Salah satu taman kota yang ada di London itu nampak cukup sibuk, seorang fotografer yang sibuk mengambil gambar modelnya. Sedangkan sang model yang merupakan Dionte, sedang bersandar di badan mobil Ferrari merah. Penampilannya sangat fashionable, dengan kaos berlengan panjang berwarna hitam, jins hitam dan sepatu warna senada. Tatapannya mengarah pada kamera, begitu tajam yang memberikan kesan misterius serta seksi.
Fotografer beberapa kali mengambil gambar, mengarahkan Dionte untuk mengubah posenya di hadapan kamera. Setelah selesai, seorang hair stylist perempuan menghampirinya untuk membenarkan rambutnya yang berantakan karena diterpa angin musim panas.
“Kau tahu radio London’s Today?” tanya Dionte pada hair stylist.
“Radio yang cukup terkenal di London karena segmen olahraganya? Tentu saja,” jawab sang hair stylist.
Dionte menyeringai kecil penuh arti. “Apa penyiarnya bernama Krystal Louis?”
“Ya, wanita itu cukup dikenal pendengar radio karena suaranya yang indah, bahkan tidak ada yang tahu seperti apa sosoknya. Dia cukup misterius. Kudengar tahun lalu bahkan banyak yang meminta agar radio itu menunjukkan sang penyiar, tapi mereka tetap menyembunyikannya. Lebih gilanya, sering ada yang menunggu di luar gedung studio setiap sore.”
Seringai Dionte semakin tertarik, dengan tatapan misterius. Ia semakin merasa tertarik ingin mengetahui sosok Krystal yang sesungguhnya. Perempuan itu, sejak pertama mereka bertemu masih seorang gadis remaja yang lugu dan malu-malu. Meski sudah lima tahun berlalu, ia masih mengingat wajah cantik dan lugu itu.
Dulu Krystal cukup kurus, tubuhnya datar dari atas sampai bawah. Wajahnya yang lugu dan malu-malu membuat siapa pun ingin melindunginya, tapi Krystal yang sekarang seperti dua orang yang berbeda. Krystal yang sekarang menjadi wanita yang cantik, tubuhnya terbentuk dengan indah dari atas sampai bawah, membuat siapa pun yang memandangnya pasti menginginkannya. Sikapnya yang acuh tak acuh, dan misterius membuat pria mengejarnya.
Tak jauh berbeda dengan Dionte, meski ia tak terhitung sudah berapa kali ganti kekasih selama lima tahun ini, namun yang masih sangat ia ingat adalah Krystal. Jika kekasihnya yang lain selalu menunjukkan diri mereka, siapa identitas mereka dan berusaha lebih serius dengannya. Berbeda dengan Krystal yang lima tahun lalu pun tetap misterius. Dionte tak pernah tahu dari mana gadis itu berasal, di mana dia tinggal dan di mana dia sekolah.
Hanya satu minggu. Hubungan mereka hanya berlangsung satu minggu, setelah GP Inggris Krystal menemaninya di London selama seminggu. Kala itu, dia baru debut di F1 dan belum memiliki nama. Tatapan Krystal tergila-gila padanya, gadis itu selalu menurut dengan apa pun yang dia minta, sampai di hari ke tujuh ...
Dionte menghela napas pelan, mengingat masa lalunya bersama Krystal yang singkat. Di hari ke tujuh, malam itu dia meminta Krystal tidur dengannya, dan gadis polos itu mengangguk malu-malu ketika ia melucuti semua pakaiannya.
“Sir? Sir?” sang hair stylist menyadarkan Dionte dari lamunan masa lalunya.
“Ya? Oh, sudah selesai?”
Dionte kembali ke tempat pemotretan, melanjutkan mengambil beberapa gambar untuk majalah British Vogue. Karena pesona dan gayanya yang fashionable juga gaya hidupnya yang menarik, membuat majalah British Vogue mengontraknya kali ini untuk pemotretan dan wawancara. Setelah pemotretan, mereka akan melanjutkannya ke sesi wawancara.
Setelah selesai pemotretan, sebelum masuk ke wawancara mereka kembali beristirahat. Pria yang telah menjadi manager Dionte sejak ia masih di F2 pun mendekatinya, memberinya sebotol air mineral.
“Apa lagi jadwalku selama di sini?” tanya Dionte seraya meneguk air mineralnya.
“Sudah tidak ada lagi. Kau bebas sampai hari kamis, dan jumat kita kembali ke Itali.”
Dionte mengangguk kecil, menyeringai dengan pandangan misterius. Bebas sampai hari jumat sebelum kembali ke Italia untuk persiapan menghadapi Grand Prix Australia. Sepertinya, menggoda lagi Krystal yang sudah banyak berubah akan jauh lebih menarik daripada lima tahun yang lalu.
*****
Setelah menjemput Dio dari sekolahnya, Krystal langsung pergi ke studio untuk mempersiapkan acaranya yang akan memutar wawancara ekslusif bersama dengan Dionte Arentino kemarin. Di perjalanan sebelum ke studio, Krystal membelikan burger untuk Dio makan siang, karena ia tak sempat membawa anaknya makan makanan sehat.
Sambil menggendong Dio, Krystal memasuki studio dan disambut oleh banyak buket bunga di tangan dua orang rekannya yang tersenyum dengan konyol di pintu masuk. Dengan dahi mengerut ia memandang dua temannya yang memeluk banyak buket.
“Ada seseorang yang melamarku?” tanya Krystal dengan wajah bosan, seakan itu hal biasa.
Dio menekan bibirnya ke telinga Krystal seraya berbisik, “Mommy, melamar itu apa?”
“Memberimu makanan,” balas Krystal asal.
“Wah! Uncle Ben setiap hari melamar Dio!” pekik bocah itu.
Dua temannya yang masih memeluk buket bunga pun terbatuk serempak dengan jawaban Krystal pada putranya yang asal-asalan. Mereka hanya menggelengkan kepala dengan gaya mengasuh ibu muda itu, yang terkesan acuh tak acuh.
“Ini semua dari penggemarmu, mereka datang dari pagi hanya untuk mengirimkan ini,” ujar salah satu temannya.
“Mereka juga ingin melihat wajahmu, tapi bos berhasil mengusir mereka semua,” sambung teman satunya.
“Aduh, bos memang pengertian,” kata Krystal dengan nada lembut yang dibuat-buat, kemudian wajahnya menampilkan ekspresi bosan. Karena hal itu sering ia alami, mendapat banyak bunga dari para pendengar acara radionya.
“Kau mau menyimpan semua bunga ini?”
Krystal menoleh pada Dio yang masih memakan burger-nya, dengan santai ia ikut menggigit burger itu dan mengunyahnya, membuat dua temannya memutar mata dengan bosan. “Yang aku butuhkan itu uang, bukan bunga. Jadi, buang saja,” jawabnya sambil melambaikan sebelah tangan.
Dua orang itu kembali memutar bola mata serempak, mereka berbalik dan hendak membuangnya ke luar tapi Krystal segera menghentikannya ketika sebuah gagasan melintas di benaknya.
“Tunggu, tunggu!” pekik Krystal, membuat dua orang lainnya berhenti. Ia menurunkan Dio ke lantai, mendekati dua temannya dan mengambil semua buket bunga.
“Pada akhirnya kau ingin menyimpannya.”
“Siapa bilang untukku. Tentu saja untuk kujual lagi, lumayan juga,” jawab Krystal.
Dua temannya kembali terbatuk mendengar perkataan Krystal. Tenggorokkan mereka terasa gatal ingin memaki-maki rekan mereka yang sangat mata duitan itu. Tetapi Krystal tetap acuh tak acuh pada ekspresi mereka yang ingin mencekiknya.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Krystal membawa Dio ke ruang kerjanya. Mendudukkan bocah lelaki itu di kursi putar, kemudian meninggalkannya untuk menemui bosnya sambil membawa bunga di pelukannya.
Beberapa karyawan lainnya menyapa Krystal dan memandangnya dengan heran. Bagi Krystal pekerjaan di perusahaan radio ini cukup nyaman, dengan para pekerja yang ramah padanya. Bahkan beberapa karyawan pria pun sudah sangat mengerti sifat Krystal, mereka tak pernah menaruh hati untuknya.
Tiba di depan ruang kerja pimpinan tertinggi radio itu yang juga merupakan pemiliknya, Krystal segera mengetuk pintu sampai mendengar seorang pria menyahut dan menyuruhnya untuk masuk. Ia pun masuk, dan seorang pria yang masih terlihat muda berusia 30 tahunan sedang berkutat dengan laptop di depannya. Pria itu mengenakan kemeja biru muda, dengan dasi berwarna hitam. Rambutnya cokelat agak pirang, dan wajahnya lumayan tampan.
“Selamat siang, Bos,” sapa Krystal dengan senyum cerah.
Pria itu mendongak, menatap Krystal dengan dahi mengerut dalam, tapi ada senyum di bibirnya. “Krys, ada apa?” tanyanya, dengan aksen britis yang kental seperti Ren. “Itu bunga ...”
“Ini bunga dari penggemarku,” jawabnya dengan cepat. Krystal pun mengambil duduk di depan meja sang bos, meski tidak dipersilakan untuk duduk.
“Ah ya, aku sudah menerima hasil wawancara ekslusifmu dengan Dionte Arentino. Kerja bagus, Krys.”
“Terima kasih, bos.”
Pria itu menghentikan pekerjaannya, ia menumpukkan kedua sikunya di meja sambil memandang Krystal dengan senyum hangat. “Gajimu bulan ini sudah ditransfer bersama dengan bonusnya.”
Wajah Krystal berbinar seketika penuh dengan suka cita. Dua kali mendapat gaji di hari yang sama seperti disiram dengan konfeti berwarna-warni penuh selebrasi. Benaknya sudah membayangkan akan membayar biaya sewa rumah, biaya sekolah dan sewa playground Dio.
“Krys, kau melupakan satu hal,” kata sang bos lagi.
“Apa itu, Bos?”
“Kau tidak mewawancarai Ben Brinson.”
Sukacita di wajah Krystal retak dalam sekejap dan digantikan dengan wajah ngeri. Ia melupakannya dan itu sangat fatal! Krystal merutuk dalam hati, semua itu karena Dionte yang telah menghancurkan harinya untuk pergi mewawancarai Ben Brinson yang sudah setuju.
“Pendengar radio kita sudah sangat menantikanmu mewawancarai Ben Brinson secara eksklusif. Bagaimana pun dia pembalap dari Inggris, dan ini musim pertamanya di F1 tapi dia sudah mencuri pertahian seluruh dunia karena mampu menjadi saingan Dionte Arentino. Dia berhasil meraih podium satu sebanyak dua kali dalam sepuluh pertandingan di musim debutnya.”
Krystal menghela napas pelan, wajahnya berubah menjadi muram dan lelah. Ia benar-benar sangat kelelahan, bekerja tanpa henti demi mencari uang. “Itu berarti aku harus tetap mewawancarai Ben Brinson?”
Sang bos mengangguk kecil. “Benar sekali. Aku sudah mencoba menghubungi tim Ben Brinson, dan mereka menyetujui untuk wawancara ini karena persetujuan dari Ben Brinson langsung. Dalam minggu ini, kau bisa langsung datang ke gedung Rafaella Racing Point Team.”
Bitch please! Benar-benar melelahkan, ratap Krystal dengan penuh penderitaan.
“Jika kau setuju, aku akan memberikan lagi bonus untuk bulan depan. Jika kita tidak mendapat wawancara itu, rating radio kita akan menurun dan itu pasti sangat sulit naik kembali. Saat ini, media sosial dan televisi lebih banyak digunakan daripada radio, jadi kita harus melakukan yang terbaik.”
Krystal mengangguk dengan pelan, meski wajahnya begitu lelah ia masih ingat di luar ada putranya yang membutuhkannya untuk tetap bekerja agar bisa tumbuh besar. Pria di depannya meraih tangan Krystal yang ada di atas meja, menggenggamnya dengan erat seraya memberikan senyum hangat dan menenangkan.
“Kau bisa pakai mobilku kapan pun kau mau. Kau bisa mengembalikannya kapan saja, aku tidak masalah. Mungkin kau akan lelah terus bolak-balik naik bis,” kata sang bos.
Krystal menatap tangan pria yang tengah menggenggamnya, ia meringis lagi dan hendak menangis. Kenapa semua orang hari ini membuatnya kesal dengan terus menyentuhnya. Dimulai dari manager-nya di restoran, Dionte dan bahkan sekarang sang bos di studio yang bernama Jonath McLane pun menggenggam tangannya!
Sambil tersenyum penuh sopan santuh, Krystal menarik tangannya dan menurunkannya. Keadaan di ruangan itu menjadi hening, meski Jonath masih menatapnya dengan senyum kecil dan penuh pengertian.
Ketika Krystal hendak membuka mulut, Jonath sudah lebih dulu berbicara. “Krys, kenapa kau tidak menikah lagi? Dio masih sangat kecil, daripada terus bekerja banting tulang sambil mengurusnya kenapa kau tidak menikah saja? Setidaknya ada seseorang yang mengurusmu dan Dio.”
Krystal hanya diam, mencerna perkataan Jonath kali ini. Tiba-tiba ia teringat pada perkataan Ren Benjamin yang merupakan sahabatnya, semalam pun mengatakan hal sama agar ia menikah. Perbedaannya, Ren tahu siapa ayah Dio sedangkan Jonath tidak. Yang diketahui Jonath, Krystal sudah menikah dan suaminya mati.
Sambil tersenyum kaku Krystal menatap sang bos. “Aku belum terpikirkan hal itu, Bos.”
“Apa kau masih mencintai mendiang ayahnya Dio?”
Krystal tidak tahu apakah dia ingin menangis meraung-raung atau tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata. Mendengar Jonath mengatakan mendiang ayahnya Dio, membuatnya ingin tertawa di depan Dionte dengan keras.
Dengan wajah yang berubah muram dan sedih, bagai seorang istri yang ditinggal mati suaminya, Krystal mengangguk. Ia mengusap wajahnya dengan pelan. “Aku masih belum bisa melupakan ayahnya Dio. Saat ini dia sudah di surga, mungkin ditemani bidadari-bidadari cantik.”
Jonath menatap Krystal dengan pandangan rumit, pria itu bangun dan hendak mendekati Krystal tapi wanita itu lebih cepat lagi untuk bangun dan menghindar agar Jonath tidak bersimpati padanya lalu memeluknya. Rasa merinding segera menerjangnya, membayangkan Jonath memeluknya.
“Aku mengerti, kau butuh kesiapan sebelum kembali menikah. Setidaknya kau pikirkan masa depan Dio, tak bisa selamanya kau menjadi single mother seperti ini di usia yang sangat muda. Banyak pria di sekitarmu yang menyukaimu, Krys.”
Krystal kembali mengangguk, meski ia ingin segera pergi dari ruangan bosnya. Jangan kira Krystal tidak tahu kalau Jonath pun menaruh perhatian padanya. Meski pria itu selalu membuatnya bekerja lembur, tapi Jonath selalu memperhatikan Krystal dan selalu mengajaknya makan malam atau piknik. Well, bagi Krystal pun Jonath tidak buruk. Sebagai pemilik dari perusahaan radio ini dia cukup mapan, bahkan lebih mapan dari Ren yang merupakan karyawan di perusahaan properti.
“Bos, aku masih sangat mencintai mendiang suamiku. Apalagi jika aku melihat Dio, seperti melihat wajah suamiku.”
Jonath menghela napas, tak berani mendekati Krystal lagi. “Jika dipikir-pikir, wajah anakmu tidak asing. Mirip dengan seseorang, tapi aku lupa siapa orang itu.”
Krystal berdeham untuk menyembunyikan kegugupannya. Dia selalu gugup jika ada seseorang yang seperti tidak asing dengan wajah Dio.
“Oh! Dionte Arentino,” kata Jonath lagi. “Ya, putramu agaknya mirip dengan pembalap Italia itu. Tubuh anakmu juga lebih tinggi dari anak seumurannya, alisnya tebal seperti orang Italia.”
Krystal tertawa dengan hambar, seperti sesuatu menyumbat tenggorokkannya. “Haha! Asal Bos tahu saja, saat aku mengandung Dio memang aku penggemar Dionte Arentino, dan berharap wajah anakku mirip dengannya. Bukankah dia tampan?”
“Memang, sangat mirip jika kau membandingkannya. Pantas saja aku merasa wajah anakmu seperti seseorang. Dari sejuta ibu di dunia ini, kau beruntung anakmu bisa memiliki wajah mirip dengan orang terkenal,” kata Jonath lagi.
Tentu saja, Bos, karena Dionte Arentino yang menanam benihnya! Bahkan namanya saja aku ambil dari nama pendek Dionte.
“Bos! Aku memiliki sesuatu,” kata Krystal, untuk mengalihkan topik dari Dionte dan Dio.
“Oh, apa itu?”
Krystal memberikan buket bunga yang cukup banyak dan sebenarnya sangat mengganggu sejak tadi. buket-buket itu pun segera diterima oleh Jonath, meski lelaki itu mengerutkan dahi tak mengerti.
“Bos, bunga-bunga ini masih sangat segar. Kau bisa menjadikannya hadiah untuk kekasihmu, ibumu, adikmu atau tetanggamu. Aku bisa memberikanmu potongan harga sampai 70%, bagaimana?”
Jonath menatap Krystal dalam diam, kemudian tertawa pelan seraya menaruh semua buket bunga di mejanya hingga penuh. “Aku akan transfer pembayarannya nanti sore,” katanya.
Krystal hampir saja bersorak girang mendengarnya, tapi ia pura-pura bersikap tenang dan tersenyum sopan. “Terima kasih banyak, Bos. Kalau begitu aku bekerja dulu!”
Ia buru-buru keluar dan terpekik pelan mengatakan ‘yes’. Tidak ada salahnya ia mendapat bunga dari para penggemarnya, dan tidak ada salahnya juga ia memanfaatkan bosnya yang menaruh perhatian padanya dengan menjual semua bunga itu. Selama itu bisa menghasilkan uang, tidak masalah bagi Krystal.
Krystal kembali ke ruang kerjanya, dan Dio sedang tertidur di kursinya dengan kepala yang hampir jatuh. Ada noda saus tomat di bibir dan dagunya, bahkan sisa-sisa burger berantakan di meja kerjanya. Melihat itu hati Krystal terasa dicubit. Kehidupan putranya jauh dari kata mewah, bahkan untuk makan saja sering terlambat karena Krystal yang sibuk mencari uang.
Dengan wajah muram dan sedih, Krystal meraih tubuh Dio untuk menggendongnya dan membawanya ke sofa single yang ada di ruangannya. Seharusnya ia menitipkan anaknya ke nenek Sam atau ke playground, hanya saja ia merasa tak enak jika merepotkan neneknya Ren. Ia juga merasa tak enak hati karena masih menunggak membayar biaya sewa playground. Pilihannya hanya membawa Dio ke tempat kerjanya.
“Krys, siap-siap untuk acaramu.” Salah satu rekannya membuka pintu ruangannya sambil memberikan berkas daftar berita.
“Oke! Tunggu sebentar, aku harus membereskan putraku dulu.”
Temannya kembali keluar dan pintu tertutup. Dari dalam Krystal bisa mendengar rekan-rekannya berbicara tentang dirinya dengan suara rendah, tapi dia masih bisa mendengarnya.
“Dia membawa anaknya lagi?”
“Ya, sepertinya tidak dititip ke playground.”
“Sepertinya dia belum membayar biaya playground, kudengar minggu lalu saja dia dikejar debt collector karena utangnya.”
Krystal menghela napas pelan, memandang pintu ruangannya yang tidak kedap suara, lalu suara-suara obrolan itu semakin menjauh dan tak terdengar lagi.
“Jika aku lulus sekolah dan memiliki pekerjaan bagus, aku juga tidak akan banyak utang,” katanya pada udara kosong. “Kalian tidak merasakan hal sepertiku. Memiliki putra di usia muda, bahkan tidak lulus sekolah dan mantan kekasihmu tidak tahu bahwa kau melahirkan putranya.”
*****