Chapter 7

1293 Words
“Krys! Kau dipanggil manager,” kata karyawan pria yang bertemu dengannya di lorong menuju ruang loker. “Oke!” balas Krystal, seraya berbelok menuju ruangan manager mereka. Ia mengetuk pintu sesaat, dan sahutan dari dalam menyuruhnya masuk. Ketika masuk, seorang pria berusia empat puluh tahunan mengangkat wajah dan menyuruh Krystal untuk duduk di depannya. “Sir, apa Anda memanggilku?” Pria itu memberikan amplop cokelat di hadapan Krystal yang segera diterima. Dengan wajah senang dan berbinar, Krystal membukanya untuk menemukan sejumlah uang yang ada di sana. “Itu gajimu untuk bulan ini,” kata sang manager. “Terima kasih, sir!” ujar Krystal dengan wajah senang. Dalam benaknya ia bisa membayar biaya bulanan sekolah Dio, meski gajinya tidak seberapa. “Ada lagi.” Pria di depannya mengeluarkan sebuah paper bag berwarna hitam, dan memberikannya pada Krystal. “Apa ini, sir?” tanyanya, seraya meraih paper bag-nya dan mengintip isinya yang berupa mainan mobil-mobilan. “Mainan?” Pria itu mengangguk, dengan senyum penuh makna pada Krystal. “Kudengar putramu suka mobil-mobilan.” “Terima kasih, Sir, tapi ini tidak perlu.” Krystal kembali mendorong paper bag itu ke hadapan manager-nya dengan sopan. Saat hendak menarik tangannya kembali, pria di hadapannya menangkap tangan Krystal dan menggenggamnya membuat Krystal membulatkan mata sambil menahan diri agar tidak muntah saat itu. Ia mengerti maksud pria di depannya, yang sudah pasti ingin merayunya. Sudah terlalu sering, selama satu tahun bekerja di sini ia selalu dirayu oleh atasan dan juga karyawan pria. “Krystal, kau butuh uang untuk biaya putramu, kan? Jika kau membutuhkannya, kau bisa katakan padaku.” Krystal hampir memutar bola matanya. Memangnya aku siapamu, Sir?! Gerutunya. Dengan senyum sopan Krystal menarik tangannya dalam sekaligus seraya bangun. “Sir, saya harus bekerja.” Tanpa menunggu lagi ia segera berlari keluar dari ruangan sang manager. Siapa pun di tempat ini tahu bahwa manager mereka menaruh minat pada Krystal dan berkali-kali ingin menjadikannya selingkuhan. Begitu pun dengan karyawan lain, yang bahkan ada yang mengajaknya menikah. Krystal merasa sudah terlalu kebal dengan semua ini, ditambah lagi pandangan pekerja wanita yang tidak menyukainya. Tiba di ruang loker ia segera mengganti celana jins dan blusnya dengan rok span di atas lutut berwarna hitam, mengenakan kemeja putih dan blazer yang juga berwarna hitam. Ia memulaskan make up tipis di wajahnya dengan lipstik merah, kemudian menggulung rambutnya membentuk cepol. “Krys, cepat bantu yang lain. Ada tamu spesial di ruang VIP.” Seorang karyawan wanita membuka pintu ruang loker, dan berkata dengan ketus padanya. Krystal tidak memusingkannya, ia segera mengenakan sepatu pentofel dan berlari ke arah dapur di mana para koki sudah selesai membuat pesanan untuk tamu VIP. Ia menata makanannya di atas troli, melirik semua masakan yang terlihat mewah dan menggugah selera. Segera membawanya keluar, berjalan di lorong menuju ruangan-ruangan VIP dan private yang diperuntukan bagi tamu spesial yang tak ingin berbaur dengan tamu lainnya. Ketika membuka pintu, seorang pelayan lainnya membantunya menarik troli mendekati meja panjang dengan deretan kursi yang sudah diisi. Begitu melangkah mendekati meja, Krystal merasa ada sepasang mata tajam yang sedang mengawasinya. Saat ia mendongak untuk melihat para tamu yang ada di sana, tatapannya bertemu pandang dengan sepasang mata sewarna madu yang tajam dan sedang menatapnya. Detak jantungnya kembali berdetak dengan keras, membuat Krystal merasa panik dan segera menunduk menatap hidangan. Kenapa harus dia lagi? kenapa dia belum kembali ke Italia? Bisiknya dalam hati, seakan hendak menangis. Tetapi Krystal hanya menampilkan wajah sopan dan penuh profesionalitas. Dengan cekatan menghidangkan semua makanan di atas meja panjang dengan tempat lilin berwarna emas sebagai hiasan di setiap ujung. Ruangan itu begitu mewah dengan interior dari warna merah dan emas, di atasnya ada lampu-lampu gantung berwarna oranye hingga memberikan kesan klasik namun mewah. Ketika pada bagian di mana Krystal harus menghidangkan makanan di dekat pria itu, dengan sikap yang masih profesional ia menyelesaikan pekerjaannya. Sesuatu seperti menusuk pinggangnya ketika ia menaruh sebotol wine. Dengan wajah menahan kesal ia menoleh dan kembali berhadapan dengan wajah tampan dan memesona itu, dengan aura angkuh yang sangat terasa. Ada senyum nakal di bibir sensual dari pria itu. Krystal berusaha mengabaikannya, meraih teko dari kaca kemudian menuangkan air putih di gelas tinggi di depan pria itu. Ia tak mengerti kenapa seorang Dionte Arentino harus sarapan bersama dengan orang-orang dari timnya di restoran tempatnya bekerja. Krystal selalu menjadi orang yang tidak peduli pada sekitar, tapi keberadaan Dionte di sini membuatnya harus berusaha keras menutupi kehidupannya dari pria itu. Belum sempat ia menarik diri, sebuah tangan besar dan hangat seperti menyentuh pahanya, membuat rasa merinding merayapi dirinya sampai bulu kuduknya merinding. Mencoba bersikap sabar dan tetap profesionalitas, Krystal menatap pria itu dengan senyum sopan santun yang palsu. “Ada lagi yang ingin Tuan minta? Kami akan berusaha memenuhinya,” katanya pada Dionte. Dionte menarik tangannya dari Krystal, ketika beberapa pandangan terarah padanya. Wajah tampan itu kembali berubah datar dan tanpa ekspresi, bersikap sangat angkuh kembali untuk menyembunyikan kelakuan nakalnya pada Krystal. Perilaku pria itu membuat Krystal merasa panik dan juga marah, menambah kebenciannya. Ia berpikir jika Dionte sudah terbiasa melakukan hal ini pada setiap wanita. Jika bukan sedang di depan banyak orang, ia bisa saja menginjakkan ujung sepatu pentofelnya pada kaki pria itu. “Tidak ada,” katanya dengan suara rendah dan aksen Italia yang sangat berat. Krystal mengembuskan napas lega, dia dan temannya undur diri untuk pergi ke bagian lain dari ruangan itu. Jika mereka membutuhkan sesuatu, Krystal dan temannya akan siap sedia membantu dan melayani. Dionte bersama manager dan beberapa petinggi dalam timnya pun memulai sarapan mewah mereka, membuat Krystal merasa begitu terbakar. Tatapannya tak bisa menutupi rasa tak sukanya pada Dionte. Pria itu bisa sarapan mewah bersama orang-orangnya, sedangkan ia dan putranya bahkan hanya sarapan seadanya, terkadang dengan roti telor yang gosong atau keasinan. Melihat gaya hidup pria itu, ia tak yakin jika Dionte akan mau mengakui Dio sebagai putranya. Saat diam-diam memperhatikan Dionte, tanpa diduga pria itu menoleh padanya hingga tatapan mereka bertaut membuat Krystal terkejut dan tak menyangka Dionte akan menoleh padanya. Ia pun buru-buru membuang wajah dan berwajah datar kembali dengan kedua tangan bertaut di depan tubuhnya. Dionte melambaikan tangan padanya, menyuruhnya untuk mendekat. Krystal pun mendekat dengan sopan, meski tatapan dan sikap pria itu tetap angkuh padanya. “Tuangkan kopi untukku,” katanya. Krystal menatapnya dengan senyum sopan, menuangkan kopi yang masih mengepulkan asap panas ke cangkir keramik kemudian menghidangkannya di depan Dionte dengan sopan. Sebelum pria itu mengambil cangkir kopinya, Krystal sudah melepaskannya membuat cangkir terjun ke atas meja dan cairan hitam pekat dan berasap itu tumpah dan mengalir ke arah Dionte. “Oh, s**t!” umpat Dionte seraya bangun dan kursinya. Krystal yang melihat itu pun menampilkan wajah terkejut, meraih serbet bersih dan meminta maaf seraya membersihkan kaos putih yang dikenakan Dionte dari cairan kopi. Diam-diam dalam hati ia bersorak gembira bisa membalas pria itu, karena ia melakukannya dengan sengaja. Itu untuk tangan kurang ajarmu yang menggerayangi pahaku! Rasakan itu, Tuan Pembalap yang arogan. Kau berbuat lebih, aku balas lebih lagi! hahaha! Dengan gembira Krystal bergumam dalam hatinya. “Maafkan saya, Sir,” ujar Krystal dengan nada penuh rasa bersalah, yang sesungguhnya sangat palsu. Ketika ia membungkuk untuk membersihkan kaos Dionte, seorang pria yang duduk di sebelah Dionte diam-diam melirik ke arah b****g sekal Krystal yang sedang membungkuk, membuat Dionte yang menyadari arah pandang pria itu segera menarik tubuh Krystal agar berdiri lagi. Dengan wajah masih penuh rasa bersalah, Krystal menatap Dionte. “Sir, apa yang harus saya lakukan?” tanyanya. Dionte mendengkus kasar, menatap Krystal dengan tajam dan angkuh. “Pergilah, panggil manager-mu.” Krystal menahan napas sejenak dengan panik. Jika Dionte meminta manager untuk memecatnya, tamatlah riwayat pekerjaannya di restoran ini. Meski pun enggan, tapi Krystal tetap mengangguk dan pergi dari ruangan itu untuk meminta manager-nya menemui tamu mereka. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD