"Maafkan Mas, Rissa. Mas benar-benar minta maaf, karena lagi-lagi sudah membuat kamu menangis."
Satya merangkul tubuh Marissa ke dalam dekapnya. Meskipun awalnya Rissa berontak dan menepis, tapi Satya tak mau kalah dan terus memaksa Rissa agar mau bersandar dalam pelukannya. Satya memejamkan matanya. Sesal menyeruak.ke dalam ulu hatinya, karena lagi-lagi sudah mengingkari janji. Kemarin saja janjinya tidak akan membuat Rissa kembali meneteskan airmata. Tapi kini yang terjadi justru sebaliknya.
Berkali-kali Satya mengecup pucuk kepala Rissa, sebagai ungkapan bahwa dia benar-benar menyesal, tadi keterlaluan serta sudah bersikap kasar dan menuduh yang tidak-tidak. Satya sendiri heran. Ada apa dengannya kini. Laki-laki dilanda pertanyaan besar, akan perasaannya sendiri. Kenapa dia merasa sangat tidak rela menyaksikan Rissa akrab dengan laki-laki lain. Apalagi saat senyuman Rissa mengembang dan bukan untuknya, tapi untuk laki-laki lain. Satya tidak terima.
Emosi merasuki otak Satya saat melihat Rissa berduaan di kafe bersama laki-laki bernama Rey itu. Satya mengusap wajahnya kasar, menyesali kebodohannya yang mengedepankan amarah dan sempat mengatai istrinya sendiri perempuan liar. Tangan Satya terulur mengelus kepala Rissa yang tertutup jilbab. Sudah tidak terdengar raungan lagi seperti tadi. Dan Satya pikir Rissa sudah agak tenang saat ini. Laki-laki itu makin mengeratkan kaitan tangannya pada tubuh Rissa. Seolah tak mau ada jarak yang menghalangi diantara merasa. Entah apa yang sebanarnya Satya rasakan pada Rissa, tapi yang pasti dia merasa sangat nyaman berada di dekat Marissa.
"Rissa, Sayang.." d**a Satya berdegub dengan kencang saat bibirnya tak sengaja melontarkan panggilan sayang pada Rissa.
Rissa mengurai pelukan Satya. Gadis itu tercekat saat mendengar panggilan yang tidak biasa dari Satya. Apa memang betul, jika laki-laki memang suka sekali mengumbar kata sayang pada setiap perempuan. Termasuk yang Satya lakukan saat ini padanya. Satya sendiri terlihat salah tingkah usai tak sadar menyemai panggilan sayang di depan Rissa.
"Jangan mengatakan sesuatu yang tidak Kamu yakini Mas," sahut Rissa. Matanya menelusup ke dalam netra lelaki itu.
"Rissa kamu masih marah sama Mas?" Satya menggenggam tangan Rissa.
"Mas pikir saja sendiri, Aku lelah Mas. Aku mau pulang. Kalau Mas Satya kembali ke rumah..."
"Kita akan pulang."
"Tapi bagaimana dengan Kirana?"
Satya tidak menjawab, sejurus kemudian dia kembali melajukan mobilnya menuju ke rumah. Pikiran Satya agak kacau saat ini. Bukan karena Kirana. Lelaki itu bahkan tidak mengingat Kiran sama sekali yang masih tergolek di rumah sakit. Tetapi otaknya sudah terinvansi oleh nama Rissa. Sedari tadi pikirannya berputar, bagaimana caranya agar kembali meyakinkan Rissa untuk percaya padanya.
Tiga puluh menit terjebak macet, dan keduanya masih tetap pada geming masing-masing. Rissa masih betah mengatupkan bibirnya. Enggan berkata. Dan Satya juga sama. Memilih fokus pada kemudi.
***
"Assalamualaikum.." ucap Rissa saat dia dan Satya sudah sampai di rumah.
"Wa'alaikumsalam.." Selvi ibu Satya yang menyahut dan menyambutnya dari dalam. "Sudah pulang Nak? Kamu pasti lelah, istirahatlah Rissa."
"Terima kasih Ibu, Rissa mau bersih-bersih badan dulu ya Bu."
Usai mencium tangan ibu mertuanya, Rissa pamit untuk mandi. Berada di situasi saat ini, dan terjebak hubungan rumit bersama Satya, namun gadis itu masih menghela rasa syukur karena Selvi, ibu mertuanya sangatlah baik. Ibu mertua yang perhatian dan pengertian sekali. Bahkan Rissa bisa melihat siratan kasih sayang dari kedua mata Selvi. Mengukir langkah lebih dulu dan meninggalkan Satya yang masih memarkir mobilnya ke garasi. Rissa ingin cepat-cepat mengguyur tubuhnya dengan air, mungkin itu bisa sedikit melepas rasa penat seharian ini.
"Rissa mana Bu?" Satya yang melangkah masuk, tidak melihat sang istri dan bertanya pada sang ibu.
"Ke kamar duluan. Ingin mandi dan istirahat. Ibu tahu ini sangat berat dan sulit Satya, tapi Ibu juga berharap kalau Kamu bisa mengambil keputusan yang tepat, tanpa menyakiti keduanya. Rumah tangga itu bukan permainan Nak, janjimu atas Rissa jauh lebih kuat dan harus Kamu pertanggung jawabkan, dibanding janjimu pada Kirana. Sebagai perempuan Ibu sangat mengerti bagaimana perasaan kedua anak gadis itu, dan memang dibutuhkan pengorbanan salah satu dari kalian. Ibu dan ayahmu bukanlah orang yang suka akan paham poligami. Ibu sangat tidak setuju jika Kamu memilih akan menikahi Kirana juga, hanya untuk mengatasi masalah yang terjadi. Itu bukan solusi Satya." bu Selvi langsung menodong Satya dengan ucapannya. Perempuan paruh baya itu juga merasa ikut larut ke dalam masalah yang kini menggelayuti putra mereka.
"Ibu lihat sendiri kan bagaimana reaksi Kirana tadi," sahut Satya yang kini duduk menyenderkan badannya di sofa ruang tengah.
"Ibu paham. Tidak akan mudah bagi Kirana untuk menerima kenyataan. Tapi Kamu masih bisa berusaha untuk meyakinkan dia, jika pasti akan ada laki-laki yang lebih baik dari Kamu, Sat." Satya menghela napas saat kembali mendengar penuturan sang ibu.
"Iya Bu, nanti akan Satya coba untuk memberinya pengertian. Apapun yang terjadi nanti, yang pasti Satya tidak mau sampai berpisah dari Rissa, Bu. Satya ingin Rissa tetap disamping Satya." penjelasan Satya memunculkan senyum tipis di wajah bu Selvi. Dia paham betul, jika mungkin saja hati Satya sedikit demi sedikit mulai terikat pada Rissa.
"Istirahatlah Satya, temani istrimu, Ibu rasa dia sedang butuh perhatian Kamu saat ini. Rissa mungkin saja sedang tertekan hatinya, dan tugas Kamu untuk bisa menenangkan istrimu Satya."
"Baik Bu, Satya pamit ke kamar dulu." bu Selvi mengangguk saat Satya pamit dan beranjak menyusul Rissa.
***
Membuka pintu kamar Satya lalu melengang masuk. Netra lelaki itu memonitor ruang kamarnya. Agak gusar saat tidak mendapati Rissa di sana. Namun detik berikutnya Satya menghela napas lega, saat mendengar bunyi gemericik dari dalam kamar mandi. Menunggu Rissa keluar dari kamar mandi, Satya malah terlihat mondar-mandir di dalam kamar. Dia sedang sibuk merangkai kata-kata, untuk diucapkan pada Rissa nanti. Satya bahkan tak menghiraukan deringan ponselnya yang berulangkali berbunyi.
"Mas.." Rissa setengah kaget saat baru keluar, dan mendapati Satya tengah berdiri di depan pintu kamar mandi. "Kamu, ngapain di sini? maaf ya, Rissa kelamaan di kamar mandi, Kamu pasti mau pakai kamar mandinya kan." pikir Rissa saat mendapati lelaki itu berdiri di sana. Satya menggeleng pelan. Rissa mengkerutkan kening, agak heran, untuk apa Satya berdiri disana kalau tidak mau ke kamar mandi. Rissa tak acuh, gadis itu berlalu melewati Satya menuju ke depan lemari serta mengambil gamis katun untuk dipakai di rumah. Kembali dia berjengit saat merasa ada yang melingkari perutnya. Rupanya Satya yang memeluknya dari belakang. Dan akibat ulah lelaki itu, spontan deguban jantung Rissa menalu-nalu tanpa aba-aba. "Mas.."
"Tolong Rissa, jangan menyuruh Mas untuk melepasnya. Mas tidak akan melepaskan sebelum kamu memaafkan Mas," ucap Satya semakin mengetatkan kaitan tangannya.
"Mas, Rissa sudah memafkan sebelum Mas memintanya, jangan seperti ini Mas. Jangan bersikap berlebihan." Rissa menggigit bibirnya sendiri. Dia takut jika Satya kembali menebarkan rasa nyaman, dan nanti akan mempersulit jika dia harus rela berbagi dengan Kirana.
Satya melonggarkan pelukannya----lalu memutar tubuh Rissa menjadi berhadapan dengannya. "Maafkan Mas."
"Sudahlah Mas, jangan terus-terusan meminta maaf." sahut Rissa, namun gadis itu enggan mengangkat wajah, dan menatap Satya.
"Rissa, lihat mata Mas." jemari Satya menjetik dagu Rissa, mengangkatnya agar gadis itu bertatap mata dengannya. Perlahan Rissa mengangkat wajahnya, kedua bola matanya menatap lekat pada mata Satya. Ada desiran aneh tiap kali mata mereka beradu pandang.
"Marah lah sepuasnya pada Mas, Rissa. Tapi Mas mohon, jangan meminta untuk pergi."
"Kenapa Mas? bukannya sudah ada Ki.." jemari Satya sontak menutup bibir Rissa saat gadis itu akan mengatakan, tentang Kirana.
"Kita sedang membahas 'Aku' dan 'Kamu' tentang kita, jadi Mas mohon jangan menyebut orang lain." perkataan Satya memunculkan tanda tanya besar di benak Rissa. Sebanarnya ada apa dengan mas Satya ini. Kenapa tiba-tiba tidak mau membahas tentang Kirana. Bukankah dia mencintai gadis itu. Batin hati Rissa menebak.
"Kamu dengar Mas, kan?" Satya menatap Rissa bergeming.
"Aku bingung Mas."
"Bingung kenapa?"
"Akan sikap Mas Satya. Kenapa Mas Satya menginginkan Aku tetap di sisi Mas, padahal Aku bukanlah perempuan yang Kamu cintai." Rissa menutup kedua matanya saat selesei berucap. Rasanya campur aduk sekali. Malu, gugup, dan penasaran dengan jawaban yang akan Satya lontarkan.
Kedua tangan Satya terangkat dan merangkum wajah Rissa. Tidak menjawab pertanyaan gadis itu, namun Satya kembali menarik Rissa dalam pelukannya. Jantung Marissa kembali bertalu-talu saat untuk kesekian kalinya saat Satya mendekap erat tubuhnya. Salahkah jika jiwanya menggebu dan ingin selamanya bersanding dengan lelaki itu. Dan apakah ini pertanda bahwa mungkin saja bibit-bibit cinta itu mulai tersemai dalam lubuk hati Satya untuk Rissa. Mengingat cinta bisa datang kapan saja, dimana saja dan pada siapa saja.
Rissa awalnya membiarkan tangannya menggantung, tapi kini gadis itu pun membalas pelukan Satya. Jika boleh jujur, dia juga tidak ingin berada jauh dari Satya. Laki-laki yang sudah beberapa waktu ini mengisi hari-harinya, menentramkan jiwanya, atau mungkin juga hatinya.
"Mas, jangan seperti ini."
"Maksud kamu apa Rissa?"
"Jangan membuatku terlalu nyaman di dekat Kamu, Aku takut Mas."
"Takut kenapa?"
"Aku takut, kalau nanti.."
"Jangan memikirkan sesuatu yang buruk, yang belum tentu terjadi."
"Yakinkan hatiku Mas?"
Satya mengurai pelukannya. Tangannya kembali merangkum kedua pipi Rissa. Dan dia pikir mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkap apa yang dirasakan selama ini, "Marissa Attaya.." ucap Satya tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari netra Rissa. "Maafkan Mas yang selalu membuat Kamu terus saja menangis dan kecewa. Demi Allah, Mas tidak ingin menyakiti siapapun, apalagi Kamu. Rissa..boleh kah Mas mengatakan sesuatu?"
"Apa Mas?"
"Mas menyayangimu, tetaplah di sisi Mas."
Rissa tersenyum tipis. Entah kenapa, dia kurang lega dengan pernyataan Satya. Hanya menyayangi. Bukan ungkapan cinta seperti yang ia harapkan. Rissa jadi menyesal sudah berharap lebih. Rissa hanya membalas ungkapan Satya dengan anggukan.
"Dan, Mas tidak tahu apa namanya ini, tapi Mas rasa kalau..." Satya menjeda kata-katanya. Rissa pun dibuat mengkerutkan kening dengan kata-kata Satya yang menggantung.
"Kalau apa Mas?"
"Kalau Mas, mencintai Kamu," ucap Satya tersenyum pada Rissa. Gadis itu reflek mendongak. Meyakinkan bahwa pendengarannya tidak salah. "Mas jangan bercanda." kaget dan masih tidak percaya, Rissa sampai mengira mungkin itu hanyalah candaan Satya.
Satya menggelengkan kepalanya, "Mas tidak pernah bercanda. Mas selalu serius, Mas mencintaimu Rissa. Iya, Mas sangat mencintai Kamu. Maaf karena Mas baru berani mengatakan semuanya hari ini. Mas tidak bisa jauh dari Kamu, sekarang terserah Kamu, apa Kamu mau membalas perasaan Mas, atau tidak." Satya memejamkan matanya. Merasa lega sekali saat berhasil menyatakan sesuatu yang sudah berhari-hari mengganjal hatinya. Seperti melemparkan beban berat yang menghimpit tubuhnya. Ringan dan lega.
"Apa Mas yakin dengan perasaan Mas, padaku?"
"Mas sangat yakin sekali. Aku mencintaimu Marissa Attaya." Rissa masih bergeming ketika mendengar kembali ungkapan hati Satya. Benarkah jika ternyata perasaannya pada lelaki itu tidak bertepuk sebelah tangan. Bukan cuma raga Satya yang ia miliki, tapi juga hati dan jiwanya. Napas Rissa tercekat, tidak sanggup berkata apa-apa. Pipinya memerah, dan airmata membayang. Detik berikutnya buliran bening itu sudah tumpah tanpa dikomando. Rissa terisak kecil. Bahagia. Bolehkah dia merasa begitu.
"Jangan menangis Sayang, sudah cukup Mas membuatmu banjir airmata beberapa hari ini. Sekarang ijinkan Mas untuk membahagiakan Kamu, istriku." Rissa makin terisak-isak mendengar penuturan Satya. Angin segar seakan meruangi segenap rongga dadanya. "Mas sudah memutuskan, jika hati Mas telah memilihmu, apa Kamu mau berjuang bersama Mas? kita akan melangkah bersama, dalam keadaan apapun. Kamu mau kan Rissa sayang?" Rissa mengangguk.
"Iya Mas, Aku mau. Aku mau bersama Kamu, selamanya, sampai kita menua, sampai ajal yang memisahkan." Rissa menjawab dengan setengah terisak. Sejurus, Satya kembali menariknya kedalam dekapan.
"Bertemu dengan Kamu itu adalah Takdir, jatuh cinta padamu itu di luar kemampuan Mas, dan mencintaimu itu menjadi pilihan hati Mas. Tapi Mas belum tahu, apa Kamu juga mempunyai perasaan yang sama?" kata-kata puitis yang kembali dilontarkan oleh Satya disertai pertanyaan pada Rissa.
"Sejak Mas mengucap janji suci pernikahaan kita, sejak itu juga Aku memilih dan memutuskan untuk mencintai kamu, Mas..." Rissa menjeda kalimat. Satya memandangnya dalam. "Meski awalnya sulit, akan tetapi aku berusaha keras menumbuhkan perasaan ini sama kamu, Mas," lanjutnya. Satya mengangguk paham.
Saling bertukar senyum. Meski belum sepenuhnya lega, karena masalah masih belum terseleseikan sepenuhnya. Namun keduanya merasa bersyukur, tidak terlambat menyadari perasaan masing-masing. Entah bagaimana nanti, yang pasti akan dihadapi bersama-sama. Dan berdua lebih menguatkan.
#########
Iih, Mas Satya kog sweeet sih! Kan jadi melting......(´∀')