“ Siapa yang menyiapkan ini ?” dipandanginya lemari es yang penuh dengan aneka makanan yang mengundang imajinasi romantisnya.
Dialihkannya perhatian ke sekeliling dapur. Lilin, bunga, aroma therapy, sampanye, buah, coklat … Berdehem saat pandangannya bertemu dengan Raisa. Serentak keduanya membuang muka dengan jengah.
“ Sam siapkan ini ?”
“ Dia minta tolong aku … dan Crist juga Dina. “ lanjutnya cepat.
“ Persiapan yang bagus buat pasangan pengantin baru.” Senyumnya melebar tanpa bisa dicegah melihat warna merah itu menjalar sampai ke leher dan telinga.
Raisa menyibukkan diri dengan menyiapkan makan malam “ Astaga … “
“ Ada apa ? “ Luke mengalihkan perhatian dari pemandangan dibalik jendela dapur.
“ Baru ingat kita tidak bawa apa apa untuk ganti.”
“ Gak ada yang bisa dipakai disini ? “
Raisa menggeleng , “ Cuma ada jubah mandi. “ sahutnya lirih, memandangi dirinya yang masih mengenakan gaun putih berendanya ,” Kopor kecil mereka sudah di mobil Sam.”
“ Kita keluar belanja ?” Luke meraih kunci mobilnya , “ Mumpung belum terlalu malam. Gak usah masak, kita makan diluar saja."
Raisa memasukkan kembali bahan bahan ke dalam lemari es, meraih tas nya dan mengikuti langkah panjang Luke.
“ Aku cari kesana. “ Raisa menunjuk sebuah bagian pakaian perempuan.
Luke mengangguk , “ Tunggu disitu, aku gak akan lama. “ menghembuskan nafas dan bertekad menghabiskan waktu sebanyak mungkin di luar sampai waktunya tidur nanti.
Raisa keluar dari kamar ganti, gaun dan sepatunya sudah berganti dengan dress linen hitam selutut dan cardigan biru muda serta sepatu bertumit datar. Make upnya sudah dibersihkan, menyisakan sedikit rona merah di bibir.
Luke tertegun melihat gadis itu berkaca sekali lagi diluar kamar ganti, tercekat saat memperhatikannya mengikat rambut menjadi ekor kuda longgar. Bagaimana bisa perbuatan sederhana itu menarik perhatiannya.
“ Eh … . Ehm sudah ? “ Luke hanya butuh mengganti kemeja putihnya dengan sweater biru bergradasi untuk merubah tampilannya lebih segar.
“ Kalian sehati, pasangan baru ? “ pramuniaga dihadapan mereka memperhatikan dengan senyum.
Raisa hanya tersenyum dengan wajah memerah.
“ Ayo …. “ Luke beranjak ke kasir.
“ Sudah.” Raisa mengangkat kantong belanjanya, tersenyum dengan tampang jahil ketika Luke menatap dengan kening berkerut , “ Mari mbak … . Terima kasih. “
“ Kamu … .. “ Luke menjajari langkah Raisa , “ Lain kali tunggu aku. “
“ Aku punya uang. “
Luke menunduk, berbisik di telinga Raisa , “ Kamu punya suami. “ ujarnya menirukan nada bicara Raisa sambil mendengus geli melihat gadis itu salah tingkah.
Ditariknya tangan Raisa mengarah ke toko perhiasan , “ Jari kita masih telanjang. “
Raisa menggigit bibir, menurut saat Luke mengarahkannya ke etalase.
“ Ada yang bisa dibantu ? “
“ Cincin kawin. “
“ Silahkan … ini model terbaru, bagian ini yang klasik. “
“ Pilihlah, kamu suka yang mana ? “
“ Kamu ? “
Luke mengguman, memperhatikan deretan cincin dengan model sederhana , “ Ini ! “
“ Itu. “ Raisa menatap Luke dan tertawa saat menyadari mereka memilih model yang sama.
“ No doubt. “ Luke tersenyum tipis , “ Ini ready ? “
“ Saya cek ukuran dulu ya. “ pramuniaga itu berlalu.
“ Mau lihat lihat yang lain ? “ tawar Luke, mengangkat bahu ketika Raisa menggeleng.
“ Aku telepon nenek dulu ya. “
Luke mengangguk , “ Jangan telepon Sam … dia butuh waktu untuk sendiri. “
Raisa mengangguk dan Luke menggerutu melihat kilasan sedih membuat gadis itu sedikit menarik diri , “ Mbak coba lihat yang itu. “
Luke meletakkan kantong belanja ditangannya ," Baru kali ini aku melihat perempuan belanja dengan kecepatan penuh seperti kamu."
" Hah ? Maksudnya ?"
" Biasanya gadis gadis seperti kalian butuh waktu lama untuk memutuskan beli satu baju. Ini kamu ..... Kita habiskan waktu tidak sampai tiga jam di mall sudah termasuk makan malam." ditatapnya kantong belanja yang cukup penuh.
Raisa tersenyum kecut, " Aku cuma perlu baju untuk dua hari dan untuk tidur. Kita gak akan kemana mana kan ?"
" Emangnya kamu mau kemana ?"
" Ehm .....pulang ?" usulnya ragu.
Jauhkan Raisa dariku untuk beberapa hari ...." Sebaiknya kita bertahan sampai satock makanan habis."
Raisa mengangguk, " Aku ....."
" Tunggu sebentar ... " Luke meraih kotak hitwm dari kantong belanja dan membukanya ," Pakai ini dulu ...?"
Wajah Raisa memerah tanpa bisa menjawab. Dipandanginya tangan ketika Luke memasangkan cincin disana ... Aku terikat padamu
Luke mengulurkan tangannya, menatap gadis dihadapannya memasangkan cincin dengan sedikit gemetar ," Terima kasih." diciumnya lembut ujungbkepala yang tertunduk itu sebelum memeluknya untuk beberapa saat ," Kita mulai dari awal .... pelan pelan saja, senyamanmu."
Raisa mengangguk dengan mata terpejam.