Ramiel Yusmar sekarang tengah berdiri di bar station sambil melipat kedua lengannya di depan tubuh. Matanya awas memandangi Cassie yang tengah memata rak display cake dan roti bersama Aksa dengan cekatan. Aksa mendengar Cassie sambil mengangguk-angguk dan menyampaikan pendapatnya sendiri.
Ekspresi Cassie tampak terperengah sebelum ia dan pria itu saling bertepuk tangan. Mereka tampak senang sekali.
Kepala Ramiel miring ke satu sisi. Ramiel mengira Cassie akan mengatakan sesuatu padanya setelah apa yang gadis itu lakukan ketika ia datang bersama Yuri kemarin. Tapi tidak. Gadis itu hanya menyapanya dengan sopan ketika mereka bertemu pagi tadi dan setelah itu mengurung diri di ruang bakery bersama Aksa. Setelah hampir tiga jam berada di sana, Cassie kembali melewatinya tanpa mengatakan apapun dan sekarang tampak tertawa-tawa entah karena apa bersama Aksa.
“Lihatlah. Bagaimana seseorang bisa bersikap seakan-akan tidak terjadi apa-apa seperti itu.” Ramiel mengomel entah kepada siapa. Sehingga membuat barista dan witres saling pandang. Tidak yakin apa mereka harus menjawab apa tidak.
Ramiel tetap berada di tempatnya ketika keduanya selesai dengan pekerjaan mereka. Kafe masih sepi tanpa pelanggan sehingga Ramiel menahan Cassie ketika Aksa lebih dulu berjalan melewatin bar station dengan merentangkan satu lengannya menutupi jalan Cassie.
Ramiel membalas tatapan menyipit tajam Cassie dengan sama tajamnya.
“Err, rasanya saya lapar. Saya akan makan bekal saya di kitchen sebentar.” Aksa berkata cepat-cepat. Lalu berbelok masuk ke kitchen.
Jadi Ramiel menyelip Cassie di depan gadis itu dan berjalan lebih dulu ke ruang bakery. Gadis itu mengikutinya dan menutup pintu di belakang mereka.
“Kenapa kamu tidak mengatakan apapun?” Ramiel sambil bertolak pinggang dang berbalik ke arah Cassie dengan lagak dramatis.
“Maaf?” Cassie menaruh talamnya di meja stainless dan mulai mengelap meja.
“Tentang aku yang membawa Yuri kemarin itu.” Ramiel sambil mengawasi Cassie yang masih terus mengelap meja.
“Karena memang tidak ada yang perlu dibahas tentang itu.” Cassie mengumpulkan mangkuk-mangkuk stainless kotor menjadi satu tumpukan tinggi.
“Oh, ya? Aku tahu kamu memang ingin mengatakan sesuatu...”
“Apa misalnya?” Ada suara dengus halus yang tidak mungkin Ramile salah dengar. “Kalau ternyata Mas Ramiel playboy ulung?”
Ramiel yang sebenarnya tidak tahu apa yang sebenarnya ia harap ia dengar dari Cassie. Apalagi gadis itu tampak ogah-ogahan meladeni pembicaraannya.
“Oke, jika Mas memang ingin mendengar sesuatu. Aku akan mengatakannya. Wanita yang kemarin itu terlalu baik untuk Mas.” Cassie lalu melewatinya menuju wastafel untuk membilas lap kotor yang ia pegang. “Saya tidak tahan jika pada akhirnya dia tahu apa yang sebenarnya niat Mas untuk mendekatinya. Hanya untuk menyenangkan orangtua? Atau bahkan Mas sendiri tidak tahu wanita seperti apa yang Mas inginkan dalam hidup Mas?” Cassie meremas lap itu kuat-kuat hingga tidak ada air yang menetes di sana.
Cassie mendorong Ramiel dari depan meja yang belum ia rapikan dengan lengannya. Ramiel nyaris terjengkang ke belakang akibat dorongan Cassie uang cukup kuat itu. “Seksi menggairahkan atau baik hati dan polos? Dua kutub yang berbeda.”
“Dari mana kamu tahu...”
“Saya sudah bergaul dengan para pria sepanjang kehidupan dewasa saya. Saya bisa membayangkan wanita seperti apa yang sedang kalian bicarakan hanya dari cara kalian membicarakannya. Rasa-rasanya lama-lama saya bisa ikut misogony macam kalian ini.”
Ramiel menggosok-gosok pelipisnya sebelum memandangi langit-langit ruangan yag tiba-tiba lebih pengap dari biasanya itu.
“Sebenarnya ada yang lebih penting dari hanya sekedar menyenangkan untuk dipandang.” Cassie berbalik. Kepalanya miring ke satu sisi. Pandangan matanya seakan-akan menusuk Ramiel hingga ke punggungnya ketika ia berkata, “Bukannya para pria senang mencari pasangan untuk memenangkan ego kalian? Karena tidak ada yang lebih rapuh dari ego seorang pria..”
***