Bab 11. Ancaman

1012 Words
"Kembali itu bukan penyesalan, Christian. Jika kau terus maju yang ada kau semakin terperosok. Apa kau tidak lihat aura suram di depan sana?" Drake menarik lengan Christian untuk mundur beberapa langkah ke belakang. "Apa kau lihat apa yang ada di atas sana?" Christian menatap plat nama di atas gapura lalu berkedip beberapa kali. "Tulisan, Cameron Manor?" "Ck!" Drake hampir gila sungguhan rasanya. "Burung gagak! Ada burung gagak di atas gapura!" Drake berkata dengan nada frustasi sekali. "Lalu?" Christian tidak mengerti dengan percakapan ini. Apa hubungannya Cameron Manor dengan burung gagak? Dia menggeleng sebelum kembali maju menunggu mobil jemputan yang Alden janjikan. "Apa kau tidak mengerti, Christian? Bisa saja Adelle sebenarnya seorang psikopat yang suka menguliti manusia, kanibal atau bisa saja dia memelihara zombie di basement bawah tanah-" "Ekhem! Nona Adelle hanya wanita lugu yang diberi kelebihan kecerdasan otak saja, Tuan Drake. Anda bisa menanyakannya padaku jika ingin tahu lebih banyak tentang Nona Adelle." Christian dan Drake kompak menoleh pada Dante yang tampak tersinggung dengan ocehan Drake sejak tadi. Alden tersenyum lebar sambil memainkan lidahnya. Apakah tidak ada hal lain yang bisa mereka bicarakan selain khayalan tingkat tinggi itu? Drake sendiri terdiam setelah mendengar dengan telinganya sendiri pelayan penjaga pintu gerbang itu mengatakan bahwa Adelle wanita lugu. Bisa gila jika lama-lama berada di dalam ruang lingkup pelayan maniak seperti mereka. "Silahkan, akan hamba antar sampai depan kastil." Perkataan Alden mendapat desisan jengkel dari Drake. Tapi Christian tampak biasa saja dan menganggap tingkah menyebalkan Alden bentuk defensive sebagai pelayan pribadi Adelle. Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil dengan Alden menjadi supirnya. Mobil hitam metalik yang mengeluarkan suara tidak enak itu sedikit mengusik Drake. Ia mengamati interior mobil yang tampak sekali ketinggalan zaman itu. Tidak ada tombol untuk menurunkan kaca jendela. Tuas putar yang sudah pasti akan berderit jika Drake memaksa menurunkan kaca jendela. Saat tangannya hendak memutar tuas, tiba-tiba Christian menampar punggung tangannya. "Apa?" Tanya Drake emosi. Apakah menyentuh tuas itu bisa membuatnya kehilangan nyawa? Matanya mendelik menatap Christian. Tapi Christian malah memandangi setiap inci interior mobil itu. "Aku sangat tersanjung bisa duduk di dalam mobil antik ini. Apakah ini kendaraan sehari-hari Nona Adelle?" Christian bertanya sembari mengelus daun pintu mobil. Drake langsung melotot beringas ikut memandangi interior yang ada. Dia pikir pelayan Adelle sengaja menjemputnya dengan mobil tua senagai bentuk penghinaan. Tapi ternyata mobil antik era bangsawan. Alden tertawa dan menatap dua orang i***t yang norak itu dari kaca depan. "Sayangnya tidak. Mobil ini hanya digunakan untuk mengantar jemput Nona Adelle ke area di sekitar Manor. Apa yang Anda harapkan dari mobil delapan silinder ini, Tuan? Melaju di jalan dan membelah lautan?" Tanya Alden begitu sakarstik. Tapi Christian tersenyum kecil menanggapinya. "Usia mobil ini lebih tua dari usia kakekmu, pelayan. Di era bangsawan dulu, mobil ini sering dipakai oleh kalangan bangsawan karena tahan peluru dan bisa melaju sekencang mobil sport. Di zaman sekarang, seharusnya mobil ini istirahat di dalam museum. Dan sekarang aku seperti duduk di atas punggung kakek tua bungkuk yang renta." Ucap Christian yang ternyata tidak sampai hati menaiki mobil antik. Drake malas sekali menghadapi si penggila barang antik itu. Semua benda lama, atau bahkan fosil sekalipun akan ada daya jual yang tinggi jika Christian sudah berbicara. Tapi yang benar saja! Drake yakin kakeknya belum lahir di era bangsawan yang Christian bicarakan. "Sayang sekali. Nona Adelle yang memerintahkanku untuk menjemput para tamu dengan mobil ini." Tiba-tiba Drake menghentikan mobilnya dan berbalik untuk menatap kedua tamu di kursi belakang. "Dengar ini, berengsek. Aku tidak akan segan membunuh kalian di dalam mobil ini jika kalian berniat buruk pada Adelle. Itulah kenapa aku meminta Adelle untuk menjemput kalian dengan mobil anti peluru ini, dumbass! Camkan itu." Drake terlambat menutup mulutnya yang menganga setelah Alden mengancam dan mengatai mereka bodoh. Christian sendiri melirik ke bawah ketika moncong pistol sudah terarah ke arah perutnya. Ancaman itu bukanlah gertakan sambal belaka. Drake pun menegakkan punggung lalu merapikan dasinya yang tidak miring. "Ekhem! Mari kita lanjutkan perjalanannya." Ucap Christian sengaja menunjuk ke arah depan. Alden berdecih sebelum ia berbalik dan mengendarai mobilnya lagi. Tapi yang membuat Drake masih bertingkah horor adalah moncong pistol itu masih terarah ke belakang. Entah berapa lama lagi perjalanan agar sampai di depan pintu karena Alden tampak sengaja melambatkan laju mobil. Setelah perjalanan yang penuh ketegangan tadi, akhirnya mereka bertiga sampai di depan pintu besar yang luar biasa kastil sederhana Adelle Cameron. Christian dan Drake pun turun lalu bertatap muka dengan Sullvian. "Aku yakin seluruh manusia dan makhluk lainnya yang ada di dalam kastil ini membenci kedatangan kita." Drake berbisik dengan meminimalisir gerakan bibirnya agar tidak menyinggung para pelayan. "Jaga perkataanmu, Drake. Kau pikir aku ketua asosiasi pemburu hantu?" Christian sengaja berjalan agak cepat meninggalkan Drake. Lelah jika setiap saat harus mendengarkan khayalan fantasinya. Sullvian tidak berkata apa-apa ketika mengantar dua orang asing menuju ruang tamu. Sesampainya mereka disana, Christian melihat Adelle berdiri memandang ke arah jendela. "Maafkan atas tindakan para pelayan pribadiku, Christian. Apakah perjalanannya menyenangkan?" Adelle menyapa begitu tenang. Drake tidak lagi membuka mulut karena saat di mobil dia hampir kehilangan rohnya. "Bagiku tidak masalah, Nona Adelle." Christian tersenyum dan seperti biasa dia meraih tangan Adelle lalu menciumnya. Sikap romantisnya itu membuat tangan Sullvian gatal sekali ingin menghantamkan vas bunga ke kepala Christian. Adelle sendiri mengakui jika Christian memang sosok pria gentleman yang romantis. Tapi melihat sikapnya itu, Adelle sudah merasa sejak pertemuan mereka pertama kali, Christian sudah tertarik dengannya. Adelle duduk lebih dulu di atas sofa dan kemudian seorang pelayan wanita datang membawakan minuman untuk para tamu. Drake yang baru kali ini mendatangi kediaman keluarga Cameron pun tanpa sadar menatap kesana kemari dengan tidak sopannya. "Bagaimana pekerjaanmu hari ini, Tuan Christian?" Adelle bertanya lebih dulu sengaja mencairkan suasana. Christian tersenyum tipis ketika melihat gerak tubuh Adelle yang tampak santai sekali jika di rumah. Rasanya siang tadi dia melihat punggung tegak dan dagu yang terangkat. "Aku bekerja setengah hari karena aku pergi ke rumah sakit siang tadi." Ucap Christian sengaja dan hilang sudah senyuman dari bibir Adelle. "Apakah karena kejadian kemarin malam?" Tanya Adelle dan Sullvian memicingkan mata. Ia berpikir Christian datang sekaligus menuntut ganti rugi setelah aksi heroiknya menyelamatkan Adelle.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD