Chapter 8

1152 Words
Krystal berdiri dengan kepala menunduk, dengan sang manager restoran yang berbicara dengan sopan. Sedangkan di depan mereka ada Dionte yang duduk dengan tubuh menyandar dan kedua tangan terlipat di d**a, wajahnya terlihat angkuh namun memesona. Krystal tak menyangka Dionte begitu jahat padanya, benar-benar menemui manager-nya. Selama manager itu berbicara omong kosong, Dionte memandang Krystal dengan pandangan sulit diartikan. Tatapannya turun dari wajah yang ditundukkan itu ke tubuhnya yang terlihat benar-benar lebih berisi di beberapa bagian namun masih tetap ramping. Hal itu membuat Krystal merasa tidak nyaman. “Saya akan mendisiplinkan karyawan saya. Bagaimana pun ini semua kesalahan kami pada Mr. Arentino. Sebagai permintaan maaf, kami tidak akan memasukkan ini pada bagian pembayaran,” kata sang manager restoran dengan nada penuh negosiasi. Dionte menatap pria di depannya dengan sebelah alis terangkat. “Baik. Aku tidak akan berbicara omong kosong tentang restoran ini.” “Terima kasih atas kerjasamanya, Mr. Arentino.” Krystal yang mendengar kesepakatan mereka pun hanya bisa meringis pelan. Jika Dionte tidak membayar untuk semua hidangan sarapannya bersama timnya, siapa lagi yang akan membayarnya? Dan pikiran Krystal terbang ke arah gajinya yang kemungkinan tidak akan dibayar dalam beberapa bulan untuk menutupi kerugian ini. Sial sekali aku ini. Niat ingin membalas pria itu malah berujung petaka pada diri sendiri, ratapnya. “Mungkin aku akan memberikan pendidikkan singkat pada karyawanmu ini, bisakah pak Manager meninggalkan kami?” tanya Dionte. Manager restoran mengangguk dengan sopan, bangun dan berjalan hendak meninggalkan mereka. Sebelum benar-benar keluar, pria itu mendekati Krystal dan berbisik padanya, “Setelah ini datang ke ruanganku.” Krystal mengangguk tanpa daya. Setelah sang manager pergi dan mereka hanya berdua di ruangan VIP itu dengan meja yang sudah dibersihkan dari sisa sarapan orang-orang itu. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Dionte dengan pandangan acuh tak acuh. “Kau tak ingin berlutut dan meminta maaf dengan sungguh-sungguh? Aku bisa saja membayar semua ini, dan gajimu akan aman. Aku tahu gajimu dipertaruhkan.” Dionte memandang Krystal dengan kearoganan yang justru membuatnya terlihat seksi dan menawan. Krystal memandang pria itu dengan wajah datar, kemudian tertawa hambar. “Haha! Dalam mimpimu,” balasnya dengan ketus. Dionte bangun dan mendekati Krystal, berdiri di belakang tubuhnya untuk menghirup wangi stroberi dari rambut Krystal. Bahkan tercium kolonye anak-anak dari tubuhnya. “Atau aku bisa menyelamatkanmu dari manager-mu. Kudengar kau selalu mendapat uang lebih dari para tamu? Apa yang biasa kau lakukan pada mereka?” Kerutan di dahi Krystal terbentuk dengan dalam, mendengar ucapan Dionte yang membuatnya marah. “Siapa yang berbicara omong kosong itu padamu?” “Jadi itu hanya omong kosong?” Dionte semakin mendekat, jari-jarinya membelai leher Krystal dengan sensual. “Don’t touch me,” desis Krystal seraya berbalik dan mundur hingga tangan pria itu menggantung di udara. Krystal bergidik dengan bulu-bulu di tubuhnya yang terasa meremang mendapat sentuhan pria itu. “Sudah lima tahun, tak menyangka kita akan bertemu kembali, Krys. Dulu kau gadis polos, lugu dan malu-malu.” Dionte maju, dan Krystal mundur hingga tubuhnya tertahan oleh meja. Dengan menguatkan hatinya ia masih bersikap berani, tak membiarkan pria itu mengintimidasinya dengan cara seperti ini. Ia tak bisa diintimidasi atau diancam, terlebih itu oleh mantan kekasih yang dulu meninggalkannya. Tanpa diduga Krystal memasang senyum manisnya, membiarkan Dionte semakin mendekat. “Mr. Arentino, perbuatanmu terekam CCTV.” Dionte menaikkan sebelah alisnya dengan seringai misterius. “Kau pikir aku bodoh? Ruangan private seperti ini tidak dipasangi CCTV.” Senyum di wajah Krystal lenyap seketika. Aku kalah, oke. Tubuhnya semakin terpojok, dan Dionte tepat berada satu jengkal darinya. Akan tetapi senyum manis kembali terukir di bibir Krystal. “Aku bisa saja berteriak dan mengatakan kau melakukan pelecehan seksual.” Dionte memajukan wajahnya seraya merunduk, menekan kedua tangannya di meja yang berada di kedua sisi Krystal hingga memerangkapnya. “Silakan saja, aku juga ingin tahu ucapan siapa yang akan mereka percayai pada akhirnya nanti,” balasnya dengan santai. Sial, aku kalah lagi! tentu saja ucapannya yang akan dipercaya, gerutu Krystal lagi dalam benaknya. “Mr. Arentino,” panggil Krystal masih dengan senyum dan nada sopan. Tanpa diduga Krystal mengangkat tangannya dan menampar pipinya sendiri hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring dari kulit wajahnya. Sakit, ringisnya dalam hati. Ia ingin menangis karena menampar dirinya sendiri. Jika bukan karena keadaan terdesak oleh intimidasi Dionte padanya, dia bersumpah tak ingin menyakiti dirinya sendiri. Melihat Krystal menampar dirinya sendiri, Dionte terkejut sejenak tapi wajahnya kembali tenang dengan senyum misterius yang bertahan di wajah tampannya. “Aku akan menyakiti diriku sendiri, luka fisik bisa dijadikan bukti kau melakukan tindak pelecehan padaku,” ancam Krystal dengan nada serius, membuang semua senyum manis dan sopan santunnya. Ia terpaksa melakukannya, karena Dionte terlihat enggan melepaskannya. Jika terus berurusan dengan pria itu, Krystal takut jalannya ke depan tidak akan mudah. Dionte mundur perlahan dari tubuh Krystal, dengan tatapan tajam yang mengarah pada pipi kanan yang memerah dan terdapat cap tangan. “Oke, oke. Kali ini kau menang,” katanya. Pria itu meraih satu kursi dan duduk, menyandar dengan kedua tangan terlipat di d**a. Wajahnya masih menampilkan ekspresi tenang dan senyum memikat, menatap Krystal seperti seekor pemangsa cerdik. “Aku bisa menyelamatkanmu dari pemecatan atau pemotongan gaji. Kau hanya mengakui masih mengingat masa lalu kita.” Krystal diam, nampak sedang bergulat dengan pikirannya. Tawaran Dionte tidak buruk, dia hanya perlu mengaku dan gajinya selama beberapa bulan akan aman. Akan tetapi harga dirinya tidak bisa lagi dilukai dan dipermainkan oleh lelaki itu. Oke, demi gajiku agar bisa bayar tunggakan sewa rumah dan sekolah Dio aku harus menurunkan sedikit harga diriku, bisiknya dalam hati. Dengan wajah yang juga tenang, Krystal balas menatap Dionte. Dalam hati ia meringis merasakan panasnya tatapan pria itu yang seakan bisa saja membakar seluruh tubuhnya sampai hangus. “Oke, aku masih mengingatmu. Mengingat masa lalu kita yang singkat. Aku mantan kekasihmu––mungkin mimpi burukmu juga.” Dionte menarik satu sudut bibirnya hingga membentuk seringai seksi. “Apa kau juga masih mengingat apa yang terjadi diantara kita dulu?” Tentu saja, b******k. Kau punya ‘buah’ yang kau tinggalkan bersamaku! Teriak Krystal dalam hati. Krystal bersikap sedikit lebih santai, untuk menutupi ketegangan dalam dirinya. Ia menyandarkan pinggulnya di tepian meja. “Itu hanya masa lalu, aku tidak sepenuhnya mengingat apa yang terjadi diantara kita.” Dan aku tidak ingin mengingat betapa brengseknya dirimu ketika kau menyelipkan cek keesokan paginya setelah tidur denganku, Krystal melanjutkan dalam hati. Dionte memicingkan matanya, membuat Krystal berdeham sambil memalingkan wajah. Ruangan itu dalam keheningan, Krystal tak lagi mengatakan sesuatu. Wajahnya terlihat lebih dingin, untuk menyembunyikan semua kegundahan yang sedang bergejolak dalam dirinya. Sedangkan Dionte hanya menatap Krystal tanpa memalingkannya sedikit pun. Krystal bangun dan berjalan menjauhi meja. “Aku harus kembali bekerja,” katanya, berjalan meninggalkan Dionte menuju pintu. Ia berbalik dan memberikan senyum tulus yang tak dibuat-buat seraya meneruskan perkataannya, “Terima kasih untuk tidak membuat gajiku dibekukan.” Krystal keluar dari ruangan itu, dan Dionte masih duduk dengan wajah tenang dan tatapan tajam menatap pintu. ********* 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD