"Za...hey Za...bangun zaa" Fika mencoba membangunkan Mirza yang tidur di kamar Hanan.
"emmmhhh" Mirza bergumam
"Za... ayo bangun, sudah siang" Fika sekali lagi mencoba membangunkan Mirza dengan mengoyang-goyangkan tubuhnya.
"emmmhh iya ka...eh ka Fika.." Mirza bangun dan langsung duduk karena kaget ada Fika di samping kasur.
"ihh kebo banget kamu" Fika mengomentari tidurnya Mirza.
"eh bentar ka, ini kamar siapa? dan apa yg terjadi sampe aku bisa ada di kamar ini?" tanya Mirza denga muka heran dan bingung seraya melihat-lihat kamar.
"Kamar A hanan, udh kamu mandi dulu sana, udah jam 8 pagi, nanti abis mandi aku ceritain apa yg terjadi semalem" jawab Fika seraya berdiri dari kasur dan berjalan menuju keluar kamar.
Mirza yang masih bingung kemudian bangun dan mengikuti Fika yang berjalan keluar kamar seraya memegang kepalanya yg masih berat, badannya pun terasa pegal-pegal mungkin efek dari berkendara yang jauh dan lama juga.
"ini handuknya, kamar mandi ada diluar sana" tunjuk Fika ke arah belakang rumah
"iya makasih Ka" Mirza mengambil handuk yg diberikan dan berjalan ke belakang rumah. Kamar mandinya khas di pedesaan yg hanya saung berbentuk kotak, seperti jamban, setengah d**a dengan bilik bambu dengan bak mandi dari ember besar tapi yang membuat Mirza takjub adalah dibelakang kamar mandi itu ada hamparan sawah luas yang hijau dan sangat menyegarkan mata ketika memandangnya.
Selesai mandi Mirza hanya mengenakan handuk menutupi setengah badannya ke bawah, dan tidak mengenakan apapun dibalik handuk itu, ketika melewati dapur dan ruang tengah Mirza tidak melihat seorangpun, baik itu Fika ataupun Ibu tiri Fika, rumah ini tidak ada orang pikir Mirza, karena takut ada yang melihat Mirza langsung masuk ke kamar dengan agak berlari.
Sesampainya di kamar Mirza bingung lagi karena tas dia yang berisi baju tidak ada, ahhh pintarnya Mirza, dia kan semalam pingsan jadi dia tidak tahu tasnya di simpan dimana. Mirza mencari-cari di sekitar kasur atau lemari yang ada di kamar tapi sayangnya dia tidak menemukan tas nya di kamar itu.
Ketika Mirza sibuk mencari tasnya dikamar tiba-tiba Fika masuk, niat awalnya hanya ingin melihat Mirza sudah selesai atau belum mandinya, namun saat Fika baru melangkah ke pintu dia kaget melihat Mirza hanya menggunakan handuk saja, Fika diam sebentar memperhatikan Mirza dari belakang, Mirza tidak sadar jika Fika ada di belakangnya sedangkan dia masih saja terus sibuk mencari tasnya. Dalam kondisi itu Fika memperhatikan lekuk tubuh Mirza dari belakang yang menurut dia sangat bagus, memang badan Mirza sekarang memang tergolong bagus, karena dia sering melakukan gym dan olahraga.
"nyari apa za..??" tanya Fika yang masih berdiri di depan pintu.
Mirza yg kaget berbalik ke arah sumber suara.
"eh ka.. bikin kaget aja, ini nyari tas, kemana ya? soalnya mau ganti baju" jawab Mirza dengan nada canggung karena tidak enak dilihat hanya pakai handuk saja oleh Fika.
"hehe udh gitu aja, ga ada orang ini hehe" canda Fika.
"ah nggk ah, takut di perk**a kamu ka hehe, aku perjaka polos hehehe" Mirza membalas candaan Fika
"dimana ka tas aku, ga enak banget ini ka? " lanjut Mirza
"ah bukannya enak ya hehehe, itu di depan aku ambilin dulu deh" Fika kemudian berjalan menuju depan untuk mengambil tasnya Mirza.
"nih tas kamu, aku tunggu depan rumah ya, aku ceritain apa yg semalem terjadi" lanjut Fika setelah kembali membawa tas Mirza.
Setelah Fika memberikan tas ke Mirza dia berjalan ke teras depan kemudian duduk di bangku sambil melihat halaman dan sawah didepannya, tidak berapa lama Mirza sudah keluar dengan setelan celana pendek dan kaos kemudian dia duduk dibangku samping Fika, mereka mengobrol tentang apa yang terjadi semalam.
Dari cerita Fika semalam setelah mereka pingsan ayah dan ibu sambung Fika yg akhirnya Mirza tau kalau namanya Ratna membawa mereka ke dalam dengan digotong satu2, Fika tak lama pingsannya, tapi Mirza masih berlanjut mungkin tidur makanya dipindahkan oleh ayah Mirza ke kamar Hanan.
Terkait kenapa papanya Fika masih hidup ternyata semua itu hanya karangan cerita Hanan (anak Bu Ratna dengan suami sebelumnya/kaka tiri Fika) yg saat ini sedang kabur karena buron akibat kasus pencurian kerbau, perjudian, dan pengeroyokan di kampungnya, Hanan yang dalam pelarian kehabisan uang kemudian mengarang cerita, dia berbohong ke Fika soal ayahnya agar Fika mau kirim uang, dan untuk alasan yang kuat makanya dia membuat alasan ayah Fika meninggal, sebenarnya Fika memang sudah hafal dengan kelakuan Hanan yang kriminal makanya kalau Hanan menghubungi Fika untuk pinjam atau meminta uang dia tidak pernah menanggapi, tapi ketika alasan soal ayahnya meninggal Fika merasa Hanan tidak akan berbohong soal itu, ditambah bu Ratna dan papanya tidak punya hp jadi Fika susah untuk konfirmasi dan lagi jika menyangkut ayahnya dia tidak bisa berfikir rasional.
Setelah Mirza mendengar cerita dari Fika dia agak sulit menerima secara akal kok bisa ada anak mempermainkan cerita bohong apalagi soal kematian serta menyangkut orang tuanya sendiri, dia hanya bisa menggelengkan kepala tentang kelakuan Hanan ini.
"begitulah za a Hanan kelakuannya, aku aja ga faham soal kelakuannya itu, kok tega" Kata Fika mengakhiri ceritanya soal kejadian semalam.
"ga faham lagi aku ka hadeeehhhh" respon Mirza terhadap cerita Fika.
Sedang asik mengobrol didepan rumah papa Fika, Bu Ratna datang dari arah pagar dengan tentengan belanjaan yang banyak, Mirza yang melihat dengan sigap berjalan ke arah pintu pagar untuk membukakan pintu, kemudian dia menawarkan untuk membawa belanjaan bu Ratna
"pagi bu, maaf semalem ngerepotin ibu, mari bu saya bantu bawa belanjaannya" Mirza menawarkan untuk membantu membawa belanjaan bu Ratna.
"waduh udh bangun nak Mirza, gapap nak ibu aja yg bawa" jawab bu Ratna ramah dan senyuman di wajahnya.
"gapapa bu, saya ga enak sama ibu soal semalem apalagi saya sudah dibiarkan tanpa di ganggu menginap di rumah ibu" Mirza memberi alasan seraya melipatkan tangannya di d**a tanda dia menaruh hormat dengan sopan kepada bu Ratna.
"ih kamu kan juga udh mau bantuin Fika, gapapa nak ayo kita ke dalam" jawab bu Ratna sopan sambil berjalan menuju ke rumah.
"kok ga ngajak Fika bu kalo mau belanja?" kata Fika ketika bu Ratna sampai di depan pintu.
"gapapa neng, lagian juga deket terus td jg bapak kamu sekalian berangkat neng" jawab Bu Ratna
Bu Ratna kemudian masuk ke rumah diikuti Fika dan Mirza dibelakangnya.
"kamu udh makan nak Mirza? " tanya bu Ratna
"saya baru bangun bu, terus langsung disuruh mandi sama Ka Fika hehe" Mirza nyengir sambil matanya mengarah ke Fika
"kamu kok ga nawarin Mirza makan neng, kan ibu sudah masak di dapur" kata bu Ratna sambil senyum ramah ke Fika.
"kamu makan dulu nak, masa tamu kelaparan, kan ibu jadi ga enak, yg banyak masaknya, ibu sudah masak banyak, ambil aja ya nak piring dan lauknya, anggap aja sedang makan di rumah kamu sendiri" lanjut bu Ratna dengan senyum ramahnya.
Mirza mengangguk menuruti perkataan bu Ratna, dia pun berjalan ke dapur untuk makan, di dapur dia duduk diatas lantai dari bambu kemudian membuka tudung saji, dia makan apa yg sudah di sediakan oleh tuan rumah. ketika sedang makan Mirza mendengar pembicaraan Fika dan bu Ratna di depan.
bu Ratna : "neng kamu nginap disini lagi ya sampai minggu atau senin temeni ibu"
Fika : " Fika memang izin 7 hari bu, tapi kalo kejadiannya seperti ini Fika lebih baik pulang sebelum senin supaya bisa kerja lagi bu, takut kena marah bu"
Fika : " lagian kan ada papa bu disini"
Bu Ratna : "Justru itu papa kamu ada kerjaan dulu neng di kota sampai senin, ibu sendirian di sini, toh kamu jg sudah izin 7 hari, manfaatin aja, sekalian kamu istirahat juga"
Fika : "ada kerjaan apa bu papa ke kota? "
Bu Ratna :" ada jual sapi neng punya pak Ridwan juragan disini"
Fika:"oh, kok lama bu? "
Bu Ratna : "karena ngirim sapinya ga ke satu kota aja tapi juga ke Jakarta dan Bogor neng juga pulangnya nanti mau ada tarikan kayu katanya, ya neng gapapa temenin ibu, biar ibu ga kesepian disini"
*fika berfikir sejenak
Fika : "yaudah bu"