4

1164 Words
Dari balik bulu matanya, Arvin menangkap sosok yang sedang menghentikan sebuah taksi. Senyum tipis mengembang di wajahnya. Mengapa wanita itu pergi begitu saja? Apa dirinya begitu menakutkan untuknya? Atau... status mantan diantara mereka yang membuat Marcella bergerak cepat seakan hendak mengalahkan the flash? "Mas Arvin kok senyum-senyum sendiri? Nanti di kira gila sama pengunjung yang melihatnya loh?" tegur Rima. Salah satu karyawan yang bekerja sebagai kasir. Arvin berdeham dan menoleh. "Memangnya kamu mau punya bos gila?" balasnya. "Nggaklah. Mendingan aku cari kerjaan baru daripada punya bos gila," kilah Rima. "Dasar nggak setia," ejek Arvin. "Aku potong gaji baru tahu rasa kamu." Mendengar ancaman atasannya secepat kilat Rima mengangkat kedua tangannya ke udara. Memperlihatkan jika dirinya telah mengalah sebelum berperang. "Jangan dong Mas, nanti ibu dan adikku makan apa?" Sontak terdengar suara tawa renyah milik Arvin. "Makanya jangan pernah berani melawan kekuatan bos. By the way, kapan Jack masuk?" Sambil mencebik Rima menjawab, "Katanya sih besok udah bisa masuk. Cuma masuk angin biasa." Arvin mengangguk mengerti. Jack, barista yang bekerja di kafenya mendadak mengabarkan jika hari ini tidak dapat masuk kerja karena sakit. Sehingga Arvin-lah yang menggantikannya. Biasanya dia hanya datang untuk mengecek dan membantu kafe saat weekend. Selebihnya Arvin sibuk dengan rencananya membuka kafe baru. Namun, masih rencana. Dia masih harus mengecek tempat dan biaya yang nanti kira-kira diperlukannya untuk membuka cabang. Tapi hati kecilnya bersyukur Jack sakit. Bukan berniat jahat, sebaliknya dia mendoakan Jack segera sembuh. Karena besok dia ada meeting dengan pemilik ruko di daerah Sudirman. Dan Arvin tidak ingin meeting tersebut batal. Sisi lain yang membuatnya bersyukur karena Jack sakit adalah pertemuannya dengan Marcella. Mantan kekasihnya yang jika dilihat semakin cantik. Meski ada kesedihan di wajahnya saat Arvin melihatnya, ingin sekali Arvin menanyakan dan menghiburnya. Tapi ia tidak berani. Jadi pada akhirnya tak ada yang bisa Arvin lakukan. Dan bagian terbodohnya dia tidak menanyakan nomor telepon Marcella. Lalu bagaimana caranya mereka dapat bertemu kembali? Dilihat dari cara Marcella melarikan diri seperti tadi, Arvin tidak yakin jika wanita itu mau bertemu dengannya kembali. Tanpa disadarinya Arvin terdiam dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Membuat Rima menoleh setelah selesai melakukan transaksi dengan pengunjung. "Ada apa Mas?" "Bukan apa-apa," jawabnya cepat. "Apa pesanannya?" *** Berbeda dengan Arvin yang berharap bertemu kembali dengan Marcella, wanita itu menginginkan sebaliknya. Seperti saat ini, dalam hati ia sudah berjanji tidak akan kembali menginjak kafe Arvin lagi. Tidak peduli jika rasa Single origin Papandayan di kafe itu terasa nikmat. Seperti meneguk secangkir kebaikan yang tak memabukkan di sebuah perayaan. Memanjakan lidah dan mendamaikan hati. Tapi tetap saja, mendatangi kafe itu lagi untuk menikmati banana caramel yang belum sempat dicicipinya, sama seperti membuka luka lama yang sudah dikubur rapi oleh Marcella. Digelengkan kepalanya kuat-kuat. Tidak, dia tidak akan pernah kembali ke kafe itu lagi. Kafe di mana di depan pintunya tertuliskan Love & Bites. Di saat kritis seperti ini, yang biasa di lakukan para tokoh utama di dalam novel adalah mencurahkan isi hatinya kepada teman sejatinya. Tapi, bagaimana dengan dirinya? Marcella tak pernah memiliki seorang sahabat setelah Neyna memilih untuk sekolah di negeri Paman Sam. Sehingga yang tersisa di ibukota ini hanya keluarganya dan Ramdan. Jadi daripada mengahadapi bunda yang bawelnya melebihi panjang rel kereta api, Marcella memutuskan untuk kembali ke restoran. "Lho? Cepet amat Chef udah balik," celetuk Ramdan saat melihat sosok Marcella melangkah masuk ke dalam dapur. Dengan wajah yang bete, Marcella duduk di sudut dapur dan memandang Ramdan yang tampak sibuk dengan daging asap dan keju. Sepertinya ada seorang pengunjung yang menginginkan Croque Monsieur  untuk makan siangnya. "Ram, kamu punya mantan pacar?" "Setiap orang punya kok Chef." Jawaban Ramdan membuat Marcella berdecak kesal. "Maksud gue tuh lo. Bukan semua orang." Bibir Ramdan membentuk bulat lalu terkekeh. "Punya dong Chef," jawab Ramdan masih dengan kesibukannya. "Terus pernah ketemu lagi nggak?" tanya Marcella lagi. "Wah...kalau masakan saya dikomplain sama pengunjung Chef yang tanggung jawab ya. Salah Chef yang mewawancarai saya yang lagi sibuk," ucap Ramdan. "Jawab aja deh. Nggak usah mengalihkan pembicaraan. Buat Croque Monsieur itu udah makanan sehari-hari kamu. Jadi nggak mungkin gagal. Memangnya berapa lama sih aku kenal kamu? Sehari? Dua hari? Lima tahun Ram," kata Marcella sambil mengangkat kelima jarinya ke udara. Melihat sikap Marcella Ramdan menggelengkan kepalanya. Wanita ini sudah terlalu mengenalnya dengan baik. "Okay. Jadi? Apa kau bertemu dengan mantanmu lagi? Siapa? Daniel? Jika pria itu sudah berstatus mantanmu." "Rasanya bertemu Daniel terdengar jauh lebih baik. Aku bisa mencakar wajahnya, menampar pipinya dan yang terakhir memberika tendangan maut pada benda yang paling berharga di tubuhnya." Tiba-tiba Marcella jadi bersemangat untuk menyiksa Daniel. Seharusnya saat itu Marcella langsung menerkamnya bak singa kelaparan. Namun harga dirinya masih menegurnya untuk bersikap tenang. Dan sekarang Marcella jadi menyesal karena tidak melakukannya. "Chef?" Panggilan Ramdan berhasil membuat Marcella tersadar dari pikirannya sendiri. Berapa lama dia melamun? "I-iya. Sori tadi kamu bilang apa?" "Mantan mana yang sebenarnya kau temui tadi?" Marcella terdiam sejenak sebelum membuka suaranya. "Cinta pertama gue, Ram," jawabnya pelan. Tanpa terasa Ramdan memandang Croque Monsieur yang telah selesai di atas piring keramik berwarna putih. "Cinta pertama itu seperti seperti Croque Monsieur ini." "Maksudmu?" "Maksudnya, hanya dengan memandanginya saja mengingatkan kita akan rasanya yang lezat. Sama seperti cinta pertama. Melihat cinta pertama di depan kita, mengingatkan kita akan indahnya kebersamaan dengannya dulu." "Perumpamaan macam apa itu," decak Marcella. "Dengerin dulu dong Chef," cegah Ramdan saat melihat Marcella hendak beranjak dari tempat duduknya. "Apa lagi Ram? Aku tuh baru sadar kalau bicara sama kamu itu sia-sia," keluh Marcella. "Masalahnya aku belum selesai mengatakan semuanya Chef." Marcella memutar kedua bola matanya. "Nggak perlu. Tidak membantu sama sekali. Lebih baik segera kamu antarkan Croque Monsieur  itu sebelum pemiliknya ngamuk." Tanpa memedulikan panggilan Ramdan, Marcella berjalan terus keluar dapur lalu menyapa dua waiter-nya sebelum akhirnya menghilang di balik pintu ruangannya. Dihempaskannya tubuh lelahnya. Dipijat pelan bahu dengan kedua tangannya sendiri lalu memejamkan kedua matanya dan ingatan itu kembali berputar di dalam kepalanya. Ingatan di mana untuk pertama kalinya Marcella merasakan yang namanya mencintai sekaligus sakit hati oleh laki-laki yang sama. Tapi nada dering ponsel miliknya langsung menyadarkan Marcella dari ingatannya. Nama pria yang paling tidak ingin ditemuinya saat ini tertera di layar ponsel miliknya. Setelah membiarkan ponselnya berbunyi terus menerus, sebuah pesan masuk memaksa Marcella untuk membacanya. Daniel : Yang, beri aku penjelasan atas semuanya. Aku khilaf... Melihat dua kata terakhir di pesan tersebut membuat darah Marcella mendidih. Marcella: Khilaf? Bila aku tidak memergoki kalian, apa kamu bisa semudah iti berkata khilaf? C'mon Daniel, we are over. Jadi jangan ganggu aku lagi! Daniel: Maafin aku Yang. Aku akan melakukan apa aja supaya kamu maafin aku. Aku bahkan udah memutuskan hubungan kami. Tolong beri aku waktu sedikit saja untuk menjelaskannya. Lagipula sekarang aku udah ada di depan restoranmu. Kalimat terakhir Daniel berhasil membuat kedua mata Marcella membesar. Cepat-cepat dia bangkit dari tempat duduknya dan melangkah keluar. Diedarkan pandangan matanya dan langsung jatuh pada sosok pria yang sedang bersandar pada Vios silver miliknya. Dengan langkah lebar-lebar Marcella menghampiri sosok tersebut. Sosok yang ingin membuat dirinya langsung melayangkan sebelah tangannya di pipi pria b******k itu! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD