Malam kedua pada musim kemarau di even mahasiswa angkatan 2013 yang bertema Winter For You semakin ramai saja. Para pengunjung baru datang ketika malam Minggu tiba dengan bintang tamu band indie berbeda dari malam sebelumnya. Band indie kali ini mengusung tema jazz dan terlihat banyak pasangan yang rela berdiri untuk melihat performance mereka.
Cassie lebih sibuk untuk malam ini. Ia bertugas untuk menjaga stand takoyaki dan corn dog milik katering kampus. Ia cukup sibuk dengan banyaknya peminat makanan tersebut sehingga hanya bisa sekali-sekali mendengar performance dari band tersebut. Dari percakapan yang ia curi dengar dari pelanggannya yag datang. Band indie tersebut akan debut di ibukota dalam waktu dekat.
“Apalagi mereka mempunyai vocalis dengan wajah lumayan!” seru seorang gadis pelanggannya sambil mengambil kotak takoyaki dari Cassie.
Cassie hanya bisa menahan dengus geli sambil menunggu. Vocalis-nya setampan apa sampai-sampai semua orang tampak sangat menyukai band tersebut.
“Mbak, saya mau corn dog satu!”
Ketika Cassie mengangkat wajahnya ia mendapati Ghaniy-lah yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu tampak santai dan ada syal seragam even yang melilt d lehernya. Kacamatanya tampak melorot sedikit dari hidungnya dan ada semburat merah di pipinya. Angin malam tampak meniup-niup rambut di puncak kepalanya.
Ghaniy tampak segar, muda, dan berseri-seri diterpa sinar lampu kuning yang tergantung dtidak jauh dari mereka. Membuat Cassie merasakan panas di wajahnya dan cubitan kecil di relung hatinya yang tidak ia ketahui maknanya.
Cassie yang sadar ia belum menjawab, akhirnya mengangguk cepat “Corndog satu segera datang!” serunya seceria mungkin dan langsung bekerja. Ia menunduk dalam-dalam ketika melakukan pekerjaannya. Sedapat mungkin untuk tidak terlalu banyak melihat Ghaniy. Tapi dia gagal. Ia tetap tidak bisa menahan diri untuk mencuri lirik.
“Lagu mereka enak-enak! Tadi kalau saya tidak salah dengar ada yang bilang kalau mereka akan debut di ibukota. Saya harap itu benar.” Ghaniy berkomentar lalu menghela napas.
Karena Cassie tidak tahu ingin menanggapi apa jadi ia diam saja. Corn-dog yang sedang dimasak dalam deep fryer tampak lama sekali untuk matang...
Setelah kejadian ia melepas kacamata Ghaniy hari itu baru lama ia menyadari ia memang sudah kelewat batas. Dan setiap kali ia teringat kejadian itu ia ingin sekali menonjok dirinya sendiri.
Apalagi ditambah dengan perutnya yang sejak petang tadi tidak nyaman. Ia merasa begah dan sesak di ulu hati. Semua diperparah dengan adanya Pak Ghaniy di hadapannya saat ini.
Cassie menggit keras-keras pipi bagian dalamnya.. Akhirnya ia sudah bisa meniriskan corn-dog dan menaruhnya di atas tisu dapur. “Pak Ghaniy mau pakai saos?”
Pria itu mengerutkan dahi ketika menjawab, “Tentu saja.”
Dengan cekatan Cassie menaruh saos dan mayonais ke atas corn-dog. Namun tangannya bergetar ketika menyerahkannya pada Ghaniy.
“Walau lampu ini tidak cukup terang, saya tahu kamu pucat. Apa kamu tidak apa-apa?” Ghaniy setelah mengambil corn-dog miliknya.
Cassie mencoba menggeleng, tapi kernyitan di wajah dan bulir keringat yang mulai muncul membantah gestur yang ia berikan. Sekarang ia sudah membungkuk. Pedih di ulu hatinya makin menjadi.
“Kamu maag? Jangan bilang karena kamu belum makan?”
Cassie hanya bisa mencengkram kain pakaiannya dengan erat.
“Dan ditambah dengan angin malam.” Setelah berkomentar seperti itu Ghaniy sudah memutar masuk ke balik stand. Menaruh corn-dog di atas tatakan tisu dapurdan mematikan api deep fryer untuk bisa memapah Cassie berdiri. “Ayo, saya bawa kamu pergi dari sini.”
Cassie membiarkan Ghaniy mengambil lengannya untuk dilingkarkan ke pundaknya. Jika ia bisa mengelak, ia akan melakukannya. Tapi sakit di ulu hatinya benar-benar tidak membiarkannya untuk berdiri tegak. Jadi ia membiarkan tubuhnya ditopang oleh Ghaniy sepenuhnya. Ia berjengit sedikit ketika pria itu menarik pinggangnya ke arahnya juga.
Dalam hati Cassie hanya berharap tidak ada yang memperhatikan mereka. Ghaniy membawa dirinya ke ruang kerja pria itu. Setiap langkah yang Cassie ambil untuk menaiki tangga membuatnya meringis. Tapi Ghaniy tetap sabar membantunya dan itu membuat pegangan pria itu pada tubuhnya semakin menguat.
Ia merasakan bulir keringat jatuh darin dahinya ketika akhirnya Ghaniy menundukkannya di salah satu sofa penerima tamunya. Cassie langsung meringkuk di atas sofa, meringkuk seperti bola sambil mencengkram perutnya.
Gadis itu bahkan tidak mendengar Ghaniy yang telah pergi untuk mencarikannya segelas air panas. “Untung belum ada pegawai yang mematikan dispanser.” Pria itu bersimpuh di sofa di sampingnya. Menyerahkan gelas berisi air hangat itu. “Pertolongan pertama pada penyakit maag. Kalau masih sakit baru saya akan mencarikanmu obat.”
Ketika Cassie meraih gelas itu. Ujung jemarinya menyentuh ujung jemari Ghaniy. Dengan Ghaniy yang mengamatinya dengan ketat ia meminum air hangat itu sedikit demi sedikit. Tubuhnya perlahan merileks dan keringat makin membanjiri dirinya. Namun yang paling ia syukuri adalah perutnya sudah tidak sesakit tadi.
Begitu ia menurunkan gelasnya ke pangkuan, Cassie bersendawa cukup keras hingga ia cepat-cepat menutup mulutnya.
Ghaniy yang masih bersimpuh itu tertawa pelan. “Nah, itu pertanda baik.” Tangan pria itu terulur. Mengelap bulir keringat dari dahi Cassie dengan telapak tangannya. “Istirahatlah sejenak dan akan saya carikan kamu makanan yang hangat. Kamu butuh makan.”
Cassie terlalu terkejut untuk memberikan reaksi dan pria itu sudah berbalik dan pergi.
Begitu pintu menutup di belakang Ghaniy, Cassie menaruh gelasnya di meja. Duduk melorot di sofa sambil menatap langit-langit ruangan tersebut. Para anggota tim even sudah membawa barang-barang mereka dari ruangan Ghaniy ke salah satu ruang kelas kosong yang juga menjadi basecamp dadakan untuk para mahasiswa yang memilih untuk menginap di kampus. Jadi ruangan ini sudah bersih dari barang-barang berserakan dan tampak seperti sedia kala...
Cassie mengambil kesempatan even ini untuk keluar dari rumah. Papa Ardana mengizinkannya, namun tidak dengan Mama Ardana. Ia selalu berkilah jika usianya sudah cukup tua untu menjaga diri....
Dan sekarang ia mendapatkan cobaan yang jauh dari yang pernah bisa ia bayangkan.
Ghaniy kemudian muncul kembali dengan satu mangkuk sterofoam mengepul dan corn-dog yang sempat ditinggalkan.
“Hanya ada bakso ini. Kuahnya tidak begitu berlemak sehingga tidak sulit mencernanya. Dan tidak pakai saos untukmu, Cassie. Karena kamu baru saja lolos dari masalah.”
Harum kuah bakso menguar di seluruh ruangan. Cassie perutnya sudah terasa lebih baik sekarang duduk tegak begitu Ghaniy menaruh mangkuk itu dihadapannya. Di dalam mangkuk itu hanya ada tiga butir bakso halus dan sedikit daun bawang.
Cassie mengucap terimakasih dengan lirih. Setelah menyelipkan rambutnya di balik telinga ia menyeruput sedikit kuah bakso itu. Lebih enak dari perkirannya.
Cassie makan dengan lahap. Sama sekali tidak mengangkat wajahnya dari atas mangkuk dan sama sekali tdiak menyadari jika Ghaniy memerhatikan kelakukannya dengan senyum tipis di wajahnya....
***