6

1056 Words
Rahang Marcella mengeras. Kedua tangannya terkepal erat. Amarah tampak jelas di dalam manik cokelatnya yang menatap lurus Daniel yang tampak santai duduk di meja tamu restorannya. Jika tidak ingat di mana posisinya berdiri saat ini, Marcella mungkin sudah melayangkan sebuah tinju ke wajah pria b******k ini. Tapi sayangnya, pria ini selalu tahu bagaimana cara mengalahkan Marcella. "Marcella, aku nggak nyangka kamu akan datang langsung menemuiku. Sungguh bertanggung jawab," sindir Daniel sinis. "Kamu boleh melanjutkan pekerjaanmu, Tania. Masalah ini biar aku yang menangani." Mendapat perintah dari atasannya, Tania langsung menurut dan berlalu dari situ. "Maafkan kami." "Maaf? Jelas-jelas karyawanmu yang bodoh itu yang membuat masalah. Seharusnya dia yang meminta maaf! Bukan kamu!" ujar Daniel emosi. "Dan..." bisik wanita yang duduk berseberangan dengan Daniel sambil menyentuh lembut lengannya. Membuat Marcella harus menahan jijik sekaligus amarah. Tidak memedulikan teguran kekasih atau selingkuhannya, entahlah Marcella tidak tahu status sebenarnya wanita berambut pixie tersebut. Yang paling utama, dia tidak sudi melihat wajah dua manusia ini di restorannya! "Maafkan karyawan saya. Saya akan menggantinya dengan yang baru dan memberikan ada sebotol wine gratis," balas Marcella penuh penekanan akibat amarah yang ditahannya. "Tidak perlu!" cegah Daniel. "Sebagai gantinya bagaimana jika kamu makan bersama dengan kami?" Marcella memandang Daniel penuh kebencian. Dia tidak tahu tujuan sebenarnya Daniel di balik sikapnya yang membuat onar di restorannya. C'mon! Pria itu boleh menghubunginya jika ingin berbicara empat mata jika ingin menyelesaikan masalah diantara mereka. Tapi bukan begini caranya! "Maafkan saya, tidak baik rasanya jika saya bergabung bersama kalian. Sebagai gantinya saya akan memberikan free wine untuk kalian." Selesai mengatakannya Marcella memutar tubuhnya, namun sebuah tangan menahannya. Dengan cepat Marcella menolehkan kepalanya dan memandang wajah Daniel dengan marah. "Lepaskan tangan saya!" desis Marcella menahan marah. Tapi, bukannya melepaskan tangan Marcella, Daniel malahan memberikan senyum tipis di bibirnya. Sedangkan perempuan di seberangnya memandang keduanya dalam diam. "Sombong sekali pemilik restoran ini. Bahkan untuk makan bersama kami pun dia tidak sudi," ucap Daniel lantang. Membuat beberapa pasang mata tertuju ke arahnya. Tahu jika situasinya saat ini menjadi pusat perhatian seluruh mata pengunjung restoran, Marcella mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Daniel telah berhasil membuatnya malu di depan umum. Belum melukai hatinya. Apa masih belum puaskah Daniel menyakiti hatinya? Jika belum, apa tujuan Daniel yang sebenarnya? Marcella menelan salivanya dan memandang lurus Daniel dengan mata yang mulai memanas. Tahan... tahan... "Maaf..." Sebuah suara berat membuat keduanya menoleh. Wajah yang baru-baru ini sempat menyelusup ke dalam kepalanya berada tepat tak jauh dari tempatnya berdiri. Rambut dengan poni yang sedikit di tegakkan, kemeja hitam yang digulung sesiku, dan celana jeans membuat Arvin tampak fresh dari terakhir kali Marcella melihatnya. "Maafkan saya yang telah menginterupsi kalian, tapi saya sebagai tamu di sini merasa tidak nyaman dengan kondisi kalian. Jadi... bila kalian berkenan, bisa lanjutkan lain kali?" Entah harus bersyukur atau marah, Marcella hanya mampu terdiam dan memandang wajah Daniel dengan marah. Lalu perlahan tapi pasti, Daniel mulai mengendurkan pegangannya dengan terpaksa. "Thanks atas kerja samanya." Selesai mengucapkannya Arvin melemparkan senyum kepada Marcella sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkan Marcella menuju sebuah meja di mana seorang wanita cantik telah menunggunya. "Anggap saja kau beruntung kali ini, Mar. Tapi aku jamin tidak untuk lain kali." Dengan kesal dan amarah tertahan Marcella memandang wajah Daniel. "Saya akan meminta karyawan saya untuk mengantarkan wine-nya. Permisi." Tanpa menunggu lebih lama lagi, Marcella langsung berjalan dan melangkah masuk ke dalam dapur. Sesampainya di dapur, ia meminta Tania untuk mengantarkan free wine ke meja Daniel dan terus berjalan menuju pintu keluar dapur. Setelah berhasil menghirup udara malam yang hangat, ia tak mampu lagi menahan rasa malu, amarah dan sakit hatinya. Marcella berjongkok dan mulai menangis. Menumpahkan semua perasaannya atas apa yang baru saja terjadi tadi. Di mana Daniel yang terus menyakitinya tanpa tahu tujuan pria itu sebenarnya. Belum lagi pandangan mata sini dari wanita yang bersama Daniel. Juga Arvin yang melihat semua kejadian itu. Dalam keheningan malam, Marcella terisak tanpa tahu bagaimana cara menghentikan tangisannya. Hatinya terlalu sakit dan takut untuk menghadapi semua orang di balik pintu itu. Ia takut dengan pandangan karyawan dan para tamu yang akan memandangnya dengan pandangan merendah atau kasihan. Termasuk Arvin di dalamnya. Suara pintu terbuka mengejutkan Marcella. Cepat-cepat dihapus air mata yang membasahi pipinya dan segera bangkit berdiri. "Ada apa?" tanya Marcella sambil memutar tubuhnya. Mungkin Ramdan atau karyawan lainnya sedang membutuhkan bantuannya saat ini. Tapi Marcella salah. Yang berdiri saat ini bukanlah Ramdan, Tania, ataupun Lia. Melainkan Arvin. Pria itu berdiri dengan pandangan mata lurus ke arahnya. Begitu juga dengan pandangan mata Marcella. Membuat mereka saling pandang untuk beberapa saat. Tanpa ada satu pun yang berniat memutuskan kontak mata diantara mereka untuk saat ini. *** "b******k!" maki Daniel saat dia melihat Marcella yang berjalan masuk ke dalam dapur yang tak lama kemudian di susul oleh pria yang baru saja menginterupsi rencananya. "Ada apa denganmu sih, Dan!?" tanya Sasha jengkel. Tangannya terlipat di dadanya. Meminta penjelasan akan sikap kekasihnya itu. Namun, Daniel tetap mengindahkannya. "Bukan urusanmu." Daniel memandang Cured Salmon-nya dengan tidak berselera. "Aku tidak mengerti," imbuh Sasha. Tujuan Daniel mendapatkan Marcella adalah untuk menguras kekayaan wanita itu. Sedikit demi sedikit, tapi sayang belum waktunya Marcella telah mengetahui perselingkuhannya. Bukan, bukan perselingkuhan. Kenyataannya sejak awal, hanya Sasha seorang kekasihnya. Namun, melihat kecantikan Marcella dan peluang untuk melancarkan kariernya, Daniel berusaha mendekati Marcella. Dan ternyata usahanya berhasil. Awalnya Daniel yang awal mulanya seorang dokter fresh graduate, berhasil berkenalan dengan beberapa orang penting dari Marcella yang akhirnya membuat kariernya naik dan naik. Sehingga dirinya berhasil masuk dalam deretan dokter handal di tanah air. Di sisi lain, Marcella pun telah menarik hatinya. Daniel mencintai Marcella. Tapi apa daya Sasha, kekasihnya itu sedang mengandung anaknya. Dan saat itu Daniel terpaksa menemani Sasha ke mana pun wanita inginkan. Demi anak mereka. Mantra yang selalu ditekankannya pada dirinya sendiri. Karena Daniel tidak lagi mencintai Sasha. Dia mencintai Marcella dan menginginkan wanita itu. Tapi besarnya jurang diantara mereka yang sejak awal tercipta, semakin hari semakin besar. Membuat Daniel muak akan perbedaan diantara mereka. Dan ketika Marcella memergoki dirinya, Daniel berusaha mendapatkan maaf dari Marcella. Hanya saja pandangan jijik yang dilemparkan Marcella kepadanya membuat hatinya marah. Dia terlalu marah sampai akhirnya membuka tujuannya memacari Marcella. Namun sekarang Daniel menyesal. Dan sekarang dia harus berhasil mendapatkan Marcella kembali. Karena ia baru sadar jika dirinya tidak dapat hidup tanpa Marcella. Daniel terlalu mencintai Marcella dan dia rela melakukan apapun untuk mendapatkan Marcella kembali. Meski dengan cara kasar sekalipun. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD