Ghaniy Cakradana tengah sibuk dengan pekerjaanya di laptop ketika seluruh angkatan 2013 mahasiswanya itu tengah berdiskusi masalah even yang akan mereka laksanakan beberapa minggu lagi itu. Ia jadi tidak konsentrasi kerena percakapan mereka terdengar lebih menarik daripada pekerjaan yang tengah ia lakukan di meja kerjanya. Ruangannya sekarang penuh sesak dengan mahasiswa yang saling berdesakan yang tengah melakukan rapatb mereka.
Si Ketua even tengah mendengar setiap cerita dari tim-tim even tentang bagaimana perkembangan pekerjaan mereka dengan si sekretaris dengan sigap menulis whiteboard kecil di pangkuan.
Kebanyakan dari tim promosi masih berusaha untuk menghubungi kembali HRD yang mereka temui untuk menanyakan proposal mereka. Kebanyakan dari mereka belum mendapatan jawaban. Tim yang bertugas untuk merekrut penjual yang akan mengisi stand mereka juga belum melakukan yang sama. Berita itu membuat Si Ketua sekarang tampak mulai gelisah sambil bertolak pinggang.
Ghaniy mencuri lirik ke arah Cassie. Gadis itu berdiri bersandar di dinding dengan kedua lengan terlipat di depan tubuh. Ekspresinya tidak terbaca, namun ia terlihat memusatkan perhatiannya pada si Ketua yang makin lama makin gelisah.
“Dan kalian yang ke perusahaan minuman bersoda?” Si Ketua akhirnya berputara ke arah Cassie berdiri. Ia bahkan tidak tampak antusias ketika melakukannya. Seakan-akan ia sudah tahu jawaban seperti apa yang akan Cassie berikan.
“Done. Kita mendapatkan panggung dan 10 stand lipat folding dari mereka.”
Sekarang semua mata tertuju pada Cassie. Bahkan Ghaniy harus melipat sedikit layar laptop-nya agar bisa melihat gdis itu lebih jelas. Gadis itu bahkan tidak merubah sikap tubuhnya ketika ia mengatakannya. Dengan masih saling pandang dengan Si Ketua Cassie berkata, “Sang Manajer mereka bahkan menawari kita pengisi acara yang kita mau. Artis lokal, tapi.”
Cassie akhirnya menyadari seluruh perhatian yang ia dapatkan. Dahinya mengernyit sambil mengedarkan pandangan Ia bahkan sempat bertukar pandang dengan Ghaniy sebelum melanjutkan, “Ada apa? Bukannya kalian ingin mendengar berita baik?”
Ghaniy sekarang tengah menunduk dalam, menahan tawa.
“Well, kalau begitu kita hanya perlu mengisi stand-stand itu sekarang,” ujar Si Sekretaris baik hati karena Si Ketua masih memandang Cassie tidak percaya. “Apa kita bisa memutuskan artis apa yang ingin kita undang?” Si Sekretaris sekarang memandang Cassie penuh harap. “Dia bilang siapa saja, kan?”
Sekarang Cassie yang nampak gelisah. Gafis itu bertukar pandang dengan dua orang yang duduk tidal jauh darinya. Salah satu pemuda mengedikkan bahu ke arahnya. “Yeah, pilihlah. Karena kami sama sekali tidak tahu siapa saja artis lokal yang sedang trend sekarang.”
Si Sekretaris nampak bersemangat dan Si Ketua entah kenapa tengah menggosok-gosok dahinya.
Sebenarnya sebelum mereka bisa mengumpulkan semua sponsor yang mereka inginkan. Tidak ada yang bisa mereka bahas lebih jauh. Hal-hal remeh seperti mereka mungkin harus mengumpulkan sedikit uang untuk biaya tambahan lainnya dan desain kaos seragam untuk. Setelah itu mereka bubar dengan berkelompok-kelompok.
Cassie tampak tidak sesantai tadi. Ia bertiga bersama pemud ayang mengedikkan bahu tinggal bersama seorang gadis. Saling berbisik-bisik. Cassie menepuk-nepuk pundak Si Gadis sebelum keduanya pergi meninggalkan Cassie.
Ghaniy menunggu hingga Cassie memungut tas selempangnya di lantai sebelum memanggil nama gadis itu. Laptop-nya sekarang benar-benar sudah ia matikan. “Walaupun saya tahu kamu mampu. Tapi maukah kamu ceritakan bagaimana cara kamu melakukannya?”
Cassie tampak ragu sejenk. Ia melirik pintu kemudian Ghaniy, bergantian.
“Tapi kalau kamu masih punya kelas...”
Cassie menggeleng. “Tidak.” Kemudian ia mulai bercerita masih dengan jarak yang sama di antara mereka. Senyum Ghaniy menghilang perlahan seiring kata-kata Cassie.
“Itu sangat berbahaya! Kalian...”
“Tidak ada yang benar-benar terjadi. Pria b******k itu sekarang sudah dalam penahanan polisi. Sang Manajer Perusahaan hanya meminta kami menjadi saksi sebagai gantinya. Karena tidak ada satupun karyawan yang ingin melakukannya sebelumnya karena pria b******k itu mengancam akan memecat mereka.”
Ghaniy mendadak pening. “Tapi itu...”
“Kami memutuskan untuk tidak akan memberitahu jika tidak ada yang bertanya. Lagi pula yang terpenting adalah kami mendapatkan sponsor yang diinginkan. Sang Manajer Perusahaan bahkan berkata kami tinggal meminta apapun yang kami butuhkan lagi. Beliau memberi saya nomor telepon pribadinya.”
Ghaniy memandang Cassie tidak percaya “Bagaimana kamu... dan gadis itu menghadapi ini semua sesantai itu.”
Ghaniy mendengus. Wajahnya mengernyit penuh ejekan. “Kami tahu apa yang kami akan hadapi begitu memilih jurusan kuliah yang kami ambil sekarang ini.”
“Apa kalian memandang rendah diri kalian sendiri?”
Cassie menggeleng pean. “Tidak. Hanya saja orang lain yang memandang rendah kami. Tidak ada yang benar-benar ingin merendahkan diri mereka sendiri, Pak Ghaniy. Hanya saja salah satu dari dua gender di dunia ini cukup sering memandang rendah gender yang lain. Itu saja.”
Setelah kalimat terakhir itu Ghaniy dan Cassie saling pandang cukup lama. Hingga akhirnya Ghaniy tertawa tanpa keriangan. “Kamu sama sekali tidak berniat untuk memperhalus kalimatmu, ya?”
“Untuk apa?” Cassie memperbaiki letak tas selempangnya di bahu kemudian mulai berjalan mundur menuju pintu. “Kalau memang ada kebenaran di dalamnya?”
***
Berbeda dengan kenangan empat tahun lalu itu, Ghaniy yang sekarang tampak tidak begitu semangat. Ia bahkan menyeret langkahnya sepanjang lorong. Hanya menggumam ketika menjawb salam dari para mahasiswa yang melewatinya. Ia bahkan butuh waktu lama untuk menaiki tangga menuju ruangannya.
Ghaniy mendadak menghentikan langkah ketika ia mendapati seseorang berdiri di depan pintu ruangannya. Keantusiasannya langsung menghilang begitu ia menyadari seseorang yang berdiri di depan ruangannya itu hanyalah seorang kurir pria dengan jaket berwarna hijau. Namun di tangannya terdapat kotak kue yang dikenalnya.
“Pak Ghaniy?”
Ghaniy menggumam mengiyakan. “Yah, saya.”
“Maaf, Pak. Ini ada kiriman dari Mbak...” Si Kurir melirik ke arah layar ponselnya sebelum menlanjutkan, “...Cassie.”
Ghaniy mengulurkan tangan menerima kotak kue itu kemudian mengucap terimakasih. Si Kurirr kemudian mengucap salam dan berlalu.
Pandangan Ghaniy masih tertuju pada kotak kue itu selama ia mencoba membuka pintu ruangannya. Ia bahkan sampai salah kunci beberapa kali. Ketika ia sudah berada di dalam. Ia duduk di sofa penerima tamunya untuk mengintip isi kotak kue tersebut. Strawberry shortcake dengan banyak potongan strawberry. Tiga potong, seperti biasa. Namun sekarang ada sticky note yang tertempel di bagian dalam kotak.
Sorry. Ice Cappucino-nya menyusul.
Ghany tertawa kemudian ia teringat jika ia memang punya janji untuk kembali mengunjungi Long Dock...
Jadi Ghaniy mencoba mencari kunci mobil yang seingatnya ia letakkan di meja kerjanya. Butuh waktu lama sebelum ia menemukan kunci itu dan setelah menemukannya ia berlari keluar. Tidak lupa ia membawa kotak kue itu bersamanya. Ia bahkan tidak tahu alasan kenapa ia berlari, tapi ia tetap melakukannya. Ia meletakkan dengan baik kotak kue itu di kursi penumpang di sebelahnya dan ia menyetir meninggalkan parkiran Sekolah Tinggi Ilmu Pariwista Harapan Bangsa secepat yang ia bisa.
Selama perjalanan Ghaniy mengetuk-ngetuk jemarinya di roda kemudi, menggigit bibir. Suasana jalan raya cukup ramai dan itu membuatnya makin gelisah. Ketukan jemarinya di roda kemudi makin kencang bahkan ketika ia tengah menunggu warna traffic light berubah. Ia menyetir secepat yang ia bisa. Dan senang begitu menyadari ia juga tidak kesulitan untuk parkir di Long Dock. Kafe itu terlihat cukup sepi. Hanya terlihat satu-dua pelanggan yang ada di sana.
Ghaniy turun dan tidak lupa ia membawa kotak kuenya bersamanya. Begitu ia mendorong pintu kafe membuka ia merasa ia benar-benar beruntung karena ia langsung menemukan Cassie sedang menata rak display dengan serius...
Pintu tertutup di belakangnya dan sepertinya Cassie menyadari itu karena gadis itu akhirnya mendongak ke arahnya. Napas Ghaniy terengah dan embun di kacamatanya hilang-timbul akibat uap panas dari napasnya. Namun ia masih bisa tersenyum sambil menganngkat kotak kuenya tinggi-tinggi dan berkata dengan terengah,
“Aku tidak bisa makan ini tanpa Ice Cappucino-nya.”
Cassie memandang wajahnya dan kotak kue itu Cassie menggulum bibirnya sebelum menggeleng-geleng...
***