Kau akan menyesal telah menyebut Ibu Suri di hadapanku. Kalau petunjukmu salah, aku yang akan mengakhiri hidupmu sendiri.” Tangan pengawal bergetar, matanya melebar, namun suara tawa sumbingnya kembali memecah. “Mungkin kau takkan sempat melakukannya. Lebih baik, kau turun dulu, setelah itu, baru kau bisa naik dan membunuhku. Itupun, kalau kamu bisa naik dengan selamat.” Zhang menatap jurang dalam-dalam. Angin malam berhembus kencang, membuat dedaunan mengeluarkan suara gemerisik yang menambah suasana seram. Di bawah, hanya terlihat kegelapan. Wajah Xin Yao tiba-tiba muncul di benaknya: wajah pucat itu dengan napas yang terengah, tangan hangatnya saat memeriksa nadinya. Pikiran itu membuat dadanya tercekat. Ia meraih tali pengikat di pinggang, menarik napas panjang satu kali, lalu menol

