Setibanya Liz dan Wira di kediaman Maheswari, mereka sudah disambut tamu tak diundang. Penampilan keduanya berantakan, dan terburu-buru menghampiri.
“Wira!”
Namun, Wira mengabaikan. Dia merangkul pundak Liz sambil terus berjalan menuju pintu.
“Liz, kumohon mari bicara!"
Itu adalah suara Morgan, pria itu terlihat kalut, wajahnya memar dengan mata yang membengkak. Berusaha menyentuh tangan Liz.
“Jangan sentuh putriku! Sudah cukup dengan semua ini,” sentak Wira. “Bima, anakmu itu sudah menyakiti putriku! Bagaimana bisa dia masih berkeliaran bebas seperti ini!”
Wira mengatur napasnya, lalu membuka pintu dan memaksa Liz untuk masuk. “Aku tidak mau mengorbankan nyawa putriku untuk kerja sama ini,” ujarnya pelan.
“Kita tidak bisa menghentikan proyek besar itu! Sudah setengah berjalan, apa bisa dihentikan begitu saja?!”
Kembali Wira menghela napas. “Bisa, karena masih Maheswari pemegang saham terbesar di sana. Kita akan bertemu lagi di persidangan, entah untuk perceraian mereka atau laporan KDRT yang dilakukan dia.”
Kemudian Wira masuk ke rumah, menutup kencang pintu, sambil mengusap wajah. Sang istri sudah menyambut dengan wajah panik, berbeda dengan Liz yang hanya menatap datar.
“Mas! Apa maksudmu dengan menghentikan proyek kerja sama? Antonio adalah perusahaan besar dengan kerja sama ini, Maheswari akan semakin berkembang.”
Wira tersenyum tipis, mencoba menenangkan istrinya. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tanpa mereka, kita masih bisa makan. Jangan terlalu bergantung pada siapa pun, karena itu hanya akan menjadi musuhmu nanti.”
“Tapi, Mas_!”
Kalimat wanita 45 tahun itu terhenti, ketika Wira berjalan melewati untuk menghampiri Liz. Dia menatap sendu wajah putrinya, samar-samar wajah mendiang sang istri yang muncul. Tampak kerinduan di netra sendunya.
“Papa tidak akan pernah membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu, Liz. Papa janji,” gumam Wira.
***
Liz melirik bergantian ke arah ponsel dan pintu di depannya, ia meragu terlebih setelah tidak mendapat balasan dari pesan-pesan maupun panggilan dari Riens. Semalaman seusai kepulangannya dari rumah sakit, Liz mencoba menghubungi pria itu meski berakhir percuma.
“Apa sebaiknya aku kembali?” gumamnya.
Ini kali kedua, ia pergi ke apartemen milik Riens. Di pagi-pagi buta, Liz nekat pergi diam-diam dari kediaman Maheswari karena takut Wira tak memberinya izin pergi. Helaan napas kembali terdengar, memandang pasrah pada layar ponsel yang retak.
Riens mungkin muak dengan segala drama hidup yang ditontonnya, sebab itukah pria itu memilih mengabaikannya?
“Siapa di sana?!”
Seruan itu membuat Liz terkejut, ia berbalik dan mendapati sekelompok pria menghampiri. Dipimpin oleh Riens yang dipapah oleh pria yang bersamanya di rumah sakit kemarin.
“Liz?” pria yang satu-satunya bersetelan jas rapi, bersuara. Tampak ragu kala memanggil.
“I—Iya?” Liz membeku, memperhatikan lekat wajah pucat Riens. “Apa terjadi sesuatu?” tanyanya masih memperhatikan Riens yang memalingkan wajah.
Baru saja mendekat, pria itu lebih dulu berjalan sempoyongan melewatinya. Tanpa sepatah kata, meninggalkan Liz dalam kekosongan yang nyata. Pintu rumah terbuka lebar, Riens terus berjalan menuju lantai dua tanpa sekalipun menoleh.
“Maaf atas sikapnya yang kasar, tapi dia sedikit sensitif sekarang. Jadi ...”
Jeff tampak ragu meneruskan, sementara Liz sudah menunggu dengan gusar.
“Kamu bisa menemuinya lagi saat kondisinya sudah stabil, untuk sekarang sampai beberapa hari ke depan, dia tidak bisa_”
“Apa dia terluka?” potong Liz tak sabar.
“Bukan masalah besar, apa ada yang perlu aku sampaikan padanya?” tanya Jeff sambil tersenyum kaku.
Liz tidak segera menjawab, sebaliknya ia justru diam-diam memperhatikan penampilan yang lainnya. Mereka semua terluka, ringan sampai sedang. Namun, terlihat menyakitkan dengan darah di mana-mana.
“Tidak,” balas Liz. “Aku akan kembali nanti.”
Ia memutuskan pergi, dan kembali ke kediaman Maheswari di mana Morgan masih nekat datang. Helaan napas lelah terdengar. Liz sudah sangat muak.
“Liz!” seru Morgan seraya menghampiri.
Pakaian pria itu masih sama seperti kemarin, dan terlihat lebih kacau.
“Kumohon, ayo kita bicara.”
Liz mengabaikan, di belakangnya Morgan menyusul.
“Kamu tidak bisa memperlakukanku seperti ini! Aku masih suamimu!” seru pria itu membuat Liz melirik.
Napasnya terengah-engah, pun dengan wajah yang kalut. Morgan memaksakan senyum, membuat wajah marahnya semakin mengerikan.
“Masih ingat pernah menjadi suami ternyata, lalu apa yang kamu lakukan selama ini?! Lupa? Saat dengan mudah kamu melampiaskan egomu itu?! Lupa juga tentang perselingkuhanmu!”
Liz merasa napasnya memberat. Kehidupan tenang yang ia inginkan, tak 'kan pernah bisa terwujud selama Morgan masih berada di sekitarnya.
Namun, Liz tercekat manakala tubuh pria itu luruh dan jatuh terduduk di lantai. Kedua tangannya masih dalam genggaman Morgan.
“Aku menyesal, Liz. Aku takut, semua ini membuatku gila. Mereka tidak bisa diam, sampai aku menurut.”
Morgan terus meracau, tak jua menatapnya. Liz mencoba melepas genggaman Morgan, tapi pria itu justru mendongak dan menatap kosong padanya.
“Hei, Liz. Maafkan aku,” katanya nyaris berbisik.
Hati Liz mencelos, kata-kata Morgan terdengar tulus, tapi tidak mampu menutupi luka di hatinya. Berusaha tenang, perlahan ia melepas genggaman Morgan dan mundur beberapa langkah.
“Aku memaafkanmu,” gumamnya membuat binar tampak kembali di mata Morgan.
Liz melanjutkan, “tapi kita tetap bercerai.”
Morgan berdiri cepat, dia tampak terkejut. Kembali berusaha menyentuh Liz. “Aku sudah minta maaf.”
Liz mengernyit. “Dan aku sudah memaafkan,” timpalnya.
Pria itu masih mematung, tapi Liz mengabaikan dan memilih masuk ke rumah. Bersandar pada pintu sembari menyentuh d**a, dapat ia rasakan debaran menyakitkan di sana.
“Liz, kamu sudah pulang?”
Wira berjalan tertatih ke arahnya, tanpa tongkat yang biasa digunakan. Bergegas Liz menghampiri.
“Papa mau pergi?” tanyanya melihat penampilan Wira yang rapi dalam setelan jas.
“Papa harus ke perusahaan,” balas Wira.
Liz mengernyit, pasalnya Wira tidak lagi terjun langsung ke perusahaan bila bukan ada hal mendesak. Papanya itu memilih mengelola perusahaan dari jauh dengan menempatkan orang kepercayaan untuk menggantikan, terlebih setelah kondisinya yang memburuk.
“Apa ada masalah?”
“Tidak, hanya saja Antonio sepertinya masih tidak terima dan membuat onar di perusahaan. Jangan khawatir, dan diamkan di rumah.”
Wira mengelus rambut Liz, kemudian kembali berjalan menuju pintu. Pria itu menoleh sambil tersenyum lembut, seperti tahu kekhawatiran putrinya.
“Papa pergi, kita akan makan malam bersama.” Wira berujar sambil menyentuh gagang pintu. “Jadi, berhenti membuat ekspresi seperti itu.”
“Ini karenamu.”
Ketika Wira pergi, Marie turun dari lantai dua.
“Papamu itu sudah sekarat, tapi dia tetap memaksa untuk pergi. Karena apa? Karena anaknya yang tidak tahu diri, justru membuat malu dengan ulahnya.”
Liz menghela napas, menanggapi perkataan ibu tirinya itu hanya akan membuat darah tinggi. “Sama saja denganmu, setidaknya aku tidak mengharapkan harta warisan.”
Marie tampak marah, dia terburu-buru mendekat. Lalu dengan sekali tarikan, menjambak rambut Liz.
“Sudah syukur kalian masih hidup! Kamu pikir perusahaan dan kekayaan Maheswari ini milik papamu?! Bukan! Ini milikku!”
Liz mengernyit, ia memberontak dan menepis kasar tangan Marie. “Dasar gila!”
Biar saja dikatakan anak durhaka, manusia macam Marie memang patut tidak dihormati.
“Apa?! Kamu menyebut ibumu gila?! Kamu yang_!”
Bunyi bel rumah memotong perkataan Marie, keduanya menoleh ke arah pintu. Liz melirik Marie sekilas, sebelum pergi menuju pintu.
“Siapa_?”
Seorang pria berdiri menenteng tas kerja hitam, memakai setelan jas kerja, dan terdapat sebuah bekas luka melintang di alis kirinya. Mengingatkan Liz pada Riens.
“Nona Eliza Maheswari?”