13. bisakah

1046 Words
Besok aku akan berjumpa dengan istri suamiku. Bisakah aku menjadi wanita berkarakter dengan kata-kata yang tegas dan kalimat yang bisa didengarkan dengan benar dan dimengerti. Bisakah aku memperlihatkan karakter yang kuat dan dominasiku sebagai istri pertama serta bahwa aku wanita berkelas yang tidak level dengan kehadirannya. Tapi jika ditilik lebih jauh wanita itu benar-benar berkompeten dan layak jadi maduku. Dia bahkan Lebih baik dan lebih cantik dariku. Posisinya sebagai supervisor manager membuatku benar-benar tidak bisa berkutik di hadapannya. Satu-satunya keunggulan ku hanya karena aku menikah lebih dahulu dan melahirkan lebih banyak anak darinya. Aku benar-benar rendah di hadapan wanita itu. Menyadari itu, aku tidak ingin membuat hatiku menjadi kecil dan merasa minder. Besok aku harus tetap terlihat tenang dan bisa berbicara dengan jelas. Aku ingin mempertegas perasaanku yang sesungguhnya bahwa aku tidak menyukai keberadaannya di dalam hidupku. Sampai kapanpun aku tidak akan bisa berdamai dengan kenyataan bahwa dia merebut suamiku dan suamiku lebih mencintainya dibandingkan aku. Sampai kapanpun aku tidak akan menerima dia sebagai madu apalagi saudara. * Keesokan hari, Telah kusiapkan diri untuk perjumpaan dengan wanita itu. Seperti biasa aku lakukan rutinitas pagi untuk menyiapkan sarapan dan mempersiapkan anak-anakku ke tempat kegiatan mereka. Lalu kusiapkan pakaian suami yang sudah rapi di atas ranjang agar setelah mandi dia langsung mengenakannya. Setelahnya aku langsung mandi dan berganti baju. "Kau mau ke mana rapi dan wangi sekali?" "Ada arisan." "Oh, apa itu pagi?" "Ya," jawabku berdusta. Suamiku yang mesti telah kuketahui keberadaan istri keduanya itu, tetap pulang ke rumah dan menginap bersamaku, di pagi hari dia akan selalu mengenakan pakaian yang aku pilihkan dan makan sarapan yang kumasak, sekilas tidak ada yang berubah dari dirinya tapi aku tahu bahwa hatinya ada pada Rima. Kadang aku berpikir bisa-bisanya dia melakukan ini padaku, bersikap mesra padaku di malam hari lalu siang harinya dia bersama wanita lain. betapa kejam dan munafiknya suamiku tapi sialnya aku sangat mencintainya. "Ya Allah, bantu aku," gumamku sambil merapikan jilbab. Kukemudikan motorku meluncur menuju rumah sakit. Di dalam hatiku terus berdebar dan merasa khawatir, akankah pertemuan ini berhasil atau malah menimbulkan kericuhan yang baru. Aku berdebar dan tidak mengerti apa yang harus aku katakan nanti. Sesampainya di lorong rumah sakit, aku menyusuri setiap langkahku dengan perasaan yang tidak karuan adanya, Aku ingin melihat putra Mas Faisal sekaligus berbicara dengan ibunya. Dadaku berdebar dan ketakutan, Aku khawatir rasa simpati kepada pemuda itu membuat diriku tidak bisa tegas kepada ibunya yang sudah merebut suamiku. Tapi di sisi lain aku sangat penasaran ingin mengenalnya. Aku ingin tahu rumah dari putra suamiku itu. Katanya dia adalah pemuda yang tampan perpaduan dari wajah tampan Mas Faisal dan kecantikan Rima ibunya. Katanya dia tinggi dan berkulit putih serta hidung yang mancung dengan mata yang tajam berbingkai bulu mata tebal bak pedang arab, pemuda itu juga sangat cerdas dan populer di antara para pemuda dan gadis-gadis. Jadi, setidaknya itu yang pernah kudengarkan dari Felicia. Semakin menyadari hal itu semakin saja aku bimbang dan ragu karena sekali lagi putraku Heri juga tidak setampan itu. Tapi, mari kita lihat. Tok tok ... Kuketuk pintu ruang VIP nomor 5, tidak lama kemudian terdengar langkah kaki dan pintu langsung terbuka. Ada wajah rima yang mengenakan jilbab jadi berwarna biru dan gamis senada. Dia nampak anggun dan wangi sekali. Dia bersalaman denganku lalu mencium tanganku tanpa mengatakan apapun. "Bagaimana anakmu?" "Ayo lihat," ujarnya sambil melebarkan pintu. Digandengnya tanganku lalu dia mengajakku untuk mendekat ke sebuah ranjang di mana anaknya sedang tertidur. Pria itu terlihat memprihatinkan dengan kaki yang di gips dan tubuh yang ditutupi selimut sampai d**a. Ada selang oksigen di hidung dan di tangannya ada infus. Bau darah dari luka-luka yang ada di tubuhnya tercium jelas, dan itu membuatku jadi ikut ngeri membayangkan betapa sakitnya. Wajahnya juga babak belur tapi benar saja pemuda itu sangat tampan dan berhidung mancung, bibirnya berbentuk indah seperti bibir ibunya, tapi matanya indah seperti mata pangeran Arab. Sempurna sekali, pantes Mas Faisal rela berlutut di hadapanku agar Aku mengalah demi kenyamanan anaknya itu. Mendengarku datang pemuda itu membuka matanya perlahan aduh dia berusaha untuk menyunggingkan senyum dan meraih tanganku untuk bisa bersalaman. Telur kusambut tangannya yang sudah terulur lalu dia menyalamiku dengan pegangan yang lemah. "Bagaimana denganmu?" "Baik Ibu, Alhamdulillah...." Mendengar dia menyebutku Ibu hati ini menjadi tidak kuasa ingin menangis tapi aku berusaha menggigit bibirku dan menahan perasaan yang sebenarnya. Pemuda itu terdengar sopan dan terdidik dengan baik tapi aku sakit hati kepada orang tuanya, terlebih pada ayahnya. "Apa semuanya terasa begitu sakit?" "Tidak ibu, saya masih bersyukur karena diberi kesempatan hidup. Ada hikmah diberi kecelakaan itu karena setelahnya aku bisa bertemu dengan ibu dan bisa berjabat tangan dengan ibu," jawabnya sambil terus tersenyum di sela rasa sakit. Menetes air mata ini di hadapannya, aku tidak bisa menyembunyikan rasa sedih dan perasaan bercampur aduk antara marah dan dilema, sambil menahan perasaan yang tidak karuan ini. Aku menunduk untuk menyembunyikan air mataku sementara rima yang menyadari itu memang sudah menangis dari awal. Pantes dia pun yang tidak mampu menahan perasaan lalu berlutut di hadapanku. "Tolong jangan pisahkan kami dengan Mas Hafiz karena anakku sangat mencintai ayahnya dan dia menganggap ayahnya sebagai panutan hidupnya. Apalah artinya aku dibandingkan putraku, jadi mohon Mbak, Jangan pernah meminta saya untuk bercerai." Ya, aku memang ingin dia bercerai, tapi melihat putranya yang berada dalam situasi seperti itu Aku tidak bisa mengungkapkan kata-kataku. Aku memang ingin dia berpisah berencana untuk menghardik wanita itu dengan ucapan yang paling menyakitkan di dunia tapi setelah mendengar kata-kata putranya yang begitu lembut dan menyejukkan hati aku terbungkam dan tidak menemukan kalimatku. "Ibu, ampunkanlah Mama saya yang sudah merebut suamimu dan merampas kebahagiaan anak-anakmu. Seharusnya pun saya tidak lahir ke dunia ini agar mamaku tidak perlu mempertahankan papa sehingga Ibu tidak akan tersiksa batin dan menjadi sedih...." "Itu bukan salahmu, jadi kau tidak perlu meminta ampun. Yang salah dari orang tuamu hanyalah ketidakjujuran dan rahasia yang mereka sembunyikan selama belasan tahun. Tapi maaf, aku tidak akan membahas ini lebih banyak darimu, karena kau sedang sakit dan seharusnya seorang anak hanya tumbuh dengan bahagia tanpa tekanan dan pikiran yang berat. Beristirahatlah karena aku akan keluar...." "Maafkan Papa dan Mama Ibu... Saya tahu Ibu adalah wanita yang baik karena melihat keadaanku Ibu langsung menangis." "Aku bersimpati kepada siapapun terlebih kepada orang yang sedang sakit, tapi aku tidak akan memberi simpati kepada pencuri, tidak akan pernah!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD