5

749 Words
Di sinilah dirinya dan pria yang menyakiti hatinya. Sebuah kafe yang tidak jauh dari restorannya menjadi pilihan Marcella dengan tujuan bila Daniel melakukan sesuatu yang jahat dia tahu ke mana harus melarikan diri. Dua cangkir kopi hangat mengepul di atas meja. Seakan memberikan gambaran sepanas apa situasi diantara dua manusia pemilik kopi tersebut. "Gue nggak punya banyak waktu. Jadi cepet katakan apa maksud dan tujuan lo," ucap Marcella ketus. Menahan keinginannya untuk tidak muntah di hadapan Daniel. Berbeda dengan Marcella yang untuk memandang Daniel saja tidak sudi, laki-laki itu malahan terus menatap lurus Marcella. Berharap wanita itu mau memandangnya sedikit saja. Walaupun Daniel tahu jika keinginannya itu tidak akan terwujud karena kebodohannya. Perlahan rasa sesal kembali menyelimuti hatinya. "Yang..." Daniel membuka suaranya pelan lalu mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Membasahi bibirnya sebelum kembali membuka bibirnya lagi. "Aku minta maaf atas apa yang terjadi waktu itu. Aku benar-benar menyesal." Perkataan Daniel berhasil membuat manik cokelat Marcella sedikit bergerak dan melirik ke arahnya. Sinis dan dingin. Tak ada kehangatan dan kerinduan seperti yang selalu Marcella perlihatkan sebelum hari naas itu terjadi. "Maaf? Masih pantaskah kamu meminta maaf atas apa yang udah kamu lakuin ke aku?" tanya Marcella sinis. "Atau kamu lupa kalau kamu udah mengkhianati aku?" "Sayang..." panggil Daniel cepat. "Aku sadar aku salah. Aku khilaf. Apa kamu nggak bisa terima maafku? Aku benar-benar minta maaf tulus dari dasar hatiku..." mohonnya. Marcella memandang Daniel jijik. Bagaimana bisa semudah itu dia mengucapkan kata maaf? Seakan pria itu baru saja memecahkan balon yang sedang dipegangnya. Yang tinggal dengan mudah membeli yang baru. "Maaf? Aku bahkan nggak yakin kamu tulus minta maaf," ejek Marcella. Mendengar balasan yang keluar dari bibir Marcella, kedua tangan Daniel terkepal erat. Emosi sudah menyatu dengan darahnya yang mengalir di dalam tubuhnya. Tidak lihatkah Marcella jika dia tulus akan usahanya meminta maaf? Tidak lihatkah dia jika Daniel bahkan rela mengesampingkan harga dirinya untuk memohon maaf kepada wanita itu? Dan sekarang wanita itu mencemoohnya seakan-akan dirinya adalah seorang terdakwa yang tidak pantas menerima ampun. Tiba-tiba suara tawa terlontar dari bibir Daniel. Tawa yang membuat Marcella mengerutkan keningnya. "Sombong sekali kamu Marcella. Tidak tahukah kamu jika niatku datang bertemu denganmu adalah baik? Tapi sayangnya dirimu yang tinggi hati telah memandang rendah diriku. Sehingga kamu memutuskan bahwa aku tidak pantas mendapatkan maaf darimu?" Daniel kembali tertawa. Sedangkan Marcella terdiam melihat perubahan sikap Daniel. "Jangan konyol Marcella. Sejujurnya perempuan sepertimu tidak pantas mendapatkan pria baik seperti aku. Tapi apa daya jika aku masih ingin mencoba mempertahankan hubungan kita karena memilikimu akan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri untukku yang seorang pegawai rendahan?" "A-apa maksud kamu?" "Bodoh. Kamu terlalu bodoh Marcella. Tidak sadarkah kamu jika aku memacarimu demi keuntunganku sendiri? Well, siapa yang tidak mau mendapatkan seorang kekasih berprestasi dan kaya raya? Begitu juga dengan diriku. Mendapatkanmu rasanya seperti mendapatkan sebuah lotre. Hanya saja, selama dua tahun ini aku harus bertahan menghadapi keegoisanmu dan sikap sok sibukmu yang semakin lama membuatku muak!" Tubuh Marcella menegang. Napasnya tertahan. Dalam hitungan detik darah seakan berhenti mengalir di dalam tubuhnya. Belum lagi tangannya yang memegang cangkir kopi mendadak gemetaran. Apa katanya? Tidak ada yang salah dengan pendengarannya bukan? "Bohong... kamu bohong..." gumam Marcella hampir tanpa suara. Daniel menarik kedua sudut bibirnya ke atas. "Apa aku terlihat sedang mencoba melawak?" Amarah tampak jelas pada wajah Marcella setelah mendengar balasan yang diberikan Daniel. Demi Tuhan, kenapa dia baru melihat sisi Daniel yang seperti ini? Ke mana saja dirinya selama ini? Nyatanya dia tidak pernah benar-benar mengenal pria itu. "Kau..." ucap Marcella penuh penekanan dengan tatapan mata tertuju ke dalam mata Daniel. Api-api kemarahan tampak jelas di sana. "Apa? Kau ingin marah? Balas dendam? Sayangnya tak ada satu pun yang dapat kau lakukan Marcella. Kau terlambat..." Daniel menarik napas panjang dan memandang Marcella dengan senyum mengejek. "Sepertinya hubungan kita memang harus berakhir di sini. Karena sejak awal kita memang tidak berjodoh..." Selesai mengatakannya Daniel bangkit berdiri dan berjalan melewati Marcella yang mematung di tempatnya. Fakta yang baru saja diterimanya terlalu mengejutkan. Padahal begitu banyak yang mereka lewati bersama selama dua tahun. Kenyataannya semua itu palsu. Seperti permohonan maaf Daniel. Palsu. Penuh kebohongan. Dan untuk kedua kalinya Marcella harus menerima pengkhianatan di dalam hidupnya. Salah satu sikap yang paling dibencinya ketika menjalin hubungan. Namun, sayangnya dia harus kembali menerima kenyataan pahit tersebut. Dalam kekosongan, Marcella memejamkan matanya yang telah memanas untuk beberapa detik. Saat itulah dua cairan menetes bersamaan di atas kedua pipinya. Memperlihatkan kelemahan yang sejak tadi ditutupinya. Karena pada akhirnya dia hanyalah wanita biasa yang ingin meraih kebahagiaan yang bertahan sampai akhir hayatnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD