"Apa yang terjadi?" tanya Marcella pelan. Ia meringis ngeri ketika melihat luka di sudut bibir Arvin. Tampaknya masih baru. Pria itu mengenakan kemeja light blue yang digulung sesiku dipadu celana jeans. Dan harus Marcella akui Arvin tampak lebih tampan dari yang terakhir diingatnya bila luka di bibirnya itu tidak ada.
Fokus Marcella! Tegur batinnya mengingatkan. Ingat tujuanmu!
"Bukan masalah besar. Kamu nggak usah khawatir," sahut Arvin tenang seakan luka di sudut bibirnya itu hanyalah luka gigitan nyamuk. Tapi apa katanya? Khawatir? Khawatirkah dirinya? Marcella sendiri tidak tahu.
"Sebaiknya kau obati." Akhirnya hanya tiga kata itu yang mampu diucapkannya. Ia tidak ingin Arvin berpikir jika dirinya mengkhawatirkan pria itu. Jika itu yang ada di dalam pikirannya, Arvin salah. Marcella tidak ingin membuka hubungan baru dengan Arvin dan itulah tujuannya ke tempat ini. Memberitahukan keputusannya.
"I will. Thanks," kekeh Arvin sambil memamerkan deretan giginya. "O iya, katanya kamu mencariku. Ada apa?"
Ingat akan tujuannya ke sini, Marcella menarik napas panjang. "Ada yang ingin kupastikan denganmu mengenai kita."
Arvin terdiam sejenak. Senyum di bibirnya perlahan memudar.
"Okay. Tapi jangan di sini. Ayo ikut aku..." Tanpa menunggu lebih lama, Arvin menarik lengan Marcella dan terpaksa ia menurutinya karena terlambat baginya untuk protes.
Arvin menggiring Marcella masuk ke dalam Range Rover putih milik pria tersebut. Dan tanpa berkata apa-apa setelah berhasil duduk di belakang kemudi, Arvin mulai menjalankan mobilnya.
"Kita mau ke mana?" tanya Marcella panik.
"Ke tempat yang nyaman buat bicara," jawab Arvin santai.
"Kan di kafe kamu juga bisa! Bukan dengan membawaku seperti ini!" protes Marcella dengan nada sedikit meninggi. "Bagaimana kalau Noni melihat sikapmu ini?"
"Noni tidak ada di kafe. Juga karyawanku meski melihat kita tapi tidak akan berani membuka mulut mereka mengenai urusan pribadiku. Jadi bisakah kamu duduk manis? Karena aku harus konsentrasi menyetir jika kamu mau kita selamat sampai tujuan," jelas Arvin yang sesekali bergantian memandang jalan raya dan Marcella.
Jika boleh memilih ingin Marcella menolak dan meminta Arvin menghentikan mobilnya. Tapi entah kenapa jauh di dalam lubuk hatinya ada sebuah perasaan bahagia menyelinap di dalam hatinya. Rasanya seperti dulu, saat mereka masih bersama. Memang sudah lama berlalu, perasaan itu tetap ada di dalam hatinya. Hanya saja Marcella menguburnya dalam-dalam saat ia mengetahui pengkhianatan Arvin.
Terlepas dari pikirannya sendiri, Marcella akhirnya memutuskan untuk diam dan menyerah bertanya. Mungkin dia bisa protes atau pulang sendiri jika Arvin membawanya ke tempat berbahaya. Tak sampai satu jam, mobil Arvin memasuki suatu tempat yang tidak asing untuk Marcella. Sontak kening Marcella bertautan. Tubuhnya menegang disusul beberapa pertanyaan yang langsung muncul di dalam kepalanya.
"Kenapa kamu bawa aku ke sini? Bukankah kamu bilang punya tempat yang tempat untuk kita berbicara?" tanya Marcella kesal dengan Arvin yang seenaknya saja membawa dirinya ke rumah pria itu. Ya, Arvin membawa Marcella ke rumah keluarga pria itu. Di mana terakhir kali Marcella mendatangi tempat ini adalah dua belas tahun yang lalu. Sayangnya meski belasan tahun berlalu, ingatan itu tidak memudar di dalam benak Marcella. Bahkan dia masih dapat mengingat dengan baik isi rumah pria itu.
"Ini tempat yang tepat untuk kita berbicara, La. Tenang aja, aku nggak akan berbuat aneh-aneh sama kamu. Ciuman malam itu, murni aku lakukan demi melindungi kamu," kata Arvin berusaha menenangkan Marcella.
Meski Marcella merasa kesal karena Arvin mengingatkan ciuman mereka malam itu, tetap saja hal itu membuat pipi perempuan itu sedikit merona. Lekas-lekas dipalingkan wajahnya menghadap jendela sebelum Arvin mengetahuinya. Astaga, kenapa dia tampak seperti remaja? Bukankah tujuannya bertemu Arvin adalah untuk meminta pria itu untuk tidak menemuinya? Marcella mengosongkan paru-parunya. Lebih cepat lebih baik, setelah mobil berhenti, sebaiknya dia berbicara terus terang pada Arvin sebelum keberaniannya menghilang.
"Yuk, turun." Tanpa Marcella sadari, mobil Arvin telah berhenti dan terparkir manis di carport.
"Eh..." Secepat kilat Marcella meraih tangan Arvin ketika pria itu hendak membuka pintu mobil yang berhasil menghentikan gerakan pria itu. "Ada yang mau aku bicarakan."
Arvin tersenyum tipis. "Aku tahu. Makanya ayo turun dulu. Habis itu, let's talk."
Marcella memandang Arvin sejenak, mencari kebenaran di dalam ucapan pria itu dan setelah menemukannya maka Marcella pun mengalah. Dalam hati dia mengutuk dirinya sendiri. Ia yakin keputusannya mempercayai Arvin akan membuat dirinya menyesal suatu hari nanti.
Pertama kali menginjakkan kakinya di rumah Arvin, pandangan mata Marcella langsung bertemu dengan pekarangan yang terhiasi dengan beberapa bunga melati dan mawar yang tertata rapi di sisi pagar. Rumput peking memenuhi seluruh permukaan tanah. Menambah kesejukan siapa saja yang melihatnya. Sebuah pohon bunga kamboja yang sering dilihatnya di Bali berdiri tegak di tengah taman. Pohon yang mengingatkan Marcella akan kenangannya bersama Arvin dulu. Duduk di bawah pohon. Tanpa memedulikan tetangga atau siapa pun yang lewat dan melihat tingkah laku mereka yang lebih mirip anak TK daripada siswa SMA. Tanpa sadar Marcella tersenyum kecil. Semuanya masih sama seperti dulu. Tak ada yang berubah dari tempat ini.
"La, ayo!" Ajakan Arvin menyadarkan Marcella dari nostalgianya. Ia pun mengangguk dan melangkah menyusul Arvin yang sudah berada di depan teras rumah. Di mana bagian kanannya terdapat meja bulat dan dua kursi kayu jati dengan bantal empuk di atasnya.
Pintu cokelat itu terbuka. Di mana suara tawa menyambut pendengaran mereka. Ada siapakah di dalam rumah ini? Dalam hati Marcella mulai menerka-nerka.
"Vin, kamukah itu?" Suara perempuan terdengar jelas namun sosoknya belum terlihat.
"Iya. Ini aku."
"Tolong angkat meja di ruang tengah dan bawa ke halaman belakang ya! Ayahmu yang lagaknya seperti superhero kehilangan kekuatannya menolak untuk membawanya. Padahal seberapa berat sih meja itu," omel wanita itu.
"Okay," balas Arvin setengah teriak lalu menoleh ke Marcella. "Aku bawa meja ini ke belakang dulu ya. Kamu ke dapur aja dulu. Masih ingatkan dapurnya ada di mana?"
Seperti burung pematuk, Marcella mengangguk mengerti tanpa mengeluarkan suaranya. Sedangkan Arvin melemparkan senyum di bibirnya sebelun akhirnya mengangkat meja kayu berbentuk kotak yang lebarnya kira-kira satu setengah meter. Dengan mudahnya Arvin mengangkat meja itu dan tak lama kemudian pria itu menghilang di balik pintu kaca besar yang menghubungkan taman belakang dan rumah ini.
Sesuai perintah Arvin, juga Marcella tak tahu harus berbuat apa. Dia melangkahkan kakinya lebih dalam lagi. Rumah bergaya peninggalan zaman Belanda ini cukup luas. Ruang tamu dan ruang keluarga menjadi satu ruangan tanpa ada sekat yang menghalangi. Jika Marcella tidak salah, jika dia belok ke kanan maka dia akan menemukan dapur yang tadi disebutkan Arvin. Ternyata tebakannya benar. Rumah ini benar-benar tidak berubah.
"Sudah kamu pindahkan mejanya?" Pemilik suara yang tadi di dengar Arvin berdiri memunggungi Marcella. Sepertinya sibuk dengan kegiatannya. Sadar tak ada jawaban padahal beberapa detik telah berlalu, wanita itu memutar tubuhnya. Saat itulah kedua matanya membesar. Bahkan spatula di tangannya sampai terjatuh. Mengejutkan dirinya dan Marcella yang ikut terkejut ditempatnya.
"Bu, ada apa?" Tiba-tiba suara dari balik punggung Marcella menyadarkan keduanya. Di sana Arvin berdiri dan memandang dua perempuan tersebut secara bergantian. Disusul pria paruh baya yang wajahnya sama persis dengan Arvin, hanya versi matangnya. Rambut putih dan cerutu di tangannya ditambah kerutan di wajahnya.
"Ada apa ini?" Suara berat milik pria paruh baya itu menambah keterkejutan kedua wanita itu.
Ditempatnya Marcella dengan diliputi perasaan bersalah, ia menelan salivanya dan membuka suara, "Maaf. Aku tidak bermaksud mengejutkan kalian..."
"Marcella? Apa aku benar?" Suara Oli membuat semua yang ada di dalam ruangan itu terkunci ke arah wanita paruh baya bertubuh gemuk.
"Iya. Aku Marcella," jawab Marcella singkat.
"Marcella?" ulang pria paruh baya itu dengan keritan di dahinya. Berusaha melihat dan mengingat wajah Marcella.
"Astaga! Arvin! Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu membawa Marcella ke rumah kita!?" Oli melirik Arvin lalu menghampiri Marcella. "Ya ampun sayang, kamu semakin cantik," pujinya tulus.
"Hai, tante. Maaf sudah mengejutkan kalian," ujar Marcella lagi.
"Siapa?"
"Marcella ayah! Masa kau sudah lupa? Pacar pertama Arvin. Benar, kan?"
Marcella melirik Arvin, namun pria itu hanya mengangkat kedua bahunya. Tak ada niat ingin membantu.
"Benar, tan."
"Ayo duduk. Kebetulan hari ini kami memiliki acara keluarga. Rencananya kami akan memiliki ayam panggang sebagai menu utama dan pesta kecil-kecilan di taman belakang," kata Oli yang langsung menggiring Marcella ke taman belakang. Melupakan kegiatannya yang sedang menggoreng sosis. Untung saja baru dimasukkan ke dalam minyak panas. Jadi saat Arvin mengecek, sosis itu telah matang. Bukannya gosong.
Siapa sangka Arvin akan mengajaknya ke dalam acara keluarga mereka? Tapi pantaskah dia? Bukankah seharusnya Noni-lah yang berada di sini?
"Marcella! Astaga ingatanku memang payah," gerutu Tommy ketika akhirnya dia berhasil mengingat Marcella yang disambur tawa Oli.
Sesampainya di taman belakang yang luasnya dua kali lipat dari halaman depan, sudah ada beberapa anggota keluarga Arvin. Kira-kira sudah ada lima orang di sana. Dan Marcella tidak yakin mereka mengenal dirinya.
"Ayo kenalkan buat kalian yang lupa. Marcella, cinta pertama Arvin. Kalian masih ingatkan?" seru Oli antusias. Berhasil membuat semua yang ada di situ memandang mereka.
"Marcella? Tentu saja aku ingat! Perempuan yang berhasil membuat Arvin frustasi bukan?" ujar Bella, si sulung. Jika ingatan Marcella tidak salah.
"Ah..aku ingat. Marcella yang itu." Carin, kakak kedua Arvin membuka suaranya sambil menggoyangkan jari telunjuknya. "Perempuan yang dicintai Arvin sampai sekarang meski adik kita yang bodoh itu sudah menikah!"
Detik berikutnya Bella menginjak flat shoes Carin. Matanya membesar ketika Carin hendak protes. Saat itulah dia menyadari jika ucapannya salah. Tapi sayang semuanya telah terlambat. Di tempatnya Marcella hanya mampu tersenyum tipis. Tidak tahu harus bahagia atau bersedih mendengarnya. Dan ketika pandangan matanya bertemu dengan milik Arvin yang berdiri di sebelah Bella yang tepat berdiri di hadapannya. Pria itu hanya tersenyum. Apa maksudnya? Maksud dari senyum itu? Dan mengapa tak ada protes atau marah di wajahnya saat ini? Bukankah seharusnya dia membantah jika apa yang diucapkan Carin adalah kesalahan. Namun setinggi gunung besarnya harapan Marcella, secepat air terjun mengalir harapannya sirna. Arvin tetap bergeming. Yang artinya ucapan Carin adalah benar.
***