Bambang meletakkan gagang pesawat telponnya dengan helaan napas panjang. Mengakhiri panggilan interkom dari Ardi yang meminta dirinya untuk masuk ke ruangan pimpinan tertinggi Pradana Group. Panggilan yang entah sudah yang ke berapa kalinya dilayangkan bosnya kepada dirinya hari ini. "Ya Pak? Bisa saya bantu?" tanya Bambang dengan takut-takut saat sudah berhadapan langsung dengan Ardi. Ardi terdiam saja tanpa menjawab. Dia malah menatap Bambang dengan tatapan yang setajam silet. Sebagai sekretaris pribadi yang sudah melayani Ardi lebih dari tiga tahu, Bambang sudah hafal dengan sifat si bos. Kalau sudah begini pasti moodnya sedang buruk, pasti ada suatu hal yang tidak berkenan di hatinya. Ardi menghela napas panjang beberapa saat kemudian setelah melepaskan pandangan dari Bambang. "Ma

