15

1062 Words
Cassie Ardana baru saja mengepel lantai ruang bakery dan merasakan pinggangnya yang terasa sakit. Jadi ia butuh melik ke kiri dan ke kanan, sambil menumpukan setengah beban tubuhnya pada tongkat pel. Hari ini pekerjaannya cukup berat karena bertepatan dengan hari libur Aksa membuatnya harus mengerjkan semuanya sendiri. Long Dock belum cukup besar untuk mempekerjakan tiga baker sekaligus. Sehingga Cassie harus bersabar setiap kali Aksa mendapatkan jatah liburnya Bukan berarti tdak pernah terpikirkan olehnya untuk mencari tempat bekerja yang baru. Ia memang sedang mencari pekerjaan baru. Diam-diam ia mengirimkan banyak lamaran pekerjaan melalui aplikasi job hunting online yang lokasinya id ibukota. Ia ingin sekali kembali ke sana. Jauh dari orang-orang yang mengenalinya... Kedatangan mantan temannya kemarin itu membuat Cassie berpikir sudah seharusnya ia tidak kembali ke kota ini lagi. Setelah menarik napas panjang, Cassie merapikan alat bersih-bersihnya. Jika ia sedang benar-benar rajin ia akan meninggalkan ruang bakery dalam keadaan mengilat seperti tidak pernah terjadi apa-apa di sana. Hanya ada beberapa cake yang baru akan dikeluarkan dari kulkas jika sudah habis di rak display yang bisa dikerjakan oleh cook atau barista yang tengah bertugas pada shift sore. Cassie menutup pintu ruang bakery dengan tangan yang penuh dengan jaket, tas, dan helm. Tanpa melihat ke ruang utama ia berbelok ke balik bar untuk mengambil air putih dingin. Begitu ia selesai si barista menyodoknya dengan siku. Dahi Cassie mengerut begitu menyadari senyum persekongkolan yang terukir di wajah pemuda itu. “Mbak, Pak Ramiel baru saja datang.” Seingat Cassie Ramiel dan Aksa memang mengambil libur di hari yang sama. Jadi mendengr nma Ramiel hari ini membuatnya heran. Kemudian si pemuda mengedikkan dagu ke arah rung utama. Karena penasaran Cassie melihat ke arah yang ditunjuk oleh si pemuda. Cassie mengintip melalui celah mesin kopi dan grinder. Pemandangan itu membuat alisnya makin naik begitu menyadari Ramiel duduk berhadapan dengan seorang wanita yang sedang tertawa sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. “Wanita itu jelas wanita yang berbeda dari yang barista pagi ceritakan padaku.” Cassie mencoba mengingat-ingat. Inikah salah satu dari dua wanita yang Ramiel ceritakan padanya hari itu? Wanita itu terlihat benar-benar menyukai Ramiel. Bisa dilihat dari bagaimana wanita itu dengan mudahnya tertawa dengan apapun yang Ramiel katakan padanya. Cassie terlonjak mendengar suara bel yang sengaja dibunyikan keras-keras oleh cook dari jendela penghubung. Pemuda itu menyeringai nakal karena si barista saat ini tengah mendelik ke arahnya. Fettucini Carbonara mengepul panas di atas meja dan sekeranjang kentang goreng siap dihidangkan. “Pesanan Pak Ramiel sudah siap.” Karena ia tidak melihat waitres yang bertugas sedari tadi, Cassie-lah yang berkata sambil mengambil peralatan makan dari dalam lemari. “Biar aku saja yang mengantar.” Si Barista tertegun. Sedangkan si cook hanya mengedikkan bahu sekali kemudian berbalik badan kembali ke posnya. Cassie membawa baki makanan dengans atu tangan. Senyum bisnisnya sudah terpasang bahkan setelah ia meninggalkan bar station. Ramiel menyadari kedatangannya ketika ia masih tiga langkah dari meja mereka. “Pesanannya Fettucini Carbonara dan French Fries,” Cassie sambil menghidangkan ditengah-tengah pasangan itu. Ia sengaja tidak melirik ke arah Ramiel sama sekali dan memusatkan perhatiannya pada wanita yang tampak mengagumi Fettucini Carbonara yang ditata apik dan menggugah selera itu. “Terimakasih.” Wanita itu mendongak ke wajah Cassie sebelum kepada jas koki yang ia kenakan. “Suatu kehormatan makanannya diantarkan langsung oleh kokinya.” Cassie menggeleng dengan senyum lebar. “Oh, tidak Miss. Saya adalah baker kafe ini. Waitres kami sedang mengerjakan hal lain jadi saya yang berinisiatif untuk mengantar pesanan Anda.” Cassie dengan cepat memindai wajah dan penampilan wanita itu. Menebak yang mana, yang namanya siapa. Namun dengan segera ia beranjak dari sana. Mencuri lirik ke arah Ramiel yang sudah jelas sedang menatapnya tajam. “Kalau begitu selamat menikmati dan selamat datang di Long Dock Caffe.” Keduanya sama-sama menunduk sebelum Cassie berbalik badan. Barista di balik bar station menunggu dengan tidak sabar. Berjinjit-jinjit mengikuti Cassie yang baru saja selesai menyimpan talam kembali ke tempatnya. Ketika Cassie memakai jaketnya lah ia kemudian menjawab rasa penasaran pemuda itu. “Kamu benar. Itu wanita yang berbeda.” Si Barista kemudian berdecak-decak. Dengan suara lirih ia berkata, “Wah, saya tidak menyangka kalau Pak Ramiel sepopuler itu!” Cassie memperbaiki letak kerahnya ketika ia mendengus geli. “Populer? Aku tidak yakin kalau itu istilah yang tepat.” Setelah itu Cassie mengucap salam dan pergi. Ia sengaja tidak mengangkat wajahnya ketika ia melewati meja Ramiel. Pura-pura tidak menyadari tatapan tajam Ramiel yang menembus jendel kaca ketika ia menghidupkan motornya dan meninggalkan parkiran. Cassie menikmati perjalanan pulangnya sambil sesekali menggumamkan dari satu lagu ke lagu lainnya. Ia bahkan tidka peduli jika ada pengendara lain yang mendengarnya. Ia bernyayi hingga tenggorokannya sakit. Hanya saat ia berkendaralah ia merasa dirinya paling bebas. Cassie terus begitu hingga ia melihat pagar runahnya dari kejauhan. Karena setelah itu tidak akan ada lagi kata-kata yang keluar dari mulutnya. Karena ia memang jarang berinisiatif untuk mengajak Mama Ardana berbincang selain untuk hal-hal yang perlu saja. Rutinitasnya setelah pulang adalah ia langsung mandi. Setelah itu ia akan melakukan sedikit pekerjaan rumah dan menawari Mama Ardana makan malam. Ia baru saja selesai mandi ketika ia mendapatkan telepon dari orang yang tidak ia duga-duga. “Pak Ghaniy?” katanya setelah menjawab salam dengan ragu-ragu. “Ada apa Bapak menelpon saya?” “Aku ingin menanyakan kabarmu. Itu saja.” Cassie melirik pintu kamarnya yang tertutup rapat sebelum melanjutkan, “Setelah baik-baik saja tidak mengetahui kabar saya selama tiga tahun terakhir Pak Ghaniy sekarang menelpon saya untuk menanyakan itu? Kejutan yang menyenangkan.” “Anggap saja aku ingin menebusnya,” jawab pria itu segera. “Apalagi setelah melihatmu nyaris menangis hari itu.” “Saya sudah baik-baiks aja. Terimakasih.” Cassie dengan suara pelan sekali. Ia menunduk sambil memilin-milin ujung kaos yang ada dipangkuannya. “Syukurlah kalau begitu...” Hening sebentar sebelum Cassie melanjutkan setelah teringat sesuatu. “Apa Pak Ghaniy masih bermain piano?” Ada suara tawa pelan dari ujung sana. “Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku memainkannya.” “Saya tiba-tiba teringat ketika Pak Ghaniy memainkannya hari itu. Di acara even angkatan saya. Itu adalah permainan yang hebat.” “Oh, ya? Aku tidak tahu.” Cassie sekali lagi menatap pintu kamarnya yang tertutup sebelum melanjutkan, “Pak Ghaniy harus datang ke Long Dock akhir pekan ini. Akan ada live music di sana. Pak Ghaniy bisa bermain di sana. Saya ingin mendengar Pak Ghaniy bermain lagi.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD