Suasana sudah kacau begitu mereka tiba di klub, setelah perburuan mereka dalam mencari keberadaan Rodrigo di markas Mackenzie. Justru di sinilah pria itu berada, mengacaukan bisnis milik mantan bosnya.
“Dia memang bernyali besar,” gumam Jeff.
Kekacauan yang Rodrigo buat, berhasil menghancurkan setengah dari bangunan. Beruntung pengunjung belum terlalu banyak yang datang, jelas saja karena hari masih sore. Namun, tak mengurangi kenekatan Rodrigo.
“Di mana pihak keamanan?” tanya Riens sembari mengganti sapu tangan yang sudah berbau anyir darah.
“Aku rasa mereka melumpuhkan pihak keamanan dulu, supaya aksi mereka lancar. Kamu tahu sendiri, klub ini sebelumnya Rodrigo yang jaga.”
Riens memandang lurus, dari luar bangunan tiga lantai itu terlihat seperti biasa. Namun, teriakan pengunjung yang sempat terdengar dari dalam, seolah menjelaskan kekacauan di sana.
Tanpa aba-aba, Riens masuk begitu saja. Kondisi di lantai satu yang merupakan tempat karaoke begitu berantakan, tiga orang pihak keamanan sudah terkapar dengan cairan merah menggenangi lantai.
Beberapa pengunjung terluka dan tak sadarkan diri, pecahan kaca di mana-mana, dan beberapa kekacauan lain yang membuat helaan napas Jeff terdengar.
“Hei, Riens. Biar aku saja yang urus Rodrigo,” ujarnya sambil melirik ke arah Riens. “Selesaikan_”
Kalimat Jeff terpotong, saat Riens berlalu pergi. “Hei, aku belum selesai bicara!!”
Riens mengabaikan, dia berjalan menuju lift. Sampai di lantai dua, suasana penghubung dengan diskotek terlihat sunyi senyap. Riens melangkah tenang dengan senjata api di tangan, pandangannya mengedar.
Menemukan banyak tubuh terkapar di lantai, dan para pembuat onar dengan tongkat besi di tangan mereka. Musik DJ dan tawa menggema, lampu menyorot ke arah panggung kecil, seorang pria tertawa lepas lantas terdiam ketika menyadari kehadirannya.
“Sayang sekali, tapi ruangan sudah disewa.”
Semua serempak menoleh. “Bukankah itu dia?! Si gila Mackenzie!!”
Seruan panik terdengar dari salah satu orang dalam kelompok. Pria yang berdiri di panggung, sontak mendekat sambil mengayun-ayunkan tongkat besi.
“Si gila Mackenzie?” Dia tertawa mengejek. “Dia lebih pantas disebut anjing Mackenzie.”
“Bos, hati-hati! Dia itu memang gila!”
Pria yang dipanggil bos melirik risi. “Apanya yang gila. Di mataku, dia hanya seorang aktor belagu!”
Perkataannya disambut gelak tawa yang lain, pria itu berhenti tiga langkah di depan Riens yang bergeming.
“Kudengar dia pernah bergabung dengan organisasi mafia di Italia, mungkin masih sampai sekarang. Dia dikenal sebagai orang berdarah dingin, dan dilindungi oleh pihak tinggi.”
“Mafia?” Tampak ekspresi meragukan di wajah pria yang dipanggil bos itu, dia mendekat lantas mengendus-endus.
“Mafia apanya_”
Riens menangkap wajah pria itu dalam satu telapak tangan, menekannya kuat sampai terdengar suara meringis. Kemudian dalam satu tarikan kuat, memaksa tubuh itu membungkuk mengenai langsung lututnya.
“Menyingkir! Mulutmu bau.”
Pria itu terkapar dengan darah keluar dari hidung, mulut dan matanya terbuka lebar. Riens mengibaskan tangan di depan wajahnya yang mengernyit.
“Bos!”
Selanjutnya perkelahian tak dapat dielakkan. Dengan tangan kosong, Riens berhasil melumpuhkan mereka dalam waktu lima menit. Napasnya memburu, memperhatikan tubuh-tubuh yang terkapar tak sadarkan diri di lantai.
Mereka hanya orang-orang amatir, tapi cukup cerdik dan mengandalkan gerakan yang gesit. Pandangan Riens mengedar, sampai terhenti pada sebuah pantulan di kaca beberapa meter di depan sana.
Seseorang berjalan mengendap-endap, moncong pistol terarah padanya. Tangan itu telah siap menekan pelatuk. Riens mengernyit, memperhatikan cukup lama sebelum bergerak cepat mengunci leher orang itu.
“Hei! Hei, Riens! Ini aku! Lepas!”
Jeff berusaha melepas kuncian Riens, pistolnya jatuh. Membuat perhatian Riens tertuju ke sana, dan beralih menatap wajah Jeff yang sudah memerah.
“Aku belum siap pergi ke neraka! Lepas!”
Riens pun melepaskan, dan mengambil pistol tersebut. Masih tersisa satu peluru, lalu dalam arahan acak, peluru menembus kaca. Dia mengembalikan pistol yang kosong kepada Jeff yang masih terbatuk-batuk.
“Aku tahu intuisimu itu kuat, tapi menggunakannya ke kawan lamamu, bukannya keterlaluan?! Aku hampir saja mati, sialan!”
Riens melirik sekilas, lalu berjalan ke penjuru ruang.
“Rodrigo berhasil lolos!” seru Jeff. “Aku sudah memberinya tembakan peringatan, tapi dia lari ke hutan.”
Ada sebuah hutan tak jauh dari lokasi klub, hutan yang tak terjamah oleh siapa pun. Hanya karena rumor tentang pembunuhan berantai yang pernah terjadi di sana.
“Bereskan ini,” ujar Riens sebelum pergi dari sana.
“Ya ... Ya. Pergi saja, dasar manusia kejam!”
***
Riens menyusuri hutan. Hari yang mulai gelap membuat jarak pandangnya terbatas, pepohonan menjulang tinggi nyaris menutupi satu-satunya pencahayaan alami dari bulan. Dia berhenti, cairan merah berceceran di atas rerumputan.
Berada di sepanjang jalan secara acak, dan berhenti tepat di sebuah pohon besar. Terdengar suara meringis. Riens mendekat, tiba di dekat pohon, satu peluru lepas bebas hampir mengenainya.
“Kalian akan mati jika mendekat!”
Napas Rodrigo terengah-engah, bisa dipastikan dia akan kehabisan darah dengan luka menganga di betis dan pundak. Wajahnya sudah pucat dengan peluh membasahi.
“Tidak perlu membuang tenaga, kamu hanya akan mati lebih cepat jika bergerak terlalu banyak.”
Itu adalah kalimat terpanjang yang Riens katakan, tapi berhasil menurunkan kewaspadaan Rodrigo yang kini menurunkan kembali pistolnya.
“Kukira kamu sudah berhenti dari pekerjaan kotor ini,” ujar Rodrigo susah payah.
Riens hanya diam memperhatikan, walau seharusnya dia sudah melumpuhkan musuh dari Mackenzie. Namun, untuk apa? Pria itu sudah sekarat.
“Dia perempuan yang hangat,” kata Rodrigo. “Aku mengerti perasaanmu, karena aku pun tengah merasakannya sekarang.”
Napas pria itu memberat, dia mencengkeram kuat paha menahan rasa sakit tak tertahankan di sana.
“Entah misi apa yang Yamaa Mackenzie berikan padamu, jangan pernah libatkan perasaan. Karena sekali kamu jatuh, kamu tidak akan pernah bisa keluar.”
“Jadi, itu alasanmu mengkhianati Mackenzie?”
Rodrigo tertawa hampa. “Mereka lebih dulu mengkhianati kita. Jangan terlalu percaya dengan mereka,” ujarnya patah-patah.
Suara langkah mendekat membuat keduanya menoleh, Riens kembali pada posisi siaga.
“Jeff,” gumam Rodrigo membuat Riens kembali menatapnya. “Berhati-hatilah dengannya.”
Sebelum kehilangan kesadaran, Riens sudah lebih dulu meloloskan satu peluru ke arah hutan. Tepat setelah itu, Jeff muncul dengan wajah panik.
“Kamu sudah menemukannya?”
Riens terdiam sesaat, lalu menunjuk ke arah melesatnya peluru yang dia tembakan tadi.
“Meski sedang sekarat, dia masih bisa lolos.”
Jeff bergumam, lalu menatap Riens. “Biar aku saja yang mengejar, tunggu aku di bar.”
Usai mengatakan itu, Jeff berlari meninggalkan lokasi. Riens terdiam cukup lama, sampai sosok Jeff menghilang tertelan kegelapan hutan. Barulah dia menghubungi seseorang, sambil sesekali melirik ke arah Rodrigo yang sudah pingsan.
***
“Seperti biasa?” tanya seorang bartender.
Riens melirik sekilas, lantas mengangguk dan kembali sibuk menyeka cipratan darah di tubuhnya.
“Sesekali cobalah minuman yang ada di menu,” ujar Jeff yang kini duduk di samping. “Sial, mereka masih saja melawan sampai akhir.”
“Air putih juga ada dalam menu,” timpal Riens sambil meneguk habis air yang baru disajikan.
Jeff mendengus, dan justru memicing curiga. “Apa kamu sungguh seorang pria?”
Pria berambut blonde di depan mereka sontak terbatuk-batuk, lantas memberikan tatapan horor pada Jeff. Seakan bicara lewat mata, tentang ucapan Jeff yang melantur.
“Tidak pernah terlihat bersama wanita, selalu pulang setelah selesai misi, dan tidak pernah ikut minum-minum.” Jeff memaparkan keresahannya, pasalnya dia telah menjadi kawan Riens hampir sepuluh tahun.
“Tutup mulutmu, dasar gila!” Bartender tersebut memperingatkan, sesekali melirik ke arah Riens yang tampak tenang.
“Apa?!” tantang Jeff balik.
“Ya.... Meski harus aku akui, jika kehebatanmu dalam bertarung, tak bisa diragukan. Tapi apa gunanya! Riens, jangan sia-siakan masa mudamu. Berkencanlah setidaknya sekali dalam hidupmu.”
Riens melirik sekilas, lalu mulai disibukkan dengan ponsel. Hendak memberi laporan, tapi getaran di ponsel membuatnya mengernyit.
Nomor dengan nama kontak Liz, menghubungi. Seketika perkataan terakhir perempuan itu pagi tadi, mampir di kepalanya. Riens terdiam cukup lama, sampai ponselnya yang sempat senyap kembali bergetar.
“Apa sudah beres?” tanya bartender.
Jeff melirik dengan alis yang hampir menyatu. “Beres apanya! Rodrigo berhasil lolos. Ini membuatku kesal, sekali aku menemukannya, akan kuhabisi dia!”
Dalam sekali teguk, cairan coklat bening di dalam gelas itu tandas. “Tuangkan lagi!” serunya.
Kemudian menoleh ke arah Riens.
“Siapa?” tanya Jeff mencoba mengintip ponsel Riens.
Riens berdiri. “Aku tidak akan pulang, gantikan aku untuk melaporkan ini kepada tuan.”
Dia berbalik, baru beberapa langkah pergi. Riens berhenti. Perkataan Liz telah mengusiknya, membuat helaan napas terdengar.
“Aku tidak akan pulang seminggu, dan jangan pernah menghubungi.”
Riens benar-benar pergi sambil meletakkan ponsel ditelinga. “Ya?” sapanya ketika panggilan terhubung.
Sementara Jeff tampak melongo memandang kepergian Riens. “Dengar itu? Dengar?! Aku rasa dia sedang berkencan diam-diam!”
Bartender melirik malas. “Jangan sok tahu, dia kan memang selalu seperti itu.”
“Tidak!” seru Jeff heboh. “Dia tidak pernah memberi penjelasan sedetail itu, biasanya langsung pergi.”
Kemudian Jeff merenung. “Kira-kira perempuan mana yang tidak beruntung itu?”
***
Lokasi GPS yang menghubungkan dengan ponsel Liz, membawa Riens pada sebuah mobil yang sudah hancur di bagian depan mesinnya. Mobil putih itu menabrak tiang lampu jalan, jalanan yang sepi membuat mobil masih berada di sana.
Riens mencoba menghubungi nomor Liz, tapi justru nada dering terdengar samar-samar dari dalam mobil. Dia mendekat, menemukan benda berkedip-kedip di bawah kursi kemudi juga tas yang dibawa Liz pagi tadi.
Tidak ada jejak-jejak dari keberadaan perempuan itu, kunci mobil masih tergantung di lubang. Riens memandang sekitar, dan kembali menuju mobilnya.
Tepat setelah itu, Wira menghubungi. Terdiam cukup lama sampai layar ponsel kembali gelap, lalu Riens memutuskan untuk pergi dari sana.
“Cari keberadaan pria itu, dan hubungi aku segera.”
Panggilan yang terhubung beberapa detik itu, dia putus sepihak. Pandangannya jatuh pada sebuah jam tangan yang ikut tergeletak di dekat ponsel milik Liz, jam tangan pria yang dia yakini siapa pemiliknya.