Mirza selesai makan kemudian dia kembali ke ruang tengah dimana Fika dan bu Ratna sedang duduk mengobrol dan dia ikut duduk samping Fika untuk ikut mengobrol juga.
Fika :"gimana za, kenyang? "
Mirza :"iya ka, terimakasih bu makanannya"
Bu Ratna :"iya nak, ibu ikut senang kalo rumah ada yg ngunjungi"
Mirza :"iya bu, sya yg terimakasih sekali lagi karena diperbolehkan menginap bahkan sampai disuguhi makan bu"
bu Ratna :"gausah sungkan nak, Fika anak ibu, pacarnya juga calon anak ibu hehe"
Fika :" bukaaan, ini Mirza bu temen SMP Fika, bukan pacar, lagian ga mungkin bu aku pacaran sama Mirza, toh dia udh aku anggep ade aku sendiri bu, dr dulu anaknya emang gitu bu"
bu Ratna : "oh ibu kira kalian pacaran, abis kalian kelihatan cocok, dan Mirza jg baik banget soalnya sama kamu, lelaki mana yg rela jauh-jauh berkendara mengantarkan seorang perempuan tanpa ada niat terselubung atau mungkin karena sayang sama kamu"
Fika diam, Mirza kaget mendengar kata-kata bu Ratna. Fika diam karena bingung harus respon apa, Mirza diam karena jawaban Fika. Suasana menjadi hening, dalam keheningan bu Ratna mulai berbicara lagi
bu Ratna : "aihh maaf ibu ngelantur ngomongnya, oh iya ibu mau ke sawah dulu soalnya padi sudah mau dipanen kalo ga diawasi dimakan burung atau ayam, kalian gapapa disini dulu, istirahat, anggap aja rumah sendiri yah..! "
bu Ratna bangkit kemudian dia pergi ke kamar untuk mengganti baju dengan pakaian dinas ke sawah, kemudian dia menuju dapur untuk mengambil peralatan ngantornya, arit, tas anyaman kecil, kain sarung, dan tudung dari bambu. sedangkan Mirza dan Fika masih diam saja memperhatikan bu Ratna yang sedang siap-siap.
bu Ratna :"fik ibu berangkat dulu ya, pulang paling sore ba'da ashar, disini ga ada 40 rumah, yg ada hanya sawah aja, jadi gpp fik (dengan senyum ramah penuh arti)"
Fika : "eh maksudnya gimana bu? iya bu" *Fika heran dengan pernyataan bu Ratna
bu Ratna :" gapapa, udh ya ibu pergi dulu"
Bu Ratna kemudian pergi setelah pamit kepada Fika dan Mirza, setelah kepergian bu Ratna mereka berdua masih saja diam duduk diruang tengah sibuk dengan pikirannya masing2,mungkin masih bingung dan canggung karena kata2 bu Ratna
Mirza : "ka... kok malah pada diem kita hehe"
*mirza mencoba mencairkan suasana
Fika : "gatau ya hihi, ibu sih ngelantur"
Mirza : soal yg mana ka?
Fika : itu td yg sebelum pergi, apa coba ngomongin 40 rumah, nakut2in kali yah
Mirza : oh, kirain yg soal ngomong pacaran
*Fika diam sebentar mendengar kata2 terakhir Mirza
Fika : itu juga ngelantur za
Mirza : namanya juga gatau ka, tp aku diam bukan karena omongan ibu sih ka
Fika : trus gara2 apa?
*Fika mulai menatap Mirza dengan tatapn serius, sekarang duduk mereka berhadap-hadapan
Mirza : gara2 omongan kamu ka
*jawab Mirza dengan nada pelan tapi serius
Fika : yang mana?
Mirza : yg kita ga pacaran, dan kaka nganggep aku ade
Fika : emang ade, ade kelas hehehe
*Fika mencoba bercanda
Mirza : iy sih, tapi kaka cuma nganggep aku ade, kaka masih nganggep aku ade kecil yg cupu ya?
Fika : emang kmu cupu za hahahahaha
Mirza : cupu kenapa sih?
*nada Mirza mulai agak naik
Fika : kok naik nadanya??
*tanya Fika dengan nada lebih intimidatif
Mirza : abis aku kesel masih dianggep cupu, kesel masih dianggep anak kecil, kesel masih disepelein kamu, kamu gatau aja aku suka dan cinta sama kamj dari zaman smp dulu
*Mirza menutup mulutnya sendiri, dia merasa itu keceplosan
**Fika juga diam, tapi menatap Mirza dengan serius
Fika : aku tau, dari dulu aku tau, makanya aku bilang kamu cupu....
*Fika bangun dan pergi ke kamar Hanan dan menutup pintunya
Mirza masih diam kaget dengan ucapannya sendiri dan bingung dengan jawaban Fika, abis itu ditinggal lagi ke kamar. tapi memang semua yang dikatakan Mirza itu benar, bahwa dia suka sama Fika dari zaman smp benar, bahwa dia memendam rasa suka dari dulu sampai dia kuliah juga benar, bahwa dia tidak pernah pacaran karena cintanya dan sukanya ke Fika juga benar, bodoh sekali memang Mirza ini soal cinta-cintaan.
Mirza yang merasa kepalang tanggung keceplosan dan memang dia sudah menahan rasa sukanya selama ini maka dia memberanikan diri untuk mengungkapkannya saat itu juga, dengan menarik nafasnya dalam-dalam dia mulai memberanikan diri untuk berdiri dan berjalan ke depan pintu kamar Hanan yang tertutup, dia mulai bicara dari luar pintu
Mirza : ka aku selama kita kenal dr zaman smp sampai sekarang suka sama kamu, awalnya karena kejadian di pramuka itu, kemudian kita mulai dekat karena sama2 ikut kompetisi mewakili sekolah, sering belajar bareng di perpus, di kelas, bahkan kalo aku lagi sakit kamu suka nemenin aku di ruang uks, kamu yg rela ngajarin aku untuk belajar un walau kamu udh sekolah di sma, kamu yg sering ngingetin aku untuk terap terus melanjutkan pendidikan walau aku udh ga ada bapa, dan semua kenangan kita ka, aku suka, aku cintaa, aku sayang kamu kaa dari dulu, sekarang dan mungkin nanti....
semua perasaan yang selama ini dia pendam dia curahkan hari itu di depan pintu dengan emosional dan kejujuran, dia sudah ga peduli mau dianggap atau nggk oleh Fika semua perasaannya yang terpenting dia sudah menyampaukan apa yg dia rasakan selama ini.
*suasana hening untuk beberapa saat, Mirza masih di depan pintu menunggu kata2 Fika, sedangkan Fika di dalam kamar duduk di pinggiran kasur.
Fika : masuk za...
*Mirza pelan2 membuka pintu, ketika sampai kamar dia melihat Fika sudah tiduran di kasur dengan selimut menutupi tubuhnya, hanya kepalanya saja yg muncul
Fika : sini za, tidur di dalam selimut...
Mirza : hah?? ngapain?
*jawan Mirza bingung
Fika : sudah turuti saja...!! *dengan nada agak naik tp bukan marah
Mirza terdiam sebentar kemudian dia menuruti perintah Fika, ketika Mirza mulai merebahkan badannya dan masuk ke dalam selimut, berapa kagetnya dia mendapati bahwa tidak ada satu helai benangpun yg menutupi Fika. Mirza berniat bangun tapi tangannya ditahan oleh Fika.
Fika : jangan pergi, masuk, dan dengarkan apa yg akan aku ceritakan, sekarang kamu masuk ke selimut dan buka baju kamu, nurut....!!!
*Fika berkata dengan nada naik dan intimidatif.
Mirza diam dan akhirnya dia mulai mengikuti perintah Fika, dia mulai membuka kaosnya dan menaruhnya di lantai, celana pendeknya dan menaruhnya di lantai juga, tapi Mirza masih ragu ketika akan membuka celana dalamnya.
Fika : itu juga...!!!