11

1094 Words
Entah sudah berapa kali Marcella menghembuskan napas panjangnya. Tatapan matanya lurus menatap pasta di layar komputer. Namun otaknya tidak dapat bekerja dengan baik. Padahal biasanya saat ia melihat satu resep, beberapa ide mulai terlintas di dalam kepalanya untuk membuat resep baru. Namun kali ini, nihil. Sudah satu jam berlalu tapi tak ada satu pun ide yang terlintas di dalam kepalanya. Sebaliknya wajah Arvin ketika menciumnyalah yang selalu muncul sejak semalam. Sekali lagi Marcella menghembuskan napas beratnya. Meski segala aktivitas sudah ia coba, Arvin tetap tak bisa bergeser sedikit pun dari dalam kepalanya. Ciuman itu, meski hanya sekilas, tapi berhasil membuat Marcella gelisah. Seperti ciuman pertama mereka. "Yahhh... hujan. Mana aku lupa bawa payung," gerutu Marcella di depan kelas. Pandangannya tertuju ke lapangan luas di depan kelasnya. Di mana tetesan air mulai membasahi lantainya. "Kita tunggu aja ya," ujar Arvin yang baru saja datang sambil menyampirkan ransel miliknya ke atas bahunya. Lima menit yang lalu, hujan belum turun. Seperti biasa, hari Jumat menjadi hari di mana Arvin harus melakukan tugas piket. Dan Marcella kebagian menunggu pacarnya itu di depan kelas. Satu persatu murid mulai berjalan menuju gerbang sekolah. Hingga tersisa beberapa siswa yang belum selesai melakukan tugas piketnya. Termasuk Arvin dan Marcella di dalamnya. "Gue duluan ya, Vin," kata Sandy pada Arvin. "Okay." Sandy pun berlalu menuju lahan parkiran di mana sepedanya terparkir manis. Begitu juga dengan Clarisa, Herman dan teman-teman lainnya yang ikut piket. Hingga tersisa mereka duduk di depan kelas dengan pandangan mata menembus hujan. "Ayolah hujan... reda sebentar saja. Kalau tidak reda, bagaimana caranya kami pulang?" gumam Marcella. Berharap ucapannya di dengar oleh sang hujan. Teringat sosok di sisinya, Marcella menoleh ke arah Arvin. Laki-laki itu tampak santai sambil memejamkan kedua matanya dengan kedua tangan terlipat. "Vin! Ayo doa juga!" perintah Marcella galak. "Mau doa apa?" jawab Arvin tanpa membuka kedua matanya. "Ya doa supaya hujannya berhenti dong!" omel Marcella yang kesal melihat Arvin. Perlahan Arvin membuka kedua matanya. "Bukannya lebih bagus kalau hujannya turun terus?" Tidak mengerti dengan ucapan Arvin. Kening Marcella bertautan. "Maksud kamu? Memangnya kamu nggak mau pulang?" "Aku suka hujannya turun terus," putus Arvin tanpa berminat menjawab pertanyaan Marcella. Alhasil pacarnya itu jengkel dengan sikap Arvin. "Kamu itu memang aneh." Marcella kembali memandang hujan yang masih belum menunjukkan belas kasihannya. "Aneh tapi kok kamu mau jadi pacar aku?" balas Arvin. "Nggak tau. Dipelet kali," jawab Marcella asal. "Dipelet pakai apa? Ke dukun aja aku nggak pernah," bantah Arvin namun Marcella hanya mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. Salahnya sendiri sejak tadi menjengkelkan. Untuk sejenak, mendadak suasana diantara mereka menjadi tenang. Hal ini membuat Marcella kebingungan. Mengapa pacarnya tidak mencoba membela diri lagi? Dimiringkannya kepalanya untuk melihat Arvin. Dan ketika dia menoleh, tiba-tiba ada sesuatu yang lembut dan singkat menyentuh bibirnya. Tubuh Marcella mematung, sedangkan matanya mengerjap beberapa kali. Ia terlalu terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. "Ini baru yang namanya kena pelet. Tapi dipeletnya pakai bibir," ucap Arvin dengan cengiran lebar di bibirnya. Dan dalam hati Marcella berjanji tidak akan pernah melupakan kenangan itu. "Agghhh... kenapa jadi teringat lagi??" keluh Marcella. "Semua ini gara-gara dia. Aagghhh..." Sambil berteriak, Marcella menutup wajahnya dengan kedua tangannya sendiri. "Ada yang sakit, Mbak?" tanya Lia saat melihat atasannya bersikap aneh seharian ini. Namun baru saat inilah dia berani menanyakannya. "Eh... nggak kok. Memangnya kenapa?" Dengan cepat Marcella tersadar akan sikapnya yang pasti terlihat konyol. Bodoh! rutuknya dalam hati. Semua ini gara-gara Arvin. Dan dia membutuhkan jawaban atas ciuman tersebut. Tapi Marcella tidak mungkin mendatangi Arvin untuk menanyakannya. Hatinya tidak berani melakukannya! "Nggak apa-apa, Mbak. Aku pikir mbak lagi sakit. Soalnya teriak-teriak gitu," jawab Lia. Ditempatnya Marcella meringis. Salahnya sendiri memilih duduk di salah satu meja pengunjung. Lengkap sudah kebodohan yang telah dibuatnya hari ini. "Oo... nggak usah peduliin aku. Aku baik-baik aja kok. Cuma lagi pusing mikirin resep baru," jawab Marcella dengan tawa dipaksakannya. "Oke deh, Mbak. Kalau ada apa-apa langsung panggil saya aja." "Thank you, Lia. Tapi aku baik-baik aja." Setelah berhasil meyakinkan Lia, gadis itu pun berlalu dari hadapan Marcella. Dalam hati Marcella menarik napas lega. Semua ini tidak bisa dibiarkan. Mencium bibirnya tanpa izin sama saja seperti mencuri! Dan sepertinya Marcella harus meminta pemerintah membuat undang-undang akan pencurian ciuman. Lekas-lekas dirapikannya semua barang miliknya dan masuk ke dalam ruangannya untuk menyimpan laptop, note dan bolpoin miliknya. Tidak sampai lima menit, Marcella berjalan menghampiri Lia. Membuat gadis berkulit sawo matang itu mengerutkan dahinya. "Aku keluar dulu. Kalau ada yang cari aku tolong bilang aku akan kembali satu jam lagi. Termasuk Ramdan, kalau dia cari aku. Okay?" cerocos Marcella. "O-okay, Mbak." Yakin jika Lia akan melakukan pekerjaannya dengan baik. Marcella mengambil langkah lebar-lebar keluar restoran miliknya. Menghentikan sebuah taksi lalu menyebutkam alamat kafe Love and Bites berada. Hati Marcella mantap akan keputusannya kali ini. Salahnya sendirk melarikan diri setelah Arvin menciumnya. Seharusnya ia menampar pipi pria itu lalu menanyakan alasannya. Tapi, keterkejutan membuat otaknya kosong. Sehingga yang bisa dilakukannya hanya melarikan diri tanpa bertanya. Seperti ayam jantan yang kesiangan berkokok. Lima belas menit kemudia, taksi yang ditumpangi Marcella tiba di kafe milik Arvin. Dari luar Marcella dapat melihat kegiatan di dalam kafe. Termasuk Arvin di dalamnya. Dari luar, Marcella dapat melihat pria itu tampak asyik berbicara dengan seorang wanita yang sedang memunggunginya. Namun, Marcella tidak memedulikan tamu yang wajahnya saja tidak ia ketahui. Yang terpenting adalah mencari jawaban atas pikirannya sendiri. Masih ada cintakah di dalam diri Arvin sampai dia mencium Marcella? Atau hanya karena nafsu sesaat? Dan Marcella membutuhkan jawabannya sekarang! Jika tidak dia bisa tenggelam akan kebingungannya sendiri karena tak kunjung mendapatkan jawaban. Marcella membasahi bibirnya dan keringat mulai mengalir di sisi keningnya. Masih ada waktu untuk melarikan diri sebelum ia melangkah masuk. Tapi... tidak, tidak. Dia sudah sejauh ini jadi Marcella tidak akan membatalkan niatnya. Menegakkan tubuhnya, Marcella membuka pintu kaca. Beberapa pasang mata ada yang meliriknya. Namun, Marcella berusaha tidak peduli. Dengan hati-hati Marcella berjalan menghampiri meja di mana Arvin berada. "Arvin..." panggil Marcella pelan. Matanya langsung tertuju pada wajah pria yang terus memenuhi pikirannya. Kedua alis Arvin bertautan. "Marcella?" Sepertinya dia cukup terkejut dengan kehadiran Marcella saat ini. "Apa aku mengganggumu?" tanya Marcella ketika dirinya merasa bodoh akan kedatangannya ke sini. Sekarang Marcella menyesal telah datang ke sini. "Ti-tidak. Hanya saja... kamu mengejutkanku," jawab Arvin. Membalas ucapan Arvin, yang dapat Marcella lakukan hanyalah memasang senyum kaku. Namun beberapa detik berlalu, Arvin tak kunjung bangkit dari duduknya. "Marcella..." Yang selanjutnya terjadi sebuah suara merdu membuat Marcella menolehkan kepalanya kepada sosok di hadapan Arvin. Di mana saat itu Marcella berharap waktu dapat diputar kembali. Karena saat ini Marcella merasa jika takdir sepertinya tidak sedang berpihak kepadanya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD