22

1108 Words
Kompleks perumahan padat dengan usia setiap rumah puluhan tahun itu tampak sepi karena sebentar lagi malam akan segera datang. Ramiel memarkirkan mobilnya di depan  salah satu rumah tersebut. Tersenyum ke arah gadis yang tengah berusaha membuka sabuk pengamannya sedari tadi namun tidak kunjung berhasil. Ramiel menghela napas. “Sini, biar aku bantu.” Ramiel dengan mudah membuka sabuk pengaman itu. Baru menyadari jika Yuri tengah menggenggam tali sabuk pengamannya dengan erat sewaktu itu menunduk ke arahnya. Sikap tubuhnya tegang dan dari remang-remang lampu jalan Ramiel bisa melihat Yuri sedang tersipu. Untuk gadis macam Yuri, Ramiel tahu ia tidak bisa terburu-buru. Jadi dengan gerakan lambat yang disengaja Ramiel berlama-lama memandang wajah gadis itu dan tersenyum. “Selesai.” Selembut yang ia bisa. Sesuai dengan suasana yang ada saat ini. Yuri mengerjap-ngerjap, seakan-akan kehilangan ortientasi.  Gadis itu langsung melepaskan tali sabuk pengaman yang digenggamannya. Ramiel tertawa kecil. Sebelum keluar dari mobil, memutar untuk membuka pintu mobil Yuri. Gdis itu menunduk, menghindar memandang wajah Ramiel. Dengan langkah cepat memasuki teras rumahnya. Tiba-tiba ia kembali berbalik ke arah Ramiel yang dengan santai bersandar di pintu dengan kedua tangan berada di saku celana. “Mas Ramiel mau masuk dulu?” Ramiel mengambil waktu berpikir sejenak sebelum mengedikkan bahu. “Jika kamu menginginkannya.” Yuri tidak bisa menahan rasa gembiranya. Walau begitu ia bisa menahan ekspresinya hingga menjadi senyum segaris tipis. Ramiel lalu menghampirinya dan mereka berjajalan bersisian berdua. Ramiel menyadari Yuri masih menahan senyumnya bahkan ketika ia membuka pintu... “Oh, Ramiel!” sapa pria itu lagi setelah Yuri menyalam tangannya dan menyelip masuk di antaranya dan pintu. “Masuklah. Kita makan malam bersama selama kamu tidak keberatan dengan menu hidangan orangtua yang penuh dengan rebusan.” Ramiel tertawa pelan sebagai tanggapan. Pria itu mempersilahkan Ramiel masuk dan sama-sama mereka duduk di ruang tamu. “Jadi bagaimana menurutmu tentang Yuri?” Klasik. Ramiel dengan lancar menjawab, “Yuri adalah gadis yang baik dengan cita-cita yang luhur. Dia tahu apa yang ia inginkan dalam hidupnya dan mimpi-mimpinya.” Pria tua itu mengangguk-angguk. “Lalu kamu sendiri bagaimana?” Untuk kali ini Ramiel butuh berhati-hati memilih kata. “Saya sekarang tengah mengelola kafe yang juga mempunyai mimpi untuk membuka lebih banyak cabang. Sampai sejauh ini saya...” Ramiel menghentikan kalimatnya ketika pria itu menggeleng. “Mimpimu. Apa yang kamu inginkan dalam hidupmu sendiri. Yuri sudah menceritakan tentang abangmu-lah yang menugaskanmu untuk mengelola kafe di sini. Sebelumnya kamu juga bekerja di bidang offshore. Dan kebetulan saya pernah mendengar seperti apa lingkungan pekerjaanmu itu.” Ramiel menghela napas panjang Ia benar. Yuri adalah anak kesayangan yang sudah pasti akan sulit sekali dilepas begitu saja. Apalagi dengan pria dengan reputasi pekerjaan seperti dirinya. “Saya rasa keinginan seperti itu kembali kepada setiap individunya. Jika ia memiliki alasan – atau dalam kasus ini. Seseorang yang menahannya. Tentu saja dia tidak akan melakukannya.” Pria itu sekarang menyeringai. “Nak Ramiel. Kamu sedang berbicara dengan seorang pria sekarang. Dan kamu pasti tahu betul tiga hal yang membuat seorang pria gagal dalam hidupnya. Pada kasusmu, Nak Ramiel. Kamu sudah punya harta dan tahta. Hanya tersisa satu hal yang mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk menghancurkanmu.” Tatapan tajam pria tua itu membuat Ramiel meraasakan gigil disepanjang tulang punggungnya hingga membuatnya membeku. Untungnya ia diselematkan oleh Yuri yang tiba-tiba muncul dengan pakaian bersih dan rambut yang basah. “Apa yang kalian bicarakan?” tanyanya sambi memandang mereka bergantian. Saat ini Ramiel sudah tidak lagi memberinya senyum penuh percaya diri seperti tadi. “Bapak hanya menanyakan bagaimana pekerjaan Ramiel itu saja,” jawab pria tua it sangat lancar. Membuat Ramiel tidak bisa menaha diri untuk tidak menyalahkannnya. “Coba cek di dapur. Apa ibumu sudah selesai apa tidak? Bapak sudah lapar sekali.” Yuri kemudian kembali ke dalam. Pria tua itu sekarang berdiri sambil mengeluarkan suara erangan keras. “Nah, ayo. Aku tahu kamu lapar.” Tapi Ramiel sudah kehilangan selera makannya sejak pertanyaan itu diajukan, tapi ia tetap ikut bangkit dan mengkuti pria tua itu ke ruang makan mereka. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya makanan yang tertata di meja jelas makanan sehat untuk lanjut usia. Ramiel mengambil duduk di sebelah Yuri yang degan senyum lebar memberinya piring bahkan menawarinya apa ia ingin disendokkan apa tidak.... *** “Jadi bagaimana menurutmu?” Ramiel duduk di kursi di ruang bakery ketika Cassie tengah sibuk memasukkan chocolate springkle bread ke dalam plastik. “Menurut saya apa?” Cassie balik bertanya tanpa memandang ke arahnya. “Apa yang harus aku lakukan?” Ramiel lagi kali ini terdengar tidak sabar. “Bagaimana kalau Pak Ramiel memikirkan bagaimana kafe kita juga bisa tetap ramai di weekdays? Tidak harus menunggu weekend?” Cassie menoleh dari atas bahunya. Ekspresinya datar. “Lho, tapi dengan hanya itu  juga. Kita, kan sudah mencapai nilai pemasukan yang kita butuhkan?” Cassie meletakkan roti yang belum ia selesai segel dengan cukup keras ke meja stainless itu hingga membuat Ramiel berjengit. “Pengusaha macam apa yang sama sekali tidak memikirkan kemajuan perusahaannya?” “Tapi itu...” “Memang kita sudah mencapai nilai pemasukan yang ditargetkan pada satu bulan. Tapi itu hanya karena pemasukan yang kita dapat setiap akhir pekan. Pembukuan tetap akan terlihat jelek jika penjualan tinggi hanya terjadi di beberapa hari saja dalam sepekan dan itu akan dilihat oleh abang Bapak di ibukota sana!  Jadi apa yang bisa kita lakukan untuk menaikkan penjualan pada weekday.”   Cassie memang terlihat kesal dan Ramiel – walau ia tersinggung luar biasa – tidak bisa membantah apa yang baru saja Cassie beritahu padanya. “Dan belum lagi kita tidak pernah melakukan briefing apapun selama beberpa pekan ini. Briefing dilakukan paling tidak sepekan sekali. Barista pagi masih mengeluhkan hal yang sama pada saya beberapa hari lalu...” “Cukup!” Ramiel sudah berdiri. “Aku tahu apa yang kamu maksud...” “Saya tidak akan seperti ini jika Pak Ramiel bisa melakukan pekerjaan Bapak dengan baik!” Mereka saling mendelik hingga akhirnya Cassie-lah yang lebih dulu membuang muka. “Sebaiknya untuk urusan pribadi apapun yang ingin Bapak bagi dengan saya. Pak Ramiel bisa lakukan pada jam istirahat...” Ramiel menutup pintu ruang bakery terlalu keras hingga ia sendiri berjengit. Begitu juga dengan Aksa yang tidak sengaja berada di sana dengan talam kosong di tangan. Untungnya pria itu tidak mengatakan apapun dan membiarkan Ramiel melewatinya.... Perkataan Cassie tadi menohoknya. Akhirnya membuatnya bertanya-tanya apa yang sebenarny ia inginkan dalam hidupnya? Mimpinya? Selama ini ia hidup sesuai dengan apa yang hidup berikan padanya. Ia tahu apa yang bisa ia dapatkan dengan modal yang ada padanya saat ini. Ramiel sekarang tengah mondar-mandir dalam ruangannya. Sedang mencari alasan untuk bisa menyanggah perkataan Cassie yang sebenarnya tidak bisa ia bantah.... ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD