9. Tidak Tenang

1095 Words
Meski kesal, Fara terpaksa tetap mengobati bekas gigitannya di punggung Liam. Wanita itu sempat meringis pelan melihat jejak gigitannya cukup jelas dan merah. “Sepertinya ini memang cukup perih, deh,” batin Fara. “Selesai punggung, kamu cek juga bekas pukulanmu di perutku.” Fara mengembuskan napas malas. Ia mulai membersihkan luka di punggung sang atasan. “Sebenarnya cara menghilangkan rasa sakitnya sangat mudah. Kamu ingin tahu caranya?” “Bagaimana?” tanya Fara setengah hati. “Tinggal dikecup saja, rasa sakitnya pasti langsung hilang. Kerjaanmu juga jadi cepat selesai dan bisa segera pulang.” Fara mendesis kesal. Ia sengaja menekan perban di tangannya pada luka bekas gigitannya di punggung Liam. “Ssst, pelan-pelan, dong. Itu masih perih,” rintih Liam pelan. Fara berdecih. “Makanya jangan bicara, cukup diam saja.” “Aku punya mulut. Selain untuk mencium bi-birmu, aku gunakan mulut ini untuk bicara.” Fara melotot kesal. “Diam ‘lah, Liam!” Liam malah tertawa puas, merasa sangat senang selalu memancing kekesalan Fara. “Kamu jadi semakin emosian, ya, sekarang?” ejeknya. Fara tak menyahut, ia hanya mendengkus sembari terus melanjutkan aksinya mengobati luka gigitan tadi. “Untung atasan, kalau tidak, sudah aku pukul berkali-kali sampai pingsan,” batinnya kesal. Fara masih waras, dan ia cukup sabar hingga saat ini. Jika bukan karena takut bonus bulanannya dipotong, mungkin sedari tadi Fara sudah mengeluarkan jurus pukulan seribu untuk Liam. “Sudah,” ketus Fara. “Sudah selesai? Sekarang yang di perut.” Liam yang tadinya tengkurap, kini duduk, lalu berbaring telentang. Fara melotot. “Heh, kalau kamu telentang begitu, obat yang barusan aku olesi di punggungmu langsung hapus itu!” “Oh, ya? Kalau begitu tinggal olesi lagi nanti,” sahut Lima tanpa beban. Fara melipat bibirnya menahan kesal. Ia menarik napas dalam, lalu memejamkan mata, mencoba mengumpulkan seluruh elemen-elemen kesabaran. Fara memperhatikan perut kotak-kotak Liam. Ia berdeham pelan, mencoba fokus, dan tak tergoda oleh perut kekar mantan kekasihnya itu. “Ekhm, perutmu tidak ada bekas sama sekali. Berarti tidak ada yang perlu aku obati di perutmu, karena tadi aku memang tidak keras memukulnya.” “Keras. Ini, di sini.” Liam menunjuk asal di area perutnya. Fara menatap Liam dengan ekspresi malas. Setelahnya ia mengusap bagian yang ditunjuk Liam, meski Fara tahu jika pria itu sengaja menunjuk asal. Hanya saja karena malas berdebat, Fara memilih patuh supaya bisa segera pergi dan pulang. “Sudah, sekarang duduk. Aku olesi lagi obat di punggungmu, tapi jangan tengkurap!” Fara menatap Liam dengan mata memicing. “Nanti jadi alasanmu lagi untuk aku pasang obat di perut. Tidak kelar-kelar kalau begini.” Liam tertawa pelan. Ia pun duduk santai, membiarkan Fara kembali memasang obat ke punggungnya. “Sudah, sekarang aku bisa pulang.” Fara merapikan selurh obat, lalu menyimpannya ke dalam kotak P3K. Setelah selesai, Fara berdiri. “Selamat beristirahat, Tuan CEO.” Liam mendongak menatap Fara berjalan ke arah pintu apartemennya. Pria itu pun berdiri sembari memasang kemejanya tanpa mengaitkan kancing kemeja tersebut. Liam mengikuti langkah Fara dari belakang, ia pun berdiri menunggu Fara memasang sepatunya. “Rumahmu jauh dari sini, biar aku antar.” Fara menoleh, lalu tersenyum paksa. “Terima kasih, tapi tidak usah.” Liam menatap pergerakan Fara menyusuri lorong apartemennya. Ia berdecak kesal karena benak dan hatinya sedang berperang. Perasaan serta egonya saling tarik-menarik saat ini. Jika mengikuti perasaannya, Liam ingin sekali mengejar Fara dan mengantar wanita itu pulang dengan selamat. Namun, egonya tak kalah besar, mengingat masalalu, Liam kesal dan marah. Sebagai seorang pria, ego Liam begitu tinggi, sehingga ia seakan tak ingin dipandang rendah oleh mantan kekasihnya. “Sudah ‘lah, Liam. Dia saja begitu berusaha melupakan semua masalalu kita. Dia bahkan terlihat tidak menyukai pembahasan masalalu, seperti begitu benci dan tak suka. Bagaimana bisa kamu yang seorang pria bermartabat, sekaligus atasannya, malah ingin mengejarnya seperti merendahkan dirimu sendiri di depannya. Dulu dia sudah membuatmu kecewa, sekarang dia kembali membuatmu geram, dan masih ingin mengejarnya? Apa yang ada di otakmu ini, Liam?” Liam berceloteh pada dirinya sendiri. Pada akhirnya, kali ini ego Liam menang. Ia kembali masuk ke dalam apartemen, membiarkan Fara pulang sendirian malam hari. Padahal harusnya Fara bisa pulang sore sedari tadi, tetapi karena ulah Liam, wanita itu harus pulang malam. Bodohnya, setelah mendahulukan ego, Liam malah tak tenang, ingin sekali menelepon Fara, bertanya apakah wanita itu sudah tiba di rumah dengan selamat. Liam yang memasakan diri untuk bisa tertidur tanpa terus memikirkan Fara, merasa kesal sendiri. “Kurang ajar! Apa-apaan ini?” Liam mengusap wajahnya kasar. Ia melempar selimut asal, lalu berdiri untuk mengambil minuman. “Anggap saja tidak sengaja.” Sembari minum, tangan Liam meraih ponselnya, lalu menghubungi nomor kontak Fara. Hampir 3 jam tak tenang, dan ragu-ragu untuk menghubungi Fara, akhirnya pria itu menelepon sekretaris barunya itu. Kening Liam berkerut, matanya memicing ketika panggilannya tersambung, tetapi belum diangkat. “Apa jangan-jangan dia kenapa-napa di jalan tadi?” gumam Liam mulai cemas. Pria itu kembali menghubungi nomor Fara, karena panggilan pertama tak diangkat. Liam mulai melangkah maju-mundur tak jelas. Otak dan hatinya benar-benar saling bertolak belakang. “Sial! Dia selalu berhasil membuatku tidak tenang.” Liam menggeram kesal, lalu melangkah cepat menyambar kunci mobil. “Kalau dia kenapa-napa, aku akan—” “Hallo.” Langkah Liam seketika terhenti, celotehannya pun ikut terputus saat mendengar suara serak di seberang sana. Mata Liam memicing, rahangnya mengerasa karena kesal. “Hallo. Ck, siapa sih malam-malam nelpon, ganggu orang tidur saja,” gerutu Fara di seberang telepon. Liam melongo melihat panggilan telepon itu berakhir. Ia tertawa gemas, lalu melempar ponselnya ke ranjang. “Wanita ini benar-benar! Dia sudah tidur nyenyak? Bisa-bisanya dia tidur nyenyak, di saat aku tidak bisa tidur karena dia!” celotehnya kesal. Liam kembali meneguk air mineral dalam botol hingga tandas. Pria itu tampak sangat kesal dan gemas. “Sia-sia saja sedari tadi aku khawatir! Kamu sendiri juga bodoh sekali, Liam! Untuk apa juga kamu mengkhawatirkannya? Dia saja tidak memikirkanmu sama sekali. Lihat ‘lah, dia bahkan bisa tidur dengan nyenyak. Mungkin saja dia sudah tidur sedari tadi, suaranya sudah terdengar sangat serak, suara khas orang yang tertidur pulas. Kurang ajar sekali, mantan durhaka!” Liam berceloteh kesal sembari menarik selimutnya. Bahkan hingga selimut itu menutup seluruh tubuhnya hingga ke kepala, Liam masih misuh-misuh kesal kepada Fara. Bagaimana tak kesal, karena sedari tadi ia tak bisa tidur karena memikirkan Fara. Rupanya yang dikhawatirkan malah sudah tertidur pulas. Namun, itu juga bukan salah Fara. Salah Liam sendiri, kenapa tadi mementingkan ego, membiarkan Fara pulang sendirian malam hari, padahal sudah tahu diri sendiri akan khawatir. “Awas saja dia besok, aku akan balas dendam!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD