Di dasar jurang, Panglima Zhang terengah-engah, napasnya berat. Tangannya yang kekar menggenggam erat bunga Xue Lan yang baru saja ia temukan di celah batu. Kelopak putihnya masih utuh, tak tersentuh kotoran, seperti mutiara yang bersinar di tengah lautan. “Xin Yao … aku berhasil,” gumamnya pelan, senyum tipis tersungging meski tubuhnya penuh luka. “Kamu harus bertahan sampai aku kembali.” Ia meraih dinding jurang yang terjal, mencoba memanjat. Jari-jarinya segera terasa perih, kuku-kukunya hampir terkelupas saat menancap ke batu kasar. Kakinya mencari pijakan, tapi tanah yang rapuh membuat tubuhnya kembali tergelincir. “Argh!” desahnya tertahan, tubuhnya terbanting ke sisi batu. Bahunya berdarah, namun ia segera berdiri lagi. “Tidak ada waktu untuk mengeluh, aku harus segera keluar dar

