Bab. 9

1695 Words
Tubuh Rissa bergetar menyaksikan pemandangan di depannya saat ini. Gemuruh badai seketika menghantam ulu hatinya, apalagi melihat Kirana yang terlihat sangat shock dan jatuh pingsan dengan kabar pernikahannya dengan Satya. Rissa merutuk, merasa serba salah dihimpit keadaan. Allah, sungguh dalam hati Rissa tak ingin berada dalam posisi seperti saat ini. Sebagai sesama perempuan tentu saja Rissa sangat paham yang dirasakan Kirana saat ini. "Kirana, bangun. Mas mohon jangan seperti ini," Satya yang panik masih berusaha menyadarkan Kirana. Dari sorot mata lelaki itu Rissa bisa melihat ada raut penyesalan yang mendalam. Sekian menit Satya berusaha, tapi nihil. Kirana masih bergeming dengan mata terpejam, tak menunggu lama lagi, Satya membopong tubuh Kirana memuju mobilnya tanpa berkata apapun pada Rissa. Entah kenapa, hati Rissa terasa dicubit menyaksikan pemandangan itu. Sakit meski tak kentara. "Satya akan membawa Kiran ke rumah sakit, Yah, Bu." pamit Satya pada ayah-ibunya, namun lelaki itu lupa untuk pamit pada Rissa. Satya melewatinya begitu saja. Rissa terhenyak saat ibu Satya mengelus pelan lengannya. "Jangan kawatir, semua akan baik-baik saja Nak," ucapnya menenangkan. "Iya Bu, apa Rissa perlu menyusul mas Satya, Bu?" "Iya, kita akan kesana bersama-sama Nak, biar bagaimanapun kami punya andil untuk memberi penjelasan, apalagi pada kedua orangtua Kirana." sekali lagi ulu hati Rissa terasa tertohok. Bagaimana nanti jika kedua orangtua Kirana tidak terima dengan kenyataan yang ada. Allah, Rissa merasa takut serta cemas memikirkan segala kemungkinan yang terjadi. Melangkah ke mobil ayah Satya, Rissa terus saja merapal do'a dalam hati. Memohon agar urusannya dimudahkan, dan apapun yang terjadi nanti ia harus lapang menerimanya dengan ikhlas. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Rissa dan yang lain tetap dalam geming masing-masing. Ekor mata Rissa sesekali melirik pada ayah dan ibu mertuanya. Rissa bisa menangkap gurat kecemasan dari wajah ayah dan ibu Satya. Rumah sakit terdekat dari rumah Satya tujuan mereka. Tadi saat dijalan Satya sempat mengirimkan pesan pada ayahnya bahwa ia membawa Kirana kesana. Tadi ibu Satya juga sempat bercerita sedikit pada Rissa, jika Kirana mengidap lemah jantung, yang menyebabkan gadis itu shock tak sadarkan diri setelah mendengar penjelasan Satya. Semakin menggunung pula rasa bersalah merasuki hati Rissa seiring cerita ibu mertuanya. Sampai di rumah sakit, ayah Satya langsung menuju recepsionis dan menanyakan tempat Kirana dirawat saat ini. Setelah mendapat nomer ruang perawatan, mereka bergegas menuju kesana. "Mau apa kalian datang kesini!" langkah mereka tertahan, saat baru akan memasuki ruang perawatan, mereka dihadang oleh seseorang. Rissa memperhatikan lelaki paruh baya yang mencegatnya serta ayah dan ibu Satya. Rissa menebak jika orang tersebut adalah ayah dari Kirana. "Belum cukup kalian buat putriku hampir sekarat! Lebih baik kalian pergi dari sini," ucapnya berapi-api. "Kami mohon maaf pak Handoko, semua diluar batas kemampuan Kami, Saya harap Pak Handoko mau mendengarkan dulu penjelasan dari Kami." sahutan dari ayah Satya pada ayah Kirana yang bernama pak Handoko itu. Rissa tak berani mengangkat wajahnya, bukan karena dia takut, tapi lebih karena rasa sesalnya yang menyebabkan semua ini terjadi pada Kirana. Rissa juga sempat melirik sekilas pada pak Handoko. Lelaki tua itu menyiratkan amarah di kedua matanya. "Jadi karena gadis kampungan ini!" ucap pak Handoko disertai tatapan tajam pada Rissa. "Oom, Satya mohon. Jangan berkata seperti itu, namanya Rissa." Satya yang entah dari mana, tiba-tiba muncul di samping Rissa dan membalas ucapan pak Handoko. Rissa ingin menghalau agar Satya tidak terpancing, namun urung. Gadis itu memilih diam serta menunduk dalam. "Kalau sampai terjadi sesuatu pada puriku. Aku bersumpah tidak akan melepaskan kamu, Satya." tatapnya tak kalah tajam pada Satya. Lelaki yang dipanggil pak Handoko itu mencengkram kerah baju Satya saat berucap. Rissa sudah takut kalau-kalau akan ada kekerasan fisik yang terjadi. "Papa...Kirana sudah sadar," semua mata tertuju ke dalam ruangan saat teriakan menyebutkan bahwa Kirana telah sadar. Pak Handoko seketika melepas cengkraman tangannya pada Satya. Lelaki paruh baya itu secepatnya menghampiri sang isteri yang tadi manggilnya. Serempak mereka ikut masuk ke dalam, kecuali Rissa. Gadis itu memilih untuk enyah dari sana, Rissa kawatir jika nanti Kirana akan kembali histeris saat melihatnya. Rissa pikir mungkin lebih baik untuk saat ini, membiarkan Satya dan kedua orangtunya memberi penjelasan pada Kiran. Apalagi jika teringat akan kemarahan pak Handoko, Rissa takut akan terjadi keributan lagi. "Kirana, Kamu sudah sadar." Satya langsung menghampiri Kiran. Gadis itu memalingkan wajahnya, tak ingin menatap Satya. "Pergi Kalian semua dari sini. Biarkan Kirana beristirahat dengan tenang!" pak Handoko kembali menghardik Satya dan kedua orangtunya. "Pa, Ma. Kirana ingin bicara berdua dengan Mas Satya, Kiran mohon tinggalkan Kami dulu," Kirana membalas ucapan papanya yang sempat mengusir Satya barusan. "Buat apalagi Kamu bicara pada laki-laki ini." pak Handoko menatap Satya dengan raut tak suka. "Tolong Pa, Kirana mohon." rengek Kirana, akhirnya mendapat anggukan dari pak Handoko dan isterinya. Sepeninggal kedua orangtua Satya dan Kirana dari ruang perawatan. Satya mendekat, dia memilih duduk di sebelah brangkar tempat Kirana berbaring. "Kirana," Satya ingin mengambil tangan Kirana untuk ia genggam, namun dengan cepat ditepis olehnya. "Kamu jahat Mas!" "Maafkan Mas." "Kenapa mas Satya ingkar janji, apa salah Kiran?" Kirana mulai emosi kembali, gadis itu melemparkan pertanyaan sambil terisak-isak. "Mas mohon, tenang dulu Kiran, Mas akan menjelaskan semuanya." bujuk Satya. Kirana menurut, sejurus dia terlihat diam dan tidak berteriak lagi. Satya mulai memberi penjelasan pada Kirana. Sepanjang ucapannya, Satya tak berani menatap ke dalam manik mata Kirana. Rasa bersalah menyergap jiwa Satya. Sedang Kirana, gadis itu makin tak bisa menahan isakannya. "Maafkan Mas, karena sudah menyakiti Kamu. Mas tidak bisa berbuat apa-apa, karena sudah terlanjur berjanji..." "Lalu janjimu padaku bagaimana Mas? janjimu pada kedua orangtuku!? Kamu tega Mas, Kamu benar-benar jahat." Kirana masih terus meracau tak terima meski Satya sudah menjelaskan dan berkali-kali meminta maaf. Tak ada pilihan, Satya meraih Kirana untuk ia dekap, agar gadis itu kembali tenang. "Jangan seperti ini Kiran, Mas mohon." Kirana malah semakin menangis dalam pelukan Satya. Tangannya mengait erat di pinggang Satya, seakan ingin menegaskan jika Satya adalah miliknya, jika dia tak ingin Satya berpaling darinya. "Kenapa Kamu jahat Mas, apa salah Kirana. Kamu tega," ucap Kirana terlihat sangat kacau. "Maaf Kiran, maafkan Mas. Mas memang bersalah dan tidak tahu diri, Mas mohon, jangan menangis terus." "Mas Satya yang membuatku seperti ini." "Iya, Mas memang bersalah, tolong beri kesempatan pada Mas untuk menebus kesalahan Mas." "Mas mau menebus kesalahan Mas?" "Iya Kiran, apa yang bisa Mas lakukan agar Kamu mau memaafkan Mas?" "Ceraikan dia dan nikahi Kirana. Seperti rencana kita sebelumnya. Apa Mas Satya sanggup?" Satya bergeming mendengar permintaan Kirana. Dia memang sangat merasa bersalah pada gadis itu, akan tetapi permintaan Kirana benar-benar diluar nalar Satya. Mana mungkin lelaki itu akan tega dan mengabaikan janjinya pada Marissa. Janji pada Rissa adalah janjinya langsung dihadapan Allah, disaksikan oleh para Malaikat, saat helaan napas Satya mengucap nama Marissa dalam akadnya. Sedang janji pada Kirana hanyalah, janji sesama antar manusia, disaksikan oleh sesama manusia juga. Jika ingin menilai janji mana yang lebih layak untuk ia pertahankan, sudah pasti jawabannya adalah Rissa, tetapi rasa bersalah yang kadung bersarang di hati Satya juga tak bisa ia abaikan begitu saja. "Kenapa Kamu diam Mas? berarti sudah jelas, selama ini Kamu hanya mempermainkan perasaanku, Kamu tidak benar-benar mencintaiku Mas." Kirana sudah kembali terisak saat melihat Satya hanya bergeming atas permintaannya. "Kirana, jangan seperti ini. Mas bisa memenuhi segala permintaan Kamu, asal jangan menyuruh Mas untuk melanggar janji Mas pada Rissa." Satya masih berupaya menego kemauan Kirana. Mata gadis itu menyorot tajam mendengar jawaban Satya. "Baik, Aku tidak akan menyuruh Mas menceraikan dia. Tapi Mas Satya harus tetap memenuhi janji Mas padaku." "Maksud Kamu bagimana Kiran?" "Nikahi Aku, Mas..." "Kirana..." "Kalau Mas Satya bersikeras tidak ingin melanjutkan rencana pernikahaan Kita, lebih baik Aku mati saja! Aku ngga mau hidup lagi...!" Kirana kembali histeris. Gadis itu memukuli dirinya sendiri sampai infus ditangannya terlepas. Lagi-lagi, tak ada pilihan lain bagi Satya untuk menenangkan Kirana selain mendekapnya erat. "Kirana berhenti! jangan menyakiti diri Kamu sendiri kayak gene." "Biarkan saja Mas, buat apa lagi Kirana hidup. Lebih baik Kiran mati saja." "Iya, oke! Mas janji akan menikah dengan Kamu." janji akan menikahi Kirana meluncur begitu saja dari bibir Satya. Kirana langsung terdiam, saat Satya berucap akan menikah dengannya. Gadis itu mengeratkan kaitan tangannya pada Satya. Duri dosa diam-diam menelusup ke dalam sanubari Satya. Bagaimanapun dia dan Kirana belum sepenuhnya menjadi mahram, dan lagi mungkin akan ada hati yang tersakiti saat ini jika tak sengaja melihat adegan dirinya dan Kirana. "Mas janji kan, akan menikah denganku?" "Iya, Mas janji Kiran. Sudah ya, kamu jangan seperti ini lagi." "Mas, jangan jauh-jauh dariku." "Mas di sini, ngga akan kemana-mana. Kamu sekarang istirahat ya." Satya membimbing Kirana untuk berbaring kembali. Usai membantu Kirana, lelaki itu tidak bisa segera beranjak dari sana, karena Kirana menggenggam erat jemarinya. Satu nama yang terus berputar di otak Satya saat ini. Hatinya risau memikirkan nama itu, Marissa, gadis itu yang kini memenuhi otak Satya. Hati kecil Satya ingin beranjak dari ruang perawatan ini sesegera mungkin dan menghampiri Rissa. Namun keadaan membatasi untuk saat ini. Sesak, nyeri dan sakit. Tiga kata yang mungkin tepat untuk mendeskripsikan perasaan Rissa saat ini. Tadinya Rissa berniat menengok keadaan Kirana, karena dia rasa mungkin suasana sudah agak tenang. Namun justru kini hatinya yang dilanda rasa tak tenang, saat mendengar permintaan Kirana pada Satya. Sepasang netranya menjadi saksi saat Satya mendekap erat Kirana. Dan sepasang indera pendengarannya merekam ucapan janji Satya yang mengatakan akan segera menikahi Kirana. Allah, haruskah seperti ini? Tidak pernah terbayangkan dalam benak Marissa jika dia akan menjalani pernikahannya dengan berbagi suami dengan perempuan lain. Rissa jadi tidak paham dengan perasaanya saat ini. Bukankah ini adalah salah satu konsekuensi yang dari awal sudah harus ia terima. Tetapi kenapa tiba-tiba hatinya memberontak, seakan tidak rela jika Satya menjadi milik orang lain. Rasanya lebih menyakitkan daripada saat Adam pergi meninggalkannya. Rissa berulangkali menarik napasnya panjang, wajahnya mendongak keatas untuk menghalau gelombang air yang sudah menggandung di pelupuk matanya. Dia gagal. Awan hitam pekat berhasil menyambangi jiwa Rissa, setetes demi setetes hujan airmata memenuhi permukaan wajah gadis itu. Percuma saja menahan, tetap jatuh juga airmata gadis itu. Rissa merasa menjadi orang yang paling terluka untuk saat ini. Apalagi sejak masih di rumah hingga sampai rumah sakit, Satya tak menyapa ataupun mencoba menemuinya sama sekali. ####### Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD