17

1244 Words
Sambil memeluk Aura Cella Arentino, Arvin menarik napas panjang melihat kepergian Marcella begitu saja. Ada kebingungan di dalam hatinya. Tadi semuanya tampak baik-baik saja. Mengapa tiba-tiba raut wajah Marcella tampak tertekan sekaligus terluka? Apa yang sebenarnya terjadi? Ketika Arvin melangkah masuk ke dalam rumah, Oli berdiri tegak di sana. Pandangan iba tertuju ke arahnya. "Maafkan ibu, Vin," ucap Oli yang berhasil membuat Arvin semakin kebingungan. "Kenapa ibu minta maaf?" tanya Arvin heran. Untunglah Cella yang masih berusia tiga tahun itu sudah mulai tenang. "Ibu yang telah membuat Marcella pergi." "Maksud ibu?" "Tadi Marcella hendak melihatmu yang tak kunjung kembali, lalu tanpa sengaja dia sepertinya mendengar pembicaraanmu dengan Noni. Melihat raut wajahnya yang terkejut, ibu mengajaknya masuk ke dalam kamarmu." Oli terdiam sejenak. Perasaan bersalah tampak jelas di raut wajahnya yang sudah tidak muda lagi. "Tujuan ibu hanya ingin memberitahunya jika sejak dulu kamu nggak pernah lupain dia, tapi sepertinya ibu salah. Sebaliknya, dia merasa bersalah. Dia merasa karena dirinyalah kamu hendak bercerai dengan Noni. Padahal Nonilah..." "Cukup Bu," potong Arvin. "Kita bicarakan nanti saja. Masalah Marcella biar aku yang mengurusnya. Sekarang apa ibu bisa menjaga Cella untukku sebentar?" Oli mengangguk mengerti dan meraih Cella ke dalam pelukannya. Matanya yang memerah membuktikan jika cucu mungilnya itu habis menangis. "Kenapa kamu menangis sayang?" "Omaa...tadi ada olang aneh teliak-teliak ke papa. Ella tatuut..." rengeknya. "Jangan menangis. Ada Oma di sini. Lagipula tante itu bukan teriak-teriak. Tapi dia marah sama papamu yang nakal itu," bujuk Oli. "Papa nakal?" Oli mengangguk kecil. "Iya. Makanya Ella jangan nakal kalau tidak mau dimarahi oleh Oma." Mata bulat milik Cella memandang Oli untuk beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk. "Ella janji nggak akan nakal supaya Oma nggak malah-malah." "Aih...cucu Oma memang pintar." Arvin tersenyum melihat tingkah laku putrinya. Aura Cella Arentino. Satu-satunya alasan Arvin mempertahankan pernikahannya dengan Noni yang telah berjalan lima tahun. Gadis kecilnya yang berusia tiga tahun adalah penyemangat hidupnya sampai saat ini. Meski berulang kali Noni mengecewakannya. Tapi demi Cella, Arvin terus bertahan. Hingga akhirnya ketika Noni melakukan kesalahan besar yang menurutnya tidak dapat dimaafkan lagi, perceraian adalah jalan terbaik. Usaha Noni meminta maaf kepadanya memang berhasil mendapatkan maaf darinya. Tapi sayang, keputusan Arvin telah bulat. Harga dirinya yang terinjak-injak tak mampu pulih kembali sehingga perceraian tetap harus berjalan. Juga, mengizinkan Noni menemui Cella adalah karena Arvin tidak tega membiarkan putri kecilnya yang masih membutuhkan ibunya hidup tanpa kasih sayang dari ibu yang telah melahirkannya. Akhirnya Arvin tetap membiarkan Noni menemui Cella sesuka hatinya. "Kamu baik-baik saja?" Suara Oli memecah pikiran Arvin yang dibalas dengan anggukan kepala olehnya. "Ayo, kita kembali ke taman. Semuanya pasti bertanya-tanya ada apa. Dan kamu harus menjelaskannya kepada mereka." Sekali lagi Arvin mengangguk karena sejak awal ia memang hendak memberitahukan perihal perceraian dengan Noni kepada keluarga besarnya, termasuk alasannya. Dan itulah tujuannya membawa Marcella, supaya wanita itu tahu bahwa dia bukanlah pemicu keretakan rumah tangganya. Melainkan alasan lain. *** Di dalam taksi yang ditumpanginya, air mata terus menetes tanpa bisa dihentikan. Diam-diam, Marcella menghapus air matanya. Tak ingin ketahuan oleh supir taksi. Padahal dari balik spion dalam, pria paruh baya itu sudah beberapa kali melirik Marcella yang sedang menangis. Apa semua wanita itu hobinya menangis? pikir supir taksi dalam hati. Marcella meremas pakaiannya. Apakah takdir sedang mempermainkannya saat ini? Mengapa seolah-olah takdir ingin menyatukan mereka yang telah terpisah oleh waktu yang lama? Tidak dapat melihatkah takdir, jika keadaan diantara mereka tidak memungkinkan dirinya dan Arvin untuk bersatu? Tidak tahukah takdir bagaimana perasaannya saat ini? Hancur berkeping-keping. Hati kecilnya yang dulu begitu mencintai Arvin, perlahan timbul ke permukaan dan Marcella harus kembali menenggelamkannya sebelum terlambat. Karena menjadi pencuri kebahagiaan orang lain tidak pernah masuk dalam kamus hidupnya. Meski pria itu adalah cinta pertama dan terakhirnya. Keesokan harinya dengan mata yang sedikit bengkak akibat menangis, Marcella memutuskan untuk menyibukkan dirinya di restoran. Salah satu cara untuk melupakan kejadian kemarin. Dengan kacamata yang digunakannya untuk menutupi bengkak di kantung matanya, Marcella melangkah masuk ke dalam restoran dengan kepala tertunduk. Alangkah terkejut dirinya ketika menemukan Arvin tampak asyik berbicara dengan Lia. Tidak bolehkah ia beristirahat sejenak saja dari masalah ini? "Pagi, Mbak Mar," sapa Lia ramah. Mengejutkan Marcella dari keterkejutannya. "Pagi..." jawabnya pelan lalu memandang Lia sekilas dan kembali memandang sosok Arvin di hadapannya. "Mas Arvin sengaja datang pagi-pagi, katanya ada urusan sama Mbak," jelas Lia tanpa diminta. "O iya..." sahut Marcella gugup. "By the way, Ramdan sudah datang?" "Sudah Mbak." Marcella mengangguk lalu kembali bersuara, "Kalau nanti dia menanyakan saya, kamu tahu harus memberikan jawaban apa, kan?" Dari balik meja kasirnya Lia mengangguk sambil memamerkan senyum terbaiknya. Marcella kembali memandang Arvin. "Ikuti aku." Setelah pamit pada Lia, dalam diam Arvin mengikuti jejak Marcella yang masuk ke dalam ruangannya. Ruangan dengan aroma khas Marcella menyeruak masuk ke dalam paru-paru Arvin. Wallpaper berwarna hijau muda memenuhi seluruh dinding ruangan. W Bahkan Arvin masih ingat jika hijau adalah warna kesukaan Marcella. Marcella mempersilahkan Arvin duduk di sofa putih yang berada di sisi kanan ruangan di mana hanya ada sofa putih panjang tersebut dan sebuah meja kaca di hadapannya. Puas memandangi ruangan Marcella, pandangan mata Arvin beralih pada Marcella yang berjalan mendekati tempatnya duduk saat ini. Tak butuh waktu lama, wanita itu duduk tepat di sebelahnya. Meski ada jarak di antara mereka, tetap saja jika jarak mereka bisa dikatakan dekat. "Mau minum apa?" tawar Marcella dari balik bingkai kacamatanya. Usaha yang mampu dilakukannya untuk menutupi mata bengkaknya. "Nggak usah. Aku nggak lama kok," tolak Arvin halus. "Okay. Jadi alasan apa yang membuatmu datang pagi-pagi ke restoran ini?" tanya Marcella to the point. Berlama-lama dengan Arvin hanya akan membuat hatinya berkhianat dari pikirannya sendiri. Arvin tidak langsung menjawab. Ia memandang ke dalam manik cokelat Marcella untuk beberapa detik. Membuat Marcella sedikit gerah dengan tatapan intens seperti itu. "Aku dan Noni menikah lima tahun yang lalu. Di mana aku sudah putus asa mencari jejakmu. Tapi seberapa besar usahaku saat itu, aku tidak dapat menemukanmu. Kamu seperti menghilang dari kehidupanku setelah kita lulus SMA," kata Arvin membuka suaranya. Pandangan matanya menerawang. "Aku tidak mau mendengarnya. Kalau tujuanmu masih sama seperti kemarin. Kamu salah besar!" "Beri aku waktu, La. Please..." Marcella menatap Arvin nanar. "Aku mohon Vin, jangan buat aku terlihat seperti wanita jahat yang hendak merebut suami orang lain." Kening Arvin bertautan. "Apa maksudmu? Siapa yang memiliki pikiran seperti itu?" "Aku tidak tahu! Tapi mereka akan berpikir seperti itu jika aku berdekatan denganmu. Sementara... sementara kamu akan bercerai. Cukup Vin. Aku nggak mau merasa sakit yang sama seperti dua belas tahun yang lalu," jawab Marcella pilu. Hatinya sakit ketika memikirkan ucapannya. Mereka saling bertatapan untuk beberapa detik. Sebelum akhirnya Arvin memutuskan tatapan mereka dan mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku tidak tahu jika kamu memiliki pemikiran seperti itu. Kamu tidak berubah, La." Merasa penolakan sebelum ia mengatakan tujuannya ke sini. Arvin menarik napas panjang. Mungkin salahnya sendiri telah menyimpan perasaannya untuk Marcella terlalu lama. Bahkan sebelum gembok yang telah karatan itu dibuka, sang pemilik kunci lebih dulu menolak membukanya  seperti itulah perasaannya pada Marcella. Arvin tersenyum miris. Senyum yang melukiskan betapa kecewa hatinya saat ini. Sebelum ia berkata jika dirinya selalu dan akan selalu mencintai Marcella, wanita itu lebih dulu menolak cintanya. Dadanya terasa sakit. Perasaan yang sama ketika Marcella memutuskan benang merah diantara mereka dua belas tahun yang lalu. "Maaf... maaf telah membuatmu merasa sakit." Tanpa berkata apa-apa lagi Arvin memandang Marcella yang lebih memilih memandang meja kaca daripada wajahnya dengan senyum pahit. Lalu ia bangkit berdiri meninggalkan Marcella. Meninggalkan cinta pertama yang sepertinya harus ditutup layaknya buku yang ditutup meski kisahnya belum selesai. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD