Bab. 10

1490 Words
Rintik gerimis mengiringi langkah Rissa meninggalkan ruang perawatan Kirana. Pilu kembali merayapi hatinya. Apalagi jika terngiang kata-kata serta janji yang Satya ucapkan pada Kirana beberapa saat lalu. Langkahnya gontai, berjalan ke arah kafe yang berada persis di sebelah rumah sakit. Gadis itu urung memasuki ruang perawatan Kirana, karena saat baru saja sampai di depan pintu, indera pendengaran Rissa mendengar sesuatu yang menyesakkan dadanya. Tadinya Rissa ingin melihat keadaan Kiran, serta meminta maaf karena merasa bersalah. Namun hati Rissa tak cukup kuat mendengar kenyataan janji yang Satya ucapkan pada Kirana. Kenapa kau tak rela Rissa! bukankah dari awal memang kau tahu kalau ini konsekuensinya. Batin Rissa bergemuruh. Gadis itu menarik napasnya panjang, serta sesekali wajahnya mendongak keatas, guna menghalau butiran yang ingin tumpah di kedua kelopak matanya. Jangan-jangan kau memang sudah jatuh ke dalam hati Satya, Rissa! Kau mencintainya. Hatinya kembali berbisik. Rissa menggelengkan kepalanya, sebagai tanda ia tak setuju dengan suara hatinya. Sampai di kafe, Rissa mengambil tempat paling sudut. Berada di dekat kaca, mata gadis itu bersinggungan langsung dengan buliran dari rintik hujan yang menetes. Suasana yang sangat pas sekali untuk mendeskripsikan perasannya saat ini. Pilu itu kembali meruangi sudut hati Rissa. Setengah dari jiwanya terasa melambai, akan pergi menjauh darinya. "Maaf, boleh Saya gabung di sini?" Rissa mendongak saat mendengar sapaan asing dari seseorang. Mata Rissa sekian detik, memonitor sekitarnya. Tempat dalama ruang kafe seketika penuh. Mungkin karena diluar sedang turun hujan, jadi semua pengunjung yang berada di outdoor memilih masuk ke dalam. Rissa mengangguk pelan, sebagai jawaban permintaan orang tersebut. "Sendirian saja?" pertanyaan kembali bergulir dari seseorang yang kini duduk tepat di seberang Rissa. Kembali gadis itu hanya menjawab dengan anggukan. Mulutnya masih setia mengatup. Rissa sedang malas sekali untuk berbincang, apalagi dengan seseorang yang tak dikenal. Orang yang duduk di dekat Rissa itu terlihat melambaikan tangan, memanggil pelayan kafe. "Mau pesan sekalian?" ucapnya kembali bertanya serta menawari Rissa. "Vanila latte..," ucap Rissa memesan salah satu minuman anadalan kesukaannya. "Hanya itu?" "Iya.." Lelaki di seberang itu terlihat memberi tahu pada pelayanan kafe tentang pesanannya. Rissa masih setia pada gemingnya. Ia malas sekali untuk bertutur, apalagi jika terngiang perkataan Satya. "Masalah itu ada untuk dihadapi, bukan untuk ditinggalkan." suara dari seberang Rissa membuat gadis itu mengangkat matanya seketika. Siapa lelaki sok tahu di depannya itu. Seolah-olah dia sangat paham dengan apa yang dirasakan Rissa saat ini. "Tidak usah bingung begitu, Saya bisa membaca dari raut wajah Kamu. Sepertinya sedang ada masalah, sampai-sampai enggan sekali untuk sekadar bertegur sapa. Oh, iya. Kenalkan, Saya Rey, dokter intersip di rumah sakit ini." lelaki yang mengaku sebagai dokter itu mengulurkan tangan pada Rissa. Gadis itu ragu, sejenak dia tertegun dan tidak menyambut perkenalan dari si dokter, tetapi detik berikutnya Rissa membalas dengan senyum tipis serta menyebut namanya. "Rissa. Nama yang cantik, secantik orangnya. Tapi sayang, wajah cantiknya hampir tidak menampkakn senyum. Coba kalau Kamu senyum, pasti terlihat semakin cantik." ucapan dari Rey, sedikit membuat hati Rissa terhibur. Mengulum senyum, saat indera telinganya mendengar kata-kata yang menjurus sebuah gombalan dari Rey. "Nah gitu dong, senyum Rissa. Kan makin manis," sambung Rey sekali lagi. Rissa tak menampik jika hatinya sedikit terhibur. Sejenak dia ingin melupakan tentang berbagai masalah yang menyambangi. Rasanya lelah sekali jika harus kembali dihadapkan dengan kenyataan. "Siapa yang sakit Ris?" "Hah?" "Kaget begitu, biasa saja dong ekspresinya. Aku tanya, Kamu lagi nungguin siapa yang sakit dan dirawat?" Rey melempar pertanyaan sampai dua kali. Rissa jadi agak bingung harus menjawab apa. Pasti Rey akan bingung jika dia menjawab bahwa saat ini yang tengah terbaring di ruang perawatan adalah calon istri dari suaminya. "Saudara," jawab Rissa. Akhirnya memilih kata saudara. Sementara Rey hanya menyahut dengan kata 'oh' panjang. Rey sangat humoris sekali. Lelaki itu bahkan bercerita panjang lebar tanpa ditanya. *** Mata Satya sebentar-sebentar melirik ke arah pintu. Lelaki itu takut kalau nanti Rissa akan melihat dirinya yang sedang memeluk Kirana. Ruang hatinya disusupi rasa gusar, tidak nyaman saat kaitan tangan Kirana tak mau lepas juga. "Kiran, bisa Kamu lepas sebentar tangannya?" Satya sudah tidak tahan lagi. Ingin secepatnya menyeret langkah keluar untuk menemui Rissa. Bagaimanapun dia harus memberi penjelasan serta meminta maaf pada Marissa. Mata Kiran menatap curiga. Pandangan gadis itu mengintimidasi Satya. Seakan matanya berbicara, bahwa ia tak rela Satya enyah dari sana. "Mau kemana Mas? jangan tinggalin Kiran sendirian." rengeknya pada Satya. "Mas cuma ingin membeli minum sebentar Kiran, Mas haus sekali." Satya tidak bohong. Dia memang merasa sangat haus sekali. "Baiklah Mas, tapi janji ya, setelah itu langsung balik lagi kesini." Kirana melonggarkan kaitan tangannya. Satya lega. Akhirnya dia bisa melengang dari sana. Satya menjawab pernyataan Kirana hanya dengan anggukan pelan. Menyeret langkah menyusuri koridor rumah sakit, netra Satya tak henti memicing, mencari sosok Rissa, namun nihil. Sama sekali tak terlihat Rissa di sekitar sana. Beranjak ke taman di samping rumah sakit, pun sama. Satya memutuskan melangkah ke kafe di seberang, sejenak ingin menuntaskan rasa hausnya. Mungkin secangkir espreso panas bisa mengurangi penatnya hari ini. Masalah yang menyambangi hari ini benar-benar menyita seluruh pikiran lelaki itu. Satya memaku langkahnya saat indera matanya menangkap sesuatu. Rahang lelaki itu sontak mengeras serta giginya menggerutuk. Satya melihat Rissa sedang bercengkrama bersama seorang laki-laki. Bahkan sesekali gadis itu melempar senyum tipis. Hati Satya ternyata lebih kacau saat menghadapi situasi ini, daripada saat menghadapi tingkah Kirana. "Di sini rupanya Kamu!" sapa Satya saat sudah berdiri tepat di sebelah Rissa. "Mas Satya, Aku..." "Kita pulang sekarang." "Tapi Mas, bagimana dengan Kirana?" "Mas tidak peduli, Kita harus bicara Rissa." Satya menarik pergelangan tangan Rissa. Membuat gadis itu sedikit mengernyit atas sikap Satya. "Hei, jangan kasar sama perempuan! Siapa anda ini, datang-datang main tarik saja!" Rey rupanya bereaksi dengan tingkah Satya. Lelaki itu bahkan seketika berdiri menghalangi jalan Satya. "Saya Satya, suami Rissa." lantang Satya mengatakan bahwa dia adalah suami dari Rissa. Rey terdiam begitu mendengar kata-kata Satya. Tak memperdulikan tatapan bingung Rey, Satya membawa Rissa pergi dari sana. Rissa pasrah, gadis itu memilih menurut serta tak membantah suaminya. Sampai di dalam mobil mereka masih saling diam. "Siapa dia?" pertanyaan meluncur dari bibir Satya. Mata lelaki itu menampakkan sirat yang tidak biasa. Rissa melirik sekilas. Dalam hati, dia sangat bingung dengan polah Satya, kenapa lelaki itu tiba-tiba begitu nampak marah sekali. Memangnya dia salah apa. Bukankah harusnya Rissa yang lebih berhak marah, karena secara tidak langsung tadi menyaksikan suaminya memeluk perempuan lain. Bahkan suaminya juga memberi janji akan menikahi perempuan itu. "Rey, dia dokter..." "Ada hubungan apa Kamu sama dia, Rissa?" Satya memotong penjelasan Rissa. Padahal gadis itu belum menyeleseikan kata-katanya. "Ada apa dengan Mas? kenapa tiba-tiba marah padaku?" "Kamu masih bertanya kenapa Mas marah? Kamu pikir dong Risaa. Kamu itu isteri Mas, tapi seenaknya saja Kamu berduaan dengan laki-laki lain. Kamu tidak menghargai Mas sama sekali!" Satya mencak-mencak. Nadanya terdengar ketus dan emosi. Rissa pun tak kalah tersulut. Sudah sejak tadi dia menahan hati, agar jangan sampai terlihat kecewa di depan Satya. Tetapi lelaki itu kini malah menghakiminya sepihak. Tanpa mau mendengar penjelasannya lebih dulu. Rissa tertawa lirih. Antara ingin menangis dan menertawakan hidupnya yang penuh aturan. Sejak awal menerima pinangan Satya, dia sudah ragu. Bagaimana nanti rumah tangganya bisa berjalan tanpa adanya cinta. Apalagi saat tahu jika Satya sudah lebih dulu mencintai perempuan lain. "Kamu egois Mas!" ucapnya setengah terisak. "Maksud Kamu apa Rissa? Kamu yang seenaknya saja, berduaan bersama laki-laki lain. Ingat, Kamu itu sudah bersuami! Jangan bertindak seperti gadis liar." Kata-kata Satya kali ini sungguh keterlaluan di mata Rissa. Ada apa dengannya itu. Kenapa sekarang malah Rissa yang dijadikan tersangka oleh lelaki itu. "Iya, semua yang Kamu katakan memang benar Mas. Aku memang gadis yang tidak tahu diri. Jadi lebih baik Kamu ceraiakan saja Aku, dan Kamu bisa bebas menikahi Kirana. Itu kan yang Kamu janjikan sama dia tadi!" Rissa sudah tidak tahan. Dia meluapkan segala sesak di hatinya. Bahunya naik turun menahan isakan yang semakin mengeras. "Kamu jahat Mas! Kamu marah saat Aku berbincang bersama laki-laki lain. Padahal Kami hanya sekadar ngobrol dan tidak ada maksud lain. Sedangkan Kamu! Kamu berduaan dengan Kirana, kamu memeluk dia. Aku mencoba untuk mengerti. Kamu jahat!" Satya kaget dengan reaksi Rissa. Lelaki itu segera menepikan mobilnya sejenak. Dia merasa harus bicara pada Rissa. Rasa bersalah meruangi hati Satya. Ucapannya tadi memang sangat keterlaluan pada Rissa. Emosi benar-benar mengakuisisi perasaannya. Entah kenapa Satya sangat tidak rela melihat Rissa dekat, bahkan tersenyum pada laki-laki lain, "Rissa maafkan Mas, maaf Rissa." Satya menarik tubuh Rissa ke dalam dekapnya. Awalnya Rissa memberontak, namun Satya tak mau kalah dan terus mencoba menenangkan gadis itu. Kali ini bukan hanya isakan yang terdengar, tapi tangis Rissa pecah dalam pelukan Satya. Buliran hujan diluar sana terasa cukup mewakili isi hati Rissa saat ini. Sakit, kecewa dan tidak terima, saat Satya berencana menikahi Kirana. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, diam dan memendam semuanya sendiri. Rissa tak yakin hubungannya yang terjalin tanpa cinta bersama Satya akan bisa membuatnya bertahan di sisi lelaki itu. ########## Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD