Chapter 6

1348 Words
“Aku menontonnya juga.” Krystal menoleh ke samping, di mana Ren sedang duduk memandang interaksi anak dan ibu itu. “Dia menang lagi, kan. Apa kau bertemu dengannya?” tanya Ren lagi. Dengan lesu Krystal mengangguk. “Aku berhasil wawancara dengannya.” “Dia pasti tidak mengingatmu lagi.” Lagi, Krystal menggeleng pelan. “Dia justru mengingatku. Setelah lima tahun dia masih mengingatku,” jawabnya dengan lesu. Tiba-tiba Krystal mengangkat kepalanya dan menatap Ren dengan serius. “Yang dia ingat justru d**a dan pinggulku yang dulu datar, Ren! Bayangkan itu!” pekiknya dengan wajah kesal. Ren menatap Krystal dengan pandangan rumit, kemudian menggeleng pelan. “Kau tidak mengatakan tentang Dio padanya, kan?” “Bagaimana mungkin aku mengatakannya. Aku tidak akan membiarkan siapa pun tahu siapa ayah Dio.” Wajah Krystal begitu muram dan lesu, seakan tak ada semangat seperti Krystal yang biasanya. Ren menepuk bahunya, merasakan bagaimana perasaan wanita itu bertemu kembali dengan kekasih masa lalu yang juga ayah dari putranya. “Kau sudah makan malam?” tanya Ren lagi. “Aku belum sempat makan malam.” Tiba-tiba Krystal teringat pada Dio dan segera menatap sang putra dan berkata, “Dio belum makan malam!” “Dia sudah makan bersamaku. Saat aku mengajaknya pulang, dia ingin menunggu di sini karena takut kau akan menjemputnya.” Sambil menghela napas lega, Krystal menatap Ren dengan pandangan berterima kasih. Ia tak tahu jika tak ada Ren mungkin Dio akan kelaparan. “Terima kasih, Ren. Aku sudah merepotkanmu.” Ren menepuk kembali bahu Krystal dengan pelan. “Kenapa kau tidak menikah saja? Jika memiliki suami, setidaknya ada seseorang yang menopang hidupmu dan Dio, Krys. Kau cantik, bahkan tak pernah disentuh siapa pun selain Dionte. Semua pria pasti siap menerimamu dan Dio.” Krystal mengedikkan bahunya. “Siapa yang ingin menikahiku? Aku belum menikah tapi sudah memiliki putra berusia empat tahun. Aku ingin menikah karena cinta, Ren.” “Jika harus berbicara karena cinta, kurasa siapa pun bisa mencintaimu. Kau tidak kasihan pada Dio? Jika kau memiliki suami, ada yang menanggung biaya hidup kalian. Kau bisa sepenuhnya mengurus suami dan anakmu, tanpa harus banting tulang dan terkadang pulang malam jika ada pekerjaan ke luar kota.” “Lagipula aku masih sangat muda. Ada orang tuaku juga yang siap menemani Dio jika aku pergi ke luar kota.” Ren diam, tak lagi membalas perkataan Krystal. Meski terlihat selalu ceria tapi Krystal menyimpan luka dalam dirinya, dan tak membiarkan siapa pun mengetahui bagaimana luka itu bisa terbentuk. Melahirkan seorang diri di usia delapan belas tahun, lalu hidup di London bersama putranya sedangkan orang tuanya ada di desa. “Setidaknya kau harus melepaskan pekerjaanmu di restoran, kau hanya harus fokus pada penyiaran dan Dio saja,” ujar Ren lagi. “Ren, gajiku di penyiaran tidak seberapa. Jika aku tidak mengambil pekerjaan lepas di restoran, bagaimana aku bisa membayar biaya sewa rumah.” “Krys, lihatlah sekitar. Ada pria yang siap menikahimu.” Ren menatap Krystal dengan serius, untuk menyadarkannya. Krystal terlihat acuh tak acuh, ia hanya mengedikkan bahu kemudian bangun sambil menggendong Dio yang sudah menguap beberapa kali karena mengantuk. “Aku tidak sempat mencari kekasih, Ren.” “Kenapa harus mencari? Ada pria yang siap menikahimu, Krys. Kau hanya tinggal membuka mata.” “Sudah, sudah. Aku tak ingin membahas ini lagi. Ayo kita pulang.” Krystal berjalan ke arah mobil sambil menggendong Dio yang sudah terkulai di bahunya sambil menutup mata, sedangkan Ren masih duduk memandang ibu dan anak itu dengan embusan napas berat. Matanya mengisyaratkan sesuatu, tapi Krystal tak bisa menemukannya sama sekali. ****** Senin pagi selalu menjadi rutinitas tersibuk bagi Krystal. Setelah semalaman ia terus berkutat dengan pekerjaannya untuk mengedit rekaman dari wawancara bersama Dionte Arentino, karena bagaimana pun ada banyak percakapan mereka yang terlarang dan memalukan di dalam rekaman asli. Pagi-pagi ia harus bersiap dan mengirimkan Dio ke sekolah untuk anak usia dini. Karena pagi ini harus pergi ke restoran di mana ia bekerja sambilan selama setengah hari untuk mendapat uang tambahan, Krystal pergi dengan naik bis. Mengantar Dio dari halte bis dengan berjalan kaki sampai ke gedung sekolah. Saat tiba di pintu gerbang sekolah, seorang guru wanita sedang menunggu semua murid untuk masuk. Guru wanita itu menyapa Krystal dan mendekatinya, dan wajah ragu wanita itu segera disadari oleh Krystal. Wajah seperti ini pasti mau menanyakan kapan aku bayar biaya bulanan, gumamnya dalam hati. “Miss Louis, ini ada surat untuk Anda dari kepala sekolah. Bagian administrasi menanyakan kapan sekiranya Miss Louis bisa membayar biaya sekolah selama dua bulan,” kata guru wanita itu. Krystal memberikan senyuman ramah dan sopan, meski dalam hati ingin sekali memutar bola matanya. “Saya akan lunasi dalam minggu ini. Untuk saat ini tolong biarkan Dio sekolah seperti biasa.” Wanita itu mengangguk dengan sopan. “Tentu saja, Dio masih murid sekolah ini.” Krystal pun berjongkok di depan Dio, mencium kepala dan dahi anak lelaki itu dengan penuh kasih sayang. “Sweetheart, nanti siang Mommy menjemputmu lagi ya. Ingat, jangan memasukan laba-laba mainan lagi ke tas temanmu.” Dio mengangguk dengan semangat, mendekati Krystal dan memeluk lehernya. “Baik, Mommy!” Krystal hendak melepaskan pelukannya, tapi Dio masih memeluknya dengan erat seakan ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Krystal yang paham pun bertanya dengan lembut, “Ada sesuatu?” Dio berbisik amat pelan di ceruk leher Krystal, “Mommy, hari minggu depan ada festival musim panas di sekolah. Semua orang pergi dengan Mommy dan Daddy mereka. Dio tidak punya Daddy.” Krystal menghela napas dengan pelan, dan inilah puncak dari hidupnya ketika pada akhirnya sang putra akan mengatakan bahwa dia tak memiliki ayah. Dengan begitu penuh perhatian, Krystal membawa wajah Dio ke hadapannya. “Sweetheart, Mommy sudah katakan bahwa Daddy-mu di surga, ingat?” Dio mengangguk, tapi tak puas. “Surga yang Daddy tinggali seperti apa? Apa Dio boleh ke sana?” Krystal meringis dalam hati. Surga dunia penuh wanita cantik, sebaiknya kau jangan ke sana, Nak. “Kita akan pergi dengan Uncle Ren, bagaimana?” bujuk Krystal. “Tapi Uncle Ren bukan Daddy-ku. Uncle Ren bilang dia mau menjadi Daddy-ku.” “Uhuk!” Krystal tersedak dan hampir muntah, mendengar segala omong kosong Ren pada putranya. “Jangan dengarkan Uncle Ren, oke. Masuklah, Mommy jemput lagi nanti siang.” Dengan wajah yang murung Dio pun masuk melewati gerbang sekolahnya, dan hal itu membuat Krystal sedih. Bagaimana pun Dio tidak boleh mengetahui siapa ayahnya, atau putranya akan menjadi bahan cemoohan orang lain. Semenjak hidup di London berdua dengan Dio, Krystal tak lagi menjadi bahan cemoohan. Ketika tinggal di desa bersama orang tuanya, Dio selalu dianggap menjadi aib. Adat di desa yang masih kental membuatnya dianggap seperti perempuan munafik, yang tertutup dari luar namun begitu liar di dalam. Setidaknya, hidup di London menyelamatkannya dan Dio dari rasa malu dan cemoohan warga desa––meski keuangannya begitu sulit karena biaya hidup yang tinggi. Setelah mengecek jam tangannya, Krystal segera berlalu meninggalkan sekolah Dio. Ia harus kembali berjalan ke halte bis untuk pergi ke restoran tempatnya bekerja paruh waktu. Andai ia memiliki mobil, mungkin tidak akan repot-repot harus bolak-balik ke halte bis, tapi mobil yang kemarin ia gunakan ke Silverstone milik bosnya yang dipinjamkan. Tiba di halte bis, tak butuh waktu lama sampai pemberhentian selanjutnya. Krystal segera masuk dan memilih duduk di bagian paling belakang. Wajahnya terlihat masam dan kusut, memikirkan segalanya yang membutuhkan biaya yang harus segera dilunasi. Hidup di London memang benar-benar sangat sulit dalam keadaan keuangannya yang kacau. Membuka ponselnya, Krystal menatap wajah Dio yang polos dan tak tahu apa pun. Selama empat tahun ia selalu menyembunyikan identitas ayah dari putranya. Meski dalam sekali pandang, siapa pun bisa melihat wajah Dio terlihat seperti Dionte Arentino versi mini. Hanya Ren dan kedua orang tuanya yang tahu identitas ayah dari bocah itu. Bis yang ditumpanginya berhenti di halte berikutnya, dan Krystal segera turun menuju restoran tempatnya bekerja. Masuk melalui bagian samping bangunan restoran untuk karyawan, bertemu dengan beberapa karyawan wanita yang memandangnya dengan wajah tak suka. Meski ia sudah satu tahun bekerja di restoran itu, karyawan wanita masih memandangnya dengan tak suka, dan Krystal tak memusingkannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD