tanya Nyonya Felicia lagi. "Kami tidak tahu, Nyonya. Tadi Security mengantarkan ke dalam tanpa menyebutkan nama pengirimnya," jawab Maid itu lagi. "Baik, masukkan ke kamar Shena. Jangan berisik karena dia sedang tidur!" Kata Nyonya Felicia. "Baik, Nyonya," ucap kedua Maid itu berbarengan. Mereka lalu masuk ke kamar Shena, dan meletakkan buket bunga Mawar merah, sekeranjang buah-buahan dan Gift di meja yang ada di kamar Shena. Setelah meletakkan itu semuanya, mereka segera keluar dari kamar. Shena masih tertidur dengan lelap karena pengaruh obat yang diminumnya. Di Tempat Lain Seorang pria mengamati dari CCTV yang terpasang ke laptop, dan ponselnya. Dia telah konsentrasi bekerja seharian dengan laptop di hadapannya. Walaupun pekerjaan yang dia miliki banyak, namun dengan cepat dia selesaikan semuanya sehingga dia bisa bersantai. Seperti sekarang ini, dia sedang menatap CCTV yang tersambung ke laptopnya dan dari layar laptopnya dia bisa mengamati keadaan seorang gadis yang sedang tertidur lelap. Mata elangnya tak lepas mengamati, tatapan matanya menjadi sedih, dan itu hanya dia tampakkan saat dia sedang sendirian. "Aku sedih sekali, sayang. Aku ingin kamu cepat sembuh. Ba*ji*ng*an itu tak pantas untukmu, sayang!" Katanya lirih sambil matanya tak lepas menatap layar CCTV. Ponselnya berdering, "Halo?" Suara bariton pria itu menjawab panggilan telepon. "Halo, Tuan. Kami sudah mendapatkan dia, Tuan," lapor seseorang di seberang telepon. Pria bersuara bariton itu menyeringai mengerikan. "Bagus! Laksanakan apa yang aku perintahkan!" Perintahnya dingin. "Baik, Tuan!" Kata suara di seberang telepon. Sambungan telepon dimatikan oleh pria bersuara bariton. "Dean Ernest. You gave my girl sh*it, I give you hell!" Suaranya dingin. Pria itu bertekad akan membalas apa yang dilakukan Dean pada Shena. Selain itu, pria tersebut sangat marah karena Dean mengajak Shena menikah dan mengklaim Shena adalah miliknya. Shena hanya milikku, kata pria itu menggeram. Kamu bermain-main denganku, Dean! Aku akan tunjukkan siapa diriku, dan aku pastikan kau akan menyesal sudah dilahirkan! Tekad pria itu dalam hatinya. Aura membunuh keluar dari dirinya. Pria itu mengambil jasnya yang ada di kursi kebesarannya lalu keluar dari ruangan. ******************************************************************************************   Halo, nama saya Priskila Wi. Saya telah membuat 5 Novel yang sudah dipublikasikan secara online, yaitu : Reinkarnasi Dark Witch, Pria Dingin Mengejar Gadis Cuek, The Storm Witch, Summer Kekasih Ares dan Putri Naga Ti-Lung. Jangan lupa tinggalkan jejak berupa memberi love dan feedback supaya saya semakin semangat membuat cerita ini. Cheers :) Priskila Wi
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD