Adelle memutar matanya malas. Jika Christian serius mendekatinya dan murni karena cinta, seharusnya tidak ada dusta yang disembunyikan olehnya sampai kepergok tengah berbohong dengan identitasnya. Sangat disayangkan jika Adelle sangat intoleran dengan kebohongan.
“Dia masih terlalu muda.” Tapi delikan mata Marina tampak tidak setuju dengan perkataan Adelle.
“Baru sekarang kau mengakui saat ini kau sudah setua itu, Adelle?” Adelle memejamkan matanya saat menghirup aroma teh yang begitu wangi.
“Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu dengan hal melankolis seperti percintaan dan sebagainya.”
“Tapi kau selama bertahun-tahun ini juga lebih menyia-nyiakan waktu! Tidur, makan, bermalas-malasan. Semua kegiatan para pengangguran sudah kau kerjakan selama ini. Kenapa kau tidak gunakan waktu untuk pergi berkencan atau mencari kekasih baru? Aku lelah mendengar gosipmu yang itu itu saja setiap musim berganti.”
Adelle dengan mulut setengah terbuka menatap Marina dengan tatapan lekat sekali. Pelayan kecilnya itu mengomelinya pagi ini dengan pencerahan yang menyakitkan sekali.
“Apakah seburuk itu?” Tanyanya tidak sadar jika selama ini ia lebih tidak bergunanya dari pengangguran. Marina mengangguk beberapa kali dan bibirnya merengut lucu.
“Ya! Sangat buruk. Pakailah pakaian yang bermerk, berdandan yang cantik dan pergi ke club! Semua wanita muda melakukan itu di zaman ini. Bertahun-tahun kita bersama, aku seperti tinggal dengan nenekku yang mati gaya dan ketinggalan zaman.”
Adelle sukses dibuat terdiam dengan kenyataan pahit itu. Marina adalah pelayan paling muda di kediamannya. Setiap ia libur bekerja, ia pergi bersama teman-teman sebayanya atau pergi dengan beberapa pelayan lain ke club malam dan berkencan.
Tapi Adelle hanya menghabiskan waktu di rumah seperti gadis pingitan dan kehilangan minat bersosialisasi dengan sesama manusia. Saat ia tengah memikirkan dirinya yang menyedihkan, tak sengaja ia melihat Alden tengah lari pagi di sekitar air mancur taman.
“Alden!” Adelle berteriak sambil mengangkat tangannya memanggil Alden. Marina menoleh dan ikut berteriak memanggil Alden. Alden pun berlari ke arah mereka dengan peluh keringat membanjiri tubuhnya.
“Hah hah hah ada apa?” Adelle meletakkan cangkir tehnya di atas tatakan gelas bermotif bunga itu.
“Apakah menurutmu aku ini menyedihkan?”
Alden menoleh pada Marina karena pertanyaan Adelle pagi ini terlalu berat untuk dijawabnya. Apa yang harus dia jawab? Jujur atau berbohong saja? Alden takut dia langsung dipecat jika mengatakan Adelle adalah seorang pengangguran sukses.
“Apakah kau belum sarapan pagi ini? Aku pikir pertanyaanmu ini efek kurang asupan karbohidrat." Alden malah balik bertanya atau lebih tepatnya menyelamatkan diri dari pertanyaan sial itu.
"Aku serius, Alden. Apakah benar begitu?"
Alden yang tadinya berkeringat panas mendadak menjadi keringat dingin. Mulutnya mendesis mengutuk Marina yang tersenyum bangga seakan-akan baru saja menyadarkan seseorang akan pentingnya sosialisasi. Apakah ia badan pengamat nasional sekarang? Menjawab sepatah kata saja bisa hancur karirnya sebagai pelayan yang berdedikasi tinggi.
Tapi beruntung ekor matanya tak sengaja melihat Dale yang datang dengan gulungan koran pagi ini.
“Aku rasa Dale tahu jawabannya.” Ucap Alden sengaja melempar jaring pada ikan polos itu.
Adelle mendengus walaupun ia tidak ingin bertele-tele, tapi ia ikut menoleh dan mendapati Dale berjalan dengan santainya setelah berjaga malam. Kantung matanya tampak jelas menghitam dan berjalan sambil menguap beberapa kali.
“Menjauh dariku. Bau ketiakmu tercium sampai kesana.” Dale yang baru saja tiba dengan santai mengusir Alden. Gulungan koran yang ada di tangannya sengaja dia pakai untuk memukul kaki Alden agar menjauh dari areanya. Alden terpaksa mendengus kesal dan sedikit menjauh dari mereka.
“Dale, apakah aku terlihat menyedihkan?” Adelle langsung bertanya. Dale mengerutkan alisnya, sama bingungnya dengan Alden.
“Marina, kali ini apa lagi?” Marina cuek saja sambil menuangkan secangkir teh untuk Dale.
“Tidak ada. Hanya permasalahan wanita.”
“Kalau urusan wanita, kenapa bertanya padaku? Apakah aku terlihat seperti wanita?” Dale mendengus kesal. Dia mengantuk sekali tapi malah disuruh menjawab pertanyaan aneh majikannya.
Adelle menyentuh keningnya terlalu berpikir keras. Ia jadi merasa ada yang tidak beres dengannya setelah Marina menegurnya. Apakah introvertnya sampai separah itu?
“Aku memang membatasi diri untuk bersosialisasi dengan orang lain. Tapi aku tidak tahu jika sampai separah ini.” Adelle bergumam dan ditanggapi aneh oleh Dale.
“Memangnya kenapa? Apakah itu masalah besar?”
Brak!
“Tentu saja masalah besar!”
Marina langsung menggebrak meja tidak terima dan penuh emosi. Ia yang paling tidak bisa menerima keadaan majikannya yang membahana itu ketinggalan zaman. Dale yang tidak mengerti diam dan memperhatikan saja sambil meneguk teh seperti air mineral.
“Yah, tapi menurutku ini bukan masalah besar.” Adelle menatap bosan cangkir tehnya yang kosong. Entah sudah berapa lama ia terbiasa dengan kesepian yang ia ciptakan sendiri.
“Ck! Lihatlah Adelle! Cantik, kaya raya, punya status sosial yang tinggi dan seorang bangsawan. Laki-laki mana yang tidak tertarik dengannya?” Alden dan Dale kompak mengangguk bersamaan. Fakta itu tidak bisa dipungkiri lagi oleh keduanya.
“Jadi aku harus bagaimana?” Adelle balik bertanya dengan putus asanya sampai meremat kepalanya seperti orang stres.
“Beli pakaian yang cantik, pergi ke salon untuk perawatan lalu pergi berkencan. Apalagi?”
“K-kencan? Apakah itu perlu?” Telinga Adelle terasa sedikit berdengung saat mendengar kata terkutuk itu.
“Tentu saja! Tidak masalah jika tidak punya pasangan. Hal seperti itu sangat tidak perlu. Yang terpenting saat ini adalah menikmati hidup. Benar kan? Sulli?”
Sullvian bergabung setelah mendengar suara gaduh di taman depan.
“Menikmati hidup setiap orang berbeda-beda, Marina. Jangan sama-samakan dengan gaya hidupmu yang aneh itu.” Kata Sullvian pedas sekali. Tapi alih-alih sakit hati, Marina malah menunjuk Alden dan Dale dengan kasar.
“Jika tidak percaya dengan orang yang tidak dikenal seperti pria kemarin itu, kau bisa berkencan dengan salah satu dari mereka bukan? Alden, Dale atau pria yang lebih tua, Sulli.”
“Tidak. Itu sangat tidak boleh!”
“Dasar gila!”
Adelle tidak bisa mengharapkan ketiga pelayannya jika tentang masalah percintaan. Aneh saja rasanya berkencan dengan sahabat sejak kecil. Belum lagi dengan Sullvian yang lebih tua darinya itu sudah pernah menikah sebelumnya.
Dale ngeri sekali membayangkan dia berkencan dengan Adelle. Apa jadinya jika media mengungkap dirinya berkencan dengan pelayannya sendiri. Yang diserang tentu bukan dirinya, tapi Adelle yang akan menjadi santapan media.
"Baiklah, tidak masalah. Aku punya banyak teman pria yang mungkin akan cocok denganmu."