Apa boleh buat aku harus mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya. Aku kirimkan sekitar 2 juta Karena aku tahu persis kebutuhan di rumah sakit sangat banyak. Meski dia punya istri yang juga mungkin punya gaji, tapi akan terhina sekali jika seorang lelaki terlihat tidak memiliki uang.
Pagi-pagi anak-anak sudah riuh di meja makan. Mereka mendiskusikan tentang ayahnya dan apa kiranya keputusan terbaik yang akan mereka ambil untuk menyikapi pernikahan Mas Faisal dan rima.
"Aku rasa kita harus membuat Ayah memilih antara kita atau anaknya...."
"Mungkin dia berat ke istrinya...."
"Buat wanita itu menceraikan ayah," jawab Felicia.
"Kita akan berdosa dan dicap egois jika memisahkan pernikahan seorang suami dan istrinya, mau tidak mau kita harus bersabar."
"Sabar sampai mati?" tanya Heri.
"Kita tidak punya alasan untuk menyudutkan ayah karena selama ini Ayah selalu bersikap baik dan menafkahi Bunda," keluh Rena.
Aku yang pusing mendengarkan percakapan mereka hanya bisa menarik nafas, lalu mendekat.
"Begini anak-anakku biar masalah antara Umi dan ayahmu, akan umi selesaikan, kalian fokus aja sekolah dan urusan kalian."
"Langkah apa yang akan umi ambil, apa umi akan diam saja dan mengalah?"
"Tentu tidak, Nak."
"Apa ketegasan yang bisa Umi ambil agar ayah dan tante rima tidak meresahkan kami bertiga?"
"Mungkin umi akan bicara berdua dengannya"
"Lalu kalian akan akur dan hidup bahagia selamanya?" tanya Rena sinis. Memang putriku yang satu itu agak idealis tentang sebuah prinsip dan kejujuran, dia tidak suka apapun yang jadi miliknya diganggu gugat oleh orang lain.
Jadi, ketika mendapati ada masalah seperti itu tentu saja anakku menjadi emosi dan mudah sinis. Ketika anakku berubah menjadi temperaman dan mudah marah.
"Apa yang Umi dan Abi bicarakan semalam sampai kalian terdengar sangat serius sekali hingga menjelang subuh?" tanya Heri.
"Umi membicarakan tentang keputusan Umi yang meminta untuk diceraikan saja."
"Ini yakin mau mengalah meninggalkan suami yang sudah Umi cintai selama 24 tahun?"
"Mau bagaimana lagi kalau ayahmu lebih nyaman dengan wanita itu."
"Astaga ...._ " Anakku terdengar kehabisan kata-kata mendengarkan jawabanku. Mereka mengggeleng lalu beranjak dari tempat duduk masing-masing untuk berangkat ke tempat sekolah dan kegiatan mereka.
*
Pukul 10.00 siang aku mendapatkan telepon dari Mas Faisal, setelah mengucapkan salam suamiku yang terdengar terengah dan panik.
"Ada apa Mas," tanyaku.
"Kau tahu apa yang terjadi?"
"Apa?"
"Rena mendatangi rumah sakit dan bertengkar dengan rima di hadapan keluarga Rima. Terjadi kehebohan dan masalah besar di mana keluarga istriku tidak pernah tahu kalau aku juga punya keluarga lain dan anak-anak.... "
"Apa?"
Aku tidak bisa membayangkan kalau seorang lelaki menikahi wanita selama 18 tahun dan membawa kepada keluarganya tapi keluarga tersebut tidak tahu kenyataan kalau sang pria sudah punya istri dan anak serta menumbuhkan keluarga harmonis tanpa kecurigaan. Tentu itu sebuah pukulan besar yang sangat menyakitkan dan pasti terjadi keriuhan di dalam keluarga Rima.
"Aku tidak tahu Mas, Aku tidak menyangka kalau anakmu akan mendatangi Rima di rumah sakit."
"Ini karena kau tidak bisa mengendalikan dia, sudah kuminta padamu pagi tadi untuk mengkondisikan anak-anak agar tidak membuat kehebohan dulu sebelum aku mempersiapkan semuanya dan bicara dengan keluarga besar. Termasuk akan kujelaskan dengan baik kepadamu kenapa aku melakukan itu. Aku butuh waktu untuk menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir dan kalian tidak memberiku kesempatan itu!" jawab Mas Faisal dengan emosi.
"Maaf Mas..." Entah kenapa aku yang minta maaf padahal dialah yang bersalah.
"Sekarang aku harus bagaimana di tengah sakitnya anakku dan kekacauan keluarga kita. Kenapa kalian tidak memberi kesempatan untuk membereskan dulu musibah yang terjadi ini, lalu baru memberiku masalah yang baru? Tega sekali kalian!"
"Maaf Mas," jawabku pelan.
"Panggil anakmu, bicaralah padanya dengan tegas sebelum aku sendiri yang akan memberinya pelajaran. Aku adalah ayahnya dan dia seharusnya menghormatiku! Kenapa dia datang dan merebutkan masalah pernikahan kami di saat yang tidak tepat, sungguh itu perbuatan yang memalukan."
"Apa, Mas lupa kalau itu salahmu karena tidak jujur pada kami?"
"Tetap saja... Apakah aku salah kalau menikah apakah di dalam Islam pernikahan kedua dilarang, Apakah selama ini aku tidak mencukupi kebutuhan kalian tidak kan?"
"Mencukupi kok mas ...."
"Lalu apa salahnya?"
"Tidak ada."
Aku tidak berdaya di tengah kemarahan suamiku, kalau sudah menyangkut anak-anak maka aku akan ketakutan sekali karena aku khawatir Mas Faisal akan merajuk dan tidak memberikan mereka nafkah. Aku khawatir di tengah persaingan ku dengan rima dia akan memilih istrinya lalu meninggalkan kami. Bukannya Aku tidak bisa hidup tanpa kehadiran Mas Faisal tapi anak-anak masih membutuhkan biaya untuk sekolah mereka. Aku tidak bekerja atau memiliki usaha apapun jadi aku sulit bagiku untuk mencukupi kebutuhan anak-anak.
"Tolong jangan menyusahkanku di tengah situasi yang sulit ini, aku mohon...."
"Iya Mas, maaf."
"Entah apa yang harus aku katakan pada keluarga istriku!"
Sebenarnya Kenapa ia mengatakan itu padaku kalau pada kenyataan itu adalah urusan pribadinya. Mengapa aku harus pusing memikirkan apa yang hendak dia jelaskan.
"Bukankah itu urusanmu Mas, Apa kaitannya kami dengan penjelasanmu terhadap keluarga istrimu?"
"Iya, mudah sekali mulut itu berkata demikian," jawab Mas Faisal dengan napas tersengal.
"Tutuplah dulu teleponnya dan tenangkan dirimu, tolong jangan mengajakku bertengkar di tengah situasi pusing yang sedang aku hadapi ini, kau juga memberiku masalah pelik di mana aku juga sulit menghadapi anak-anakku yang sedang emosi. Kalau kau merasa situasi kita sedang berkaitan, maka tolong, jangan ada yang saling menyalahkan!"
"Entah kenapa kau jadi bicara tidak sopan padaku ... Apakah rasa hormat kepadaku hilang hanya karena aku punya istri lagi?"
"Jujur saja cinta dan perasaanku tergerus, aku jadi kehilangan kepercayaan dan keyakinan padamu, maka dari itu, aku mohon, tolong, beri kami waktu untuk menenangkan pikiran dan menerima semuanya...."
"Kalau begini, aku juga bingung dari bagian mana aku bisa membujuk kalian," balas suamiku sambil menutup telpon.
Baru saja aku tutup telepon tiba-tiba putriku datang dengan wajah dan jilbab berantakan serta mata yang sembab dan maskara yang sudah meleleh, dia menghampiriku dan menarik kursi dengan kasarnya lalu duduk di depan meja makan.
Memang putriku yang nomor dua ini mengenakan hijab sementara yang nomor tiga tidak mengenakan hijab.
"Ada apa Nak?"
Dia hanya diam dan meneteskan air mata.
"Dengan siapa kau bergelut dan Kenapa kau melakukan itu?"
Putriku tidak mengatakan apa-apa tapi dari air matanya aku bisa paham kalau dia merasakan kekecewaan dan rasa gemas yang mendalam.
"Maafkan umi Nak, semua ini terjadi karena salah Umi yang tidak punya insting untuk memahami dan mencurigai suami. Akhirnya anak yang jadi korban dan menjadi emosi seperti ini." Kurangkul putriku di pinggangku lalu dia pun menangis tersedu-sedu.