Chapter 10

1597 Words
Ketika sore hari tiba, Krystal sudah selesai dari pekerjaannya. Sore ini, Ren tidak lagi lewat di depan studio. Krystal dan Dio pulang bersama, bergandengan tangan di sepanjang trotoar menuju halte bis untuk kembali ke rumah. Dio terus berceloteh dengan gaya anak-anaknya yang khas, tanpa tahu beban berat yang ditanggung sang ibu. “Mommy, Uncle Jo bilang aku seperti orang Italia. Memangnya Italia itu apa?” Krystal menoleh pada Dio, mengayun-ayunkan tangan mereka yang terjalin. “Italia itu sebuah negeri.” “Apa itu jauh?” suara Dio penuh rasa penasaran khas anak-anak yang menggemaskan. Krystal memasang wajah berpikir untuk menggoda Dio. “Jauh tidak ya? Sepertinya jauh, tapi juga tidak jauh.” “Dio ingin ke sana!” teriak Dio dengan gembira. “Kalau begitu, Dio harus cepat besar dan bawa Mommy ke sana.” “Oke!” Mereka pun meneruskan langkah, bertemu dengan beberapa pejalan kaki yang nampak tertarik dengan interaksi Dio dan Krystal. Tiba-tiba sebuah mobil melaju di samping mereka dengan kecepatan amat rendah, seperti mengikuti mereka. Krystal berbalik dan menemukan mobil Ferrari merah melaju di samping mereka dengan atap terbuka. Sosok yang berada di balik kemudi menoleh pada mereka, dengan kacamata yang terpasang hingga menutupi tatapan tajamnya yang seksi. Merasa mengenal wajah itu, Krystal segera berhenti dengan jantung yang hampir melompat dari rongga dadanya. Ia tidak pernah berharap Dio akan bertemu dengan Dionte. Ia belum siap jika pria itu harus bertemu dengan putranya. Hatinya panik, tapi Krystal berusaha untuk tetap tenang. Ia berdiri menyembunyikan Dio di balik tubuhnya, dan bocah itu mengintip dengan penasaran melalui pinggulnya. Kenapa dia harus ada di sini lagi? Benar-benar hari ini adalah hari paling sial dalam hidupku! Teriak Krystal dalam hati. Dionte masih duduk di balik kemudi, membuka kacamata hitam yang menyembunyikan tatapan tajamnya. Wajahnya datar dan tenang. Untuk beberapa saat mereka masih bertatapan, sampai Krystal mengambil langkah cepat untuk kabur sambil menggendong Dio. Mobil di sampingnya kembali berjalan dan tidak berhenti, membuat Krystal merasa kesal. Sampai ia tiba di halte, ada sekitar lima orang yang sedang menunggu bis selanjutnya berhenti. Tiba-tiba mobil Ferrari merah itu berhenti di halte membuat semua orang menoleh dan mengerutkan dahi heran. Krystal masih menggendong Dio di depan, menyembunyikan wajah bocah itu agar tidak dilihat oleh Dionte. Bahkan jika orang-orang melihat wajah Dio dan Dionte saat ini juga, mereka akan mengatakan bahwa kemiripan dua orang itu bukan suatu kebetulan. “Maaf, tuan, kau tidak bisa berhenti di sana karena bis berikutnya akan segera berhenti,” kata seorang wanita paruh baya yang menunggu bis. Dionte tidak mengatakan apa pun, tetap menatap lurus ke depan dengan kacamata hitamnya yang sudah terpasang, hingga orang-orang tidak terlalu memerhatikan bagaimana wajah Dionte. “Mungkin dia tuli,” komentar Krystal. “Kalau dia tuli, seseorang bisa datang ke sana dan mengatakan agar dia tidak berhenti di sana.” Seseorang kembali bersuara. Seseorang mendekati mobil Dionte dan memintanya untuk segera maju karena bis akan datang, tapi pria itu benar-benar seperti tuli, mengacuhkan semua orang dengan arogansi yang begitu kental. Seakan jalanan miliknya. “Dia tidak mau pergi, cepat seseorang usir dia!” Kegaduhan pun mulai tersulut dan orang-orang kesal juga berbisik-bisik, tak bisa mengusir Dionte yang tetap di posisinya. Ketika pria itu menoleh ke arah Krystal, barulah pada saat itu beberapa wanita muda yang ada di sana menjerit seketika melihat sosoknya. Meski menggunakan kacamata hitam, tak bisa menutupi daya tarik dan pesonanya yang luar biasa. Dengan kaos hitam, rambut yang agak berantakan diterpa angin juga kacamata hitam, sosoknya sangat indah. “Dia Dionte Arentino! Pembalap F1 dari Italia,” pekik seorang wanita muda. “Benar! Benar dia Dionte Arentino. Wah! Tidak menyangka dia ada di sini,” sahut yang lainnya. “Tapi sedang apa dia di sini?” “Tidak peduli siapa dia, dia harus pergi dari sini!” kata seorang kakek-kakek yang berjalan mendekati mobil Dionte menggunakan tongkatnya. Krystal diam-diam menahan tawa, melihat pria tua itu membawa tongkatnya pada Dionte. Meski ia merasa cukup bosan dengan wanita-wanita yang menjerit melihat Dionte. Melihat keadaan yang sepertinya tidak setenang tadi, Krystal pun memilih untuk pergi dari halte dan berjalan ke halte yang berikutnya atau bersembunyi untuk menghindari pria itu. Saat ia berjalan ke belakang halte meninggalkan kegaduhan, saat itulah bis datang dan berhenti tepat di belakang mobil Dionte. Semua orang yang ada di dalam bis pun turun, dan semua yang ada di halte masuk termasuk Krystal. Ia mengambil duduk di belakang, menutupi wajah Dio dengan menggunakan syalnya agar tak ada yang melihatnya. Sampai semua orang masuk, bis masih belum maju karena jalannya masih dihadang oleh mobil Dionte. Kembali suara orang-orang yang saling berbisik pun terdengar. Para gadis dan wanita muda tadi turun dari bis, untuk mendekati mobil Dionte yang masih belum bergerak. Krystal melihat ke depan, merasa penasaran apa yang akan dilakukan oleh para gadis itu. Mereka nampak berbicara dengan Dionte, dengan wajah tergila-gila. Krystal mendengkus pelan, memandang pemandangan menggelikan itu. Dulu saat remaja, ia juga begitu tergila-gila pada Dionte yang tampan. Namun sekarang sudah berbeda, waktu dan keadaan telah merubahnya. Para gadis muda itu datang kembali ke bis, dengan wajah berseri-seri. Salah satu gadis masih berdiri di depan dan berbicara pada semua orang. “Kepada seseorang bernama Krystal Louis yang sedang menggendong anak kecil, diminta untuk datang pada Dionte Arentino. Mr. Arentino bilang, dia tidak akan maju sampai orang itu datang.” Seketika tatapan semua orang dari depan menoleh ke arahnya, dari sampinnya pun tetap menoleh padanya. Krystal mereka seperti terpojokkan dan tak bisa lolos lagi kali ini. Tatapan mereka seakan mengusirnya dari bis agar mereka bisa cepat pergi. “Kau tidak dengar apa yang dia katakan? cepat turun agar bis cepat pergi,” kata seorang pria dari arah depan. Bisikan-bisikan menyetujui pun terdengar, dan mereka semua meminta Krystal untuk segera turun agar mobil di depan tidak lagi menghalangi bis mereka. Dengan terpaksa, Krystal pun bangun dan turun dari bis. Ia ingin sekali berteriak sambil mengumpat pada Dionte yang mengacaukan harinya. “Sial sekali aku hari ini! benar-benar kesialan yang sangat luar biasa!” gerutunya dengan kesal. Setelah turun dari bis, Krystal berjalan menyusuri trotoar melewati mobil Dionte dan tak menoleh lagi. Ia masih berusaha menutupi wajah Dio agar tidak terlihat. Dalam hati bertanya-tanya apa yang diinginkan Dionte darinya, terus mengganggunya tanpa henti sejak mereka bertemu di arena sirkuit. “Dio, panggil Mommy dengan Kakak ya di depan orang asing,” bisik Krystal. “Oke, Mommy,” balas Dio yang wajahnya masih ditutupi syal. Krystal berjalan cepat membawa Dio menjauhi halte, dan saat itulah mobil Dionte maju mengejarnya dan bis di belakangnya bisa melaju meninggalkan halte. Krystal tak habis pikir, Dionte benar-benar pengangguran jika tidak bertanding. Masih sempat untuk mengejarnya saat ini. Mobil Ferrari merah itu berhenti di sampingnya, dengan pengemudinya yang turun dari mobil dan mengejarnya di trotoar. Krystal hampir kehilangan keseimbangan saat Dionte menarik tangannya dan menghentikannya. Kini, ia harus terpaksa berhadapan dengan mantan kekasih yang sangat ingin dihindarinya. “Halo, Ex. Menghindariku?” Krystal memutar bola matanya dengan bosan. Ia memandang Dionte yang saat ini sedang berdiri di depannya dengan penuh aura yang memesona. Meski pun tak ingin menatapnya, tapi Krystal tetap menatap tampilan Dionte dari atas sampai bawah. Pria itu melepaskan kacamatanya hingga tatapan mereka bertaut. “Apa kau benar-benar menganggur saat ini?” tanya Krystal dengan nada jutek, wajahnya cemberut kesal. Dionte menyeringai dengan misterius. “Cukup menganggur, sampai aku punya banyak waktu luang untuk mengganggumu.” Krystal berdecak pelan, menatap Dionte dengan jutek. “Aku juga belum makan, sepertinya ditemani wanita secantik dirimu tidak masalah,” ujar Dionte lagi. Berhenti merayuku! Kau tidak tahu kakiku gemetar menyembunyikan anakmu! Umpat Krystal dalam hati. Wajahnya masih cemberut, tapi tangannya agak gemetar menggendong Dio. Bagaimana pun putranya saat ini sedang berhadapan dengan ayahnya, satu-satunya hal yang dia inginkan pergi secepatnya, tapi Dionte justru terlihat tak ingin pergi. Perhatian Dionte teralihkan pada anak kecil yang digendong oleh Krystal, bahkan dengan kepala ditutup syal. “Siapa ini?” “Adikku,” balasnya. Krystal hampir menggigit lidahnya ketika ia hendak menjawab ‘anakku’, dan jika itu terjadi maka Dionte akan segera tahu bahwa anak ini adalah anaknya. “Adik?” tanya Dionte lagi, memperhatikan postur tubuh Dio dengan seksama. “Berapa usianya?” “Berapa pun usianya, itu bukan urusanmu,” balas Krystal dengan ketus. Dionte memicingkan matanya tak percaya pada Krystal, dan hal itu membuat Krystal semakin gemetar ketakutan. Hatinya seperti dilanda badai petir, dan ia ketar-ketir mencari cara untuk melarikan diri. “Apa dia benar-benar adikmu?” “Tentu saja!” jawab Krystal cepat. “Usianya lima tahun,” lanjutnya. Berbohong tentang usia Dio pun tidak akan ketahuan, karena anak itu lebih tinggi dari anak seusianya. “Benar-benar adikmu ternyata. Coba kulihat wajahnya, kau menyembunyikannya sepanjang jalan.” Dionte meraih syal di kepala Dio, hendak menariknya tapi ditahan Krystal. “Dionte, berhenti menggangguku. Hubungan kita berakhir lima tahun lalu, kita hanya saling mengenal selama satu minggu, oke.” Krystal menepis tangan Dionte yang memegang syalnya. Hatinya bergemuruh keras penuh ketakutan, dan keringat dingin pun mengalir di punggungnya dengan deras. Dionte menarik tangannya, dan ketika Krystal terlihat tak lagi tegang ia bergerak cepat untuk menyingkap syal yang menutupi kepala Dio hingga terjatuh ke tanah. Bocah lelaki itu berbalik ke depan, ke hadapan Dionte. Tatapan dari mata yang serupa itu bertemu, wajah yang hampir serupa itu juga bertemu. Dionte membeku di tempatnya, dengan mata penuh keterkejutan. Dio mengerjapkan matanya dengan polos, menatap paman di depannya. Sedangkan Krystal merasa rohnya keluar dari raganya dan berhamburan di jalanan bersama dengan darah yang tersedot seluruhnya dari tubuhnya. Tiga orang itu saling bertatapan dengan pandangan yang berbeda dalam keheninga. Tak ada yang bebicara, bahkan Dionte pun tak mengeluarkan sepatah kata pun. *******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD