Bab 12. Kebohongan Pertama

1071 Words
"Drake memaksaku untuk memeriksakannya ke dokter. Tapi kau tidak perlu khawatir denganku, Nona Adelle." "Ya. Christian lebih kuat dan perkasa dari seekor kuda." Drake menyahut bermaksud untuk bercanda dengan candaan jorok. Tapi sayangnya Sullvian terpancing untuk berdiri mendekat di samping Adelle. Aura hitam pekat seperti menyebar kuat dari belakang punggungnya. Drake sukses tertawa garing seorang diri. Setelah mereka berbincang singkat, Adelle mengajak Christian dan Drake untuk makan malam bersama. Acara makan malam yang cukup tenang, Drake undur diri untuk merokok dan membiarkan sang bos berbicara berdua dengan Adelle. Christian dibawa ke lantai tiga. Dimana ruangan yang entah apa fungsinya itu menjadi tempat mereka berdua mengobrol. Dia memperhatikan bahwa tidak ada yang spesial dari setiap ruangan itu. Terlihat jelas sekali bahwa Adelle tidak terlalu suka menghias rumah. "Apakah kau memang bersikap seperti ini jika di rumah?" Christian bertanya. Adelle berdehem pelan sambil tersenyum. "Aku hanya punya tiga orang teman sebaya yang tidak pernah melihatku dari dua sisi, Christian. Jika kau menganggapku berbeda saat di luar, perspektifmu memandangku terlalu sempit." Adelle berdiri dan bersandar pada jendela. Entah kebiasaannya yang suka dengan jendela atau memang Adelle suka memandang keluar jendela, Christian ingin tahu semuanya. "Apakah aku boleh mencari tahu agar perspektifku meluas?" Christian kembali bertanya. Makna tersirat dari pertanyaan itu seperti meminta Adelle untuk menyerahkan dirinya pada Christian. Adelle terdiam dan memandangi Christian sebentar. Banyak tanda tanya di dalam kepala Adelle mengenai sosok Christian. Siapa keluarganya dan bagaimana asal usulnya. Adelle harus tahu seperti apa karakter Christian karena ia masih menganggapnya sebagai musuh dalam selimut. Jika mereka menjadi partner, itu sangat tidak mungkin karena mereka tumbuh menjadi seorang kolektor yang mustahil berbagi. "Apakah North sungguhan nama margamu?" Adelle bertanya dengan nada biasa. Sayangnya reaksi Christian membuatnya kecewa sekali. "Tentu." Adelle membuang muka setelah Christian menjawabnya. "Aku maafkan kebohongan pertamamu." Christian tahu Adelle tetap akan curiga padanya sampai kapanpun. Dia berdiri dan berjalan mendekat ke arah Adelle. Hal yang paling membuatnya terobsesi dengannya adalah sifatnya yang begitu berhati-hati dan penuh perhitungan. Daya pikir otaknya seperti dua langkah maju di depannya. "Maafkan aku berbohong padamu, Adelle." Adelle mengerutkan alisnya saat Christian mendekatinya terlalu dekat. Jaraknya dengan Christian tampak terlalu intim dan hampir membuat Adelle berjinjit menjauh. "Apa yang membuatmu tertarik denganku, Christian? Apakah rumor tentangku tidak pernah sampai ke telingamu?" Christian tidak langsung menjawab. Dia hanya ingin mengamati wajah Adelle dari dekat dan mencium aroma parfum yang berbeda saat di pelelangan kemarin malam. Tidak ada lipstik tebal, atau bahkan gaun malam yang menarik perhatian. Hanya sosok Adelle yang biasa. "Tapi kenapa aku tidak melihat semua rumor itu di depan mataku saat ini?" Adelle tersenyum tipis. Terlalu tipis sampai terlihat seperti senyuman sinis yang ia lemparkan pada Christian. "Jadi kau menemuiku untuk memastikan rumor itu benar atau tidak?" Adelle menggeleng pelan sekali lalu berjalan ke arah lemari. Christian tidak lagi menjawab pertanyaannya secara spontan dan mulai berhati-hati ketika berbicara. Dia tidak tahu jika seluruh perkataan yang keluar dari mulutnya akan menjadi jawaban atas semua pertanyaan Adelle. "Lebih tepatnya aku sedang meneliti seperti apa dirimu yang sebenarnya, Adelle…." Ucap Christian membuat tangan Adelle berhenti bergerak. Botol wine yang dipegangnya itu langsung ia letakkan di atas meja lalu berbalik dengan ekspresi menggelap. Dalam benak Adelle, Christian memang punya niat tertentu mendekatinya. Dan tindakannya ini terlalu terang-terangan sekali seakan pria itu tengah berakting di depannya untuk memancing Adelle. Semua tingkahnya selama dua hari ini terus terbayang karena Adelle juga tidak bisa diam saja jika Christian berniat buruk padanya. "Dengar ini Christian. Jika kau hanya ingin bermain-main denganku, aku persilahkan kau untuk kembali ke kediamanmu sekarang. Dan aku akan kembalikan perhiasan yang kau berikan padaku. Aku akan menganggap kemarin dan sekarang tidak ada dan kita bisa tidak saling kenal seperti dulu lagi." Ucap Adelle tegas. Christian menghela nafasnya sambil menggaruk sedikit kepalanya. Dari kelihatannya saja sulit untuk mendekati Adelle, jika Christian terang-terangan mengundangnya makan malam, entah jawaban apa yang akan diberikan oleh Adelle nanti. "Tidak. Aku serius ingin mendekatimu. Apakah tidak ada pria yang mendekatimu selain aku selama ini? Kau terlalu mencurigaiku, Adelle." "Tidak ada. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Untuk itu, lupakan saja." Adelle menjawab cepat menolak Christian. Saat Adelle siap menerima amarah dari pria itu, tanpa ia sangka Christian hanya tersenyum lalu berbalik pergi. Ruang santai yang ditinggalkan Christian menjadi ruang hampa yang hanya menyisakan Adelle disana. Dan tidak banyak memakan waktu lagi, mobil pengantar jemput itu sudah mengantarkan Christian dan Drake menuju gerbang kediamannya. "Apa yang dikatakannya kali ini?" Suara berat Dale menyapa ketika pria itu masuk ke ruang santai. Tapi ketika dia menunggu Adelle menjawabnya, majikannya itu menghabiskan anggur dalam gelasnya dalam diam. "Mau aku temani?" Adelle tersenyum kecil dan menuangkan wine di gelas milik Dale. Tak lama kemudian Sullvian ikut bergabung dan mereka menikmati anggur bertiga sambil memandangi perapian di ruang santai. -Perjalanan pulang- Drake tidak banyak berkata-kata lagi saat Christian tiba-tiba mengajaknya pulang. Sepertinya pendekatan dengan cara biasa ini tidak membuahkan hasil. Diliriknya dari spion depan, Christian tampak sedang memainkan ponselnya dengan bosan. "Aku sudah katakan padamu sebelumnya bukan? Buatlah sesuatu yang mencolok agar bisa menarik perhatiannya." Drake kembali mengingatkan rencana awal mereka. Christian melirik Drake sekilas lalu tersenyum kecil. Dia tahu Adelle akan menolak pendekatan darinya. Tapi dia tahu bagaimana harus bertindak. "Aku akan membawanya untuk mengikuti misi nanti." CKIIIIITTTTT! Kaki Drake langsung menginjak rem dengan kuat saking terkejutnya dengan keputusan Christian. Urat kakinya tegang bersamaan dengan urat di kepalanya yang menampakkan diri. Sambil menoleh ke belakang, Drake menahan diri untuk tidak melompat dari kursi kemudi dan memukul kepala bosnya. “Apa kau gila?” Christian cuek saja sambil mengambil ponselnya yang terjatuh ke bawah. "Jika Adelle tahu profesi kita, kita bisa berakhir di kantor polisi!" Drake tercekat ludahnya dan hampir tersedak saat berkata. Christian tahu resiko itu. Tapi sayangnya dia tidak punya pilihan lain selain jujur. Setelah Adelle tahu identitasnya, maka semua tergantung seperti apa reaksinya nanti. "Oh tuhan… Kirimkan saja aku malaikat maut yang cantik dan sexy! Persetan dengan Christian! Siksa saja dia dengan Adelle!" Drake berdoa sungguh-sungguh dan diabaikan tentunya oleh Christian. -Sebulan kemudian- Sebulan sudah Adelle tidak mendengar kabar Christian sejak ia mengusirnya dari rumah. Dan kehidupannya juga berjalan normal selama sebulan penuh tanpa hambatan. Seperti pagi ini, Adelle mengawali harinya dengan duduk di halaman sambil minum teh. Ia ditemani oleh Marina si peracik teh handal kebanggaannya. “Sudah sebulan berlalu dan aku tidak lagi mendengar kabar tentangnya. Rasanya seperti kejadian tidak penting yang mudah sekali terlupakan.” Marina mendesah lesu mengingat kejadian waktu itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD