Bab 10. Tamu yang Datang

1013 Words
Dan setelah Felicita pergi dari kediamannya, Adelle bisa merasakan ketenangan lagi. Ia menyudahi acara makan siangnya dan menyusul ketiga sahabatnya di ruangan biasa. Yang ternyata disana mereka tengah berkumpul dengan para pelayan lain. “Wanita itu sudah pergi?” Tanya Alden antusias. Adelle mengangguk sekali sambil tersenyum kecil. “Kenapa? Kalian takut dengan nenek sihir itu?” Tanya Adelle mengejek dan Dale langsung berdiri tegak dari kursinya. “Aku tidak pernah takut dengan wanita itu.” Ucapnya gagah berani. Tapi Sulli terkekeh setelah ia menghisap rokoknya. “Padahal tadi kau yang pertama mengajak untuk resign.” Dale tidak bisa berkata-kata lagi. “Ck! Kalian pergilah ke ruang makan. Minta Marina untuk mengantarkan sup jamur ke kamarku. Aku tidak berselera makan setelah wanita itu mengacaukan moodku.” Alden mengangguk dan mempersilahkan Adelle untuk istirahat di kamarnya. Hari yang berat untuknya bukan? Alden tahu Adelle saat ini sedang tidak baik-baik saja. “Punggung sekecil itu mampu memikul beban seberat dunia.” Gumamnya sedih. “Adelle bisa sekuat itu juga karena ada kita di sampingnya. Jangan lupakan kita ini sudah seperti keluarga baginya. Jangan kecewakan dia.” Kata Sulli menepuk pundak Alden dan pergi menuju ruang makan. Sesampainya Adelle di kamarnya, ia langsung merebahkan diri di atas ranjang dengan pasrah sambil menyentuh keningnya. Masalah keluarga yang tidak pernah ada habisnya ini terkadang sulit untuk membuatnya bertingkah pura-pura tidak tahu. Entah apa yang akan Felicita lakukan hari ini, Adelle tidak mau tahu. Adelle butuh melemaskan punggungnya karena terlalu tegang sejak ia bangun siang tadi. Dan sekarang hari sudah mulai sore, ia bahkan belum sempat mandi dengan benar hari ini. Tapi disaat Adelle hendak memejamkan mata sejenak, ia sudah terbuai ke alam mimpi karena terlalu nyaman berbaring. ### Malam harinya, Alden bertugas berjaga malam hari ini. Dia sudah menyiapkan mug stainles steel untuk menyeduh kopi saat tengah malam nanti. Dilihatnya seorang pria paruh baya berjenggot putih itu duduk sudah dengan segelas kopi yang uap panasnya mengepul. “Aku bahkan belum menyalakan sebatang rokokku malam ini, dan kau sudah memulai lebih dulu menyeduh kopi.” Kata Alden berteriak sambil berlari menuju pos jaga. Pria tua bernama Dante itu terkekeh sambil sesekali menyentuh kedua lututnya. Memang di usianya yang sudah menyentuh angka 50 ini membuat Dante mudah terserang angin malam. Satu-satunya penghangat malam hanya kopi karena dokter sudah melarangnya untuk merokok. "Melihat gaya hidupmu yang jorok, aku yakin kau akan osteoporosis lebih cepat dariku." Alden mendengus meremehkan. Ekspresinya tampak sekali mengabaikan perkataan Dante. "Itu tidak akan terjadi padaku. Aku rutin lari pagi setiap pukul tujuh dan rajin makan pisang.” Kata Alden mengangkat sebuah bantal tipis dari atas kursi. “Bantal apa ini?” Tanyanya pada Dante. Dante melirik bantal itu lalu mengambilnya seperti orang kurang semangat. “Ambeien. Aku juga berpikir mulai rutin makan pisang sepertimu setiap hari.” Alden terdiam mendengarnya. Dante adalah pelayan tertua diantara semua pelayan di Manor ini. Sayangnya di usianya yang sudah setua ini, dia enggan berhenti bekerja karena terlalu sayang dengan pekerjaannya. Adelle sudah memintanya untuk pensiun dan akan memberikan uang jaminan masa tua untuk Dante. Tapi pria tua yang suka memainkan senter ini lebih suka bekerja walaupun tidak digaji sekalipun. Alden membuka loker kecil di belakang pintu dan mengambil sebuah jaket. “Pakailah jaket jika bekerja malam.” Kata Alden pengertian sekali menyerahkan jaket itu pada Dante. Dante tersenyum kecil karena dia sudah seperti tengah bekerja dengan cucunya saja. “Apakah aku sudah terlihat sangat renta? Hari ini tidak hujan, bodoH.” Alden memutar matanya malas. “Aku tahu kau takut jarum suntik, Dante. Cepat pakai jika tidak ingin masuk angin.” Hari masih pukul delapan malam dan radio tua kesayangan Dante memutarkan sebuah lagu romantis zaman kolonial. Alden yang baru saja kembali setelah berkeliling membuang puntung rokoknya lalu menyalakan rokok yang baru. Tiba-tiba sebuah sinar terang terlihat di ujung jalan utama Manor. Alden tentu saja langsung berjaga di dekat pintu sambil menunggu mobil itu sampai di depan gerbang. “Apakah Nona Adelle memberi pesan akan kedatangan tamu malam ini?” Dante ikut keluar dari pos. Alden memicingkan mata karena dia tahu siapa yang akan datang malam ini. “Segera hubungi Sulli.” Dante kembali lagi ke dalam pos. Alden sengaja tidak langsung membuka pintu pagar dan sengaja membiarkan mobil itu mengklakson keras. Dan saat kaca jendela diturunkan, tatapan mata Alden langsung beradu tatap dengan Drake dan saling berjengit ganas. “Apa kau tidak lihat ada tamu yang datang, pelayan? Cepat buka pintunya.” Drake memaki sekaligus merendahkan Alden. Tapi tentunya Alden punya rencananya sendiri dan sengaja memasang ekspresi ‘Oh? Maaf, aku tidak tahu’ pada Drake. “Aku tahu ini mengganggu Anda. Tapi peraturan di Cameron Manor mengharuskan para tamu untuk menggunakan mobil jemputan masuk ke dalam Manor.” Kata Alden tersenyum kecil dengan kedua tangan tertaut. “What?! Kau pikir kami ini dari keluarga b***k? Cepat buka pintunya sialan!” Drake naik pitam dan sengaja menunjuk-nunjuk Alden tidak sopan sekali. Tapi justru pemandangan itu sangat menyenangkan bagi Alden. "Ikuti, atau tidak sama sekali." Ucap Alden dengan senyuman menyebalkan. Drake menoleh ke belakang dan menyaksikan Christian memutar matanya malas. Ia membuka pintu mobil dan keluar untuk mengikuti permainan menjengkelkannya. Alden tahu Christian akan mengikutinya karena dia tahu pria itu hanya ingin bertemu dengan Adelle saja. Sembari menunggu Alden menyiapkan mobil, Christian menatap manor megah yang dihiasi lampu-lampu vintage. Drake membanting pintu mobil dengan kuat dan tak lupa ia melayangkan tatapan menusuknya pada Alden. "Ketiga pelayannya menyebalkan, Christian. Kau yakin akan melanjutkan ini semua?" Tanyanya mencoba sekali lagi untuk menyakinkan bosnya. Ini semua hanya masalah waktu sampai Christian bosan dengan Adelle. Lalu Drake bisa segera kembali ke kehidupan normalnya, bekerja, tua lalu mati. Katakan saja Drake tidak butuh pekerjaan paruh waktu menjadi supir paling sial di dunia. Sayangnya Christian tidak peka dengan moodnya. Lihat saja tatapan matanya sekarang. Menatap manor dan mencoba menebak dimana kamar 'Nn. Gold digger only interested in money' itu berada. Ya, itu nama panjang yang diberikan oleh Drake sendiri. "Setelah memulai, tidak ada jalan kembali, Drake. Jika kembali, itu adalah penyesalan." Kata Christian mendadak jadi pujangga. Drake mengangguk beberapa kali dengan jari-jari tangan yang memijat kuat pelipis mata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD