14

1120 Words
Di dalam mobil yang di parkir di depan sebuah rumah di kawasan elit dengan penjagaan satpam dua pulu empat jam itu, Ramiel Yusmar memarkirkan mobilnya. Namun ia belum bisa keluar karena Nadia tengah mencengkram dagunya, memaksanya untuk membalas ciumannya. Di petang hari. Ketika bisa saja salah satu tetangga wanita itu memergoki mereka. Sejak hari itu ketika ia Ramiel memenangi hati Nadia. Gadis dengan kecantikan menyilaukan mata. Salah satu dari sedikit berlian yang ada di tengah tumpukan batu bara di angkatan jurusan Teknik Mesin angkatannya. Ramiel sama sekali menghiraukan reputasi Nadia sebagai pematah hati. Nadia kerap kali berganti pacar seperti ia berganti sepatu. Dan Ramiel adalah yang paling sial. Ditinggal begitu saja ketika gadis itu lebih memilih menikah dengan orang lain. Bibir mereka masih saling bertaut dan tidak ada dari keduanya yang ingin berhenti. Tangan Nadia yang dingin sekarang berpindah ke lekuk lehernya. Tepat di mana denyut nadinya berdentam. Ramiel sekarang mengulurkan tangannya, menangkap tengkuk Nadia untuk menarik wanita itu lebih rapat padanya. Ramiel mulai merasakan kram karena posisinya yang tidak baik dan mereka dipisahkan oleh tuas persneling... Cengkraman Ramiel menguat, rambut Nadia berada di antara jemarinya. Namun ketika ujung jemari Nadia mulai masuk ke kerah kemejanya Ramiel berhenti saat itu juga. Napas Ramiel memburu, detak jantungnya berdentum-dentum di dalam rusuknya. Ia melihat kilau gairah yang sama dalam mata Nadia dan wanita itu sekarang tengah menyeringai. Terang-terangan menjilat bibirnya sebelum berkata dengan nada serak, “Itu tadi jelas bukan permainan seseorang yang tidak berpengalaman.” Ramiel memilih untuk tidak menjawab. Ia melirik pantulan dirinya di kaca spion tengah dan mendapati bekas lipstick disekitar mulutnya. Dihapusnya dengan punggung tangan. “Jangan kamu samakan aku dengan pemuda yang mabuk kepayang deganmu ketika kuliah dulu.” “Jadi kamu mengakui kalau kamu menyukaiku sebesar itu?” Nadia tergelak sekali. Ramiel mengutuk dirinya sendiri dalam hati karena tidak memikirkan perkataannya baik-baik tadi. Hening sejenak sebelum ia merasakan tangan Nadia terulur untuk mengusap sudut bibirnya dengan ibu jari. Ada noda lipstick yang terlewat di sana. “Terimakasih untuk makan siangnya hari ini. Lain kali jika egomu sedang tidak begitu tinggi. Kamu bisa datang lagi padaku.” Nadia kemudian meninggalkannya turun dari mobil. Nadia mengibas rambutnya ke samping ketika ia berjalan menuju pekarangan rumahnya. Menampakkan lekuk lehernya yang jenjang. Diam-diam Ramiel menelan ludah. Jadi sebelum ia kehilangan lebih banyak kewarasannya, Ramiel meninggalkan kompleks rumah itu saat itu juga. Sambil menyetir ia mengambil ponselnya untuk menghidupkan maps. Sesekali ia masih memeriksa pantulan dirinya di kaca spion tengah. Meastikan kalau penampilannya sudah baik-baik saja. Kali ini ia masuk dalam kompleks perumahan yang lebih padat. Rumah-rumahnya terlihat seperti rumah puluhan tahun. Dengan pepohonan rindang dan kandang-kandang burung peliharaan yang digantung di tiang di teras rumah. Ramiel bersyukur ia tidak perlu susah-susah mencari alamat yang ditujunya. Setelah sekali lagi memeriksa pantulan dirinya di spion. Ramiel turun dari mobil. Ia menarik napas berulang kali sebelum berani memasuki pekarangan rumah dan mengetuk pintu. Walau sebenarnya ia sudah memprediksi orang lain yang akan membukakan ia pintu. Ramiel masih merasakan sensasi jantung jatuh ke dasar perut begitu ia mendapati seorang pria paruh bayalah yang berdiri di hadapannya saat ini. Ia memaksakan senyumnya tetap ada ketika pria itu mengambil waktu beberapa detik untuk memindainya dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Ramiel Yusmar, benar?” Pria paruh baya itu sebelum bibirnya membentuk segaris tipis. Tidak bisa menyebutnya sebagai senyuman karena sudut mata pria itu sama sekali tidak bergerak. “Benar saya, Pak,” jawab Ramiel diikuti oleh anggukan sekali. Tanpa sadar kedua tangannya terpaut di depan tubuh. Ia membuat dirinya seseopan mungkin. Ramiel sekarang hanya bisa berharap bibirnya tidak sebengkak yang ia kira. “Wajahmu mirip sekali dengan ayahmu.” Nada suara pria itu melunak. “Tunggu sebentar. Sepertinya Yuri sudah selesai.” Ramiel mengangguk dalam hati  ia tahu apa maksud dari perkataan itu. Hanya wajahnya saja yang mirip dengan ayahnya. Itu saja. Tidak dengan yang lain. Ramiel tidak bisa menutupi perasaan penuh syukurnya ketika Yuri tidak butuh lama untuk bersiap-siap. Sekali lagi gadis itu – yeah, Ramiel yakin betul Yuri masih gadis – menunjukkan kalau ia memang anak baik-baik kesayangan orangtua. Banyak gadis dengan penghasilan yang cukup seumuran Yuri di ibukota sana memilih untuk tinggal sendiri dari jauh orangtua agar privasi mereka tidak terganggu. Hanya berhubungan dengan keluarga melalui ponsel setiap akhir pekan sebelum pergi menikmati kebebasan mereka setelahnya. Dan berani-beraninya Ramiel menyamakan mereka dengan gadis seperti Yuri. Dari pakaian yang Yuri pakai saat ini Ramiel meresa bahwa setelah ini Yuri akan memintanya untuk mengantarnya ke kampus tempatnya bekerja. Karena gadis itu memang rapi dan tampak sopan sekali. Ada semburat merah di pipi gadis itu ketika ia bertukar pandang dengan Ramiel, membuat pria itu mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Sekarang setelah bisa melihat Yuri di tempat yang terang-benderang. Ramiel akhirnya yakin jika gadis itu memang menyukainya. “Saya tahu kalian sudah dewasa, tapi jangan pulang terlalu malam, oke?” kata pria tua itu begitu putrinya sudah berdiri bersisian dengan Ramiel. Ramiel menyanggupi sebelum ia membungkuk sambil mengucap salam. Yuri menyempatkan diri mengecup pipi ayahnya sebelum melambaikan tangan. Ramiel merasa ia harus bersikap gantlemen jadi ia membukakan Yuri pintu peumpang. Gadis itu mengucapkan terimakasih dengan lirih. Begitu keduanya berada di dalam mobil dan selesai memasang sabuk pengaman, Ramiel bertanya, “Jadi hanya toko buku? Kamu tidak ingin ke tempat lain?” Gadis itu menggumam kecil sebelum berkata, “Aku sebenarnya penasaran dengan kafe milikmu. Bolehkah kita habis itu ke sana?” Ramiel melirik arlojinya sejenak. “Tentu saja. Lagipula toko buku yang ingin kita kunjungi cukup dekat dengan kafe.” Ramiel lalu menoleh ke samping dan mendapati Yuri yang terlihat benar-benar bersemangat. Ramiel mengerjap. Beberapa saat yang lalu wanita yang berbeda ada di sana. Dengan sikap dan sifat yang saling bertolak belakang... Mau bagiamana lagi? Ia hanya punya satu hari libur setiap pekan. Ia harus bisa multitasking. Ramiel menghidupkan mesin dan mereka berangkat. Ramiel tidak bisa menahan diri untuk tidak membandingkan keduanya. Yuri jauh lebih nyaman dengan suasana mobil yang sepi sedangkan Nadia tadi dengan leluasa mengotak-atik stereo mobilnya dan menyambungkan playlist melalui ponselnya. Yuri memilih untuk memerhatikan apa yang terjadi di luar jendela, sedangkan Nadia akan lebih banyak memandangi layar ponsel sambil menggumamkan lagu yang tengah diputar...        Karena jalanan lengang, tidak butuh waktu lama Ramiel sudah sampai di toko buku yang punya parkiran di basement itu. Aura pengap panas menyambut mereka begitu membuka pintu mobil. Yuri menunggunya hingga ia selesai menyelipkan kunci mobil di dalam saku celana agar mereka bisa berjalan bersama. Sebuah mobil yang sepertinya sedang mencari parkiran menyelip mereka. Refleks, Ramiel meraih siku Yuri dan menariknya ke arah pria itu. Gadis itu berjengit akibat sentuhannya, mmebuat Ramiel melepaskan pegangannya saat itu juga. Ramiel menyadari Yuri menggosok-gosok tempat Ramiel menyentuhnya tadi.... Ramiel berusaha keras untuk tidak membandingkan. Tapi kepalanya tetap saja... ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD