Setelah berbicara kepada Madhava tadi, Jevarra langsung berlari meninggalkan Madhava. Meninggalkan halaman belakang sekolah yang ternyata tanpa sengaja membawa luka. Ia tidak pergi ke kelas. Bel sudah berbunyi sejak tadi pertanda istirahat telah selesai. Koridor sudah sepi, membuat Jevarra berlari dengan bebas. Air matanya turun membasahi pipi. Ini terlalu menyakitkan. Jevarra berlari ke kamar mandi siswi. Cewek itu menutup pintu toilet. Menutup wajahnya dan menangis dengan hebat. Walau terlihat biasa saja, sebenarnya Jevarra terluka. Jelas saja, ia kira perasaan tiga tahun nya akan bisa berlabuh dengan tepat. Tapi nyatanya, perasaan itu tetap harus ia kubur dalam dalam. Penolakan Madhava secara halus membuat Jevarra sedikit marah. Marah dengan dirinya sendiri. Kenapa juga ia harus

