13

1190 Words
Cassie Ardana memandangi wajah Ghaniy cukup lama Memandingkannya dengan wajah pria itu tiga tahun lalu. Kali terakhir mereka bertatap muka adalah hari di mana Cassie wisuda. Walau sebelumnya mereka juga sudah tidak lagi saling sapa. Wajah Ghaniy mengingatkan Cassie dengan banyak kenangan. Kenangan menyenangkan maupun kenangan pahit. Dan wajah itu sekarang tengah tersenyum lebar dengan napas terengah... Lamunanya buyar ketika ia merasakan seseorang memanggil-manggil namanya. Gadis itu mengerjap dan menyadari ada pria lain yang tengah berdiri di hadapannya dan baru saja menurunkan tangannya dari wajahnya. Cassie butuh waktu dua detik untuk mengenali siapa pemuda itu. Atau sekarang ia tidak lagi bisa memanggilnya sebagai pemuda. Pria itu tersenyum lebar sekali hingga matanya tinggal segaris. Cassie mengenalinya sebagai salah satu teman kelompoknya dalam tim promosi pada even kampus beberapa tahun lalu. “Cassie, astaga! Kapan terakhir kali kita bertemu?” seru pria itu dengan anda tinggi. “Kamu tiba-tiba menghilang ke ibukota dan tiba-tiba juga kembali!” Cassie melirik ke arah Ghaniy yang masih terpaku di tempatnya itu sebelum kembali menaruh perhatiannya pada pria itu. “Yeah, sekarang aku di sini. Ta-dah!” Tawa pria itu menggelegar sebelum mengedarkan pandangan ke seluruh kafe. “Konsep yang menarik. Kapan-kapan kalau aku ingin mengajak seseorang bertemu. Aku akan membawa mereka ke sini!” Kemudian ia terlonjak, mengingat sesuatu. “Oh, ya! Aku datang ke sini untuk memberimu ini.” Pria itu menyerahkan sesuatu dari dalam tas kerjanya. Cassie menerimanya dan menyadari itu adalah undangan pernikahan berwarna merah muda pucat. Setelah Cassie membaca nama mempelai wanitanya, gadis itu terkekeh pelan. “Kamu..” Pria itu kembali mengangguk-angguk. “Gadis yang satu kelompok dengan kita hari itu. Setelah even selesai aku menyatakan cinta padanya dan ia menerimaku. Kami berpacaran hingga beberapa bulan lalu sebelum aku melamarnya!” Cassie memandang undagan itu kemudian wajah pria yang masih tersenyum lebar itu. “Wah, aku sama sekali tidak tahu.” Perlahan senyum di wajah pemuda itu menghilang. “Karena setelah even itu selesai dan kita semua berpisah untuk menjalani magang. Setelah kita semua kembali, kamu berubah. Bahkan aku saja tidak berani untuk mendekatimu.” Diingatkan kembali seperti itu membuat relung d**a Cassie mendadak seperti tersengat. Gadis itu menunduk, tanpa sadar menggenggam undangan miliknya terlalu erat... “Maaf, mengganggu. Tapi aku rasa aku mengenalimu juga.” Pria itu tersentak kecil begitu menyadari siapa yang menegur mereka. Ghaniy tersenyum kecil sambil meremas pundaknya. Wajah pria itu tampak kembali berbinar. “Astaga, Pak Ghaniy! Saya tadi berniat untuk ke kampus untuk mengantarkan undangan ke para dosen juga! Ternyata kita bertemu di sini!” Cassie merasakan Ghaniy meliriknya sekilas sebelum melanjutkan, “Tadi yang kudengar kamu menikah dengan teman sekolompok kalian di tim promosi, ya? Berarti aku punya andil dalam hubungan kalian juga, kan? Sama seperti Cassie?” Pria itu tertawa gelak-gelak. “Benar juga. Aku sama sekali lupa jika Pak Ghaniy juga ada andil dalam hubungan kami.” Ghaniy menepuk-nepuk pundak pria itu. “Kalau begitu kamu tidak sibuk, kan? Ayo, ceritakan padaku bagaimana kamu bisa mengambil hati gadis itu sambil mentraktirku kopi. Kita tidak bisa berlama-lama mengganggu Cassie yang sedang bekerja. Kamu bersedia, kan?” Pria itu tampak ragu sejenak sebelum mengedikkan bahu. “Selalu ada waktu untuk mengenang masa lalu.” Ghaniy kemudian menyeret pria itu dari hadapan Cassie menuju bar station. Cassie memerlukan waktu sejenak untuk mengumpulkan kembali kesadarannya sebelum meninggalkan keduanya kembali ke ruang bakery. Aksa berada di sana. Sedang menghias birthday cake pesanan seseorang yang melakukan reservasi sore ini dengan butter cream. Tanpa kata Cassie menarik kursi dan duduk dengan undangan itu di pangkuannya. Entah kenapa ia merasa ingin menangis walau sebenarnya ia tidak tahu kenapa. Ia merasakan panas dibagian belakang bola matanya. Desakan air mata yang ingin keluar. “Apa itu undangan dari mantan Mbak?” Pertanyaan Aksa yang tiba-tiba itu sontak membuat Cassie mengangkat pandangan kemudian tertawa. Tawa ironi yang lucunya butuh waktu untuk berhenti. “Astaga, bukan. Seandainya memang sesederhana itu,” jawab Cassie dengan suara serak. Dilambaikannya undangan itu sebelum melanjutkan, “Hanya saja kedua nama ini terlibat dalam masa lalu yang selamanya akan menghantuiku.” Aksa untungnya tidak bertanya lebih jauh, membuat Cassie bersyukur. Ia menarik napas berulang kali sebelum menyimpan undangan itu ke dalam tasnya. Tanpa kata mengambil roti-roti abon yang tergeletak menunggu untuk di bawa keluar. Cassie mrasakan pandangan Aksa mengikutinya menghilang di balik pintu dengan talam berisi roti-roti itu. Cassie berharap pemuda itu sudah pergi ketika ia keluar dan doanya terkabul. Hanya ada Ghaniy di meja terjauh duduk sendirian dengan segelas Ice Cappuccino dan tengah menyupa sepotong kue yang ia bawa. Matanya menerawang. Gadis itu kemudian kembali pada pekerjaannya. Setelajh ia selesai ia menghampiri meja Ghaniy. Dengan talam stainless itu dalam pelukannya ia berkata pada Ghaniy yang tengah memadnang ke luar jendela. “Terimakasih karena sudah menyelamatkan saya tadi.” Ghaniy mengerjap di balik kacamata. “Aku tidak punya penjelasan lain untuk reaksimu tadi selain kalau kamu patah hati.” Cassie memutar bola matanya. “Untuk kali ini tebakan Pak Ghaniy salah.”  “Jadi?” Cassie mendesah panjang. “Dia dan gadis itu... Hanya mengingatkan saya pada kenangan lama. Namun tidak ada unsur romantis di dalamnya.” Ghaniy mengetuk-ngetuk tempat duduk di hadapannya. “Duduklah dan jelaskan padaku.” Cassie tampak ragu sejenak dan mengedarkan pandangan. Kafe cukup sepi sehingga tidak ada salahnya jika ia duduk sebentar. Dengan hanya dipisahkan oleh meja kecil mereka duduk saling berhadapan. Ghaniy mengulurkan satu tangan di pinggir meja. Dengan sekali dengan tangan Cassie yang masih di pangkuan di bawah meja. Gadis itu bahkan bisa merasakan hawa panas yang menguar dari lengan Ghaniy di  punggung tangannya. “Setelah even itu selesai dan kami semua berpisah untuk menjalani masa magang kami masing-masing. Papa saya meninggal karena kanker usus. Hanya butuh dua bulan setelah diagnosa beliau. Sehingga ketika saya kembali saya merasa semuanya telah berubah.” Cassie mengatakan itu semua sambil memandangi strawberry ada di bagian atas kue Ghaniy dan embun yang ada di gelasnya.    “Kenapa kamu tidak mengatakan apapun padaku?” Ghaniy bertanya setelah sekian lama. Cassie berkata dengan anda tidak percaya. “Karena tidak penting. Karena saya tidak butuh dikasihani oleh siapapun.” Tangan Cassie menggenggam pinggiram talamnya kuat-kuat ketika ia akhirnya mengangkat wajahnya untuk mengetahui ekspresi seperti apa yang Ghaniy berikan padanya setelah mendengar berita itu. Dan dengan terkejut ia mendapati Ghaniy masih tenang. Tidak menunjukkan tatapan apapun yang bisa Cassie artikan sebagai mengasihani atau apapun. “Oke, jika itu maumu. Aku tidak akan melakukannya. Itupun jika kamu tidak menunjukkan ekspresi seperti anak kucing yang dibuang seperti ini.” Cassie akhirnya memaksakan senyum dan ia mengangguk. “Saya bahkan tidak ingat kapan terakhir kali saya menceritakan kisah ini lagi.” “Dan aku harap itu untuk terakhir kalinya. Seperti yang Beyonce katakan, “Embrace your past, but live for now.” Cassie mencibir. “Apa Pak Ghaniy mengejek saya?” Ghaniy mengerjap-ngerjap. Jelas tersinggung. “Kamu harus belajar untuk menerima kebaikan orang lain.” “Kebaikan selalu diikuti dengan balas budi. Saya tidak menyukainya.”Cassie yang sebenarnya untuk dirinya sendiri. Namun ia mengatakannya cukup keras sehingga Ghaniy berdecak kemudian berkomentar, “Kisah apa lagi yang telah kamu lalui sehingga membuatmu negatif seperti ini?” ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD