Buliran bening itu terjatuh begitu saja dari kedua pelupuk mata Rissa, saat Satya mengumandangkan bait-bait cinta. Haru, serta bercampur aduk dengan rasa gugup, dan cemas. Masih belum sepenuh hati bisa bernapas lega, karena masalah tentang Kirana belum terseleseikan.
"Kamu mau kan Rissa, bersama-sama berjuang dengan Mas?" pertanyaan Satya sontak membulatkan mata Rissa, "Mas mencintaimu Marissa, percayalah. Entah kapan rasa itu menelusup, tetapi Mas yakin jika sepenuh hati saat ini terisi oleh nama Kamu." ucapan Satya benar-benar sangat puitis. Lelaki itu mendekat Rissa, sejurus kemudian merengkuh tubuh Rissa kembali ke dalam peluknya.
"Tapi Mas, bagaimana dengan perasaan Kamu pada Kirana?" Rissa mendongak, menatap ke dalam netra Satya. Ingin memastikan perkataan laki-laki itu. Satya mengulas senyum.tipis saat matanya beradu pandang dengan mata Rissa. Lelaki itu jadi kikuk sendiri, rasanya ini seperti awal-awal jatuh cinta saja. Ada rasa senang berlebih yang mengusik jiwanya saat berada di dekat Marissa. Apalagi deguban jantungnya berirama tak normal saat mendekap erat gadis itu. "Kamu percaya kan sama Mas?" Satya ingin meyakinkan bahwa apa yang kini ia rasakan adalah benar.
Rissa masih tetap pada gemingnya. Ia enggan menyunat jarak, ataupun mengeluarkan sepatah kata, saat ini ia ingin menikmati debaran tak normal yang mengaliri rongga dadanya. Pelukan Satya begitu menenangkan, ditambah dengan ungkapan cinta lelaki itu. Ah, rasanya Rissa tak ingin moment ini berlalu begitu saja. Apa mungkin ini yang dinamakan cinta? Rasanya benar-benar luar biasa. Baru pertama kali ini Rissa merasakan perasaan yang ajaib, sebentar menangis, sebentar tersenyum, dan sejurus kemudian dia bisa merasa takut saat suaminya itu berada jauh dari jangkauannya.
"Aku percaya sama Mas. Tapi Aku masih belum percaya jika ternyata Kamu mencintaiku Mas."
"Kenapa Rissa? apa kata-kata Mas kurang meyakinkan Kamu Sayang?" sekali lagi Satya menyanjungkan kata sayang pada Rissa. Wajah Rissa bersemu, panggilan Satya semakin menambah gugupnya.
"Bukan Mas, entah, tapi rasanya masih tidak percaya saja." Rissa menggeleng pelan. Dia juga tidak paham, seolah masih seperti mimpi. Kaitan tangannya pada Satya mengerat, menegaskan jika dia tak ingin berada jauh dari lelaki itu.
"Rissa Sayang, dengarkan Mas."
"Apa Mas?"
"Mungkin untuk saat ini Kamu masih belum yakin, apalagi setelah permasalahan yang muncul sejak Kirana tahu hubungan kita. Tapi Kamu harus percaya, Mas akan segera mungkin menyeleseikan semuanya. Mas memilih Kamu, Hatiku telah memilih kamu Rissa. Mas cuma mau Kamu percaya, itu saja." Satya berkata seraya kedua tangannya membingkai wajah Rissa.
"Insha Allah, Mas. Rissa akan mencona membangun kepercayaan untuk Mas. Tapi Mas, apa kita tidak terkesan jahat sekali pada Kirana? apa nanti dia mau menerima keadaan ini? Lalu apakah Kamu yakin dengan pilihanmu Mas?" hati Rissa masih diliputi rasa janggal. Sebersit rasa bersalah menancap di hatinya. Dia paham jika Kirana tidak akan mudah menerima semua ini. Rissa juga berpikir, jika mungkin posisinya dibalik, dia yang berada di posisi Kiran. Mungkin dia juga tidak akan mudah menerima. Apalagi gadis itu sudah empat tahun menjalin hubungan dengan Satya. Meskipun Satya pernah bercerita, bahwa dalam kurun waktu empat tahun itu, bisa dihitung dengan jari berapa kali mereka bertemu, karena selama itu mereka terpisahkan oleh jarak, saat Kirana kuliah di luar negeri.
"Insha Allah, Sayang. Jangan pikirkan sesuatu yang buruk, tetapi selalu doakan saja agar niat baik kita dilindungi oleh Allah. Mas hanya ingin menjalani pernikahan sekali seumur hidup, hati kecil Mas juga tidak menginginkan jika sampai harus berbagi."
"Tapi Mas sudah berjanji akan menikahi Kirana." Rissa mengingatkan Satya akan janjinya pada Kirana. Airmuka gadis itu berubah seketika.
"Mas terpaksa, saat itu Kirana mengancam akan mengakhiri hidupnya. Aku tidak punya pilihan lain Sayang." Satya menyesal, kemarin sudah dengan gampangnya melempar janji, yang bahkan tidak akan mungkin ia laksanakan. Satya sadar jika dia sudah keterlaluan memainkan janji. Tetapi saat ini yang lebih penting adalah janjinya pada almarhum Adam, janjinya pada kedua orangtua Rissa, dan yang lebih sakral lagi, janjinya langsung pada Allah saat usai mengucap akadnya atas nama gadis itu, "Apa Kamu cemburu Sayang?" Satya tersenyum jail saat bertanya. Dihadiahi satu cubitan kecil di perutnya oleh Rissa. "Apaan sih Mas, mana ada cemburu. Ya ngga lah."
"Berarti Kamu ngga cinta ya sama Mas?" tanya Satya dengan ekspresi dibuat-buat seolah sedih.
"Ih, Mas. Ya ngga gitu juga."
"Terus?"
"Yaa, gitu."
"Gitu apa?"
"Rissa juga cinta sama Mas Satya." Rissa menggigit bibirnya usai berucap. Tanpa dikomando pipinya kembali merona. Satya malah tertawa melihat raut Rissa yang menggemaskan. Sejenak keduanya merasa tak ada beban. Terlupakan dengan masalah Kirana. Hawa sejuk, seakan merasuki aliran darah keduanya, terasa ringan dan lega.
"Mas Satya juga, tadi kenapa marah-marah sama dokter Rey?" ceplos Rissa teringat kejadian sore tadi di kafe. Senyum Satya seketika tandas saat mendengar Rissa mengucapkan nama Rey.
"Jangan menyebut namanya saat di depanku Rissa." ucapnya tiba-tiba dengan nada dingin. Rissa terkikik, menyaksikan Satya saat sedang dibakar sara cemburu, terlihat lucu sekali. Seperti anak kecil yang sedang berebut mainan. "Jangan menertawakan Mas, Rissa. Atau.."
"Atau apa Mas?" baru Rissa akan menghindar, tetapi dengan gesit Satya menarik tubuh gadis itu. Memeluknya sangat erat, sampai-sampai Rissa susah bernapas. "Mas lepas ih, ngga napas." rengeknya pada Satya, dan lelaki itu mengurai pelukannya. "Jadi benar kan, Mas Satya cemburu?"
"Memangnya kenapa kalau Mas cemburu? wajar kan, kamu isteri Mas. Suami mana yang rela kalau ada laki-laki lain mendekati isterinya."
"Tapi Mas Satya berlebihan, padahal Kami tidak berbuat macam-macam," ujar Rissa. Satya menghela napas. Dia akui, itu memang terlihat sangat berlebihan, tapi apa daya. Satya benar-benar tidak terima saat tadi melihat Rissa bercengkrama bersama Rey.
"Memangnya kenapa kalau berlebihan? Cemburu kan tanda cinta Sayang. Kalau rasa cemburu Mas berlebihan, itu berarti rasa cinta Mas juga sampai lebih-lebih." tukas Satya mulai berani menggombal.
Rissa merauk wajah Satya, diiringi tawahnya yang pecah. Terasa aneh saja, dia yang biasanya kaku jika berinteraksi dengan Satya, kini jadi seakarab sekarang. Apalagi saat Satya juga mulai berani mengucap kata-kata bernada gombalaan seperti saat ini. Lengkungan senyum seakan tidak mau tandas dari wajah Rissa.
"Sayang.." panggil Satya.
"Apa Mas?"
"Sepertinya kita harus mulai memikirkan sesuatu." perkataan Satya memunculkan kernyit di dahi Rissa. Benaknya seketika bertanya. Sesuatu apa yang dimaksud Satya. Apa mungkin sesuatu itu adalah rencana untuk menjelaskan nanti pada Kirana.
"Apa Mas? apa ini tentang hubungan kita?" Satya mengangguk, terlihat serius.
"Katakan Mas, apa yang harus kita lakukan?"
"Yang akan kita lakukan ini mungkin akan sedikit berat Sayang, apa kamu siap?" lagi-lagi Satya bertanya dengan tatapan serius. Rissa hanya mengangguk patuh. "Kamu mau kan Sayang? ini demi kebaikan kita semua." tanya Satya sekali lagi.
"Tentu Mas, apapun itu. Asal jangan..." Rissa menjeda kata-katanya.
"Jangan apa Sayang?" tanya Satya.
"Jangan memintaku untuk berbagi Kamu, Mas."
"Sayangnya itu benar Rissa Sayang. Mas memang akan meminta Kamu berbagi..." ucap Satya benar-benar serius. Dan hati Rissa kembali mencelos dengan jawaban suaminya itu. Apa memang Satya itu tipe lelaki yang labil. Baru tadi mengucap janji, tetapi sekarang malah sebaliknya.
"Mas, jangan bercanda."
"Aku serius Sayang. Kamu harus siap untuk berbagi, Rissa."
"Mas, kalau kamu hanya ingin mempermainkan.."
"Kamu harus siap berbagi Mas, dengan anak-anak kita. I want a baby, Sayang. Aku mau kita segera memilikinya." baru ingin protes tapi secepatnya Satya memotong kata-kata Rissa. Rissa menutup mulutnya, masih tak percaya dengan kejailan suaminya itu. Hampir saja jantungnya kembali merasa diremas, saat Satya mengatakan dia harus rela berbagi. Ternyata maksud Satya berbagi dalam artian lain. Rissa menunduk, tak berani memandang Satya. Gugup dan malu, bercampur jadi satu.
"Tapi Mas, ini kan sudah mau magrib," jawab Rissa masih belum berani mengangkat wajahnya.
Satya tertawa, "Ya memang ngga sekarang, Sayang. Tapi nanti, Mas mau memulai semuanya dengan segala kebaikan, kita salat sunnah dulu, kita meminta, diberikan keturunan yang terbaik, yang penuh keberkahan, yang akan menjadi penawar hati." jawaban Satya semakin menambah merah kedua wajah Rissa. Hatinya kembali mencelos, bukan karena kecewa, tetapi saking malunya. Namun hati Rissa bergetar mendengar semua penjelasan Satya. Allah, merasa beruntung sekali Rissa mendapatkan imam yang shalih lagi menjaga ibadahnya seperti Satya.
#########
Bersambung ...