Aku peluk anakku dengan penuh kasih sayang lalu membelai rambutnya yang sudah berantakan dari balik hijab, aku tahu ada pergulatan hebat dari penampilan anakku, dia pasti saling jambak dan pukul dengan ibu tirinya, wajahnya lebam dan terlihat membiru.
"Kenapa sampai begini?" Kubingkai wajahnya dengan kedua tangan. Kupandangi wajahnya yang merasa bersalah dan terlihat lelah.
"Memangnya apa yang sudah dia katakan padamu?"
"Aku baru sampai dan wanita itu langsung mengusirku," jawabnya.
"Mungkin dia tak mau anaknya terusik dan di saat yang tepat ada keluarganya," desahku pelan.
"Justru karena itulah, aku ingin langsung bicara dan menyelesaikan semuanya."
"Lalu apa yang terjadi?"
"Tante Rima memintaku untuk pergi dan kami pun bertengkar," jawabnya lirih.
"Apakah kau juga membuat dia berantakan?"
"Ya."
Ah, Aku hanya bisa menghela nafas sambil menahan perasaan yang ada di hatiku, sebagai Ibu pada anakku tapi aku tidak bisa membenarkan perbuatannya. Meski tahu dia sakit hati terhadap ayahnya dan wanita itu, tapi aku tidak boleh mendukung dia yang datang dan semena-mena menyerang orang. Ibu yang baik selalu mencontohkan yang baik bukan mendukung keburukan.
"Dengar, umi mengerti kalau kau sangat marah dan tidak terima perbuatan rima dan ayahmu, tapi datang kepada mereka dan menyerang di hadapan keluarganya, bukanlah perbuatan yang bijak karena pada akhirnya kau juga yang disalahkan."
"Maafkan aku Umi, aku menyesal."
"Sekarang ayahmu pasti bingung menjelaskan pada keluarga Rima apa duduk persoalan sebenarnya, dia harus merangkai penjelasan demi penjelasan agar terdengar logis dan bisa diterima, aku yakin dia sangat pusing sekali."
"Justru aku penasaran bagaimana ayah akan dimarahi dan dihujat oleh keluarga tante Rima."
Aku melihat bagaimana tatapan dan kemarahan yang terlintas di mata anakku. Bagaimanapun seorang ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya jadi sangat sulit menukar cinta yang mendalam tadi menjadi kebencian yang tiba-tiba datang. Memang mas Faisal memberi kami kejutan yang begitu besar, bahkan untukku, sampai detik ini aku belum menerima kenyataan itu. Tapi aku sadar betul bahwa kemarahan dan air mata tidak akan mengubah takdir. Mas Faisal sudah terlanjur menikah dan anak mereka sudah besar.
"Jangan terlalu dipikirkan tentang urusan ayahmu dan keluarga mertuanya, dia pasti bisa mengatasinya. Dia pasti juga akan minta maaf atas namamu. Jadi, kau jangan terlalu tegang."
"Aku tidak mau urusan itu tuntas, Umi. aku malah ingin ayah dan Tante rima berpisah."
"Sepertinya kemungkinan itu sulit karena ayahmu mencintai istrinya. Kalau kau bertanya tentang bukti dia begitu mencintainya, maka lihatlah, dia telah berhasil membohongi kita selama belasan tahun. Selama belasan itulah dia menahan perasaan untuk istrinya, kerinduan dan kasih sayangnya. Juga wanita itu, aku yakin sudah banyak berkorban dan makan hati karena dia harus selalu mengalah atas kita. Bayangkan di saat dia membutuhkan suami, tapi di saat bersamaan kita juga sedang membutuhkan ayahmu. Tentulah, Ayahmu lebih banyak bersama dengan kita dibandingkan dengannya. Puncak dari semua itu, ketika anaknya sedang sakit dan kritis seperti ini maka sebagai seorang ibu dia melakukan segala sesuatu agar anaknya selamat dan berada dalam situasi yang nyaman."
"Oleh karena itulah dia berani bertengkar denganku?"
"Iya, dia mengambil resiko itu meski dia harus malu di hadapan keluarganya asalkan putranya tidak perlu tahu yang sebenarnya."
Seperti yang aku jelaskan di atas, Rima sebagai istri kedua pasti lebih sering menyembunyikan perasaan dan menahan dirinya atas haknya terhadap Mas Faisal. Mungkin di momen momen tertentu dia ingin menghabiskan waktu dengan lelaki yang telah membersamainya itu, tapi, tapi karena ada aku yang lebih berhak dan ketiga orang anak yang lebih banyak maka selama 18 tahun dia telah mengalah banyak.
Selama 18 tahun dia membungkam dirinya sampai aku tidak pernah tahu yang sebenarnya terjadi. Kalau dipikir-pikir, kalau dibandingkan dengan wanita lain tentu mereka tidak akan bisa tahan untuk tidak melegalkan status dan diakui oleh banyak orang, termasuk keluarga. Ya, keluarga ...
Entah kenapa aku baru ingat dan tiba-tiba aku ingin tahu apakah keluarga Mas Faisal mengetahui masalah ini atau tidak? Jika tidak, maka aku salut atas kepintaran mas Faisal menyembunyikan rahasia. Tapi jika mereka tahu maka mereka semua adalah golongan pengkhianat yang telah mengkhianati Kami berempat, aku dan putra putriku.
Keinginan untuk pergi ke rumah mertua dan bertanya hal yang sebenarnya. Tapi mungkin mereka tidak akan memberitahuku karena khawatir Itu menyakitkanku. Kecuali jika aku mendesak nya maka mungkin akan keluar kejujuran yang sebenarnya.
Ah, Aku benar-benar ingin tahu.
"Kenapa Umi diam saja?" tanya Rena sambil melihat diriku yang menerawang dan terdiam.
"Tidak ada sayang, pergi dan ganti pakaian mulai rumah ambillah piring makanan karena kau yang terlihat sudah lapar."
"Terima kasih, karena Umi tidak memberiku tambahan masalah yang membuat mentalku semakin runyam."
"Tidak anakku seharusnya kalian tidak perlu terlibat dengan masalah orang dewasa. Karenanya ... Pergi dan tenangkan dirimu."
Mendengar perkataanku anakku mengangguk lalu dia membereskan dirinya dan pergi ke kamarnya.
Selang satu jam suamiku datang, dia membuka pintu lalu meletakkan sepatunya di rak yang disediakan kemudian menghampiriku yang sedang membaca alquran di ruang tamu. Waktu menunjukkan pukul 03.00 sore dan biasanya aku selalu mengaji di saat-saat seperti itu.
"Bagaimana kabar putramu?" tanyaku saat melihat dirinya yang menatapku lalu menghela nafas dengan beratnya.
"Dia baik."
"Lalu keluargamu?"
"Itu bagian yang paling sulit," jawabnya sambil menghempaskan tubuh di atas sofa. "Tapi untungnya Rima membantuku memberi penjelasan untuk keluarganya."
"Apakah mertuaku tidak pernah tahu perbuatanmu?" tanyaku pada pria yang sedang memijiti kepalanya itu. Jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya itu adalah hadiah ulang tahun pernikahan kami yang ke-8 dan dia masih memilikinya sampai hari ini.
Kalau dipikir, ia terlihat setia sekali padaku karena dia hanya berpakaian dan berpenampilan sesuai dengan pilihan dan seleraku, tak kusangka dia punya istri lain. Pertanyaan di dalam benakku begitu banyak, Tidak pernahkah sesekali wanita itu memilihkan pakaian dan mengatur gaya Mas Faisal sementara di sisi lain mas Faisal harus berpura-pura tetap jadi dirinya untuk menjaga perasaanku? Bukankah itu adalah sesuatu yang rumit.
Ingin aku bertanya padanya dan membahas itu.
Ada berjuta pertanyaan di dalam benakku yang butuh jawaban.
"Benarkah kalau selama ini kau pura-pura bahagia denganku Mas?"
"Aku tidak pura-pura bahagia, aku mencintaimu jadi kulakukan apapun yang sekiranya membuat kalian bahagia. Aku memang bukan suami yang sempurna tapi aku selalu ingin kedua istriku tersenyum dan puas."
"Tapi aku tahu kau selama ini lebih condong kepada kami?"
"Karena aku tahu yang yang pertama harus diutamakan, tapi bukan berarti juga yang kedua harus selalu di nomorduakan, meski faktanya Rima lebih sering menangis dibandingkan dirimu."