14. setelah begitu

1055 Words
Setelah berbicara dengan anak mas Faisal dan berusaha untuk menenangkan pemuda itu aku segera memberi isyarat kepada Rima agar mengikuti keluar. Wanita yang tadinya masih bersimpuh di lantai dan memohon agar aku melanggangkan hubungannya dengan mas Faisal segera kusuruh bangun agar dia mengikutiku keluar. Anehnya wanita yang konon katanya adalah orang yang dihormati di kantornya itu dengan tidak berdayanya bangkit lalu mengikuti langkah kakiku. Sekarang lihat di sinilah kami duduk di ujung balkon rumah sakit sambil menatap lalu lalang kendaraan yang berjalan di bawah sana. Jajaran gedung dan rumah penduduk serta luasnya cakrawala menjadi pemandangan di siang itu. Aku dan dia duduk sambil memegang cangkir plastik berisi kopi, duduk dalam kediaman bibir kami masing-masing. ."Jadi bagaimana Mbak apa keputusan yang akan Mbak ambil untuk kami?" "Apa kini kau menggantungkan hidupmu di atas keputusanku? Apa kau yakin keputusanku adalah keputusan yang adil?" "Aku tidak tahu tapi kau punya keistimewaan karena kamu adalah istri pertamanya Mas Faisal, mbak ...." "Aku mohon pikirkan, aku ingin suami kembali karena kedua anak perempuanku sangat syok dan tidak bisa menerima kenyataan. Mereka marah dan memutuskan untuk memberontak di dalam rumah, pikiranku kacau, situasi hubungan semua orang menjadi kaku dan kami saling tidak berteguran. Anak-anak jadi benci pada ayahnya, dan itu membuatku mengalami dilema." "Bagaimana mbak membuatku bercerai sementara putraku sedang membutuhkan ayahnya?" "Ya ... Kembali lagi bahwa kita harus bersikap bijak dan tidak boleh mengedepankan ego. Mungkin aku harus berkorban perasaan, Mungkin aku akan menangis seumur hidupku karena ini kenyataan yang tidak bisa diganggu gugat. Jika aku mendesak Mas Faisal untuk memilih maka dia pasti akan memilihmu tanpa berpikir dua kali, baginya anak lelaki kalian adalah permata yang tidak bisa ditukar dengan apapun... Entah aku harus bagaimana," jawabku sambil menghela napas. "Kalau begitu kenapa kita tidak berbagi dan berdamai saja sebagai kedua orang istri lalu mempersatukan anak-anak kita menjadi satu keluarga yang damai dan bahagia?" "Sulit...." "Kalau kedua orang tua damai dan memberi pengertian kepada anak-anak aku yakin semuanya akan akur dan bahagia Mbak." Kupikir wanita ini sudah merencanakan angan-angannya yang baru dia utarakan tadi, sejak lama. Dia mengira bahwa aku dan dia akan akur lalu anak-anak akan saling menyayangi kemudian kami bisa hidup dalam satu atap sebagai keluarga yang harmonis. Sungguh khayalan yang benar-benar tidak masuk akal. "Sulit bagiku menatapmu tanpa rasa benci. Meski aku tahu kau lebih cantik dan lebih hebat dariku tapi aku tidak bisa menerima kehadiranmu. Meski kau membeli kepalaku dengan uang yang banyak meski kau menyogok anak-anakku dengan kemewahan dunia tetap saja itu tidak bisa menggantikan peran Mas Faisal di dalam rumah. Aku pun tidak bisa melepaskan suamiku karena dia adalah milikku dan ayah anak-anakku." "Di dunia ini tidak ada yang benar-benar milik kita secara permanen Mbak, baik aku ataupun kamu harus siap pada kemungkinan terburuk, dilepaskan oleh Mas Faisal. Dia laki-laki dia bisa memilih wanita mana yang dia sukai." "Lelaki serakah itu ingin memiliki kamu dan aku dalam satu genggaman, dia tidak sadar ada sesi berlawanan di antara kita yang sulit dipersatukan." "Aku rela mengalah atas ego dan kepentinganmu Mbak, aku bukan saja sudah melakukannya sekarang tapi sudah 18 tahun." Benar juga, mendengar jawabannya aku hanya bisa tertawa getir. "Iya juga, kau sudah bersembunyi selama ini, dan siapakah yang bisa menandingimu dalam menyembunyikan diri dan rahasia? Aku salut," jawabku sinis. "Aku melakukan itu bukan tidak tersiksa, aku harus menahan semua kepentingan dan harapanku terhadap suami demi mengalah atas dirimu. Kalau dipikir posisi kita sama sebagai seorang istri... Tidak seharusnya diriku yang selalu mengalah dan tidak punya waktu dengan suami... Karenanya, beri kami kesempatan untuk bisa dicintai dengan layak oleh Mas Faisal. Beli kami kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak waktu karena kami juga adalah keluarganya. Tolong Mbak," jawab wanita itu sambil menarik napas dalam. Dan meski aku sudah bersikap sinis padanya, dia tetap bicara dengan tenang dan terarah, dia tetap mengungkapkan keinginannya agar dia bisa punya hak yang sama denganku. Disetarakan dan dicintai layaknya seorang istri yang sah serta diakui oleh keluarga dan diterima kedatangannya oleh siapa saja. Asumsi dan harapan yang tinggi, tapi tidak dibarengi dengan logika dan kesadaran bahwa akulah istri pertama yang akan berdiri menghalangi niat itu. Namun kini apa dayaku, suamiku sangat tergila-gila pada istrinya dan juga anaknya yang sudah memohon kepadaku agar dia tidak dipisahkan, dia ingin hubungan orang tuanya tetap harmonis dan bahagia jadi Apakah yang harus aku lakukan. "Mari pertemukan orang tua kita dan biarkan mereka yang mengambil keputusan kepada kita...." "Tidak Mbak itu akan menambah beban dan kepusingan mereka serta membuat dilema yang lebih besar di antara keluarga. Bayangkan ibumu dan ayah ibu Mas Faisal akan saling kecewa karena menyembunyikan hubunganku dan anak menantu mereka. Bukannya malah membaik hubungan kita akan saling membenci." "Jadi kalau aku tidak tahan kau berharap aku menceraikan suamiku?" "Aku juga tidak berharap demikian Mbak, terlalu jahat juga aku berharap kau bercerai dengan mas Faisal Padahal aku sendiri yang punya satu anak saja, tidak bisa berpisah darinya." "Kalau begitu kita akhiri saja percakapan ini karena tidak akan pernah ada kata sepakat di antara kita. Sebaiknya aku pulang saja karena aku harus kembali menyiapkan makan siang dan bersiap-siap untuk menyambut anakku pulang. Jaga Reno dengan baik jawabku sambil menjauh darinya. Tepat saat aku ingin berbelok di ujung lorong dekat kamar reno aku tiba-tiba berpapasan dengan mas Faisal. Suamiku siap mendapatkan diriku ada di rumah sakit di jam 10.00 pagi. Aku pun kaget karena dia ternyata meninggalkan tugasnya di kantor untuk datang ke tempat anaknya. Tapi itu tidak bisa diherankan karena situasi saat ini memang seperti itu. "Kau ... Di sini?" "Kau jangan salah paham aku hanya datang menjenguk anakmu." "Oh, terima kasih. Apa kau sudah berbincang-bincang dengannya?" "Ya, kalian mendidik anak dengan baik sehingga dia tumbuh menjadi pemuda yang sopan." "Alhamdulillah," jawab suamiku dengan senyum yang dia paksakan. Di tangannya ada bungkus makanan dan donut bermerek, pasti itu untuk Reno. "Kalau begitu Kau pulanglah karena aku akan menemui rima dan Reno." "Ya, aku memang akan pulang." Saat suamiku meninggalkanku dan melangkahkan kakinya menuju kamar anaknya Aku kemudian tiba-tiba terpikir sesuatu lalu kemudian menahan langkah suamiku. "Bahagia sekali kau mengetahui bahwa aku mulai mengalah perlahan-lahan, percayalah aku tidak melakukannya untuk dirimu." "Tidak apa apa." "Jika aku tak tahan maka bersiaplah untuk kehilangan, kau bukan saja akan kehilangan aku tapi akan kehilangan rasa simpati dan cinta anak-anak kita." "Lalu aku harus bagaimana?" Dia terlihat ragu dan sedikit cemas dengan menelan ludahnya. "Terima saja karmanya karena itu pilihanmu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD