Tak ada yang bersuara diantara keduanya, terlalu terlarut dalam keterkejutan yang ekstrim ini. Dionte masih memandang bocah lelaki di gendongan Krystal dengan bibir terkatup rapat dan tatapan tajam yang dalam. Meski belum terbangun dari keterkejutannya, pria itu menatap anak di depannya dengan seksama untuk meneliti bahwa wajah, mata bahkan bibir anak itu seperti salinan dari wajahnya sendiri.
Sedangkan Krystal masih dalam keterkejutan yang lebih ekstrim di mana ia ingin mengubur dirinya sendiri, terlalu tak menyangka Dionte akan datang dan melihat putranya sendiri. Siapa pun yang melihat dua orang ayah dan anak itu berhadapan, pasti akan berkata bahwa Dio pantulan masa kecilnya Dionte. Kedua kaki Krystal sudah gemetar, bahkan nyaris ambruk dengan jantung yang terus bergemuruh keras.
“Krystal,” desis Dionte dengan suara berat dan dalam. Akhirnya terbangun dari keterkejutannya, Dionte menatap Krystal dengan tatapan memicing tajam.
Krystal yang mendapat tatapan itu pun tak bisa lagi mundur, ia terpojok dan berada dalam kebuntuan, akan tetapi ia masih harus menyembunyikan identitas Dio yang sebenarnya.
“Dia adikku!” katanya terus berbohong. Dengan wajah penuh senyuman kaku, Krystal menatap Dio dan bertanya, “Dio, aku Kakakmu kan?”
Bocah lelaki itu hanya mengerjapkan matanya tak mengerti apa pun. Menatap Dionte di depannya dengan polos, kemudian menatap Krystal yang tersenyum padanya. Ia tidak mengerti siapa orang di depan mereka, ia tak mengerti apa arti kata ‘Kakak’ karena yang ia tahu bahwa ‘Kakak’ sama dengan ‘Mommy’, dan Dio pun mengangguk dengan polosnya.
“Hm! Kakak!” katanya, kemudian tersenyum dengan senang sambil menciumi pipi Krystal.
Wajah Dionte masih dingin, matanya memicing tak memercayainya. Melihat bocah di depannya memperlakukan Krystal dengan begitu dekat memang mencurigakan.
“Kenapa dia sangat mirip denganku?” tanya Dionte, masih menatap Krystal dengan tajam.
Krystal berdeham pelan, berusaha menyembunyikan kakinya yang gemetar dan nyaris ambruk, ia juga terus mengepalkan tangan yang menggendong Dio sampai telapak tangannya berkeringat. Beban berat di pundaknya berkali lipat lebih berat, karena ia harus terus berusaha menutupinya.
“Mana aku tahu, mungkin ibuku mengagumimu saat dia mengandung enam tahun lalu,” jawabnya.
Dionte masih menatap Dio dengan seksama, meski Krystal mengatakan anak itu berusia lima tahun, tapi anak itu terlihat seperti masih berusia empat tahun. Dalam benaknya Dionte menerka-nerka, mengapa wajah anak itu mirip dengan wajahnya. Hanya ada dua kemungkinan yang bisa ia pikirkan; pertama, anak itu ada hubungan dengan ayahnya. Kedua, anak itu adalah anaknya dengan Krystal.
Selama ini, dari semua mantan kekasihnya tak ada yang mengandung karena ia tak pernah serius mengencani mereka. Begitu pun hubungan singkatnya dengan Krystal. Lima tahun yang lalu mereka hanya menjalin hubungan selama satu minggu, dan melakukan hubungan itu sekali. Merasa konyol, Dionte berusaha menepis bahwa itu bukan anak Krystal, karena bagaimana mungkin hanya sekali berhubungan bisa menghasilkan seorang anak, terlebih mereka menggunakan pengaman.
Krystal yang melihat Dionte diam saja dengan pandangan menerawang pun, mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri. Ia berjalan perlahan masih menggendong Dio, sambil memperhatikan pria itu dengan waspada. Pada saat Dionte masih tak menyadarinya, Krystal berlari meninggalkannya bersama Dio.
“Mommy, kenapa lari?” tanya Dio dengan polosnya.
“Orang itu jahat, dia bisa menculik kita,” balas Krystal.
“Menculik itu apa?”
Krystal meringis pelan, terus berusaha lari tanpa menoleh lagi. “Ya pokoknya menculik,” balasnya lagi dengan asal.
Tiba-tiba tangan Krystal kembali ditahan dari belakang hingga ia berhenti dan nyaris terjungkal di trotoar. Tubuhnya terhuyung ke belakang dan hendak terjatuh, tapi tangan besar dan hangat menahan kedua pinggulnya dari belakang untuk menyelamatkannya agar tidak terjatuh.
Dengan jantung yang berpacu jauh lebih cepat, Krystal segera menoleh untuk menemukan Dionte lah yang kembali berdiri di belakangnya. Pria itu masih menatapnya dengan wajah dingin dan tatapan memicing.
“Katakan padaku, apa benar anak ini adikmu?” tanyanya, masih dengan nada yang dingin dan penuh selidik.
Krystal cemberut, memberikan wajah juteknya untuk menutupi segala ketakutan dalam dirinya. “Aku pikir kau masih belum tuli untuk mendengar jawabanku tadi.”
Dionte menaruh satu tangannya di wajah dan mengusapnya dengan kasar sambil mendengkus, kemudian kembali menatap Krystal. “Jika ini adikmu dan sangat mirip denganku, apa ada kemungkinan anak ini hasil hubungan ibumu dan ayahku?”
Krystal masih memandang Dionte dengan cemberut. Ia bahkan tak tahu ingin mengumpati pria itu atau menertawakannya dengan keras. Bagaimana mungkin ibunya ada hubungan dengan ayah Dionte, karena ibunya selama ini selalu tinggal di desa mereka sedangkan ayah Dionte ada di Italia.
“Jangan bercanda! Aku sudah bilang, ibuku mengagumimu saat mengandungnya,” balas Krystal, untuk membuyarkan pemikiran Dionte.
“Benar. Paul juga selama enam tahun ini belum meninggalkan Italia, dia juga tidak bisa punya anak,” gumam Dionte.
Krystal menatap Dionte dengan penuh perhitungan, karena ia sedang memikirkan cara untuk kembali melarikan diri. Jika terus berlama-lama, kemungkinan besar Dionte akan terus mencurigainya. Namun ketika ia mengingat bahwa pria itu seorang playboy, mungkin saja akan segera melupakannya setelah kembali ke Italia.
“Maaf, permisi, aku harus segera pulang,” kata Krystal dengan sopan dan kembali melangkah.
Dengan cepat Dionte kembali menahan tangannya, tatapannya semakin tajam. “Mau ke mana kau?”
Krystal menghela napas pelan, menurunkan tangan Dionte dari tangannya. “Dionte, aku hanya seorang penyiar radio yang biasa-biasa saja, aku juga pelayan restoran. Orang sepertiku tidak pantas berbicara dengan pria yang kaya dan terkenal sepertimu.”
Dionte masih belum melepaskan tangannya dari lengan Krystal, menatap wanita itu dengan tajam. “Katakan padaku, apa usianya lima tahun?”
“Aku sudah katakan, apa kau tidak paham juga?” ujar Krystal dengan kesal.
Dionte mengangguk kecil, seakan menerimanya membuat Krystal menghela napas dengan lega. Akan tetapi itu tidak berlangsung lama, sebelum Dionte kembali bertanya yang membuat jantungnya seakan ingin lepas.
“Kenapa dia memiliki wajah Italia?”
Krystal tertawa kerasa, meski hatinya ingin menangis keras. Ia tak mengerti mengapa Dionte sangat keras kepala dan gigih, tak cukup sekali menerima alasan yang diberikannya.
“Mommy, Dio ingin ke Italia!” kata Dio dengan wajah ceria dan polos.
Krystal tersedak ditengah tawanya, dan ia nyaris meraung dalam tangis ketika Dio kembali memanggilnya ‘Mommy’ di hadapan Dionte. Saat mengangkat wajah, ia melihat wajah Dionte telah kembali berubah. Tak ada emosi, tak ada kecurigaan dan hanya wajah datar dengan tatapan tenang. Wajah yang seperti ini justru jauh lebih berbahaya, membuat Krystal takut.
“Apa dia anakku?”
“Dia adikku!” pekik Krystal dengan keras. Tak terasa setetes air mata mengalir di pipinya. Dengan kasar Krystal mengusapnya, sambil memandang Dionte dengan mata memerah. Emosi seperti terbakar dalam dirinya, bersama dengan remasan kuat di hatinya.
Kehidupannya selama lima tahun, mulai dari mengandung Dio, menerima caci maki dan hidup berdua di London setelah melahirkan, semuanya melintas di kepala Krystal dan menegaskan bahwa pria ini tidak berhak mendapatkan putranya!
Wajah Krystal memerah, dengan mata yang juga memerah dan air mata mengalir menuruni pipinya. Ia tersedak oleh air matanya sendiri, dan tenggorokkannya terasa begitu perih. Yang diingakannya hanya segera pergi, menjauh dari pria itu dan menyembunyikan putranya.
“Krystal,” bisik Dionte dengan sebelah tangan terulur, hendak mengusap pipi Krystal. “Apa dia putraku?” tanyanya lagi, untuk memastikan.
Sebelum tangannya mencapai pipi Krystal, ada sebuah tangan lainnya yang menahan tangan Dionte dan menurunkannya. Dionte dan Krystal sama-sama menoleh hanya untuk menemukan seorang pria tinggi dan juga tampan sedang berdiri di samping Krystal, memeluk bahunya dengan lembut.
Dionte memandang pria itu dengan pandangan datar yang berubah menajam, menggertakkan giginya dalam diam. Melihat perlakuan pria itu yang memeluk bahu Krystal membuat sesuatu dalam dirinya tak suka, ingin menjauhkan tangan itu dari Krystal.
“Krys, aku melewati studio dan kau sudah pulang,” kata pria itu yang merupakan Ren.
Krystal menghapus air matanya, tak mengatakan apa pun karena sesuatu seperti menyumbat tenggorokkannya. Ia berusaha menahan tangisannya, dan jika membuka mulut maka hanya akan ada tangisan.
“Krys,” panggil Dionte lagi dengan tatapan yang berubah lebih lembut.
Krystal menatap Dionte di depannya dengan mata memerah. Tatapan mereka bertaut, dan ada sebuah gejolak pada diri Krystal. Sesuatu yang menyakitkan yang selama ini bersemayan telah bangkit dan menggerogotinya dengan ganas. Selama ini ia berusaha hidup tanpa rasa sakit, dan ternyata itu semua muncul ketika Dionte kembali muncul.
“Kita pulang,” bisik Ren pada Krystal.
Ren membawa tubuh Krystal berjalan ke mobilnya yang diparkir di pinggir jalan, sedangkan Dionte masih diam memandang tiga orang itu yang meninggalkannya. Kakinya tak bergerak, seperti terpaku di tanah dan tak membiarkannya mengejar Krystal.
Sebelum Krystal masuk ke mobil di bagian penumpang, anak lelaki itu menoleh dan melambaikan tangannya pada Dionte dengan senyum polos dan ceria.
Bahkan senyumannya mengingatkannya pada masa kecilnya. Anak itu seperti duplikat dirinya, begitu mirip dengannya di waktu kecil. Tanpa mengatakan apa pun Dionte hanya memandang mereka, sampai Krystal masuk ke mobil dan mobil berlalu meninggalkannya. Ia masih berdiri di sana, merasakan sesuatu seperti menghantam dadanya dengan kekuatan maksimal.
“s**t! s**t!” umpatnya sambil meninju udara di depannya dengan perasaan rumit.
*******