16

1451 Words
Meja bertaplakan kain putih besar itu telah dipenuhi oleh berbagai macam makanan dan minuman. Mulai dari buah-buahan, puding, ayam goreng, sosis goreng, pizza, sirup dan masih banyak lagi. Setelah perkenalan yang cukup singkat, dua pria di sisi Bella dan Carin adalah suami mereka, Andy dan Jemmy. Sedangkan satu gadis berusia kira-kira sepuluh tahun adalah anak Bella. Sedangkan Carin belum mempunyai momongan hingga saat ini. Mereka duduk mengelilingi meja tersebut. Posisinya Tommy, Oli, Marcella, Arvin, Bella, Andy, Caramel, Carin dan Jemmy. "Ayo dimakan, jangan diam saja. Atau kamu akan kelaparan," tegur Arvin yang duduk tepat di sisinya sambil mengambilkan piring berisi sosis. "Kamu tidak sedang diet kan?" Marcella menggelengkan kepalanya sekali lalu berbisik, "Kapan kita akan bicara?" "Setelah ini," jawab Arvin santai. "Aku janji." Marcella memandang wajah Arvin beberapa detik sebelum akhirnya memutuskan untuk mencicipi sosis tersebut. "Jadi, bagaimana kabarmu Mar?" Bella membuka percakapan. Sejak tadi dia sudah tidak sabar ingin berbicara dengan Marcella. "Baik," jawab Marcella singkat. "Sedang sibuk apa?" tanyanya lagi. "Hm... sekarang aku membuka restoran kecil, jadi saat ini aku sibuk memasak." Ucapan Marcella berhasil membuat Carin mengangkat wajahnya dari piring berisi ayam gorengnya. "Kamu seorang chef?" tanyanya tidak percaya. "Bisa dikatakan begitu." "Seandainya kamu masih kekasih Arvin, aku akan memintamu mengajarkanku memasak. Sayangnya kalian berpisah dan setelah kalian lulus sekolah, aku tidak pernah mendengar kabar darimu lagi. Padahal Arvin masih berusaha mencari info mengenaimu. Belum lagi, Noni, dia sama sekali tidak bisa diandalkan dalam hal memasak. Yang bisa dia lakukan..." Suara deheman dari Bella berhasil membuat bibir Carin berhenti berbicara. Tidak suka dengan sikap Bella alhasil Carin melemparkan tatapan sinis ke saudarinya itu. Namun, Bella tampak tidak peduli dan sibuk menawarkan sosis pada Caramel. "Ayo dicicipi ayam gorengnya, Mar. Makanan favoritnya Arvin. Kamu masih ingatkan," tanya Oli berusaha memperbaiki suasana. Dengan kaku Marcella mengangguk sedikit sambil melirik Arvin yang tampak sumringah ketika mengetahui jika Marcella masih mengingat makanan kesukaannya dengan baik. Detik berikutnya bell rumah berbunyi. "Biar aku yang buka," kata Arvin lalu pamit pada semuanya sebelum beranjak untuk membuka pintu. Setelah kepergian Arvin, giliran Caramel yang sejak tadi diam membuka suaranya. "Tante pacarnya om Arvin ya?" "Eh?" Marcella terkejut mendengar pertanyaan gadis berkuncir dua itu. "Bu-bukan. Aku temannya," jawabnya cepat. "Sayang, ayo di makan sosisnya," sela Bella cepat. "Makanya ya, Mar. Kalau lagi hamil jangan benci kepada siapa pun. Lihat nih contohnya anak tante, Bella. Dia waktu hamil Caramel benci banget sama Carin. Hasilnya lihat, meski wajahnya milik Andy, sifatnya mirip Carin. Suka bicara tanpa berpikir," cerita Oli yang langsung mendapatkan protes dari Bella dan Carin. Sedangkan Marcella tertawa kecil. Tidak menyangka ada kejadian seperti itu. Pantas saja cara bicara Caramel lebih mirip tantenya daripada ibunya. "Jangan dengarkan ibu. Caramel memang sudah terlahir seperti ini," kilah Bella cepat. Akhirnya suasanya yang tadi sempat tegang mulai mencair dilanjut dengan satu cerita ke cerita lain. Mengingatkan Marcella pada saat dulu dirinya di ajak makan malam bersama keluarga ini di saat ulang tahun Bella yang ke fua puluh. Kejadiannya hampir sama sepetti sekarang, taman belakang inilah yang selalu menjadi saksi kebahagiaan Arvin dan keluarganya. Berbicara tentang Arvin, sepuluh menit telah berlalu namun pria itu belum juga kembali. Rasa penasaran mulai menyelusup masuk ke dalam hati Marcella. "Arvin kok lama ya?" "Mungkin tukang pos yang mencari alamat di sekitar sini. Mereka suka ngobrol kalau ketemu," jawab Tommy. "Begitu ya... Kalau gitu boleh saya permisi dan menyusul Arvin?" izin Marcella. "Boleh. Segera kembali ya," jawab Oli dengan senyum lembutnya. Marcella mengangguk lalu bangkit berdiri dan mulai berjalan melewati pintu kaca yang berfungsi sebagai pembatas ruangan dan taman. Dilangkahkan kakinya menuju pintu utama dengan sedikit celah yang mengizinkan sinar matahari masuk ke dalamnya. Samar-samar juga terdengar suara dua manusia sedang berdebat. Menghentikan langkah Marcella untuk melangkah lebih lanjut. "Mau kamu apa sih, No? Kamu udah dapetin semua yang kamu mau! Apalagi dari diriku yang kamu inginkan!?" Suara Arvin terdengar lebih meninggi. Sedang marahkah ia? "Semua? Apa yang pernah kamu berikan ke aku selama ini? Hanya tubuhmu. Bukan hatimu!" balas suara wanita yang Marcella kenali sebagai milik Noni. Pertanyaan mulai bermunculan di dalam kepala Marcella. Namun ia tidak tahu kepada siapa ia akan mendapatkan jawaban. Bertanya pada Arvin sangatlah tidak tepat. Namun semua ini mengganggu pikirannya. "Itu sudah resiko yang harus kamu tanggung sejak awal. Kamu yang ingin menikah denganku meski kamu tahu hati ini nggak akan pernah menjadi milikmu. Kamu juga yang tahu kalau aku nggak pernah sedikitpun mencintai kamu!" balas Arvin. Suaranya mulai merendah. Tak ada jawaban untuk beberapa detik sebelum akhirnya suara Noni kembali terdengar.  "Baiklah. Salahku. Semuanya memang salahku sejak awal! Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, aku nggak akan pernah menceraikan kamu. Karena selamanya kamu adalah milikku. Milikku!" Sentuhan di sisi lengan Marcella membuat wanita itu terkesiap. Senyum terukir di wajah Oli. Lalu tanpa meminta izin, Oli meraih lengan Marcella dan mengajaknya masuk ke dalam sebuah kamar yang terletak di ujung lorong. Kamar yang diketahui Marcella sebagai kamar Arvin. Kamar yang bercat abu-abu itu memiliki harum citrus, ciri khas Arvin, menyeruak ke dalam penciuman Marcella. Sebuah tempat tidur bersepraikan dark blue senada dengan selimutnya tertata rapi di tengah ruangan. Sisi kanan dekat jendela, sebuah meja kayu jati tertata rapi dan dipenuhi oleh beberapa benda milik pria itu. Mulai dari buku mengenai barista, note kecil, bolpoin dan sebuah foto di dalam bingkai ukuran 4R. Perlahan Marcella berjalan melewati Oli untuk melihat lebih jelas. Alangkah  terkejutnya dia ketika melihatnya. Refleks ia menutup bibirnya yang terbuka dengan kedua tangannya. Bagaimana bisa? Di balik kaca bingkai foto itu terdapat foto dirinya dan Arvin yang masih mengenakan seragam putih abu-abu. Keduanya tampak tersenyum lebar dengan tangan Arvin yang merangkul bahu Marcella dan sebelah tangannya yang bebas terangkat untuk membentuk lambang peace. "Dia tidak pernah melupakanmu sampai saat ini," ucap Oli dari balik punggung Marcella. Membuyarkan Marcella akan pikirannya sendiri. "Tapi dia menikah dengan perempuan lain," sahut Marcella lirih. "Kamu benar. Namun hatinya akan selalu menjadi milikmu sampai saat ini. Dan Arvin memiliki alasannya sendiri menikah dengan Noni," lanjut Oli tenang. Marcella mendengus sampai Oli dapat mendengarnya. "Aku tidak butuh alasan darinya. Yang berlalu biarlah berlalu. Ingatan itu akan tetap aku simpan baik-baik. Tapi jangan buat aku sebagai wanita perusak rumah tangga orang lain!" "Arvin tidak mungkin berpikiran seperti itu," imbuh Oli. Wanita paruh baya itu mengerti perasaan Marcella. Sangat mengerti. Di sisi lain, ia juga mengerti perasaan putranya. Bertahun-tahun Oli memergoki Arvin memandang foto tersebut. Bahkan sampai rela mengorbankan dirinya menikah dengan Noni. Ia tahu seberapa besar pengorbanan anaknya. Diberanikan dirinya mendekati Marcella dan menyentuh bahunya. "Ibu hanya ingin melihat Arvin bahagia..." Sentuhan lembut di bahunya seperti memberikan aliran listrik yang langsung mengalir ke dalam hatinya meninggalkan rasa haru sekaligus kebimbangan. Marcella mengerti maksud dari ucapan Oli. Namun ia tahu, sekarang telah terlambat. Tak ada lagi kita diantara dirinya dan Arvin. Ditelannya saliva yang terasa sulit akibat tercekat menahan tangis. Dengan susah payah Marcella membuka suaranya. "Maaf, sepertinya aku harus pulang." Sentuhan di bahunya terhempas. Sedikit berlari Marcella meraih tasnya yang tertinggal dikursi taman belakang sambil menghiraukan beberapa pasang mata yang memandangnya keheranan. "Saya pamit duluan. Terima kasih atas makanannya." Selesai mengatakannya Marcella memutar tubuhnya dan ketika ia tiba di pintu utama, pandangan matanya bertemu dengan manik cokelat milik Arvin untuk beberapa detik sebelum akhirnya melirik ke sosok di dalam pelukan Arvin. Seorang anak perempuan yang memeluk boneka bear berwarna ungu yang Marcella ketahui sebagai karakter Lotso di dalam sebuah film sedang memandang ke arahnya dengan wajah polosnya. "La? Kamu mau ke mana?" tanya Arvin heran. "Aku mau pulang. Mengenai pembicaraan yang ingin aku katakan kepadamu, aku akan menghubungimu kembali," kata Marcella cepat lalu berjalan melewati Arvin. Tapi sayangnya sebelah tangan Arvin yang bebas berhasil menahan lengan Marcella. "Ada apa?" tanyanya bingung. Seingatnya tadi semuanya tampak baik-baik saja. Marcella bergeming. Tatapan matanya lurus ke depan. Tidak berniat menoleh ke Arvin sedikitpun. "Tidak ada apa-apa. Hanya saja seharusnya kamu tahu jika dengan membawa aku ke sini, adalah kesalahan. Sekarang lepaskan tanganku." "Tidak. Sampai kamu jelaskan semuanya padaku," bantah Arvin bersikukuh. "Lepaskan tanganku!" bentak Marcella yang akhirnya menoleh ke arah Arvin. Napasnya terengah-engah menahan marah sekaligus kekecewaan. "Kamu adalah suami Noni jadi jangan bersikap seakan-akan aku masih kekasihmu," lanjut Marcella lirih penuh penekanan. Arvin yang tidak menyangka akan sikap Marcella terpaksa melepaskan pegangannya. Sedangkan di dalam pelukannya, gadis mungil itu menangis akibat terkejut. Dengan lembut Arvin mengusap rambut sebahu gadis kecil itu. Saat itulah Marcella sadar jika tidak seharusnya mereka bertemu kembali. Karena sejak awal Arvin bukanlah untuknya. Dia sudah memiliki keluarga kecil dan buah hati yang membutuhkan kedua orang tuanya. Yang artinya tak ada lagi tempat untuk dirinya berdiri. Dengan hati hancur dan air mata yang tak mampu ditahannya lebih lama lagi, Marcella memutar tubuhnya dan berjalan meninggalkan tempat itu tanpa memedulikan Arvin yang masih terus memanggil namanya. Semuanya telah berakhir di sini. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD