10

973 Words
Marcella menerima gelas berisi cairan kuning yang baru saja diisi ulang oleh sang bartender. Memang benar kata orang, alkohol adalah teman terbaik saat hatimu sedang dalam keadaan tidak baik. Seperti yang dirasakan olehnya saat ini. Diteguknya langsung tanpa ada jeda dan dalam sekejap gelas kaca itu telah kosong. "Aku nggak tahu kalau kamu sehebat itu," decak sebuah suara dari arah sisi kanannya. Sontak Marcella yang sudah setengah mabuk itu menoleh. Keningnya berkerut, berusaha mengenali sosok yang sekarang telah mengambil duduk di atas barstool kosong di sisinya. "Arvin?" Kata pertama yang keluar dari bibir Marcella setelah butuh dua menit untuk mengenali mantan kekasihnya. "Kok kamu tahu aku ada di sini? Kamu stalker aku ya!?" tanya Marcella dengan nada sedikit meninggi sambil menujuk batang hidungnya dengan jari telunjuk miliknya sendiri. "What!? Nggaklah!" elak Arvin. Terkejut dengan tuduhan yang diberikan oleh Marcella. "Kirain." Selesai mengatakannya Marcella tertawa kecil. "Terus mau ngapain kamu ke sini?" "Aku datang sama temenku. Itu yang duduk di meja dekat tiang," jelas Arvin yang langsung membuat Marcella memiringkan kepalanya untuk menemukan meja yang dimaksud mantannya itu. Ketika pandangan matanya berhasil mendapatkan meja yang dimaksud Arvin, Marcella melihat pria berambut tentara dengan badan lebih besar dari Arvin. Membuat Marcella sedikit ngeri melihatnya. "Teman apa bodyguard?" Mendengar pertanyaan Marcella, alhasil Arvin tertawa. "Teman kok. Kalau bodyguard sebesar dia, bisa-bisa cewek pada takut buat deketin aku yang tampan ini." Ditempatnya Marcella mendengus mendengar ucapan Arvin. "Kamu terlalu percaya diri." Kemudian ia memutar kepalanya dan memanggil bartender yang sama untuk menuangkan segelas bir lagi untuk dirinya. Saat itu ponsel Arvin bergetar. Dalam diam Arvin membukanya dan membacanya. Sebastian : C'mon man. When are you going to kiss her? Now or wait for the club closed? Arvin menggeram. Dia hampir lupa permainannya dengan Sebastian. Tadi, ketika dia melihat wanita incaran Sebastian, Arvin sedikit terkejut ketika melihat sosok Marcella-lah yang diinginkan Sebastian. Lekas-lekas Arvin mencari cara supaya Marcella terselamatkan dari permainan bodohnya dengan Sebastian. Namun, ketika dia mendapatkan ide untuk membebaskan Marcella, sekarang dirinyalah yang terjebak atas kebodohannya sendiri. Tidak mungkin dia mencium Marcella. Dia bukan lagi kekasihnya yang dapat mencicipi bibir merah itu kapan saja. Bagaimana jika perempuan ini marah dan menamparnya? Arvin cukup tahu diri dengan sikap Marcella yang terus berusaha menjauhinya setelah pertemuan pertama mereka. Lalu sekarang apa yang harus dilakukannya? Dia benar-benar terperangkap atas kebodohannya sendiri. Ditatapnya Marcella yang tampak diam menunggu minumannya. Dan ketika Marcella hendak meraih gelasnya, sebuah tangan lebih dulu meraih gelas bundar tersebut dan menenggaknya sampai habis. "Loh, itu minumanku! Kenapa main ambil aja?" omel Marcella dari tempat duduknya. Arvin menatap lurus Marcella yang tampak kesal. Bibirnya mulai bergerak-gerak. Mengekspresikan kemarahan atas sikapnya yang telah mengambil minumannya. Detik berikutnya disusul ponsel Arvin yang kembali bergetar di dalam saku celananya. Pusing dengan situasi seperti ini Arvin mematung di tempatnya. "Kalau haus bilang, aku bisa traktir kamu. Heran deh, dari dulu kebiasaan kamu nggak berubah. Suka ambil minuman aku." Sadar jika dirinya mulai membahas masa lalu, Marcella terdiam. Ia menelas salivanya ketika pandangan mata mereka bertemu dan semuanya langsung bergerak dengan cepat. Arvin yang memajukan tubuhnya, menarik dagu Marcella dan menyatukan bibir mereka. Untuk pertama kalinya setelah hubungan mereka berakhir sore itu. Di bawah guyuran hujan lebat. Tapi nyatanya, takdir berkata lain. Cupid sepertinya belum ingin memisahkan mereka. Atau sang pemanah memiliki rencana lain untuk mereka? *** Bibir mereka menempel sedemikan mungkin untuk beberapa detik sampai akhirnya Marcella tersadar dari keterkejutannya dan langsung menarik diri.  Pandangan mata marah tampak jelas di iris cokelatnya yang tertuju pada Arvin. "Apa yang kamu lakukan!?" tanya Marcella dengan nada marah di dalam suaranya. "Aku..." Arvin terdiam sejenak. Tidak mungkin dia menjawab jika dia hendak melindungi Marcella dari buaya darat seperti Sebastian gara-gara permaina bodoh yang mereka mainkan. "Aku terlarut oleh suasana," katanya beralasan. Marcella mendengus kencang. Kenyataannya Arvin tidak berubah meski 8 tahun telah berlalu. Tetap laki-laki b******k yang suka mempermainkan perempuan! "Aku pikir, kamu sudah berubah. Nyatanya kamu tetap b******k seperti dulu." Setelah mengatakannya, Marcella langsung bangkit berdiri dan meninggalkan Arvin tanpa mengharapkan jawaban apa pun dari pria itu. Faktanya semua laki-laki yang berada di sekitarnya b******k! Hanya bisa menyakiti perasaannya. Jika seperti ini? Apa sebaiknya Marcella memutuskan seorang diri sampai akhir hayatnya? Tidak terlalu buruk bukan? Dengan perasaan marah bercampur kecewa, Marcella terus berjalan keluar, menghentikan sebuah taksi dan masuk ke dalamnya. Sekarang, ke manakah dia harus pergi? Di tempatnya, dengan resah Arvin mengusap wajahnya. Suara tepukan tangan yang diberikan oleh Sebastian sama sekali tidak menghibur hati Arvin. Perasaan bersalah mulai merayapi hatinya. s**l, makinya dalam hati. Andai waktu dapat bisa diputar kembali, Arvin akan menolak mentah-mentah permainan yang ditawarkan Sebastian. Di liriknya sekali tempat di mana tadi Marcella duduk. Namun, sekarang kosong. Tak ada Marcella di sana, yang tersisa hanyalah kursi dingin tak berpenghuni. "Great job, Vin! Sekarang ayo lanjut!" ajak Sebastian bersemangat. "Lo aja main sendiri. Mood gue udah hilang," sahut Arvin malas. Pikirannya terus tertuju kepada Marcella. Apakah perempuan itu menangis akibat kebodohannya? "Ah... payah lo! Baru satu kali aja udah menyerah. Lagian juga nggak usah dipikirin. Belum tentu lo ketemu itu cewek lagi," bujuk Sebastian. Semangatnya sudah menggebu-gebu. Keinginan untuk mencium seorang wanita di meja sudut ruangan sudah menjadi rencana di dalam kepalanya. "Lo aja deh main sendiri. Gue balik dulu." Tanpa memedulikan wajah Sebastian yang tidak terima dengan keputusannya, Arvin meraih jaketnya dan mulai menggerakkan kakinya keluar gedung ini. Dalam hati ia berharap Marcella terduduk di pelataran parkiran. Tapi sayangnya, Marcella tak ada di mana pun. Termasuk pelataran parkiran. Yang tersisa hanyalah angin malam yang berhembus dingin. Tak ada kehangatan seperti saat Arvin tiba. Jika seperti ini kejadiannya, bukankah ia seperti mengulang kesalahan yang sama 8 tahun yang lalu? Di mana pada akhirnya Marcella memilih untuk meninggalkannya. Dikepalnya erat kedua tangannya. b******k! makinya dalam hati saat sadar jika pada akhirnya tak ada apapun yang mampu dilakukannya ketika Marcella meninggalkannya. Nyatanya ucapan Marcella benar. Ia tidak berubah. Tetap pecundang. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD