Jatuh air mataku mendengar ucapanmu spesial yang demikian gamblang. Aku tahu dia telah mengatakan kejujuran dengan sebenar-benarnya tentang perasaannya selama ini. Melalui air mataku dan jatuh di atas Quran yang sedang k****a, melihat semua itu suamiku hanya bisa menunduk sambil membisikkan kata maaf.
"Jika kau sangat mencintainya Mengapa kau tidak terus terang saja, sehingga selama 20 tahun seorang wanita tidak selalu menangis dan yang satu lagi merasa nyaman. Kalau kau sangat menyayanginya maka aku bisa mengalah..."
"Menjandakan istri demi seorang istri yang lain juga bukan pilihan yang bijak, lagi pula selama ini aku terus berusaha membahagiakan kalian tidak peduli seberapa lelahnya aku dan seberapa rapuhnya jiwa ini untuk tidak bertahan di situasi yang sulit dan di dalam tekanan pekerjaan yang, aku selalu melakukan tugas-tugasku sebagai suami. Aku tidak pernah ingin menyakiti siapapun Aku sungguh ingin kamu dan dia bahagia sebagai istriku."
Berderai air mata ini mendengarkan kalimat suamiku, aku menyadari dia begitu keras berusaha untuk membahagiakan kami dalam mencukupi nafkah. Aku tahu dia ingin kami hidup nyaman, tapi dengan menyembunyikan rahasia sebesar itu dia telah mematahkan hatiku.
"Hatiku patah atas perbuatanmu dan itu sulit sekali untuk kumaafkan..."
Mas Faisal yang terlihat sangat pusing dan lelah, hanya menghela napas, kemudian mendekat dan merangkulku, dia menangis bersama tangisanku yang pilu kemudian dia mengatakan betapa menyesalnya dia telah melakukan itu padaku.
"Aku minta maaf .... Perasaan yang kualami ini sangat dilema, aku tidak bisa kehilangan salah satu dari kalian.... Jadi mohon untuk akurlah dengan rima, karena Wanita itu juga tidak pernah ingin bersaing denganmu atau menyakiti."
Aku terdiam mendengar setiap bait dari kata-kata ingin aku berdamai dengan istrinya dalam tangisan dan permohonannya, itu sudah cukup membuktikan kalau dia mau merendahkan diri demi seorang wanita, itu artinya dia sangat mencintainya.
"Aku tahu betapa besar dia ingin datang dan mengaku yang sebenarnya padamu tapi aku selalu mencegahnya, aku tahu betapa besar gejolak di dalam dirinya untuk tidak terus-menerus bersembunyi seperti itu ... Maafkan aku mutiara, karena kebohonganku kalian berdua sudah dipermainkan." Faisal Mas Faisal melanjutkan kalimatnya sambil mengusap air mata.
Semakin pilu hati ini mendengar jawaban Mas Faisal, kami saling merangkul hingga terdengar langkah kaki putra pertama kami yang kembali dari tempat melamar kerja.
"Umi, ayah? Kalian di sini?"
"Ya."
"Aku pikir Ayah tidak akan pulang sampai anaknya benar-benar sembuh," ujar Heri dengan wajah jenuh.
"Ayo cepat pulang karena ayah masih punya tanggung jawab kepada kalian. Lagi pula selama ini pernahkah dalam sehari ayah tidak pulang? Selalu pulang dan punya waktu untuk kalian kan?"
"Iya, kecuali di hari wisuda."
"Saya ingin sekali mendampingimu mengenakan toga tapi di saat bersama anak ayah dapat musibah. Jadi maafkan ay..."
"Ayah tidak termaafkan jadi jangan minta maaf," ujarnya.
Sebelum Mas Faisal menyudahi kata-katanya Heri sudah menyangkalnya. Anak sulungku yang tampan dan hampir sama tinggi dengan ayahnya itu memiliki sifat yang tegas serta kemauan yang kuat. Dia sangat disiplin dengan prinsip hidup yang dia terapkan akan kejujuran dan selalu memegang kebenaran. Memang aku dan Mas Faisal selama ini selalu mengajarkan anak-anak untuk hanya mengatakan hal yang jujur. Jadi ketika ada sebuah kebohongan itu seperti sesuatu yang sangat sulit diterima.
"Setelah kami tahu yang sebenarnya apa langkah Ayah selanjutnya? Mempertemukan kami untuk bersilaturahmi lalu berusaha untuk membuat kami damai, begitu?"
"Kamu pikir Ayah suka kalau kalian semua bertengkar dan saling memusuhi. Dalam angan-angan, Ayah selalu berharap kita semua bisa saling menerima dan saling merangkul dalam satu keluarga."
"Jika memang itu harapan dan keinginan ayah, Mengapa tidak sekali pun ayah mencoba untuk mempertemukan kami atau setidaknya menjelaskan sedikit demi sedikit bahwa sebenarnya, ayah sudah berpoligami. Kami semua patah hati," jawab Heri sambil menutup wajah dengan kedua tangan. Dia mengusap pipi dan matanya lalu menghelakan napas dengan pelan.
"Maaf yaa..."
"Aku mungkin bisa perlahan-lahan menerima kenyataan karena fakta yang sebenarnya aku juga punya Adik di mana hubungan kami tidak bisa dipisahkan meski itu dicuci dengan tujuh lautan, karena aku dan dia memang bersaudara, aku mungkin bisa berdamai dengan semua itu tapi bagaimana dengan Rena dan felicya?"
"Aku tahu kedua adikmu itu sangat patah hati, karenanya ayah akan bicara kepada mereka secara pribadi."
"Apa ayah tahu kalau Rena baru saja bertengkar dengan istri ayah?"
"Iya."
"Lalu siapakah yang akan Ayah bela lalu Siapa yang ayah salahkan?
"Tidak ada, ini salah ayah."
"Bagaimana keluarga ayah?"
"Sedikit heboh tapi ayah sudah jelaskan, meski mertua ayah kecewa tapi mereka terlihat tidak punya pilihan. Mungkin akan butuh waktu yang lama agar ayah bisa dimaafkan tapi tenang saja ayah bisa mengatasinya."
"Ya, terserah saja. Mungkin ini adalah momen terakhir kita bicara bersama karena aku memutuskan untuk mengambil beasiswa S2 lalu pergi ke luar negeri. Tadinya aku ingin mengikuti tes pegawai negeri atau melamar di sebuah perusahaan tapi karena Ayah memberi sebuah masalah yang sulit diterima, maka aku ingin menjauh agar bisa perlahan-lahan sadar dan berdamai dengan kenyataan," jawab putraku dengan wajah yang sangat sedih.
"Apa?" Aku dan ayahnya terkejut dan secara serempak berkata demikian.
"Ya. Aku sudah mendaftarkan formulir dan tinggal menunggu proses saja."
"Tapi kenapa kau tidak mendiskusikan itu dengan ayah dan ibumu Apakah kami sudah tidak bisa diajak diskusi?!"
"Ayah jangan emosi, toh ayah pun tidak mendiskusikan pernikahan Ayah dengan kami._"
"Saat itu umurmu masih muda jadi kau tidak mengerti!"
"Bahkan meski aku sudah dewasa pun Ayah tetap membungkam. Jadi, aku sangat tidak mengerti mengapa Ayah melakukan itu. Tolong maafkan aku aku tidak bisa bertahan untuk tetap di sini dan menjaga Umi, jadi aku mohon dengan sangat agar Ayah tidak lagi menyakiti Ibuku Karena dia sudah terlalu sering menangis dan menderita...."
Mendapat permohonan anakku seperti itu, aku tidak bisa membendung air mata, Mas Faisal sendiri terdiam dan terhenyak mendapatkan pernyataan anaknya, kami berdua terkejut dan syok tapi tidak ada yang bisa kami lakukan.
"Dalam keadaan seperti ini jangan ada yang meninggalkan keluarga Karena kita semua butuh dukungan untuk saling merangkul," ucapku dengan nada gemetar.
"Umi ... Aku tidak ingin masalah ini menghambat masa depan dan cita-citaku. Mungkin dengan ketidak kehadiranku ayah akan lebih mudah menghandle keluarga ini. Ketidakhadiranku akan meminimalisir konflik di antara kami, jadi sebaiknya aku pergi saja."
"Apa kamu pikir ayah akan bahagia dengan keputusan sepihak yang kau buat? Kau pikir mudah saja berpisah dengan seorang anak!"
"Lalu Ayah pikir seorang anak mudah saja menerima kebohongan ayahnya yang tiba-tiba saja sudah menikah dan punya anak? Ayah pikir aku tidak patah hati dengan semua itu?"
Mas Faisal tidak bisa menjawab tapi tangannya hanya terkepal erat sambil dia menelan ludahnya. Karena tidak mendapat jawaban anakku lantas menggeleng pelan lalu pergi ke kamarnya.
"Sudahlah, jangan ada yang diperdebatkan di antara kita."
"Baik." Satu kata dari Mas Faisal cukup mematah karena kembali kepingan hatiku yang memang sudah patah dari sebelumnya. Anehnya dia sama sekali tidak berusaha untuk menahan Heri. Mungkin dia terlalu berat kepada Reno. Ya, dua anak laki-laki yang harus dibagikan cinta dan warisan yang sama besarnya, mungkin putraku merasa kecil hati dan minder jadi ia memutuskan untuk pergi.
Aa