"Tapi… bagaimana jika Panglima mencurigai kita?" "Tidak akan," Ibu Suri menyeringai. "Zhang terlalu sibuk dengan misinya. Selama dia terus berlari melawan waktu, ia tidak akan sadar siapa yang menjadi dalang. Sekarang pergi, dan pastikan semuanya berjalan sesuai rencanaku!" "Baik, Yang Mulia!" Dayang Mei membungkuk dalam, lalu segera beranjak meninggalkan ruangan. Setelah dayang itu pergi, Ibu Suri berjalan mondar-mandir, pikirannya penuh kebencian. "Selir Liang… meski kau telah mati, aku tidak akan membiarkan keturunanmu menghancurkan kedamaian yang telah kuraih. Xin Yao, nasibmu akan sama seperti ibumu… mati sia-sia." *** derap kuda Panglima Zhang bergema di jalan setapak menuju perbatasan Shang. Nafas kudanya berat, tapi matanya menyala penuh tekad. Di dalam tas kulit di punggungny

