"Marcella," ulang pria itu ketika dilihatnya sosok yang dipanggil namanya itu masih terdiam dengan tatapan tertuju ke arahnya.
"Eh... i-iya," sahut Marcella terbata. Jika matanya tidak salah lihat, pria di hadapannya ini adalah Arvin. Arvin Arentino, mantan kekasihnya dan juga cinta pertamanya. Tapi, bagaimana bisa mereka bertemu kembali setelah sebelas atau dua belas tahun yang lalu. Marcella sendiri lupa kapan terakhir mereka bertemu. "Arvin?" tebaknya ragu.
"Iya. Gue Arvin." Mendengar pengakuan yang keluar dari bibir pria itu, Marcella tersenyum kaku. "Apa kabar La? Sudah lama sekali dan lo nggak banyak berubah."
Dalam hati Marcella mengiyakan ucapan Arvin. Kalimat terakhir pria itu menohok tepat ulu hatinya. Benar, dia tidak berubah sejak dulu. Sama seperti dirinya tidak pernah berubah menjadi korban perselingkuhan para pria yang disayanginya. Seperti antara dirinya dengan Arvin. Begitu juga dirinya dengan Daniel. Mengingat hal itu membuat Marcella harus menahan tawa untuk tidak menertawai dirinya sendiri atas nasibnya yang buruk. Dan satu hal membuat Marcella tersadar jika Arvin pun sama. Tidak banyak berubah. Begitu juga pria itu yang memanggil namanya dengan 'La' kepanjangan dari 'Ella'. Karena hanya pria itu yang memanggil dirinya dengan sebutan tersebut. Selebihnya kebanyakan orang memanggilnya dengan Mar, Marcell atau Marcella.
"Lo lagi nunggu seseorang atau..."
"Oh nggak. Gue datang sendirian kok," ralat Marcella cepat. Arvin tersenyum lalu mengangguk mengerti. "Lo kerja di sini?" tanya Marcella berbasa-basi.
"Iya. Lebih tepatnya gue pengelola kafe ini."
"Oh ya? Hebat! Bagaimana bisa? Setahu gue dulu lo pernah bilang ingin jadi dokter. Kenapa sekarang jadi pemilik kafe?"
Arvin terkekeh. Tawa yang menambah ketampanan pada wajah pria itu. Sama seperti dalam ingatan Marcella. Hanya saja sekarang rahang kokoh itu lebih memperlihatkan kegagahannya sebagai pria dewasa. Alis tebalnya, manik cokelatnya, hidungnya yang tegak lurus dan bibirnya yang tipis masih sama persis dengan Arvin yang dulu. "Dulu gue memangnya pernah bilang mau jadi dokter ya ke lo?"
Pertanyaan Arvin menyadarkan Marcella akan pandangan matanya yang menelusuri wajah pria itu.
"I-iya. Pernah. Waktu itu lo sempet bilang di depan sekolah ke gue. Tepat saat ada kecelakaan motor kalau nggak salah."
Kening Arvin bertautan, tampak jelas jika dia sedang mencoba mengorek ingatannya. Setelah beberapa menit terdiam Arvin membuka suaranya, "Ah... gue inget. Yang menabrak gerobak tukang sayur ya?"
"Betul!"
"Itu kan mimpi anak sekolah, La. Sewaktu-waktu bisa berubah. O iya...gimana sama lo?"
"Gue?"
"Iya, kerja apa?"
"Gue buka restoran kecil."
Kedua mata Arvin membesar lalu melipat kedua tangannya di dadanya yang bidang. Hasil kerja keras di gym. Dari bentuknya saja Marcella tahu. Berbeda dengan Arvin yang kurus saat masih menjadi kekasihnya.
"Wow! Akhirnya cita-cita lo tercapai ya! Congratulations!"
"Thanks, tapi hanya restoran kecil. Belum bisa dibandingkan dengan restoran ternama," imbuh Marcella.
"Nggak masalah. At least your dreams come true," ucap Arvin yang dibalas Marcella dengan anggukan. Kemudian untuk sejenak mereka terdiam sesaat sampai sebuah pertanyaan berikutnya berhasil membuat Marcella tertegun. "Lo udah married, La?"
"Ha?" Refleks Marcella membuka suaranya. Tidak percaya akan pendengarannya sendiri. Apa Arvin baru saja menanyakan statusnya saat ini!? Apa itu artinya Arvin masih ada perasaan untuk dirinya? Bodoh! Sebuah suara menghapus semua pikirannya yang baru saja terlintas. Mana mungkin Arvin masih mengharapkanmu. Lagipula mungkin dia hanya kepo dan ingin memastikan apakah kau bisa hidup tanpanya setelah perpisahan itu. Lagipula, cinta kalian adalah cinta monyet. Bukan cinta kingkong!
Marcella menelan salivanya. Benar, sungguh naif rasanya bila berpikir Arvin masih memiliki perasaan untuk dirinya. Tidak ingatkan dirinya siapa yang mengakhiri hubungan diantara mereka dulu? Jadi jangan berpikiran yang aneh-aneh. Please stop! teriak Marcella dalam hati.
"Lo udah nikah? Soalnya gue denger banyak temen yang dari angkatan kita udah pada nikah," jelas Arvin seakan dia tahu yang ada dipikiran Marcella saat ini.
"Oh... belum," jawabnya singkat. Lalu memilih untuk meraih cangkirnya dan mulai menyesap.
"Syukurlah..."
Ucapan Arvin membuat Marcella tersedak. "Uhuukkk...uhuukk..."
Melihat hal itu Arvin mendekatkan wajahnya. "Lo okay?" Ditepuknya punggung Marcella pelan. Berusaha membantu wanita itu dengan batuk akibat tersedak.
"Gue.... baik...baik aja kok," jawab Marcella disela-sela batuknya.
"Hati-hati La kalau minum. Tersedak bisa membuat seseorang meninggal." Ucapan Arvin langsung membuat Marcella mengangkat wajahnya dan memandang pria itu dengan pandangan ngeri. "Becanda kok," jawabnya dengan cengiran lebar di bibirnya.
Selesai dengan tersedaknya, yang sukses membuat Marcella harus kehilangan sikap jaimnya di depan Arvin. Seseorang menghampiri Arvin dan membisikkan sesuatu yang dibalas pria itu dengan anggukan.
"Sori La, gue tinggal bentar ya."
Marcella menganggukkan wajahnya dan menjawab, "Nggak apa-apa kok. Take your time."
Detik berikutnya Arvin berjalan menuju sebuah ruangan di mana ada sebuah pintu di pojok bar. Nyaris tidak terlihat bilamana Marcella tidak mengikuti pandangan matanya pada Arvin. Setelab Arvin menghilang di balik pintu. Segera Marcella meraih tasnya dan berjalan meninggalkan kafe. Tidak peduli dengan minuman dan makanannya yang masih tersisa banyak. Karena yang ada di dalam kepalanya saat ini meninggalkan tempat ini secepat mungkin dengan harapan tidak bertemu kembali dengan Arvin. Marcella yakin jika pertemuan tidak terduga ini berlanjut, kehidupannya yang damai tidak akan kembali damai. Di mana masalah Daniel saja sudah membuat hidupnya berantakan dan Marcella membutuhkan waktu untuk menghindari makhluk yang bernama laki-laki. Termasuk mantannya.
***