Satya masih memeluk Rissa dengan eratnya. Hatinya kian berkecamuk, serta aliran darahnya mendadak berpacu deras. Otaknya sibuk menerka, apa benar sang isteri sudah kembali seperti sedia kala, mengingat semuanya. Lidahnya kelu, terasa sulit merangkai kata-kata. Satya bahkan lupa jika di ruang itu masih ada orang lain selain dirinya. Dokter Diftan, suster dan Kinanti, sekian menit mereka hanya menjadi pemirsah atas suguhan mengharukan yang ada di depan mata. "Mas..Satya, lepasin!" Tiba-tiba kerongkongan Satya semakin terasa tercekat, kaitan tangannya terhempas dan melunglai. Hah! Jadi tidak benar kalau Rissa telah kembali ingatannya? Buktinya gadis itu menyadari keberadaan Satya, lalu seperti kemarin kemarin, meminta Satya menjauh darinya. Satya tergagap, "Ma--maaf," ucapnya melepas

