Buket Bunga Mawar Merah

1507 Words
Shena Wijaya POV Aku terbangun dengan keadaan kamar yang sudah mulai gelap. Sebenarnya aku mulai sesak, karena aku takut gelap, untunglah masih ada cahaya dari luar mansion sehingga kamar tidak terlalu gelap. Aku melirik jam di nakas, ternyata sudah jam 18:10. Entah berapa lama diriku tertidur, karena kesadaran belum pulih 100% dan kepala masih terasa berat, pusing, dan nyeri. Ketika bangun tidur, tubuh sudah mengeluarkan banyak keringat dingin, sehingga baju yang melekat menjadi basah kuyub. Aku mau mengganti baju namun sekujur tubuh terasa ngilu, dan pegal-pegal di tulang. Benar-benar tersiksa rasanya. Tubuh ini serasa remuk, seperti habis bekerja berat. Aku ingin buang air kecil. Untungnya di dalam kamar ada Bathroom-nya, sehingga tidak perlu keluar kamar hanya untuk buang air kecil, buang air besar, ataupun mandi. Seetelah mencoba bangkit dari tempat tidur, tak lupa menghidupkan lampu di nakas supaya ada cahaya yang berasal dari dalam kamar. Bila ada cahaya di dalam kamar, hati terasa senang, dan tenang. Aku berjalan dari ranjang ke Bathroom secara perlahan, karena menahan ngilu yang terasa sampai ke tulang. Setelah selesai buang air kecil, lalu membersihkan tubuh, dan mencuci tangan agar bersih. Setelah ke luar Bathroom, ku paksakan diri untuk berjuang menahan rasa ngilu yang terasa, supaya bisa berjalan ke Walk in Closet untuk berganti pakaian, karena tak mau masuk angin dengan pakaian yang basah karena keringat. Sesampai di sana, aku membuka lemari pakaian, dan memilih pakaian yang akan dikenakan sebagai baju ganti. Baju-baju tidur yang dipilih harus yang berbahan Katun atau Spandex, supaya menyerap keringat berlebih apalagi di malam hari. Akhirnya pilihan jatuh pada daster yang masih bagus untuk dipakai. Mata ini menangkap daster batik, sehingga tanpa ragu memilihnya, karena nyaman dikenakan. Sebelum meninggalkan Indonesia, aku membeli 2 lusin daster dengan beraneka motif, dan warna. Aku memilih daster berbentuk baby doll berwarna pink, serta tak lupa mengambil Underwear dan Bra baru untuk ganti. Aku menanggalkan semua pakaian termasuk pakaian dalam. Setelah itu, baru memakai pakaian dalam yang baru saja diambil dan terakhir mengenakan daster. Semuanya dilakukan dengan perlahan-lahan demi melawan nyeri yang terasa di tubuh akibat demam. Setelah selesai berganti pakaian, ada yang mengetuk pintu kamar. "Siapa?" Tanyaku serak. Tubuh terasa lemas, tak bertenaga sama sekali, Rasanya sebentar lagi kakiku akan jatuh, dan tubuh akan cepat merosot ke lantai bila tak dipaksakan bergerak secara perlahan sambil berpegangan pada benda-benda yang ada di sekitar kamar. "Matthew dan Mama," suara Adik lelakiku, Matthew dan mama terdengar berbarengan. Mereka menunggu di luar pintu. "Masuklah!" Kataku. Mungkin mereka berdua membawa makanan ke sini, pikirku. Lalu pintu pun terbuka. Terlihat Matthew dan mama masuk ke kamar. "Nyi (kamu) ganti baju, Ce (kakak perempuan)?" Tanya Matthew kepadaku karena melihat pakaianku berserakan di lantai setelah aku selesai ganti baju dan belum sempat aku rapikan. "Iya. Baju Cece (Kakak) basah karena keringat jadi ganti baju, Ti (Adik laki-laki paling kecil)," jawabku. Rasanya ingin berbaring saja di ranjang, dan tidur. Mama menyalakan lampu di kamar sehingga terang benderang. Sejujurnya lebih nyaman bagiku bila kamar terang, bahkan lebih baik tidur dengan lampu yang menyala, namun Mama tidak memperbolehkan dengan alasan tidak baik tidur seperti itu, sebaiknya tidur dalam keadaan gelap gulita supaya lebih rileks dan tidur dengan nyenyak. "Kamu duduk dulu, Ce, supaya bisa makan!" Kata Mama yang melihatku masih berdiri dengan wajah lemas yang terlihat jelas. "Iya, Ma," ucapku lirih. Matthew berdiri, dan menghampiriku. Dia membantu agar aku berjalan walaupun secara pelan ke kursi, dan duduk di sana. "Kamsia (terima kasih), Ti," kataku berterima kasih atas bantuan yang dia berikan tadi. "Sama-sama, Ce," jawabnya santai. Untung saja aku memiliki seorang Adik yang baik, sehingga dia tak segan-segan membantu. Di dalam kamar ada meja, kursi dan televisi sehingga bisa duduk untuk makan di kamar tanpa khawatir menumpahkan makanan di ranjang atau tidak takut ada remah-remahan makanan jatuh di atas ranjang. Matthew dan Mama sudah terlebih dahulu ke kursi itu. Kami duduk bertiga berdampingan. Mama di sebelah kanan, aku di tengah, Matthew di sebelah kiri. Aku masih merasa pusing. Mama masuk dan membawa bubur ayam, segelas air mineral dan obat-obatan dari dokter. "Ce, ini buket bunga Mawar merah, dan Gift dari siapa? Ada sekeranjang buah-buahan juga," kata Matthew seraya menunjuk semua yang dia sebutkan di atas meja. Aku sebenarnya agak terkejut tapi karena memang sedang sakit, sehingga tidak memperhatikan ada buket Mawar merah, Gift dan sekeranjang buah-buahan yang sudah diletakkan di atas meja. "Nti (Tidak tahu). Cece baru bangun tidur," jawabku lemas. Mana ku tahu? Aku sendiri memejamkan mata dan tidak perduli, lebih tepatnya tidak memperdulikan sama sekali. "Ada kartu ucapan di dalam buket bunga Mawar merahnya, Ce," ucap Matthew sambil mengambil kartu ucapan yang terdapat di dalam buket. "Coba dibaca. Cece masih pusing." kataku mengabaikan ucapan Matthew. "Oke, Ngai bacakan ya, Ce : Dear My Goddess, My heart is hurt because you are sick today. Get well soon, baby. I love you. Love you, K . *Kepada Dewiku, Hatiku sakit karena hari ini kamu sakit. Cepatlah sembuh, sayang. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, K * Who is 'K' , Ce (Siapa itu 'K', Kak ) ?" Tanya Matthew dengan nada heran. Alisnya terangkat satu pertanda dia keheranan. Aku tak bisa berpikir dengan jernih bila dalam keadaan sakit. Namun sekuat tenaga otak ini ku paksa untuk mengingatnya. "Cece nti (tidak tahu) , Ti. Dia suka kirim buket Mawar merah dan Gift ke tempat kerja. Cece tidak mengetahuinya karena tidak pernah bertemu secara langsung," jawabku jujur. Aku mengaduk-aduk bubur ayam yang masih terlihat asap mengepul dari sana. Perlahan, ku makan bubur yang telah diaduk-aduk sedari tadi, supaya tidak panas, setelah itu ditiup sedikit demi sedikit, supaya tidak membakar lidah. Bubur yang terasa nikmat rasanya ingin dimuntahkan kembali. Aku menyuapkan sesendok demi sesendok ke dalam mulut walau lidah masih terasa sangat pahit. "Ce, Tadi Kak Sasha telepon Ngai (aku), dia bilang dia ada menelepon ke ponsel Cece tapi tidak tersambung," kata Matthew lagi. "Iya, ponsel Cece ada di tas. Mati kayaknya karena Cece tidak Charge," jawabku tak bersemangat. Setelah memakan lima suap, aku merasa tak sanggup melanjutkan makan, karena lidah masih terasa pahit dan setelah itu segera minum obat. "Ti, nanti tolong bilang ke Sasha, besok ke rumah. Cece sekarang mau istirahat," kataku pada Matthew sebelum lupa karena masih tak kuat tubuh ini menahan rasa sakit. "Iya, Ce," Jawab Matthew. "Ce, yang kirim semuanya itu dari fans kamu ya si 'K' ?" Tanya Mama akhirnya bersuara. "Mungkin, Ma. Cece tidak pernah lihat wajahnya tapi setiap hari ada saja bunga dan Gift datang ke tempat kerja. Cece juga tidak tahu siapa dia," jawabku lirih dan pelan. "Mama pikir dari Dean?" Kata Mama cepat. Mengapa Mama berkata seperti itu? Apakah Mama sengaja untuk memancing reaksi? Aku menggelengkan kepalaku. Dean memberikan buket bunga Mawar merah? Mana ada! Dia tidak memulai pertengkaran saja sudah bagus, aku berteriak dalam hati. Jengkel hati ini bila mengingat betapa pelitnya Dean. Sudahlah, toh kami berdua sudah putus, yang lalu biarlah berlalu. "Tidak, Mama. Dean tidak pernah memberi bunga ataupun Gift!" Kataku suram. Bukannya aku matre pada Dean dengan meminta hadiah atau mengharapkan dia peka, namun dia sangat pelit padaku. Sedih sekali rasanya hidupku. Aku belum pernah merasakan berpacaran yang romantis, manis, dan harmonis. Kami berdua hanya manis di awal, sisanya lebih banyak pertengkaran. Sudah saatnya merelakan yang tlah berlalu. Tak usah dipikirkan lagi si Dean itu. Aku seharusnya senang tapi hati masih terasa sakit. Keheningan terjadi dan suasana menjadi canggung. Tidak ada satupun yang membuka percakapan kembali. "Mama, Matthew, Cece Oi Soimuk (Kakak mau tidur)," kataku pelan, rasanya tidak mungkin mata ini diajak kompromi. "Buahnya tidak dimakan, Ce?" Tanya Matthew sambil menunjuk sekeranjang buah-buahan yang belum tersentuh. Aku menggeleng, "**!" Jawabku pada Matthew. *Besok* "**!" Ucap Mama kepadaku. *Baiklah* Aku sudah berjalan ke ranjang. Rasanya aku ingin segera merebahkan tubuh yang sedang sakit ke atas ranjang. "****," kataku pada Mama yang masih duduk di kursi. *Selamat malam, Mama* "**," jawab Mamaku sambil tersenyum. "**,**," kataku pada Matthew. *Selamat malam, Adik laki-laki.* "****!" Balas Matthew. *Selamat malam Kakak.* Aku tak bisa lagi melawan rasa kantuk yang menyerang setelah minum obat, lalu tak lama naik ke atas ranjang dan menarik selimut, dan memeluk guling. Tak lama kemudian, aku pun tertidur dengan lelap. Author POV Seorang pria mengamati CCTV-nya. Walaupun dia sibuk bekerja namun dia tetap mendengarkan setiap kata demi kata yang terdengar di CCTV. CCTV yang pria itu miliki adalah CCTV yang dilengkapi dengan suara. Dia menaruh semua CCTV di rumah gadisnya termasuk di dalam kamarnya, agar bisa leluasa melihat segala aktivitas yang dilakukan pujaan hatinya termasuk percakapan yang terjadi di rumah itu, tapi tidak dengan area Bathroom. "Belum saatnya kamu bertemu denganku, Sayang. Belum saatnya. Aku yang akan menemuimu, bukan kamu yang akan menemui aku, walau tanpa kau sadari kalau aku sudah berada di dekatmu," desah pria bersuara bariton itu. Semua pekerjaannya diselesaikan dengan cermat, penuh ketelitian dan ketekunan. Pria itu sungguh-sungguh membagi waktunya. Bahkan saat makan siang pun dia masih mengamati gadisnya. Pria bersuara bariton itu telah mendapatkan Dean Ernest. Dean telah babak belur dan disekap di tempat persembunyiannya. Dia bertekad akan membalaskan sakit hati Shena, gadisnya. Apalagi gadisnya sekarang tengah sakit akibat kejadian putus yang penuh drama yang dia saksikan melalui rekaman video. Aku tidak akan membiarkan mu hidup tenang, Dean, kamu telah lancang mengajak gadisku menikah, kamu dengan lancang mengatakan Shena adalah milikmu, maka sekarang rasakan akibatnya! Sumpah pria itu dengan penuh rasa kesal di dalam hatinya. ************************************* Halo, nama saya Priskila Wi. Saya telah membuat 5 Novel yang sudah dipublikasikan secara online, yaitu : Reinkarnasi Dark Witch, Pria Dingin Mengejar Gadis Cuek, The Storm Witch, Summer Kekasih Ares dan Putri Naga Ti-Lung. Jangan lupa tinggalkan jejak berupa memberi love dan feedback supaya saya semakin semangat membuat cerita ini. Cheers :) Priskila Wi
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD